
Dari tadi Max sudah kebingungan. Bagaimana ia tidak bingung jika tiba-tiba kakak kembarnya mendiamkan ia seperti ini? Dari tadi kakaknya hanya fokus mengemudi tanpa melirik ia sama sekali.
"Apa aku punya salah ya? Tapi apa? Aku tidak mengerti sama sekali. Bukannya tadi semua baik-baik saja. Aku juga sudah menurut saat kak Rio menyuruhku untuk digendong. Jadi apa salahku?" monolog Max dalam hati.
"Kak Rio, kakak kena.."
belum selesai Max berbicara,Mario sudah memotongnya.
"Jangan berisik. Aku sedang mengemudi." ucap Mario datar.
Max menggigit bibir dalamnya. Apa kakaknya semarah itu sampai memanggil dirinya sendiri dengan kata aku padahal biasanya Mario selalu memanggil dirinya sendiri dengan kata kakak atau kak Rio.
Max menghembuskan nafasnya kasar. Ia lalu mengangguk tak berniat untuk membantah. Tidak ingatkah Mario jika Max sedang tidak dalam kondisi baik sekarang karena lambungnya berulah saat jam istirahat tadi yang membuat tubuhnya lemas sampai sekarang dan ditambah sikap Mario yang seperti ini membuat Max jadi berpikiran tidak karuan.
Max mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu pada Jonathan.
Sementara itu di mobil lain tepatnya dimana Hayden dan juga Jonathan berada disana dalam satu mobil yang mana pengemudinya adalah Hayden sedang terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
TINGG!
Bayi Besarku
Jo..
"Pesan masuk dari Max? Balas tidak ya?" gumam Jonathan yang masih didengar oleh Hayden.
PLETAKK!
Tangan kiri Hayden melayang dan memukul kepala Jonathan.
"Aduhhhhh sakit muka datarrr! Kenapa kau tiba-tiba memukulku!!" ringis Jonathan.
"Balas! Kita boleh marah pada Clara dan Cassie tapi kita tidak boleh marah pada Max!" perintah Hayden.
"Tapi aku juga kesal pada Max,kenapa dia tidak mengerti seberapa khawatirnya kita padanya. Seharusnya dia jangan dekat-dekat dengan Clara karena itu bisa saja mengingatkan ia akan masa lalunya dan itu sa.."
Belum selesai Jonathan berbicara Hayden sudah memotongnya.
"Sudah ceritanya? Tak ingat kondisi Max seperti apa? Apa perlu kuingatkan? Ditambah lagi kondisi Max saat istirahat tadi juga tidak baik,apa kau mau Max collaps lagi,hah?!" teriak Hayden.
"Aku juga kesal. Aku juga marah. Tapi aku tidak ingin membahayakan Max. Sejujurnya aku lebih kesal pada kau dan Mario. Aku memang sempat kesal tapi hanya sebentar. Sedangkan kalian tidak. Sikap kalian pada Max tadi bisa saja membuat Max berpikir yang tidak-tidak dan kau tahu itu bisa berdampak buruk pada kondisi Max. Jadi yang membahayakan kondisi Max itu bukan Clara dan Cassie tapi kalian." lanjutnya.
Jonathan menunduk.
"Maaf.."
Hayden melirik Jonathan sekilas.
"Jangan meminta maaf padaku. Lebih baik sekarang kau balas pesan dari Max. Aku takut si Mario melakukan yang tidak-tidak pada Max. Emosi anak itu sering tidak tahu aturan. Rasa khawatirnya kadang bisa mengalahkan akal sehatnya. Cepat balas sekarang,tunggu apa lagi?!" Perintah Hayden.
Jonathan mengangguk cepat ia langsung membalas pesan dari Max.
Me
Ada apa Max?
Bayi Besarku
Kalian kenapa? Kalian marah padaku ya?
Me
Tidak Max. Kami tidak marah padamu. Itu hanya perasaanmu saja. Lupakan. Jangan dipikirkan.
Bayi Besarku
Tapi kak Rio marah. Dia tidak mau berbicara padaku sama sekali...
"Ada apa?" tanya Hayden penasaran.
