Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
50. Mengungkapkan


__ADS_3

“Hah?! Apa?!” teriak Cassie kaget.


“Aku bilang ... kau mau ja---“


“Tidak ada yang makan, kan?” tanya Jonathan sambil mengambil sepiring spaghetti yang disodorkan Rudi pada Cassie. Ia lalu duduk dan mulai menyantap spaghettinya.


Rudi dan Cassie membulatkan mulut mereka kaget dengan kedatangan Jonathan yang tiba-tiba.


“Heh! Apa yang kau lakukan di sini, hah?!”


Cassie menatap tajam pada Jonathan. Namun, Jonathan tak peduli. Ia tetap memakan lahap spaghettinya.


“Hey! Kau dengar aku tidak, sih?!”


Cassie menarik tangan Jonathan yang sedang memegang garpu dengan spaghetti yang sudah terlilit.


Jonathan menatap datar pada Cassie.


“Apa?” sahut Jonathan.


“Eh? Kenapa ini orang? Tumben datar? Biasanya marah-marah,” batin Cassie.


Jonathan menatap lekat Cassie sebentar lalu kembali fokus pada spaghettinya.


“Ih! Kau ini apa-apaan, sih?! Itu makanan orang!”


Jonathan mendongak.


“Ya, iyalah makanan orang, siapa yang bilang ini makanan kucing?”


Jonathan melanjutkan makannya hingga spaghetti yang ada di piring habis tak bersisa.


“Enak. Kau yang bayar, kan?” tanyanya pada Rudi.


Rudi mengerjap kaget.


“Ah?”


Jonathan memutar bola matanya malas.


“Kau tadi memberikan spaghetti ini untuk Cassie, kan? Karena dia sudah kenyang makanya aku yang makan. Sama saja, kan? Jadi, nanti tetap kau yang bayar, kan?”


Rudi terdiam lalu menganggukkan kepalanya pelan.


“Iya, aku yang bayar.”


Jonathan tersenyum lalu melirik ke arah Cassie lalu kembali pada Rudi.


“Kau sedang galau, ya?” tanyanya pada Rudi.


Rudi diam sambil menunduk.


“Aku tahu ini soal Clara, kan?”


Rudi semakin menunduk dalam. Cassie yang menyadari itu langsung menyenggol lengan Jonathan.


“Kau ini apa-apaan, sih Jojo?!” tegur Cassie berbisik.


Jonathan hanya melirik Cassie sekilas.


“Galau, sih boleh, tapi jangan permainkan anak orang, dong.”


Cassie mengernyitkan dahinya bingung tidak mengerti maksud dari ucapan Jonathan.


“Aku tahu ini pasti berat untukmu melihat Clara justru memilih Max daripada dirimu, tapi kau jangan sampai salah melangkah apalagi merugikan orang lain. Lebih baik kau tenangkan dirimu dan ikut senang melihat Max dan Clara jadian. Kalian itu berteman, kan? Seharusnya ikut senang saat mereka senang. Aku saja yang awalnya tidak setuju dan menentang keras hubungan mereka tetap berusaha untuk ikut senang karena biar bagaimanapun aku senang melihat Max senang. Aku menyayangi Max. Jika kebahagiaan Max adalah Clara, jadi aku akan menerimanya dan kau juga harus begitu. Kalau kau menyayangi Clara, kau harus membiarkan Clara bahagia dengan Max. Oke?”


Rudi terdiam. Ia memikirkan semua yang dikatakan Jonathan.


“Wah, ini si Jojo bukan, sih? Kok, bisa lurus begini. Biasanya juga otaknya kurang satu ons?” batin Cassie tak percaya.


Jonathan berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Cassie pelan agar ikut berdiri.


“Eh? Mau ke mana?” bingung Cassie.


Jonathan tak menggubris dan pandangannya tetap pada Rudi yang masih menunduk.


“Kalau kau butuh teman curhat, telepon aku saja.”


Jonathan menyodorkan kartu nama pada Rudi yang diletakkan di atas meja.


