Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
16. Bohong


__ADS_3

"Mmm..Maaf tadi kau bilang apa?" tanya Max.


Clara menggelengkan kepalanya.


"Ah,tidak. Bukan apa-apa. Lupakan saja Max." jawab Clara sambil tersenyum tapi tak lama senyum itupun memudar. Ia langsung terdiam menunduk.


Max tersenyum sendu melihatnya. Lagi dan lagi ia mendaratkan tangannya di kepala Clara,mengusap lembut kepala Clara yang sedang tertunduk.


Clara mendongak menatap intens kedua mata sendu Max. Entah kenapa ia jadi sedih melihat mata itu.


"Apa yang tadi kau tanyakan,hmm?" ulang Max.


Clara menunduk lagi.


"Tidak ada.." jawab Clara lirih.


"Seberapa penting orang itu untukmu?" tanya Max tiba-tiba.


Clara diam tidak ingin menyahut sama sekali. Sesak rasanya jika ia harus membahas tentang M sedangkan orang yang ada di depannya sudah dia anggap sebagai M.


"Apa dia belahan jiwamu?" tanya Max lagi.


Clara mendongak.


"Jadi kau mencari belahan jiwamu ya?" ucap Max sambil mengangguk-anggukkan kepalanya dengan tangan di dagunya berpose seolah-olah berpikir.


"Kalau aku, aku tidak pernah mencari belahan jiwaku karena kita itu sempurna kan? Tidak sebelah. Utuh begini. Kenapa harus mencari yang sebelah? Aneh." ucap Max sambil mengedikkan bahunya lalu menyengir,memamerkan deretan giginya yang rapi.


Clara mendengus mendengarnya. Ia kira Max akan serius menanggapinya tapi justru lelucon konyol yang harus ia dengarkan.


PLAKKK!


"Awww!! Ishh, kenapa kau memukul lenganku?" tanya Max sambil mengusap-usap lengannya yang terkena pukulan Clara.


"Kau menyebalkan. Aku kira kau sedang serius tadi!" kesal Clara.


"Ya ampun begitu inginnya kau berhubungan serius denganku." goda Max sambil terkekeh.


Mata Clara melotot lalu mencubit lengan Max.


"Aw Aw..ampun! Ish sakit tahu! Lama-lama kau seperti kak Rio ya!" ringis Max.


"Kau menyebalkan!" kesal Clara sambil mengerucutkan bibirnya.


Max terkekeh pelan.


"Iya iya aku tahu kau suka padaku." ucap Max sambil memamerkan deretan giginya. Entahlah Max jadi suka sekali menjahili Clara.


"Aku tidak pernah bilang seperti itu!" kesal Clara.


Clara mencebikkan mulutnya lalu berjalan pelan dan agak terpincang-pincang. Ia berniat untuk segera pergi dari sana tapi tiba-tiba tangan Max menghentikannya.


"Kenapa? Apa lagi?" tanya Clara.


"Kakimu kenapa? Kenapa kau berjalan pincang? Kenapa dengan lututmu? Apa yang sudah terjadi?"


Rentetan pertanyaan keluar begitu saja dari mulut Max kemudian Max berjongkok didepan Clara. Clara refleks merapatkan kakinya dan menutup roknya dengan tangan.


"Apa yang kau lakukan?! Dasar mesum!!" teriak Clara.


Max memutar bola matanya malas lalu menyentuh lutut Clara yang sedikit berdarah dan memar.


"Aww!! Sakittt,jangan disentuh!" ringis Clara.


Maxpun berdiri.


"Dasar kau ini! Jangan berpikiran negatif dulu. Aku berjongkok karena ingin melihat lukamu bukan melihat yang didalam rokmu."


PLAKKK!


"Aww! Kenapa kau memukul lenganku lagi?" ringis Max. Lagi-lagi lengannya dipukul Clara.


"Habis, ucapanmu itu." kesal Clara.


"Hhh..Aku hanya ingin mengklarifikasi ucapanmu tadi saja Ra. Kau bilang aku mesum. Aku tidak terima loh."


Clara menunduk.


"Maaf.." lirih Clara.


"Maafmu diterima." jawab Max sambil terkekeh.

__ADS_1


"Eh?" heran Clara lalu menatap Max.


Max tersenyum lebar.