"Rio benar-benar marah. Dia mendiamkan Max.." jawab Jonathan dengan raut wajah khawatir.
__ADS_1
"Ckk.. dasar Rio..!"
Hayden memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.
"Eh? Kenapa berhenti?" bingung Jonathan.
Hayden tak menanggapi ucapan Jonathan. Ia lalu segera mengambil ponselnya dari saku celananya.
Me
Apa yang sudah kau lakukan pada Max,hah! Jangan kau lampiaskan amarahmu pada adikmu! Jaga emosimu. Kau tidak mau Max collaps kan?! Hentikan emosimu,jika kau tidak ingin menyesal!
Jonathan yang mengintip apa yang Hayden kirim menggelengkan kepalanya.
"Kau bilang jangan emosi..Barusan kau mengirim pesan pada Mario dengan emosi, muka datar!"
Hayden tak mempedulikan ucapan Jonathan dan terus mengirimi boom message pada Mario tapi tak ada satupun pesannya yang dibalas. Jangankan dibalas. Dibacapun tidak.
"Arghhhh!! Siallll" kesal Hayden sambil memukul alat kemudinya. Membuat Jonathan berjengit kaget.
"Sabarlah.. mu.."
Hayden mendelik tajam kearah Jonathan.
"Peace.." ucap Jonathan sambil menaikkan dua jarinya kesamping kepalanya.
"Kenapa kau ikut campur urusanku? Memangnya kau sudah membalas pesan Max,hah?!" kesal Hayden.
Jonathan membuka mulutnya lebar dengan kedua mata yang membola.
"Oh iya! Aku lupa?!" teriak Jonathan sambil menepuk dahinya.
"Tapi aku harus jawab apa?" bingung Jonathan.
"Katakan ini semua karena Clara. Lebih baik Max mengetahuinya dari kita dari pada dari si Rio yang sudah terbakar emosi." saran Hayden.
Jonathan mengangguk.
Me
Beberapa menit kemudian tetap tak ada jawaban baik itu dari Max ataupun dari Mario.
"Masih tak ada jawaban..?" tanya Hayden.
Jonathan mengangguk.
"Bagaimana ini?" bingung Jonathan.
"Aku telepon saja." lanjut Jonathan.
"Ishh! Kemana bocah itu?!" kesal Jonathan saat teleponnya justru dialihkan.
"Ck..Ini gara-gara kau terlambat membalas pesannya."
Jonathan mendelik.
"Ini gara-gara kau juga yang terlalu banyak bicara." ucap Jonathan membela diri.
Hayden menatap tajam Jonathan membuat Jonathan terdiam dan lebih memilih melihat ke luar jendela.
****
"Kenapa Jonathan belum membalas pesanku?" gumam Max yang masih dapat didengar oleh Mario.
Tidak tahukah Max bahwa baterai ponsel miliknya yang ia simpan di saku celananya habis.
Max yang dari tadi hanya memandang kearah jendela akhirnya memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Mario. Ia tidak mau permasalahannya semakin besar jika tidak segera diselesaikan.
"Kak Rio.." panggil Max pelan. Namun masih tak ada respon dari Mario.
"Kak?" panggil Max agak kencang.
__ADS_1
"Jangan berisik! Sudah kubilang jangan berisik kan?! Apa kau tidak mengerti bahasa manusia,hah?!" bentak Mario kesal sambil menatap tajam kearah Max.
Max terdiam ia sangat terkejut mendengar bentakan dari Mario,bahkan saat ini ia merasa seperti ada sengatan listrik didadanya tapi Max berusaha menetralkan rasa sakitnya.
"Maaf.." ucap Max sambil menatap sendu kearah Mario. Mario memalingkan wajahnya,ia saat ini tidak mau melihat mata sendu adiknya. Emosinya benar-benar tak bisa ia kontrol.
"Max minta maaf.. tapi tolong jelaskan pada Max,kak Rio marah karena apa? Max tidak tahu.." tanya Max.
Mario terkekeh sinis mendengarnya.
"Hah! Tidak tahu. Tidak tahu kau bilang?!" kesal Mario. Iapun memberhentikan mobilnya saat ternyata mereka sudah sampai didepan rumah mereka. Ia pun masuk kedalam gerbang sampai ke pekarangan tapi tak berniat untuk melanjutkan laju mobilnya ke garasi.
