Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
12. Salahku


__ADS_3

Sudah seminggu Max dirawat di rumah sakit. Sudah seminggu pula Clara diam-diam selalu datang ke rumah sakit untuk menjenguk Max meskipun Ia hanya bisa melihat Max dari kejauhan. Ia tak berani mendekat karena jika mendekat sudah dipastikan Mario,Jonathan dan Hayden akan kembali mengusirnya, selain itu ia juga beranggapan jika sakitnya Max memang ada hubungannya dengan dirinya.


Seperti sore ini, Clara terus memperhatikan Max yang baru saja selesai berjalan-berjalan di taman rumah sakit dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh Mario.


"Hhh..padahal aku masih ingin di taman kak.." keluh Max.


Mario tersenyum dan mengusap kepala Max pelan.


"Anginnya kencang nanti kita bisa masuk angin jika terus berada di taman. Lagi pula itu bisa membuatmu cepat lelah Max." ucap Mario.


Max memutar bola matanya malas.


"Aku bahkan tidak melakukan apa-apa kak, hanya duduk di kursi roda ini." ucap Max kesal.


Mario tersenyum miris mendengarnya tapi memang itu yang dikatakan dokter.


Max akhir-akhir ini memang mudah lelah.


"Hhh..jadi haus. Kakak mau membeli jus mangga dan makanan ringan dulu di kantin. Max mau titip apa?" tanya Mario.


"Aku ingin jus apel kak."jawab Max antusias.


Mario mengangguk.


"Tapi tanpa es ya." ucap Mario.


Max memberengut kesal.


"Jangan cemberut nanti tampannya hilang."


Max menatap Mario tajam, sedangkan yang ditatap hanya terkekeh melihatnya. Mata Max itu sendu, tidak ada seramnya sama sekali, jadi meskipun ia sedang melebarkan matanya tak ada bedanya bagi Mario.


"Ya sudah kau tunggu disini ya,kak Rio mau ke kantin dulu. Ingat jangan pergi kemana-mana." peringat Mario.


Max memutar bola matanya malas.


"Iya kak Rio. Aku tidak akan kemana-mana. Lagi pula aku juga malas menjalankan kursi roda ini." ucap Max jengah.


Mario terkekeh mendengarnya. Max memang paling malas jika menggunakan kursi roda, selain karena ia masih sanggup berjalan,ia juga tidak suka menggerakkan kursi rodanya,menurutnya itu pekerjaan yang merepotkan,ayahnya pernah menawari ia kursi roda otomatis tapi Max juga menolaknya, ia mengatakan jika itu membuat ia benar-benar seperti orang lumpuh.


"Ya sudah kakak ke kantin dulu." pamit Mario.


Clara yang bersembunyi di balik tembok yang tak jauh dari tempat Max namun berseberangan itu terus memperhatikan Max dari sana. Clara belum ingin pulang. Padahal waktu sudah menunjukan pukul empat sore berarti sudah satu jam berlalu sejak ia pulang sekolah bahkan ia tidak peduli dengan pakaian seragam yang masih melekat ditubuhnya serta tas yang masih bertengger di punggungnya.


Sementara itu Max melihat kearah Clara yang bersembunyi. Ia menyipitkan matanya guna mempertajam penglihatannya karena ia yakin ada seseorang diseberang sana yang sedang memperhatikannya. Max semakin menyipitkan matanya dengan kernyitan didahinya tapi itu hanya membuat matanya lelah. Ia mengusap matanya berkali-kali setelah itu ia menyipitkan kembali matanya meskipun ia tahu ia tidak bisa melihat orang diseberang sana dengan jelas karena mata dia yang minus tapi setidaknya ia masih bisa melihat perawakan dan gerak gerik orang diseberang sana.


"Gawat!! Clara bodohhh!!" Clara merutuk dalam hati.

__ADS_1


"Jangan-jangan Max sudah tahu?! Bagaimana jika aku memang sudah ketahuan?! Tamatlah riwayatmu Clara..." monolog Clara dalam hati.


Sedangkan Max semakin yakin jika ada orang yang sedang memperhatikannya karena ia melihat gerakan bayangan di tembok dan juga baju orang itu yang terlihat keluar dari balik tembok meskipun sedikit.


Rasa penasaran Max semakin tumbuh. Ia ingin mendekat kesana. Iapun mulai menggerakkan kursi rodanya pelan meskipun terasa sulit baginya. Ia menggerakkan kursi rodanya dengan mata yang tak pernah lepas ke arah dimana Clara bersembunyi sehingga ia tak menyadari jika jalan yang ia pijaki kini tidaklah datar,ada tiga anak tangga yang harus ia lewati untuk menuju kesana meskipun tak terlalu tinggi tapi cukup berbahaya jika ia terjatuh disana apalagi kondisinya yang sedang berada di kursi roda. Ia terus menjalankan kursi rodanya sampai tiba saat ia harus melewati tiga anak tangga tersebut.


"Eh?!" kaget Max. Tubuhnya terjungkal dan terpisah dari kursi rodanya. Refleks ia memejamkan matanya erat. Hampir saja tubuhnya menghantam keras dan dinginnya lantai rumah sakit jika tidak ada seseorang yang memeluknya menyelamatkan dadanya yang hampir menghantam lantai.


"Max!!!"


