Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
41. Merasa Tak Dianggap


__ADS_3

Detak jarum jam bersamaan dengan suara bed side monitor dan peralatan medis lainnya memecah keheningan yang ada. Seorang lelaki yang kini duduk di samping ranjang seorang lelaki berwajah mirip dengannya yang kini terbaring lemah dengan nassal canulla di hidungnya, tak henti-hentinya memanjatkan doa. Berharap seseorang yang terbaring itu bangun dari tidurnya.


“Bangun, Max. Bangun ...” ucapnya lirih.


Mario mengusap surai hitam kecokelatan milik sang Adik pelan. Namun, sang Adik masih saja terlelap.


“Lelah, ya? Adik Kak Rio lelah, ya?”


Ia genggam tangan sang Adik yang terlihat lebih kurus darinya.


“Kamu kurusan ya, Max? Makannya susah, sih. Nanti kalau kamu sudah bangun, Kakak akan menyuapimu sampai kamu kenyang dan jadi gemuk.”


Mario menghembuskan napasnya pelan. Ia tak pernah suka melihat sang Adik harus kembali terbaring lemah di ranjang pesakitan. Ia cium tangan Max yang terbebas dari infus.


“Bangun, please.”


Mario menangis tertahan. Kejadian tadi membuatnya sangat panik. Di mana jantung sang Adik terasa begitu lemah bahkan hampir tak dapat ia rasakan.


“Jangan ke mana-mana ya, Max. Jangan tinggalkan Kakak. Kakak mohon. Ayo, bangun. Ayo, bangun, Max.”


Tiba-tiba tangan yang sedari tadi Mario pegang, kini bergerak perlahan.


“Max, kamu sudah bangun?”


Mario tersenyum lebar. Ia segera menghapus air mata di pipinya dan segera memanggil dokter. Dokter Abdi dan dua orang perawat datang dan segera memeriksa keadaan Max. Sementara itu Mario kini berada di luar menunggu hasil pemeriksaannya selesai. Tak lama kemudian, dokter Abdi pun keluar bersama dengan dua perawat tadi.


“Bagaimana keadaan Max, dok?”


Dokter Abdi tersenyum pada Mario.


“Max baik-baik saja, Yo. Kondisinya sudah stabil. Kamu masuk, ya. Temani Max, kalau ada apa-apa, panggil saya.”


Mario tersenyum lebar. Rasanya begitu lega. Seperti beban yang sedari tadi mengimpit dadanya terlepas begitu saja.


“Terima kasih, dok.”


Mario segera berlari masuk. Tidak sabar untuk menemui sang Adik. Max yang melihat kedatangan sang Kakak, tersenyum. Mario membalas senyumnya lalu segera memeluk Max erat.


“Kamu membuat Kakak takut, Max. Kamu membuat Kakak takut. Tolong, jangan lakukan ini lagi pada Kakak. Kak Rio hampir mati melihatmu seperti tadi,” ujar Mario sambil merenggangkan pelukannya.


Max tersenyum lalu menggenggam tangan Mario.


“Maaf. Maafkan Max ya, Kak.”


Mario tersenyum lalu mengangguk pelan.


“Iya, tapi jangan membuat Kakak takut lagi, ya.”


Max hanya tersenyum menanggapinya karena ia sendiri tak yakin bisa menepati permintaan sang Kakak atau tidak.


...****...


“Non, ini ada kiriman paket untuk, Non.”


Mariana mengernyitkan dahinya bingung.


“Tapi, Ana tidak memesan paket apa pun, Pak. Mungkin salah kirim kali, Pak.”

__ADS_1


Pak Ismail selaku satpam penjaga rumahnya menggelengkan kepalanya pelan.


“Tidak, Non. Alamatnya sudah benar, kok. Memang alamat rumah ini. Namanya juga untuk Non Ana,” jawab Ismail yakin.


Mariana melihat alamatnya memang alamat rumahnya.


“Ya, sudah, Pak. Terima kasih, ya.”


Pak Ismail mengangguk.


“Sama-sama, Non.”


Mariana lalu membawa kotak itu ke kamarnya.


“Dari siapa, ya? Tidak ada pengirimnya,” gumamnya.


Ia lalu membukanya perlahan. Namun, kedua matanya membelalak kaget saat boneka berlumuran darah ada di dalamnya. Mariana melemparkan kotak itu ke lantai. Napasnya memburu, ketakutan.


“Apa itu? Siapa yang mengirimnya?”


Namun, tak sengaja ia melihat kertas bertuliskan darah itu terjatuh di dekatnya. Ia mengambilnya pelan-pelan. Detak jantungnya berdetak kencang tidak karuan.


“Jauhi, Max. Atau kau akan merasakan akibatnya,” gumam Max.


Mariana merobek-robek kertas itu hingga hancur.


“Ini pasti ulah kamu, Sil! Kamu keterlaluan, Sil. Kamu keterlaluan! Aku tidak akan menyerahkan Max untuk wanita gila sepertimu! Tidak akan!” teriak Mariana. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.


