Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
48. Resmi


__ADS_3

Rudi akhirnya sampai di rumah sakit. Ia segera mencari tahu letak kamar rawat Max pada pihak administrasi.


“Dari sini ... berarti belok kiri,” gumamnya.


“Nah, itu mereka.”


Rudi melihat ada Cassie, Mario, Hayden dan juga Jonathan ada di sana, tepatnya di luar kamar rawat Max.


“Kok, mereka di luar? Kenapa ya? Apa jangan-jangan Max kenapa-napa?”


Rudi segera mempercepat jalannya. Sesampainya ia di sana, semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya.


“Rudi? Kok, kau di sini?” tanya Cassie.


“Kok, kalian di luar? Max kenapa?” tanya balik


Rudi, sama sekali tak mengindahkan pertanyaan dari Cassie. Rudi menengok ke sana kemari, tapi ia tidak melihat Clara ada di sana.


“Clara mana? Kok, tidak ada?” tanya Rudi lagi, memotong ucapan Cassie yang baru akan menjawab pertanyaan darinya.


“Ckk! Rusuh!” celetuk Jonathan.


Rudi menoleh ke arah Jonathan.


“Kau lihat Clara?” tanyanya pada Jonathan.


Bukannya menjawab, Jonathan justru memalingkan wajahnya ke arah lain.


“Slow dong, Di. Si Clara ada di dalam sama Max. Mereka lagi ngobrol,” sahut Cassie.


Rudi membelalakkan kedua matanya kaget.


“Hah?! Berdua?! Kok, mereka diijinin berduaan, sih?!” panik Rudi.


“Berisik!” tegur Hayden dengan wajah datarnya.


Rudi meneguk ludahnya kasar. Ia jadi takut saat melihat wajah Hayden saat ini. Ia mundur dan mendekat ke arah Cassie lalu ia tatap satu persatu mereka. Ia baru menyadari jika mereka terlihat kesal saat ini. Entah ada apa dengan mereka? Pikirnya. Rudi menyenggol lengan Cassie yang ada di sampingnya pelan.


“Sebenarnya ada apa, sih?” bisik Rudi.


Cassie menatap Rudi sebentar.


“Sabar ya. Nanti juga kau akan tahu. Persiapkan mentalmu, oke.”


Rudi mengernyitkan dahinya bingung mendengar ucapan Cassie.


“Maksudmu?”


Cassie mengedikkan kedua bahunya.


“Lihat nanti saja.”


Rudi terdiam sambil menghembuskan napasnya pelan.


“Bikin penasaran,” batinnya.


CKLEKK!


Tiba-tiba pintu kamar rawat Max terbuka, membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah Clara yang kini baru saja ke luar dari sana.


“Emm ... kalian bo ... Eh? Rudi? Kau di sini?”


Rudi menganggukkan kepalanya pelan.


“Iya, kau kenapa di dalam berduaan saja, Ra?” tanya Rudi pada Clara.


“Oh, itu ... bukan apa-apa,” jawab Clara gugup.


“Emm ... kalian boleh masuk sekarang, maaf lama.”


Hayden mengangguk, sedangkan Mario dan Jonathan segera masuk ke kamar rawat Max melewati Clara begitu saja disusul oleh Hayden. Clara menghembuskan napasnya pelan.


“Apa mereka akan setuju, ya?” batin Clara.


“Ra,” panggil Cassie sambil menarik tangannya pelan.


“Bagaimana? Apa yang kalian bicarakan? Semua baik-baik saja, kan?” berondong Cassie.


Clara mengangguk sambil tersenyum.


“Iya, semua baik-baik saja.”


“Terus, kalian berteman atau pacaran?” tanya Cassie yang sudah tidak sabar.


“Eh?! Pacaran?! Maksudnya apa?!” kaget Rudi.


Clara hanya tersenyum memandang keduanya.


“Biar Max yang menjawab, ya.”


Rudi tiba-tiba gelisah mendengarnya.