Suara teriakan dua orang manusia yang Max kenal berdengung kencang ditelinganya mengalahkan seruan kencang dari orang-orang yang berada di rumah sakit yang turut terkejut oleh tingkahnya.


"Clara..Mario..."lirih Max.


Dua nama itulah yang ia yakini sebagai dua orang yang memanggil namanya.


Degupan jantung yang berirama lebih cepatpun ia rasakan. Bahkan kepalanya yang terasa berputarpun turut ia rasakan.


"Max!! Max!!" panggil Mario.


Mario terus mengguncangkan tubuh Max cepat dan guncangan yang Mario berikan cukup menyadarkan Max untuk kembali kealam nyata.


"Max bangun Max!! Jawab aku!!" teriak Mario histeris. Ia tidak pernah suka dan tidak pernah terbiasa melihat adiknya memejamkan mata seperti ini.


Max membuka kedua matanya perlahan dengan kernyitan didahinya yang begitu kentara.


Mata Max mengedar ia baru menyadari jika Mario juga dalam posisi terbaring bersamanya,itu berarti demi menyelamatkan Max,Mario rela mengorbankan tubuhnya menghantam kerasnya lantai.


Max langsung bangkit terduduk dan menggeser tubuh Mario. Tak peduli dengan kepalanya yang terasa berputar yang sudah ia rasakan dari awal di tambah dengan gerakan ia yang bangkit terduduk tiba-tiba membuat kepalanya terasa berputar dua kali lipat.


"Kak Rio?! Apa yang kakak lakukan?! Punggungnya!! Ya ampun itu pasti sakit!! Kakak harus segera diobati!!" panik Max.


Mario melongo. Menatap Max tanpa berkedip.


"Pak,Bu tolong kakak saya. Tolong panggilkan dokter!" pinta Max.


Salah seorang yang yang ikut mengerumuni ia dan Mariopun langsung bergegas mencari petugas medis.


Mario yang dari tadi hanya melongo langsung tersadar dan memegang kedua pundak Max.


"Max,hey lihat kemari. Lihat Kak Rio. Kak Rio tidak apa-apa justru kau yang harus dikhawatirkan bukan aku." jelas Mario.


Max menggelengkan kepalanya ribut.


"Jangan diulangi lagi! Aku tidak suka kak Rio mengorbankan diri kakak hanya untuk manusia menyusahkan dan tak berharga sepertiku!" marah Max.


"Max!! Jaga ucapanmu!" bentak Mario.

__ADS_1


Max terdiam tak berkutik.


"Jangan berbicara sembarangan!Kau itu berharga bagi kami! Kau itu sangat berharga bagiku!" lanjut Mario kesal. Ia sangat tidak suka jika adik kembarnya bersikap seperti ini.


Tiba-tiba Max memejamkan matanya erat,kernyitan didahinya bermunculan seiring dengan nafasnya yang memburu tak beraturan. Kepalanya yang terasa berputar semakin menjadi-jadi.Gerakan dadanyapun naik turun disertai rasa lemas yang sudah tak tertahankan hingga tubuhnyapun limbung.


Kedua mata Mario membola,dengan sigap ia langsung menangkap tubuh Max yang limbung.


"Max!Max! Kau masih mendengarku! Bangun Max!" panggil Mario sambil menepuk pipi Max.


Max membuka matanya sedikit..


"Se..sakk..kk." ucap Max putus-putus saat dirasa oksigen menjauh darinya sampai ia harus membuka mulutnya guna meraup oksigen sebanyak-banyaknya.


Saat Max ingin kembali memejamkan kedua matanya. Ia tak sengaja melihat Clara ada disana bersama dengan orang-orang yang mengerumuninya.


"Clara.." lirih Max.


Setelahnya Ia merasakan ada beberapa orang yang membawanya keatas brankar dan tak lama kegelapanpun datang menyergapnya memaksanya untuk memejamkan kedua matanya kembali dan tak sadarkan diri.


****


Sudah berulang kali Mario mengacak-acak rambutnya lalu menjambaknya. Menunggu sang adik yang masih ditangani oleh pihak medis di ruang ICCU.


Ia kesal. Sangat kesal. Lagi dan lagi ia merasa dirinya tak pernah becus menjaga adik kembarnya.


Ini juga yang dirasakan Max selama ini yaitu menyalahkan dirinya sendiri hanya saja Max menyalahkan dirinya sendiri karena ia merasa dirinya tak berguna. Selalu menyusahkan keluarganya dan orang-orang disekitarnya terutama kakak kembarnya yang selalu mengorbankan jiwa raganya dan juga waktunya hanya untuk dirinya.


Bersamaan dengan itu seseorang yang terus terisak yang kini berada tak jauh dari sana juga ikut merasakan hal yang sama yaitu menyalahkan dirinya sendiri. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri jika ada yang terluka didekatnya terutama yang terjadi pada Max saat ini. Ia selalu merasa jika semuanya terjadi karena ulahnya.


Clara mendekati Mario yang terduduk di kursi tunggu di depan ruang ICCU.


"Ri..o.." panggil Clara pelan.


Mario menoleh keasal suara yaitu pada Clara.


"Kau..?"


Mario berdiri dari duduknya.


Clara menggigit bibirnya.


"Ma..af.." lirih Clara.


"Ini semua pasti karenamu!!"


Mario mengepalkan tangannya erat lalu melayangkannya di udara.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2