“Kami pergi dulu, ya. Ayo,” ajak Jonathan pada Cassie sambil menarik tangan Cassie atau lebih seperti menyeretnya.


“Kau ini apa-apaan, sih?!” kesal Cassie. Namun, Jonathan tidak peduli dan tetap menarik tangan Cassie, hingga saat mereka sudah keluar dari Cafe, baru ia melepaskan tangannya dari Cassie.

__ADS_1


“Kau ini apa-apaan, sih?! Memangnya aku barang main ditarik saja?!” marah Cassie.


“Kau bukan barang makanya aku tarik ke sini. Aku ini peduli padamu, tahu.”


Cassie mengernyitkan dahinya bingung.


“Ckk! Lupakan! Otak udang seperti dirimu ini tidak akan mengerti dengan apa yang aku bilang.”


Cassie melotot tajam pada Jonathan.


“Kau yang otak udang! Bukan aku! Aku ini pintar!”


Jonathan menarik tubuh Cassie hingga wajah mereka benar-benar berdekatan bahkan deru napas mereka saja bisa mereka rasakan.


“Si Jojo mau apa, sih?! Jangan-jangan ...” batin Cassie takut.


TLAKK!


“Aww!! Sakitt!”


Cassie mengusap dahinya yang disentil oleh Jonathan.


“Apa yang kau pikirkan? Jangan mikir yang aneh-aneh.”


Cassie menatap tajam pada Jonathan.


“Tidak usah melotot, aku tidak takut.”


Cassie berbalik membelakangi Jonathan. Ia ingin sekali menendang Jonathan jauh-jauh dari hidupnya.


Jonathan menghembuskan napasnya pelan.


“Jangan dengarkan ucapan Rudi tadi, ya. Dia tidak serius denganmu. Dia hanya asal bicara. Dia sedang patah hati makanya ucapannya melantur. Dia pasti hanya akan menjadikanmu pelampiasannya bukan menjadikanmu pacarnya.”


Cassie mengernyitkan dahinya bingung berusaha memahami maksud perkataan Jonathan. Seketika ia ingat perkataan Rudi tadi. Rudi tiba-tiba menyatakan perasaannya padanya. Cassie berbalik lalu menatap Jonathan lekat.


“Sok tahu! Belum tentu Rudi seperti itu. Bisa saja, kan ia memang serius mengatakannya. Mungkin saja dia memang menyukaiku.”


Jonathan menggelengkan kepalanya ribut.


“Jangan bodoh! Kau, kan tahu dia itu sukanya Clara bukan dirimu! Dia hanya ingin mempermainkanmu! Dia hanya akan menjadikanmu pelampiasan! Kau tidak akan bisa bahagia dengan dia, Cassie!” marah Jonathan.


“Yak! Kenapa kau marah-marah tidak jelas padaku?! Itu kan hanya kemungkinan. Kau tidak bisa asal menebak!” sahut Cassie kesal.


“Kalaupun itu fakta memangnya kenapa?! Kenapa kau harus peduli padaku?!”


Jonathan mengeram kesal.


“Tentu saja aku peduli karena aku menyukaimu!!”


Cassie kaget dengan pengakuan Jonathan. Jangankan Cassie, Jonathan saja kaget dengan yang sudah ia ucapkan.


TIN! TIN TIN!


Cassie dan Jonathan tersentak kaget mendengar suara klakson mobil yang kini sudah berada di hadapan mereka.


“Ya ampun Pak Abdul!! Saya kaget tahu! Kalau saya kena serangan jantung bagaimana?!”


Orang yang dipanggil Abdul tadi hanya menyengir lebar. Dia adalah sopir Jonathan yang ditelepon Jonathan untuk menjemputnya.


“Maaf, Den. Habis, Aden sama pacarnya kayak orang melamun begitu sampai saya sudah di depan kalian saja, kalian tidak sadar.”


Cassie membulatkan kedua matanya kaget.


“Siapa yang pacaran?! Kita tidak pacaran, Pak! Iya, kan, Jo?”