"Jangan heran. Aku ini memang pemaaf apalagi pada dirimu. Aku tidak mungkin tidak memaafkan gadis cantik dan imut sepertimu. Oh tidak mungkin." ucap Max sambil menaik turunkan alisnya.


"Ish! Kau ini!"


Clara ingin memukul lengan Max lagi tapi Max dengan cepat menghindar menjauhi Clara.


"Eits! Tidak kena.hahaha." tawa Max sambil menjulurkan lidahnya kearah Clara.


Clara mengerucutkan bibirnya.


"Hahhaha sudah-sudah jangan marah." ucap Max lalu mendekat kearah Clara hingga tak ada jarak antara mereka.


"A..apa? K..kau mau.. apa?" kaget Clara sambil memundurkan langkahnya ke belakang.


GREPP!!


"Yakkk!!! Apa-apaan kau Max?! Turunkan aku! Turunkan aku!!" teriak Clara berontak di gendongan Max.


Ya Max mendekat karena ia ingin menggendong Clara.


"Turunkan Aku!!"


Max tak peduli. Ia tetap berjalan sambil menggendong Clara ala bridal style.


"Ish!! Diam. Nanti kau jatuh." peringat Max.


"Aku tidak peduli! Cepat turunkan aku! Kau ini mau apa,hah?!" teriak Clara.


"Shussttt..jangan berisik dan jangan banyak bergerak,nanti bukan hanya kau yang jatuh tapi aku juga. Kau akan kerepotan jika aku jatuh. Aku bisa saja pingsan tiba-tiba."


Clara membulatkan matanya. Ia segera diam dan tak berontak lagi di gendongan Max.


"Tenanglah, jangan panik. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Aku hanya ingin membawamu ke UKS. Lukamu itu harus segera diobati agar tidak terjadi infeksi Ra." jelas Max.


"Tapi kau tidak perlu menggendongku,aku masih bisa berjalan Max." sergah Clara.


Max menggelengkan kepalanya.


Clara terdiam.


"Kau semakin mirip dengannya Max.." batin Clara.


Tak jauh dari sana ada seorang wanita yang memperhatikan mereka berdua.


"Siapa perempuan itu? Kenapa dia bisa begitu dekat dengan Max..?" batin wanita itu.


****


"Aww..pelan-pelan Max." ringis Clara saat Max mengobati lukanya dengan air hangat.


"Tahan ya." ucap Max.


Max lalu mengambil obat merah dan meneteskannya di lutut Clara kemudian setelah dirasa obat merah itu sudah masuk ke kulit Clara,Maxpun menempelkan plester pada lutut Clara.


"Selesaiiii.." girang Max.


Clara tersenyum melihatnya.


"Terima kasih."


Max mengangguk.


"Kembali kasih."


Max lalu membereskan peralatan P3K nya ke dalam kotak dan membawanya ke lemari yang ada di UKS.


"Max.." panggil Clara.


"Hmm.." jawab Max dengan deheman yang saat ini masih membelakangi Clara karena sedang menghadap lemari.


"Apa kau..M?" tanya Clara pelan.


Max terdiam. Ia memijat pelipisnya pelan. Rasa pusing menyerang membuat ia menggigit bibirnya. Sebenarnya dari tadi ia juga merasa pusing setiap Clara membicarakan tentang M, kilasan-kilasan ingatan masa lalunya langsung bermunculan di kepalanya. Setelah dirasa pusingnya mereda,iapun membalikan tubuhnya dan menghampiri Clara.


"Aku rasa bukan Ra..aku bahkan tidak tahu soal inisial nama yang kau sebutkan tadi." jawab Max sambil tersenyum.


Clara menunduk. Ia benar-benar kecewa dengan jawaban yang Max berikan,padahal ia sangat berharap Max akan mengatakan iya tapi nihil jawabannya sangat bertolak belakang dengan harapannya.

__ADS_1


"Oh ya, sebenarnya kakimu kenapa?" tanya Max mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh,tadi aku hilang keseimbangan lalu terjatuh dan lututku terkena batu yang agak runcing di taman." jawab Clara.


"Hhh..kebiasaan yang buruk. Dasar ceroboh."


Clara mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Max.


"Sok tahu. Memangnya kau tahu aku sering ceroboh atau tidak, tidak kan? Menurutku kau lah yang ceroboh. Kursi ro.."