"Max benar-benar tidak tahu. Kak Rio jangan marah.." ucap Max pelan.
"Kau bukan tidak tahu Max tapi kau tidak mau tahu! Sampai kapan kau akan seperti ini,hah?! Berhenti bersikap seperti anak kecil!"
Max menggigit bibir dalamnya.
"Kau tidak kasihan pada ayah dan bunda yang sudah mati-matian menjagamu,mencari uang untukmu,hah?! Memangnya kau pikir biaya pengobatanmu itu murah,hah?!" lanjutnya.
"Kami menjagamu mati-matian! Bahkan aku rela saat bunda lebih memperhatikanmu dibanding aku! Apa masih kurang perhatian kami Max!"
Max menggigit bibir dalamnya. Ia tahu kakak dan orangtuanya sudah banyak berkorban untuknya.
"Maaf kak.."
Mario berdecih.
"Maaf,selalu saja seperti itu tapi kau tidak pernah mau mendengarkan kami. Kau tidak pernah mau mendengarkanku!"
Max terdiam sambil menutup kedua matanya, selain karena ia tidak tahu harus bicara apa,ia juga tidak tahan saat sakit di kepala dan di dadanya terus menghujamnya tanpa ampun.
"Kenapa? Kenapa kau masih berhubungan dengan Clara,kenapa Max?!"
Max langsung membuka kedua matanya saat nama Clara disebut.
"Clara? Apa karena Clara kak Rio marah padaku?" tanya Max memastikan.
"Seharusnya kau menjauhi dia bukan justru semakin dekat dengannya. Dia yang sudah membuatmu masuk rumah sakit. Dia yang sudah membuatmu dua kali masuk ICCU Max! Dia!!" teriak Mario.
Max menggelengkan kepalanya.
"Bukan kak,ini bukan salah Clara. Kondisiku tidak ada hubungannya dengan Clara,dia ti.."
Belum selesai Max berbicara Mario sudah memotongnya.
"Terus saja kau bela dia?! Terus! Kau berani membantahku hanya karena dia!"
"Bukan. Bukan seperti itu tapi.." sanggah Max.
"Apa?! Kau masih mau membelanya. Yang sudah membuatmu masuk ICCU itu memang dia. Pertama saat di sekolah. Kedua saat dia diam-diam menjengukmu di rumah sakit sampai kau jatuh dari kursi rodamu! Kurang apa lagi bukti yang kuberi tahu padamu Max!"
"Jangan salahkan Clara. Itu semua bukan kesalahan dia tapi kesalahanku. Aku saja yang lemah.." ucap Max pelan menunduk sambil menahan diri agar ia tidak meringis karena sakit di kepala dan dadanya tak kunjung reda.
"Ya kau memang lemah! Kau menyusahkan!"
Max mendongak tak percaya jika ucapan itu keluar dari mulut kakaknya sendiri. Ia tahu ia lemah dan menyusahkan tapi ia berusaha untuk mengenyahkan semua pemikiran itu karena keluarganya selalu menguatkan ia tapi sekarang bahkan kakaknya saja sudah bosan dengan dirinya. Tidak terasa air matanya sudah mengalir.
Mario membeku melihatnya. Ia tak bermaksud untuk mengatakan hal itu.
"Maaf..hikshiks..maaf jika selama ini kak Rio terbebani olehku. Maaf, jika aku lemah. Maaf, kakak tidak bisa mempunyai adik yang kuat seperti yang lain. Maaf jika selama ini aku selalu bersikap seperti anak kecil. hikshiks..Maaf karena aku,perhatian bunda untuk kakak berkurang. Maaf karena aku sudah membuat ayah bunda kehilangan banyak uang untuk biaya berobatku..hikshiks..Maaf sudah menyusahkan. Maaf.."
Max langsung keluar dari mobil meninggalkan Mario yang masih terdiam membeku disana.
"Arghhh!!! Siallll!!!"teriak Mario sambil mengacak-acak rambutnya.
"Apa yang sudah kulakukan..?"
"Maafkan kakak Max..."
BERSAMBUNG..
__ADS_1