“Ada apa ini? Jangan-jangan mereka resmi pacaran?” batin Rudi takut.


Rudi menggelengkan kepalanya ribut membuat Clara dan Cassie bingung.


“Kenapa, Di?” tanya Clara dan Cassie bersamaan.


“Tidak,” jawab Rudi lirih.


Ia lalu memundurkan langkahnya dan duduk di kursi tunggu yang ada di sana. Seketika ia menjadi murung.


“Kenapa kau ke sini juga?!”


“Suka-suka aku, dong!”

__ADS_1


“Sudah kubilang jangan dekati Max lagi!”


Clara, Cassie dan Rudi seketika menoleh ke arah keributan. Ada Silvana dan Mariana yang menghampiri mereka sambil tetap berdebat.


“Kalian siapa?” tanya Mariana.


Baru saja Cassie akan menjawab. Tangan Silvana yang terangkat sambil menunjuk Clara menghentikan niatnya.


“Kau! Dasar wanita tidak tahu diri sedang apa kau di sini, hah?!” teriak Silvana marah.


Rudi berdiri dari duduknya, sementara Cassie segera menghampiri Silvana.


“Jaga ucapanmu, bodoh! Kau yang tidak tahu diri bukan Clara!” sahut Cassie.


“Sil, tolong jangan buat keributan. Ini rumah sakit. Kau tidak mau, kan kejadian waktu itu terulang lagi?” peringat Rudi.


“Waktu itu? Memangnya ada apa dengan waktu itu?” batin Mariana bertanya-tanya.


“Ckk! Jangan ikut campur!” balas Silvana.


Cassie mengeram kesal. Ia lalu menarik tangan Clara dan Rudi agar masuk ke kamar rawat Max meninggalkan Silvana dan Mariana di sana.


“Cih! Dasar, sok!” gerutu Silvana.


“Apa maksud lelaki tadi? Keributan apa yang kau buat, Sil?” tanya Mariana.


Silvana menatap jengah Mariana.


“Bukan urusanmu! Dasar pelakor!”


Silvana segera masuk ke kamar rawat Max.


“Dia pikir dia siapa? Pacar juga bukan,” gumam


Mariana dan ikut masuk ke kamar rawat Max.


Max menatap bingung pada orang-orang yang baru masuk.


“Banyak juga yang menjengukku,” batin Max.


“Max,” panggil Mario yang kini ada di sampingnya.


“Hmm?” tanya Max.


“Ckk! Kok, malah hmm, sih? Katanya ada yang mau dibicarain?” tanya Mario gemas.


Max mengerjapkan kedua matanya pelan.


“Oh, iya. Maaf, lupa.”


Max terkekeh, sementara Mario, Hayden dan Jonathan menghembuskan napasnya pelan.


“Sabar, Yo. Untung sayang,” batin Mario.


“Ekhm. Sebelumnya terima kasih ya sudah datang buat ngejenguk, karena ternyata kebetulan ada Mariana, Silvana dan juga Rudi di sini, jadi aku lebih enak buat ngomongnya,” ucap Max.


“Ra, sini.”


Clara yang dipanggil tersenyum gugup lalu mendekat menghampiri Max.


“Kenalkan ini Clara, Na. Kalau yang lain, kan sudah kenal. Jadi, aku kenalin ke kamu saja.”


Max menatap ke arah Mariana. Mariana mengangguk tanpa suara sambil memegang erat parsel buah yang dia bawa.


“Jadi, begini. Aduh, kok jadi susah ya ngomongnya,” kekeh Max sambil menoleh ke arah Clara.


Max tersenyum ke arah Clara yang dibalas senyuman juga oleh Clara. Silvana dan Mariana yang melihatnya mengepalkan kedua tangan mereka erat. Sungguh mereka benar-benar cemburu saat ini.


Max menoleh pada yang lain, menatap satu persatu mereka.


“Aku sama Clara. Kita ....”


