Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
45. Memikirkan Max


__ADS_3

Mario menatap Max lekat dengan tatapan sendu. Berkali-kali ia menarik napas lalu menghembuskannya. Namun, rasa sesak itu tak kunjung hilang. Sungguh melihat sang adik kembar terbaring lemah tak berdaya dengan nassal canulla yang bertengger di hidungnya dan juga peralatan medis lainnya, membuat ia sama sekali tak bisa bernapas lega. Meskipun dokter Abdi sudah mengatakan jika kondisi Max sudah tidak apa-apa, ia tetap belum tenang jika belum melihat kedua mata sang adik terbuka. Dokter Abdi mengatakan jika Max hanya kelelahan dan juga terlalu banyak yang dipikirkan. Bagi pasien yang memiliki riwayat penyakit seperti Max tentu itu akan menjadi beban untuk tubuhnya.


“Apa lagi yang kamu pikirkan, sih, Max? Hmm? Cerita pada Kakak. Jangan dipendam sendiri,” gumamnya.


Digenggamnya erat tangan Max lalu diciumnya dan diusapnya perlahan.


“Jangan seperti ini terus. Kak Rio takut ...” lirihnya.


Setetes air mata jatuh dari sudut matanya lalu ia usap perlahan. Takut dilihat sang adik jika tiba-tiba terbangun.


“Dokter Abdi, kan sudah bilang padamu, itu berbahaya. Kenapa masih membebani pikiranmu, sih?” gerutunya.


“Ayo, bangun. Kak Rio takut.”


CKLEKK!


“Yo, ini makan.”


Mario menoleh sekilas pada Hayden yang baru saja masuk dan menaruh sekotak makanan dalam kantong plastik berwarna putih di atas nakas. Mario lalu kembali menghadap Max sambil menggelengkan kepalanya pelan.


“Aku tidak lapar, Den.”


Hayden menghembuskan napasnya kasar.


“Makan! Apa mau aku suapi, hah?! Apa susahnya, sih?! Tinggal makan saja!” perintahnya yang sudah kesal.


“Nanti saja kalau Max sudah bangun,” tolak Mario lagi.


“Makan saja, sih! Jangan batu, bisa tidak! Kau mau Max bangun dan sedih melihat Kakaknya seperti mayat hidup karena tidak makan?!”


Mario memutar bola matanya malas.


“Aku tidak seperti mayat hidup. Aku hanya melewatkan makan siang saja, Den. Bukan tidak makan seharian,” bantahnya.


Hayden menarik pundak Mario kencang membuat Mario hampir jatuh terjungkal ke belakang.


“Hayden!! Kau apa-apaan, sih?!” marah Mario.


Hayden tidak peduli. Ia tarik tangan Mario hingga berdiri dari duduknya lalu mendudukkan Mario paksa di sofa dekat ranjang yang Max tempati.


“Duduk!” titah Hayden.


Ia lalu mengambil kotak makanan yang ia beli tadi di kantin dan memberikannya pada Mario.


“Makan atau kau kuusir dari sini!”


Mario mendelik tak terima. Bagaimana bisa ia diusir dari kamar rawat adik kembarnya sendiri?


“Enak saja kalau bicara! Aku ini Kakaknya Max! Aku Kakak kembarnya! Kau tidak bisa mengusirku seenaknya!”


Hayden menatap tajam Mario.


“Karena kau Kakak kembarnya, makanya kau harusnya tahu Adikmu ini tidak suka melihat orang terdekatnya menderita karena dia! Dia pasti akan merasa bersalah padamu saat melihat Kakaknya tidak memperhatikan dirinya sendiri gara-gara dirinya! Kau tahu, kan Max tidak boleh terlalu banyak berpikir. Itu membebani tubuhnya dan berbahaya untuk nyawanya. Jadi jangan keras kepala jadi orang! Pakai otakmu!”


Mario terdiam.


“Tinggal makan saja, kok susah!” lanjut Hayden lalu berjalan menghampiri ranjang Max dan duduk di kursi yang tadi dipakai oleh Mario.


“Kakak kembarmu bodoh, Max.”


Mario mendelik mendengar ucapan Hayden.


“Aku dengar! Tidak usah mengadu yang tidak-tidak pada Adikku!” teriak Mario kesal.


Hayden tak menanggapi. Ia tidak peduli dengan ucapan Mario. Ia genggam tangan Max pelan.


