
“Silvana? Kamu sedang apa di sini? Tumben, mau pulang bareng?” tanya Mariana saat melihat
Silvana sudah ada di depan pintu kelasnya.
Silvana tersenyum.
“Iya, mau pulang bareng sama kamu,” jawab Silvana.
Mariana mengernyit heran. Tidak biasanya Silvana seperti ini.
“Kenapa, kok melamun? Tidak mau ya?”
Mariana menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak. Bukan begitu. Aku heran saja. Ya, sudah. Ayo, ki----“
BRUKK!!
“Aww!” ringis Silvana.
“Kok, bisa, Sil? Kamu tersandung apa, sih? Di sini, kan tidak ada apa-apa?” tanya Mariana bingung saat Silvana yang berjalan di depannya jatuh tanpa sebab, padahal tidak ada sesuatu yang bisa membuatnya terjatuh.
“Kenapa Kak Ana, melakukan ini padaku?!” tanya Silvana sambil sesekali meringis lalu meniup telapak tangannya pelan.
“Sil, maksud kamu a----“
“Sil, kamu kenapa? Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Max yang tiba-tiba menghampiri mereka berdua.
Mariana menatap Max kaget. Max baru saja akan membantu Silvana untuk berdiri, tapi Mario menahan tangannya.
“Kamu mau apa, Max? Ingat kata dokter Abdi, jangan melakukan aktivitas yang berat-berat,” peringat Mario.
Ia lalu mengulurkan tangannya pada Silvana.
“Ckk! Kenapa jadi Mario, sih?” batin Silvana kesal.
Namun, ia tetap menerima uluran tangan Mario.
“Aww!” ringis Silvana.
“Kenapa? Ada yang sakit?” tanya Max.
Silvana menganggukkan kepalanya.
“Kenapa kau bisa jatuh? Bukannya kau lebih suka menjatuhkan orang lain, ya?” sindir Mario.
Silvana menatap tajam Mario, tapi hanya sebentar kemudian ia menatap Mario dengan tatapan memelas.
“Aku di dorong Kak Ana,” ucap Silvana.
Mariana membulatkan matanya kaget. Begitu juga dengan Max dan Mario.
“Sil, maksud kamu apa, sih?! Jangan fitnah! Tadi, kan ka----“
“Kak Ana kenapa, sih jadi jahat sama aku? Apa salah aku ke Kakak? Apa karena aku dekat sama Max, Kakak jadi marah sama aku?”
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Silvana. Mariana menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak mengerti kenapa Silvana melakukan ini padanya, apa lagi di depan Max dan Mario.
“Na, kamu benar-benar melakukannya?” tanya Mario tak percaya.
Mariana menggelengkan kepalanya ribut.
“Tidak, Yo. Aku tidak melakukan apa-apa. Silvana tadi jatuh sen----“
“Kak, jangan bohong. Aku tahu Kakak marah karena aku juga suka sama Max, seperti Kakak suka sama Max, makanya Kakak melakukan ini padaku ... hikshiks.”
Silvana kini menangis. Mario dan Max menatap keduanya kaget.
__ADS_1
“Jadi kalian berdua suka sama Max?” celetuk Jonathan yang baru saja datang.
Hayden menatap Silvana lekat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini karena ia tidak melihat kejadiannya, tapi ia tahu jika Silvana adalah orang yang licik. Dia akan melakukan apa pun demi mendapatkan Max. Dia tahu Silvana sudah terobsesi pada Max sejak dahulu.
Mariana menghampiri Max. Ia memegang tangan Max erat. Ia tidak mau Max berpikiran macam-macam tentangnya. Ia tidak mau di cap jelek oleh Max.
“Tidak Max. Tidak. Aku tidak melakukan itu. Itu semua fitnah. Silvana tadi jatuh sendiri. Aku tidak melakukan apa pun padanya. Percaya padaku, Max.”
Max menatap Mariana lekat. Sungguh ia tidak tahu ada apa ini? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini? Kenapa tiba-tiba ia mendengar jika dua wanita di depannya kini bertengkar karena memperebutkannya?
“A ... ku tidak tahu siapa yang benar dan yang salah di antara kalian karena aku tidak melihatnya sendiri, tapi jika kalian bertengkar hanya karena aku. Aku mohon hentikan. Kalian masih bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku. Kalian berdua itu cantik jadi tolong berhenti bertengkar hanya karena aku. Lagi pula aku sudah menyukai orang lain. Jadi, kumohon hentikan semuanya, please.”
Mariana dan Silvana terdiam. Mereka kaget dengan penuturan Max barusan. Bukan hanya mereka berdua yang kaget, tapi Mario dan Jonathan juga kaget mendengarnya kecuali Hayden, yang memang tahu siapa wanita yang dimaksud oleh Max.
Max melepaskan genggaman tangan Mariana pelan.
“Den, tolong antar Silvana pulang. Aku takut kakinya benar-benar terkilir,” titah Max.
Hayden menatap Max tak terima.
“Please, Den.”
Max menatap Hayden dengan tatapan memohon. Mau tak mau Hayden mengangguk pasrah. Max lalu menatap Mariana.
“Kamu pulang naik apa?” tanya Max.