Max menjeda ucapannya sebentar. Ia genggam tangan Clara erat.


“Hari ini kita sudah resmi pacaran,” kata Max akhirnya.


Keheningan terjadi, mereka yang ada di sana terdiam berusaha mencerna apa maksud dari ucapan Max hingga teriakan dari Silvana membuat semua tersadar.


“Tidak! Itu tidak mungkin, kan Max! Katakan kalau ini Cuma prank, kan?!”


Clara menunduk. Ia tahu, ini semua pasti akan terjadi. Ia tahu pasti akan ada banyak orang yang tak setuju dengan hubungan mereka berdua.


“Tidak, Sil. Ini bukan prank. Aku dan Clara, kami berdua memang pacaran. Kebetulan karena kalian berdua di sini, jadi aku sekalian kasih tahu juga ke kalian.”


Silvana mengeram kesal.


“Kenapa harus dia?! Kenapa, Max?! Apa kurangnya aku?! Aku seribu kali lebih baik dari dia! Dia hanya perempuan tidak tahu diri!” marah Silvana.


“Jaga ucapanmu, Sisil!” bentak Max.


Clara mengusap tangan Max pelan. Berusaha menenangkan Max. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Max. Padahal Max saat ini saja masih terbaring lemah di ranjang pesakitan. Max menoleh ke arah Clara, yang kini sedang tersenyum ke arahnya. Max menghembuskan napasnya pelan.


“Tolong, jangan katakan itu lagi, Sil. Aku mohon. Aku tidak suka jika Clara dihina. Clara adalah orang yang aku cinta, jadi kumohon jangan hina dia.”


Silvana mengepalkan tangannya erat hingga memutih. Bahkan air matanya kini sudah jatuh membasahi pipinya.


“Aku sangat berterima kasih pada kalian berdua karena sudah mau menyukaiku. Aku sangat berterima kasih, tapi seperti yang aku bilang waktu itu kalau kalian sebaiknya menghentikan semuanya, apa lagi sampai bertengkar hanya karena aku. Hentikan itu semua, karena aku hanya menganggap kalian teman, tidak lebih karena aku sudah menyukai orang lain yaitu Clara.”


BRUKK!


Silvana menjatuhkan parsel dan sekantung makanan yang ia bawa untuk Max hingga jatuh berserakan.


“Aku sangat membencimu, Clara!”


Silvana segera berlari keluar dari sana sambil menangis.

__ADS_1


Semua yang ada di sana menghela napas dengan tingkah laku Silvana. Sementara itu, Mariana tersenyum getir sambil berjalan menghampiri ranjang Max.


“Ini,” ucapnya sambil menyodorkan parsel buah pada Mario.


“Ini aku bawakan untuk Max dan juga kamu, Yo.”


Mario mengangguk sambil sesekali melihat wajah Mariana yang terlihat bersedih. Ia tidak suka melihat kesedihan di mata Mariana. Ia sangat mencintai gadis ini, tapi ia tahu cintanya tidak terbalas. Ia tahu Mariana menyukai Max, adik kembarnya.


“Terima kasih, Na.”


Bukan Mario yang menjawab, tapi Max. Mariana mengangguk sambil tersenyum.


“Sama-sama. Congrats, buat ... kalian berdua. Kalau begitu aku permisi,” pamit Silvana.


“Iya, thanks, Na. Kak Rio, tolong antar Mariana, ya.”


Mario membulatkan mulutnya.


“Tidak apa-apa, aku bi---“


“Kak Rio sana antar,” perintah Max memotong ucapan Mariana.


“Ah, iya. Ayo, Na.”


Tanpa sadar Mario segera menarik tangan Mariana atau lebih tepatnya menggenggam tangannya.


“Assalammualaikum,” pamit mereka.


“Waalaikum salam.”


Sementara itu sedari tadi Cassie terus memperhatikan Rudi yang ada di sampingnya terdiam mematung.


“Kasihan si Rudi,” batin Cassie iba.


...****...