“Makin kecil saja,” batinnya saat melihat tangan Max yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya.


Sementara itu Mario yang masih kesal tetap menuruti perintah Hayden. Ia membuka kotak makanannya.


“Kwetiaw,” katanya pelan.


“Iya, aku yang pesankan.”


Bukan Hayden yang menjawab, tapi Jonathan yang baru saja datang.

__ADS_1


Mario mengusap dadanya pelan. Kaget dengan kedatangan Jonathan yang tiba-tiba.


“Bikin kaget saja,” gerutu Mario.


Jonathan menyengir lebar.


“Sorry. Sudah, sekarang cepat makan kwetiawnya. Masih hangat, loh. Aku pesankan itu agar bisa kau makan karena aku tahu kalau kau saat ini tidak berselera makan, jadi kupesankan kwetiaw. Lumayan pedas, kok.”


Mario tersenyum tipis. Jonathan memang selalu mengerti dirinya. Ia lalu menyuapkannya ke mulutnya dan mengunyahnya pelan. Ya, lumayan pedas dan enak. Biasanya Max juga suka membelinya, meskipun bukan yang pedas. Max itu meskipun sakit, tapi hampir semua makanan sejenis mi, dia sukai. Untungnya Max masih diperbolehkan untuk memakannya asalkan jangan terlalu sering.


“Enak?” tanya Jonathan.


Mario mengangguk mengiyakan. Jonathan tersenyum. Ia lalu menghampiri ranjang Max. Diusapnya perlahan tangan Max yang terbebas dari infus.


“Bayi besar. Ayo, cepat bangun,” ucapnya lirih.


...****


...


Clara berdiri di atas balkon. Tangannya bertumpu pada pagar balkon. Ia menatap kosong pada langit senja di atasnya. Pikirannya hanya terisi penuh dengan rangkaian kalimat panjang dari Max di jam istirahat tadi. Ia menghembuskan napasnya pelan. Bagaimana bisa Max masih terlihat tenang dan ceria menghadapi hidupnya yang seperti itu? Pikirnya.


“Kalau aku, mungkin akan terus menangis karena tak bisa ingat apa-apa. Aku juga pasti tidak akan bisa tersenyum, saat tahu kondisiku tidak senormal anak-anak seusiaku pada umumnya,” gumamnya.


“Tapi ....”


Clara menjeda ucapannya. Rasa sesak menjalar di dadanya.


“Tapi kamu beda, Max. Kamu masih bisa tersenyum, tertawa, dan juga menggombal,” kekehnya.


Ia terkekeh, tapi kedua matanya justru berkaca-kaca.


“Kamu juga masih bisa menggendongku dari depan toilet ke UKS.”


Ia ingat waktu ia berjalan tertatih karena mengejar kucing dan Max yang langsung menggendongnya ke UKS. Rasanya dadanya jadi semakin sesak jika mengingat hal itu. Air matanya pun turun, tak mampu lagi dibendung.


“Bodoh. Dasar, Max bodoh.”


“Kau juga bodoh,” sahut Cassie tiba-tiba.


Clara menoleh ke belakang. Dilihatnya Cassie yang membawa nampan berisi dua piring spaghetti dan dua gelas jus strawberry.


Clara lalu segera masuk ke kamarnya, tepatnya kamar mereka berdua lalu membantu Cassie dengan mengambil sepiring spaghetti dan segelas jus strawberrynya.


“Ini untukku, kan?” tanya Clara sembari menunjuk pada makanan dan minuman yang ia ambil dari nampan tadi.


“Ya, iyalah. Kenapa harus bertanya?” jawab Cassie.


Mereka berdua akhirnya duduk di atas karpet berbulu yang ada di kamar mereka.


“Ini semua aku yang buat. Agar kau bisa makan. Kalau aku tawari nasi, kau pasti menolak, kan?”


Clara tersenyum lebar lalu menganggukkan kepalanya pelan.


“Tahu saja,” ucap Clara sambil mencicipi spaghetti buatan Cassie.


“Apa yang tidak aku tahu darimu, hah? Semua aku tahu. Bahkan segala tingkah bodohmu saja aku tahu. Aku sudah khatam di luar kepala,” sahut Cassie bangga.


Clara memutar bola matanya malas sambil mencibir.


“Khatam, kau pikir mengaji.”


Cassie tersenyum lebar sambil menaik turunkan alisnya.