“Mobil jemputan,” jawab Mariana lirih sambil menunduk.
“Oh, begitu. Ya, sudah kalian hati-hati. Aku juga harus segera pulang. Assalamualaikum. Bye.”
Max segera pamit sambil menarik tangan Mario. Mario menoleh ke belakang, menatap Mariana erat.
“Kak, ayo cepat. Aku benar-benar sudah lelah. Aku tidak mau collaps di sini,” ucap Max pelan.
Mario tersentak. Ia lalu menatap wajah Max lekat.
“Kenapa tidak bilang dari tadi?! Biar Kak Rio gendong, ya? Kita ke rumah sakit, ya?” panik Mario.
“Bertahan, Max. Kakak mohon,” ucap Mario panik.
“Kak aku mengantuk ...” ucap Max lirih.
“Ja ... jangan! Jangan tidur dulu, Max!” teriak Mario histeris.
“Dek! Please!!”
...****
...
Suasana hening mendominasi perjalanan Hayden, Jonathan dan Silvana.
Jonathan melirik pada Hayden di sampingnya. Hayden terlihat fokus menyetir. Jonathan lalu menoleh ke belakang di mana Silvana berada.
“Ekhm!”
Jonathan berdehem. Berusaha mencairkan suasana.
“Sil, mau kita antar ke rumah sakit, tidak? Takut kakimu kena----“
“Dia tidak kenapa-kenapa, Jo. Semua hanya pura-pura,” potong Hayden.
Silvana dan Jonathan tersentak mendengarnya.
“Apa maksudmu, hah?! Aku tidak pura-pura! Aku tidak bohong!” bantah Silvana.
Hayden tersenyum miring.
__ADS_1
“Tidak usah berbohong padaku. Aku sudah mengenalmu dari dulu. Jika kau menyukai Max, maka jadilah wanita yang baik. Jangan memfitnah Kakak sepupumu sendiri seperti tadi. Jika Max tahu, dia akan membencimu, Sil.”
Silvana mengepalkan tangannya erat.
“Turun! Turunkan aku di sini! Aku tidak mau menumpang pada orang seperti dirimu!” teriak Silvana marah.
CKITTT!
“Waa!! Astagfirullah! Den!”
Jonathan mengusap dadanya berkali. Rasanya jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya saat Hayden mengerem mendadak.
“Kau mau membuat kita mati, hah?!” teriak Jonathan marah.
Hayden melirik sekilas pada Jonathan, ia lalu menoleh ke belakang.
“Turun. Kau ingin turun, kan? Silakan turun sekarang,” ucap Hayden datar.
Silvana menatap tajam pada Hayden. Tanpa kata ia segera membuka pintu mobil dan segera turun tanpa pamit.
“Apa tidak apa-apa, kita melakukan ini padanya? Bukankah harusnya kita mengantarkan dia pulang? Kan, Max yang sendiri yang menyuruh kita.”
Hayden memutar bola matanya malas. Ia lalu menunjuk pada Silvana yang berjalan menjauh dari mereka.
“Kau lihat, kan? Kakinya tidak sakit sama sekali. Sudah kukatakan padamu, dia hanya pura-pura.”
Jonathan menganggukkan kepalanya pelan.
“Wah, kau benar, Den. Mana mungkin orang yang kakinya sakit bisa berjalan cepat seperti dia,” sahut Jonathan.
“Sudahlah, lupakan. Ayo, kita pulang.”
...****
...
“Ckk! Menyebalkan! Dasar Hayden kurang ajar! Aku tidak akan memaafkanmu! Akan ku balas kau nanti!” gerutu Silvana.
Ia baru saja sampai di depan rumahnya setelah menaiki taksi. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang ada di depan rumahnya. Berjalan, menghampiri dirinya. Silvana hanya menatap orang itu datar, hingga saat jarak mereka semakin dekat. Silvana melihat jelas mata penuh kemarahan itu.
“Kenapa? Kau ma----“
PLAKK!
Silvana terdiam mematung. Kepalanya menoleh ke kiri. Rasa panas menjalar di pipinya. Rasa perih terasa di ujung bibirnya. Tamparan Mariana tidaklah main-main.
“Busuk! Kau ternyata orang yang busuk! Caramu benar-benar kotor, Sil. Aku tidak menyangka jika aku mempunyai saudara sepertimu. Apa maumu sebenarnya, hah?!” marah Mariana.
Silvana memegang pipinya pelan lalu melihat Mariana tajam.
“Kau bertanya apa mauku, kan? Baiklah akan kujawab.”
Silvana tersenyum miring.
“Aku ingin kau menjauh dari Max karena Max hanya milikku. Kau mengerti?”
Mariana menatap Silvana tak kalah tajam.
“Kalau aku tidak mau, memangnya kau mau apa?” sahut Mariana menantang.
Silvana semakin menatap tajam Mariana.
“Aku tidak akan segan-segan untuk menyakitimu dan juga menyakiti siapa pun yang berani mengganggu kebahagiaanku. Ingat itu!” ancam Silvana lalu segera masuk ke rumahnya kemudian membanting pintunya kencang.
Mariana terdiam.
“Kau sudah tidak waras, Sil. Kau sudah gila,” gumam Silvana.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ....
...