“Ingat jangan terlalu banyak pikiran, jangan terlalu capek juga dan jangan memaksakan diri. Ingat tubuh kamu itu perlu banyak istirahat,” nasihat Abdi.


Max hanya menganggukkan kepalanya pelan. Antara mendengar atau malas mendengar nasihat dokter Abdi yang itu-itu saja. Sementara itu Clara yang juga ada di sana benar-benar menyimak apa yang dikatakan oleh dokter Abdi. Dia ingin menjadi pacar terbaik untuk Max. Dia ingin tahu semua hal tentang Max terutama tentang kesehatan Max. Tadi sebelum dia masuk ke kamar rawat Max, dia sudah berkonsultasi pada dokter Abdi mengenai kesehatan Max. Semua yang dikatakan oleh dokter Abdi ia catat. Dimulai dari pantangan makanan dan aktivitas yang boleh dan tidak dilakukan oleh Max, hingga apa saja yang harus ia lakukan jika tiba-tiba Max collaps di hadapannya.


“Kenapa, sih dia harus ada di sini?” batin Mario menggerutu.


Sungguh Mario masih tak nyaman dengan apa yang sudah terjadi. Sebenarnya sebagai seorang Kakak kembar dari Max, ia masih belum bisa mengizinkan Max berpacaran dengan Clara, bagaimanapun menurutnya Clara juga sering menjadi penyebab collapsnya Max. Jadi, wajar jika ia sedikit tak setuju, tapi melihat sang Adik terlihat lebih hidup dan bahagia ia sedikit terpaksa untuk menyetujui hubungan keduanya.


“Orang tua kalian tidak datang?” tanya Abdi pada Max dan Mario.


“Mereka ke luar kota, dok. Katanya masih banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal,” jawab Mario.


“Tadinya mereka mau pulang, tapi kami melarang. Lagi pula aku sudah baik-baik saja, kan?” sahut Max. Yang diangguki oleh Abdi.


“Cuma berdua?” tanya Abdi.


Max dan Mario mengernyitkan dahinya.


“Iya, dok. Memangnya kenapa?” tanya Max.


“Eh? Ah, tidak. Tidak kenapa-napa. Ya, sudah. Kalian hati-hati di jalan dan Max ingat pesan saya, oke?”


Max menganggukkan kepalanya pelan.


“Ya, sudah saya permisi.”


Semua menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih, dok.”


“Max,” panggil Cassie.


Ya, Cassie juga ada di sana. Setelah pulang sekolah ia sepakat untuk menemani Clara menemui Max yang hari ini sudah diperbolehkan pulang. Bukan hanya Cassie, tapi Hayden dan juga Jonathan ada di sana.


Max menoleh ke arah Cassie.


“Kenapa?” tanya Max.


Cassie tersenyum lebar sambil menyodorkan telapak tangannya pada Max. Membuat Max dan juga yang lainnya mengernyit bingung.


“Apaan?”


Cassie tersenyum.


“Aku dengar kalian jadian. Sekarang aku minta PJ.”


Cassie kembali menyodorkan telapak tangannya.


“Apa-apaan itu?! Enak saja kau minta PJ. Harusnya aku, kan yang minta!” sahut Jonathan tak terima.


Max terkekeh mendengarnya.


“Iya, nanti ya di sekolah. Kak Rio akan mentraktir kalian.”


Mario melotot tajam.


“Kok, jadi aku?!”


Max tersenyum lebar sambil memeluk lengan Mario erat, menatap Mario dengan tatapan puppy eyesnya.


“Kak Rio, kan sayang Max jadi ya turuti saja.”


Mario memalingkan wajahnya ke arah lain. Tidak bisa menolak jika sudah di tatap seperti itu oleh Max.


“Ya, sudah iya.”


Max bersorak diikuti Cassie dan Jonathan.


“Dasar bocah,” gumam Hayden. Sedangkan Clara hanya tersenyum melihat tingkah Max.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ....


...


__ADS_2