Tidak ada sahutan dari Jonathan, hanya tatapan tidak sukanya saja yang ia dapatkan.


“Sudahlah. Ayo, masuk. Aku antar pulang.”


Cassie mengernyitkan dahinya bingung.


“Ckk! Kenapa kau jadi lola seperti Clara, sih?! Ayo, masuk!”


Jonathan menarik tangan Cassie agar segera masuk ke mobil. Cassie hanya menurut dan masuk.


Setelah mobil melaju, Cassie terdiam sambil menatap Jonathan yang saat ini lebih memilih melihat ke luar jendela.


“Dia ini kenapa? Jojo yang aku kenal tidak seperti ini. Dia, kan biasanya marah-marah. Lah, ini kok jadi baik?” batin Cassie.


“Terus ... tadi itu ... maksudnya apa, ya? Apa benar Jojo suka sama aku?” lanjutnya dalam hati.


...****...

__ADS_1


“Transplantasi jantung lagi?!”


Sungguh rasanya Aulia benar-benar hancur mendengar putra bungsunya harus menunggu untuk mendapatkan donor jantung.


“Kamu tenang saja, Aul. Aku akan berusaha untuk kesembuhan Max, anak kamu.”


Aulia menatap lekat Abdi.


“Apa seharusnya ... aku kasih tahu sekarang, ya?” batin Aulia.


“Kenapa, Aul? Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Abdi.


Aulia menganggukkan kepalanya pelan.


“Ya, sudah. Aku pulang ya, Di. Terima kasih. Assalamualaikum,” pamit Aulia.


“Waalaikum salam.”


Sementara itu di rumah, Max dan Mario sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi.


“Kak, keluar, yuk.”


Mario menoleh pada Max lalu menepuk kepala Max pelan.


“Jangan aneh-aneh dulu, ya. Kamu, kan harus banyak istirahat, Max. Kita di rumah saja. Kan, Kak Rio selalu ada di sini.”


Max tersenyum sambil mengangguk. Tiba-tiba ia teringat pada sang Ibu yang belum pulang untuk melihat hasil pemeriksaannya waktu itu.


“Kak Rio.”


Mario menyahut dengan deheman tanpa menoleh.


“Kira-kira hasilnya bagaimana ya?”


Mario terdiam mendengar pertanyaan dari Max. Jujur ia sangat takut mendengar hasil pemeriksaan Max karena ia tahu ada yang tidak beres dengan tubuh sang Adik akhir-akhir ini.


“Pasti bagus,” jawabnya singkat.


“Kalau a---“


TING TONG!


“Kak Rio buka pintu dulu, ya.”


Mario beranjak dari duduknya lalu segera pergi ke depan untuk membukakan pintu.


“Bunda.”


Aulia langsung memeluk Mario erat. Ia sudah tak bisa lagi menahan tangisnya.


“Bunda?! Bunda kenapa?! Kok, menangis?!” panik Mario.


“Adik kamu, Yo. Adik kamu ... hikshiks.”


DEG! DEG DEG!


“Max ... Max kenapa, Bun? Bagaimana hasil pemeriksaannya, Bun?!”


Aulia masih menangis sesenggukan.


“Bun ... Bunda, jawab Rio, Bun.”


Sedangkan Max yang masih duduk bersandar di sofa jadi penasaran dengan tamu yang datang.


“Kok, Kak Rio lama, ya? Tamunya siapa, sih?”


Max pun beranjak dari duduknya menuju ruang tamu.


“Loh, Bunda ternyata. Kok, Bunda menangis?”


Baru saja ia akan mendekat, tapi percakapan dari Aulia dan Mario membuat ia menghentikan jalannya.


“Bun ... jawab Rio, Bun. Max kenapa?”


Aulia merenggangkan pelukannya.


“Max sudah terdaftar menjadi penerima donor jantung, Yo.”


Max dan Mario tersentak kaget mendengarnya.


“Max harus melakukan transplantasi secepatnya, Yo.”


...BERSAMBUNG ....

__ADS_1


...


__ADS_2