Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
52. Rey Beraksi


__ADS_3

Max sesekali melirik ke arah koridor sekolah berharap agar Clara segera datang. Jujur, ia sangat mencemaskan Clara karena Clara tak kunjung datang. Padahal tadi Clara hanya meminta ijin untuk ke toilet. Meskipun baru beberapa menit, tapi rasa khawatirnya sudah tidak tertahan lagi. Ia takut terjadi apa-apa pada Clara. Bakso yang ia makan masih banyak. Ia baru menghabiskan satu buah bakso yang berukuran agak besar dan sedikit mi serta bihun, tapi tiga buah baksonya yang berukuran kecil masih belum ia makan.


“Clara ke mana, sih?” batin Max khawatir.


Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada pesan yang masuk ke ponselnya.


Max mengambil ponselnya dari saku celana kirinya lalu membuka pesan yang baru saja masuk. Ia mengernyitkan dahinya saat melihat nomor yang tak dikenallah yang mengiriminya pesan. Kedua matanya membelalak kaget saat membaca pesan masuk itu. Ia segera beranjak dari duduknya membuat semua orang memandang ke arahnya penuh tanya.


“Ada apa, Max?” tanya Mario yang diangguki oleh teman-temannya.


“Ah, ti ... tidak ada apa-apa, Kak. A ... aku mau ke toilet dulu ya, sebentar.”


Max langsung berlari menuju toilet membuat Mario, Jonathan dan Hayden berteriak khawatir.


“Max jangan lari-lari!”


Namun, Max tak mendengar peringatan mereka sama sekali. Yang ia pikirkan saat ini hanya keselamatan Clara. Ya, hanya Clara.


Sementara itu di rooftop, Clara terus mengumpat berkali-kali pada Rey. Ia terus memaki Rey.


“Dasar tidak waras! Kau gila, Rey! Kau gila!”


Rey hanya tertawa mendengarnya, begitu juga dengan teman-temannya yang ikut menertawakan Clara.


“Aku mau pergi!”


Clara bangkit dan baru saja akan berlari menuju pintu ke bawah, tapi lagi-lagi tangan Rey menghentikannya.


“Lepaskan aku!”


Clara memberontak lalu menggigit tangan Rey kencang hingga mengeluarkan darah.


“Akhh!! Apa yang kau lakukan?!”


Clara terlepas dari pegangan Rey. Namun, teman-teman Rey tidak membiarkan itu terjadi. Mereka tidak membiarkan Clara lepas dari jangkauan mereka.


“Lepaskan aku! Lepas!!”


Rey mengeram kesal saat melihat tangannya kini terluka akibat Clara. Ia cepat-cepat menghampiri Clara.


PLAKK!!


Clara terhuyung ke samping dan jatuh akibat tamparan kencang dari Rey. Namun, tangannya tetap dipegang oleh kedua temannya. Clara meringis dengan sudut bibir yang terasa perih. Bahkan air matanya sudah turun membasahi pipinya.


“Diam!” bentak Rey.


Clara mendongak lalu membuang ludah tepat ke wajah Rey.

__ADS_1


“Dasar sampah! Kau pengecut! Hanya pengecut yang memakai umpan untuk menangkap musuhnya!”


Rey mengepalkan tangannya hingga memutih.


“Beraninya kau!”


Rey baru saja akan melayangkan kembali tamparannya ke arah Clara. Namun, tangannya dicekal oleh seseorang.


“Kau ....”


Rey tersenyum saat mengetahui Max adalah orang yang kini mencekal tangannya. Ia tersenyum miring. Rasanya sangat senang melihat Max sudah ada di hadapannya.


“Wah! Senang melihatmu di sini Max. Well---“


Belum selesai ia berbicara tangannya sudah ditarik ke belakang oleh Max hingga berbunyi.


KRAKK!!


“AKHH!!”


Rey mengaduh kesakitan. Namun, Max tak berhenti sampai di situ ia menendang belakang lutut Rey hingga Rey terjatuh dan bertumpu dengan kedua lututnya.


“AKHH!”


Lagi-lagi suara teriakan Rey yang kesakitan terdengar kencang, membuat teman-teman Rey segera berlari membantu menyelamatkan Rey. Bahkan dua orang yang sedari tadi memegang Clara pun segera melepaskan Clara dan berlari untuk menolong Rey.


Max lagi-lagi berhasil melumpuhkan lawan-lawannya dengan mudah. Max sendiri tidak sadar dengan apa yang sudah ia lakukan karena ia merasa tubuhnya bergerak dengan sendirinya seperti ia sudah terbiasa berkelahi selama ini. Ya, tentu saja Max memang sudah biasa berkelahi karena ia yang selalu menolong orang-orang yang menjadi korban bully di sekolahnya dahulu. Hanya saja karena amnesia yang ia derita, ia tidak mengingat semua itu.