Clara menghentikan ucapannya saat ia hampir saja mengatakan kejadian saat di rumah sakit tempo hari.


"Jadi benar itu kau.." batin Max.


"Mmm..teman tomboymu itu kemana? Cepat telepon dia atau kirim pesan padanya agar dia bisa segera datang dan menemanimu disini." ucap Max lebih seperti perintah.


"Hah? Teman tomboy?" bingung Clara.


"Iya yang waktu itu bersamamu. Masa kau tidak mengerti. Kau itu pintar bagaimana bisa jadi telat berpikir seperti ini?" heran Max.


PLAKKK!


"Aduhhh..kebiasaan. Sakit tahu." ringis Max sambil mengusap lengannya yang lagi-lagi dipukul Clara.


"Habisnya mulutmu itu tak dijaga sama sekali. Lagi pula kata siapa aku pintar. Menurutku biasa saja."


Max menghela nafasnya sebentar.


"Kau itu pintar, selalu mendapat peringkat tiga be.."


Max menghentikan perkataannya sebentar lalu kembali berkata pada Clara.


"Yah pokoknya yang sering bersamamu. Cepat panggil dia karena aku tidak mau meninggalkanmu sendiri disini. Apalagi dari tadi dokter jaganya tidak datang-datang."


Clara mengangguk. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari saku kemejanya dan mengirimi Cassie pesan untuk segera datang ke UKS.


Tak lama Cassiepun datang. Max langsung pamit untuk pergi menyusul kakaknya dan teman-temannya di kantin tapi belum sampai di kantin Max sudah merasa lemas bahkan keringat dingin sudah membasahi dahinya. Ia lalu berhenti dan berpegangan pada tembok.


"Hhh..good job Max. Sepertinya kau mulai lapar." gumam Max. Ia lalu berjalan pelan dan duduk di kursi panjang yang ada disana.


"Untung ada kau kursi penyelamat kalau tidak aku pasti akan seperti pengemis yang sedang duduk di lantai." gumam Max lagi. Ia lalu mengambil ponselnya dari saku celananya.


"Hallo.."


"Kau kemana Max? Kenapa lama sekali?" tanya seseorang ditelepon yang tak lain dan tak bukan, kakak kembarnya, Mario.


"Tolong kak.." ucap Max lirih lalu menutupnya sepihak. Ia sudah tak punya tenaga saat ini.


Tak lama Mario datang berlari kearahnya bersama dengan Hayden dan Jonathan yang mengikutinya dari belakang.


"Kau kenapa? Mana yang sakit? Katakan pada kakak, Max?" panik Mario.


Max menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak apa-apa kak." ucap Max.


"Apanya yang tidak apa-apa bocah,lalu ini apa? Dahimu sudah berkeringat dingin seperti ini,kau masih bilang tidak apa-apa?!" kesal Jonathan sambil mengusap dahi Max yang berkeringat dengan tisu.


"Kita ke UKS ya?" usul Hayden.


Max menggelengkan kepalanya lagi.


"Sudah ku bilang aku tidak apa-apa. Aku hanya lapar." ucap Max pelan.


"Hah??" ucap Mario,Jonathan dan Hayden bersamaan.


"Ck..kalian ini. Ini kan sudah biasa. Ini ulah lambungku. Jika aku lapar maka badanku akan lemas dan keringat dingin bermunculan di dahiku, tidak seperti orang-orang pada umumnya. Sudah ayo ke kantin,aku ingin makan kebab." jelas Max pelan.


"Oh iyaa!" teriak Mario,Jonathan dan Hayden bersamaan setelah mereka ingat.


"Ya sudah ayo naik kepunggungku Max." tawar Hayden.


Max mengangguk. Ia lalu naik ke punggung Hayden. Ia sama sekali tak peduli jika ia akan diejek oleh murid-murid lain. Karena tubuhnya benar-benar lemas sekarang.


Merekapun segera berjalan menuju kantin dengan Max yang ada di gendongan Hayden.


Max memikirkan kejadian tadi saat ia bersama dengan Clara.


"Maaf aku sudah berbohong padamu Clara.. meskipun belum banyak yang kuingat tapi aku ingat jika akulah M yang kau maksud itu.. Maaf aku berbohong padamu..karena aku tidak mau kau semakin terluka jika nanti aku harus meninggalkanmu.." monolog Max dalam hati.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2