“Kuterima tantanganmu, Sil.”


Sedangkan di tempat lain Silvana yang menerima pesan dari Mariana mengeram kesal.


“Arghh!!”


Ia membanting beberapa perabot kamarnya ke dinding hingga pecah berserakan.


...****...


“Pelan-pelan jalannya,” tegur Jonathan.


“Iya,” jawab Max pelan.


Saat ini Max sudah kembali bersekolah setelah dua hari mendekam di rumah sakit dan dua hari beristirahat di rumah. Kakaknya dan kedua temannya sudah menemaninya sejak di rumah tadi. Mario yang berjalan di sampingnya, membawakan tasnya dan tak mengizinkan Max membawanya sama sekali. Sedangkan Hayden dan Jonathan, sedikit saja ia berjalan cepat, maka mereka berdua akan menegurnya seperti saat ini.


“Aku gendong saja, ya?” tawar Hayden.


Max menatap tajam Hayden.


“Jangan aneh-aneh, kau mau membuatku malu, ya.”


Hayden menatapnya datar.


“Nanti kau lelah,” sahut Hayden.


“Sudah, tidak usah. Kita naik lift saja. Ayo,” ajak Mario.


Mereka berempat pun naik lift bersamaan. Sebenarnya jarang ada siswa yang naik lift. Hanya beberapa guru saja. Kecuali untuk siswa yang memang sedang tidak dalam kondisi yang sehat atau memang memiliki riwayat suatu penyakit, tapi Max biasanya akan menolak untuk naik lift kecuali hari ini. Sepertinya ia tidak mau mengambil risiko kelelahan dan berakhir kembali di UKS atau rumah sakit.

__ADS_1


“Hey, Bro! Sudah masuk sekolah lagi ya, tapi kok naik lift? Masih sakit atau bagaimana, nih?” tanya James penuh selidik.


Sebenarnya dia sangat penasaran dengan kondisi Max yang sebenarnya. Apalagi saat ia ingat kejadian di rumah sakit waktu itu, melihat Max yang collaps karena pertengkaran antara Silvana dan Clara.


“Jangan kepo!” sahut Jonathan.


Max tersenyum ke arah James.


“Kondisiku sudah lebih baik, James. Makanya aku sudah sekolah lagi,” jawabnya.


James mengangguk pelan. Sebenarnya ia ragu dengan jawaban Max apalagi saat ia melihat mereka naik lift dan juga melihat Mario, Hayden dan Jonathan yang bersikap overprotective pada Max.


“Sudah sana, jangan menghalangi jalan.”


Hayden mendorong pelan tubuh James agar tidak menghalangi jalan.


“Ayo, Max.”


Hayden menarik pelan tangan Max agar segera pergi ke kelas mereka. Bukan apa-apa, ia hanya tidak mau Max kelelahan karena terlalu lama berdiri.


Jonathan menepuk bahu James yang terlihat kesal.


“Kita masuk ke kelas, ya.”


James mengerucutkan bibirnya kesal.


“Dasar si muka datar.”


Sementara itu Cassie yang baru saja di toilet tak sengaja melihat Max dan teman-teman Max yang akan memasuki kelas mereka. Cassie tersenyum lalu segera pergi menuju kelasnya. Sesampainya di kelas ia langsung menghampiri Clara yang sedang membaca sebuah komik.


“Ra!!” teriak Cassie.


Clara mengusap dadanya pelan. Kedua matanya melotot tajam.


“Apaan, sih?! Kamu mau membuat aku kena serangan jantung, apa?!” marah Clara.


“Ishh! Iya, sorry. By the way, Hari ini dapat lagi suratnya?”


Clara menggelengkan kepalanya pelan. Padahal kemarin-kemarin ia kembali mendapatkan surat-surat itu, tapi sekarang tidak lagi.


“Berarti dugaan kita benar, Ra.”


Clara mengernyitkan dahinya bingung.


“Dugaan kita? Maksudnya?”


Cassie tersenyum penuh arti.


“Max. Max orangnya, Ra. Max yang mengirimkan surat-surat itu untukmu karena sekarang dia sudah masuk lagi makanya suratnya tidak ada lagi. Berarti dugaan kita benar, Ra.”


Clara terdiam. Entah apa yang ia rasakan kini. Jika ini semua benar maka seharusnya ia senang, tapi kini rasanya hatinya justru dalam kebingungan dan sedikit sedih.


“Ra, kok diam? Kamu tidak senang, ya?” tanya Cassie bingung.


Clara menggelengkan kepalanya pelan.


“Aku sendiri bingung. Harus senang atau sedih. Di lain pihak aku senang kalau memang benar Maxlah yang mengirim surat-surat itu, tapi kalau memang benar, aku justru sedih karena itu berarti Max pura-pura melupakanku atau memang dia hanya mempermainkan perasaanku? Sepertinya dia memang tak pernah menganggapku ada.”

__ADS_1


...BERSAMBUNG ....


...


__ADS_2