“Aku juga sudah khatam Al-Quran sampai berkali-kali. Tidak terhitung pokoknya.”


Clara memutar bola matanya malas.


“Cih, dasar sombong!” cibir Clara sambil mengunyah spaghettinya.


Cassie terkekeh sambil memperhatikan Clara yang memakan masakan buatannya. Ia menghembuskan napasnya lega. Akhirnya Clara mau makan. Setelah tadi ia memaksanya berkali-kali, tapi Clara tetap menolak. Ia mengerti Clara pasti memikirkan Max karena ia sendiri juga begitu. Ia tadi juga terus memikirkan Max, betapa beratnya menjadi seorang Max. Sudah sakit, hilang ingatan pula. Cassie menghembuskan napasnya pelan lalu melanjutkan makannya.


“Bagaimana, enak?” tanya Cassie pada Clara saat mereka berdua sudah menghabiskan makanan mereka.


Clara menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


“Enak,” puji Clara.


Cassie mengembangkan senyumnya.


“Mungkin karena aku lapar kali, ya,” lanjut Clara.


Cassie melunturkan senyumnya, tatapannya berubah kesal dengan bibir yang mengerucut.


“Mau memuji atau mengejek? Jangan dua-duanya. Pilih salah satu.”


Clara terkekeh.


“Enak. Enak. Masakanmu enak sekali, Cassie. Thank you bestie,”ucap Clara sambil tersenyum dan mengayunkan tangan Cassie yang kini berada di genggamannya.


“Cih! Dasar bocil,” cibir Cassie.


Namun, tak urung ia tersenyum melihat Clara bertingkah seperti ini, tapi tak lama kemudian ia terdiam.


“Apa sekarang waktu yang tepat, ya?” batin Cassie.


Ia melihat Clara yang merapikan piring-piring dan gelas-gelas bekas mereka lalu menaruhnya di nampan.


“Aku bawa ini ke dapur ya, sekalian aku cuci,” ucap Clara beranjak dari duduknya.


“Iya, yang bersih ya,” sahut Cassie.


Clara menganggukkan kepalanya lalu mengangkat salah satu jempolnya.


“Sip!”


Clara segera pergi ke luar kamar menuju dapur yang ada di lantai bawah. Sementara Cassie kini hanya duduk terdiam sambil bersandar di tepi ranjang.


“Mau bilang, tapi takut dengan responsnya nanti. Tapi kalau tidak bilang juga salah karena biar bagaimanapun aku, kan sudah tahu?” gumamnya.


“Arghh!!”


Cassie mengacak-acak rambutnya.


“Pusing, kan jadinya,” gerutunya kesal.


Ia lalu mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit-langit kamar mereka.


“Tapi aku juga khawatir pada Max. Aku juga ingin tahu keadaannya. Jika aku saja khawatir, apalagi Clara, ya?”


Cassie beranjak dari duduknya lalu ke luar dari kamar menuju dapur. Sesampainya di dapur, ia melihat Clara yang sedang menyusun piring dan gelas bekas mereka yang sudah dicuci tadi ke rak. Clara menoleh lalu menaikkan sebelah alisnya.


“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Clara bingung.


Cassie terdiam lalu menghampiri meja makan. Ia menarik kursi lalu duduk di sana. Tangannya saling bertautan. Clara mengernyitkan dahinya, semakin bingung dengan tingkah Cassie. Ia lalu segera mencuci tangannya dengan sabun pencuci tangan dan juga air di kran wastafel lalu mengambil lap tangan dan mengeringkan tangannya.


“Kenapa, sih? Ada apa? Kenapa tidak menjawabku?” tanya Clara berjalan menghampiri Cassie dan duduk di depannya.


Cassie menatap Clara lekat.


“Jangan kaget, ya?” ujar Cassie pelan.


Clara semakin mengernyitkan dahinya bingung.


“Kenapa harus kaget? Memangnya ada apa, Cassie? Ayo, jawab aku! Jangan membuatku penasaran dan khawatir!”


Cassie menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


“Ini ... soal Max,” kata Cassie lirih.


Clara seketika menegang.


“M ... Max? A ... ada apa dengan dia memangnya?” tanya Clara sambil menunduk.


“Max ... tadi siang masuk rumah sakit, Ra.”


Clara sontak mendongak dan melebarkan kedua matanya kaget.


DEG! DEG DEG!


“Apa?!”

__ADS_1


...BERSAMBUNG ....


...


__ADS_2