Saat semua lawan berhasil ia tumbangkan, Max segera berlari ke arah Clara yang masih saja tercengang melihat perkelahian yang dilakukan Max.


“Clara! Kau tidak apa-apa, kan?!” tanya Max panik saat melihat Clara hanya diam dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.


Clara mengerjapkan kedua matanya. Ia baru menyadari jika Max kini sudah berada di hadapannya.


“Ah? I ... iya. Aku tidak apa-apa, Max.”


Max menghembuskan napasnya lega saat mendengar jawaban dari Clara. Ia tadi sangat khawatir melihat Clara yang terdiam.


“Ya, sudah. Ayo, kita segera pergi dari sini, Ra.”


Clara menganggukkan kepalanya. Ia segera berlari mengikuti Max yang kini menggenggam tangannya.


“Basah,” batin Clara saat ia merasakan tangan Max basah karena keringat.


“Apa Max akan baik-baik saja?” batin Clara khawatir.


Ia teringat akan ucapan dari dokter Abdi mengenai kondisi jantung Max. Tangan Max sering kali basah karena keringat jika Max sudah kelelahan.

__ADS_1


“Max pasti sangat kelelahan akibat berkelahi tadi,” batinnya.


“Max, stop! Jangan lari lagi! Kau sudah kelelahan! Ini sangat berbahaya buat jantungmu!” tegur Clara.


Namun, Max tak berhenti. Justru ia semakin mempercepat langkahnya terutama saat menuruni tangga menuju lantai bawah.


“Max!” panggil Clara lagi sambil menarik tangannya yang digenggam oleh Max, membuat Max menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang ke arah Clara.


“Apa sih, Ra? Kita harus segera pergi dari sini,” sahut Max.


“Iya, aku tahu, tapi lihat kondisi dong, Max. Kamu sudah kelelahan. Aku tidak mau terjadi se---“


“Clara awas!!”


Max segera menarik tangan Clara dan memeluknya.


BUGHH!


Clara membelalakkan kedua matanya kaget saat melihat Rey sudah memukul kepala Max hingga berdarah. Max pun terhuyung hingga ia yang melindungi Clara dalam dekapannya pun hampir terjatuh di atas terjalnya anak tangga.


“MAXX!!”


Mario yang baru saja datang berhasil menangkap tubuh Max dan Clara hingga mereka berhasil diselamatkan.


JDUGG!


Mario meringis saat punggungnya menghantam kerasnya lantai. Namun, ia tak peduli. Ia langsung bangkit untuk mengecek kondisi Max dan Clara. Ia kaget saat melihat Max sudah tak sadarkan diri dengan kepala belakang yang mengeluarkan darah.


“Kita harus ke rumah sakit, Yo! Ayo, Yo!”


Teriakan dari Clara menyadarkan Mario yang tadi sempat terpaku karena keterkejutannya. Ia segera menggendong Max ala bridal style menuju ke luar sekolah, sedangkan Clara berusaha menelepon ambulans meskipun beberapa kali ia salah menekan tombol akibat terlalu panik.


Tak lama kemudian ambulans yang berhasil dihubungi Clara pun datang bertepatan dengan mereka yang berhasil membawa Max ke luar. Seluruh warga sekolah menatap ke arah mereka dan berhamburan mendekati mereka. Namun, Mario dan Clara tak peduli. Mereka segera masuk ke ambulans. Hingga ambulans pun melaju meninggalkan sekolah.


Hayden, Jonathan, Cassie dan Rudi yang tadi mendengar keributan dan suara ambulans langsung berlari ke arah luar sekolah. Namun, terlambat mobil ambulans sudah pergi.


“Ada apa?! Apa yang terjadi?! Siapa yang dibawa ambulans?!” tanya Jonathan bertubi-tubi pada beberapa siswa yang ada di sana.


“Itu, kayaknya Max, Jo. Tadi aku lihat ia digendong Mario,” sahut salah satu siswa yang ada di sana.


“Apa?!”


Tanpa berpikir panjang Hayden segera berlari ke arah tempat parkir diikuti Jonathan, Cassie dan juga Rudi. Sesampainya di sana mereka segera naik ke mobil Hayden dengan Hayden yang mengendarainya. Ia berhasil menerobos penjagaan satpam sekolah dan pergi menuju Rumah Sakit.


...BERSAMBUNG ....


...

__ADS_1


__ADS_2