Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
27. Sekedar Menerka


__ADS_3

"Mereka benar-benar bahagia. Apa salah jika aku juga ingin bahagia?" monolog Abdi dalam hati.


Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya membuat Abdi seketika menoleh kebelakang.


"Mariana? Kamu sedang apa disini?" tanya Abdi pada Mariana yang ternyata adalah teman sekelas Max dan Mario dan juga anak teman Abdi.


"Oh tadi Ana mengantar oma om. Om sedang apa? Om melamun ya?" tanya Mariana.


Abdi menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Om tidak melamun. Oma kamu kenapa? Sakit?" elak Abdi.


Mariana mengangguk.


"Sakit kepala katanya Om tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Kata dokter Oma hanya kelelahan."


Abdi membulatkan mulutnya membentuk "o" tanpa suara.


Mariana mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan membuka galeri pada ponselnya lalu menyodorkan ponselnya pada Abdi.


"Om pernah lihat orang ini tidak? Aku tahu om banyak pasien jadi tidak mungkin mengingat satu persatu pasien om, tapi mungkin om pernah melihat dia?"


Abdi melihat foto di ponsel Mariana lalu mengangguk.


"Serius? Om pernah melihatnya?"


Abdi mengangguk lagi.


"Bukan hanya pernah melihatnya tapi dia juga pasien Om. Memangnya kenapa? Kamu kenal?"


Mariana mengangguk semangat.


"Kenal om. Sangat kenal! Dia teman sekelas Ana namanya Max. Ana dengar dia sakit. Om tahu kamar rawatnya dimana? Ana ingin menjenguknya."


Abdi mengangguk.


"Ayo om antar, Na."


Abdi dan Ana akhirnya pergi ke kamar rawat Max.


CKLEKKK!


Max menoleh kearah pintu yang tiba-tiba terbuka.


"Om dokter?"


Abdi tersenyum dan menghampiri ranjang Max.


"Maaf ya, om tidak mengetuk pintu dulu. Kamu kaget ya?" sesal Abdi.


"Sedikit tapi tidak apa-apa, yang disini tetap aman." ucap Max meyakinkan sambil menunjuk dada kirinya.


Abdi mengusap rambut Max pelan. Sedari dulu Max selalu terlihat polos. Bukan hanya wajah tapi sikapnya juga sama. Abdi menengok melihat sekeliling.


"Yang lain kemana? Orang tua kamu? Mario?" bingung Abdi saat tak ditemukan seorangpun yang menemani Max di kamar rawatnya.


"Ayah bunda sedang makan di kantin. Mereka susah sekali di suruh makan, katanya masih khawatir pada Max padahal Max sudah tidak apa-apa. Kalau kak Rio sedang ke toilet." jawab Max.


Max mengerutkan dahinya dan menyipitkan kedua matanya berusaha menajamkan penglihatannya saat dirasa ada orang yang mengintip di balik pintu kamar rawatnya.


Abdi melihat kearah pandangan Max lalu tersenyum saat ia tahu siapa yang sedang mengintip sekarang.


"Na, ayo kemari jangan hanya mengintip disitu." ajak Abdi sambil terkekeh.


Kepala Marianapun menyembul dari balik pintu sambil memperlihatkan deretan giginya.


"Hehe. Hai Max. Aku boleh masuk tidak?" sapa Mariana.


"Oh, Mariana ternyata? Ayo masuk." ajak Max ramah.


Marianapun masuk dan menghampiri ranjang Max.


"Hai Max, bagaimana keadaanmu sekarang?"


Max tersenyum.


"Sudah lebih baik. Kamu tahu dari mana aku ada disini?" heran Max.


"Dari om Abdi." jawab Mariana.

__ADS_1


"Om dokter kenal Mariana?"


Abdi mengangguk sambil tersenyum.


"Iya. Ana ini anak teman om. Dia tadi menanyakan kamar rawatmu pada om. Katanya dia mau menjengukmu." jelas Abdi.


Max membulatkan mulutnya berbentuk "o" lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Terima kasih ya sudah datang menjengukku." ucap Max.


"Sama-sama tapi maaf aku tidak membawa oleh-oleh karena tadi tidak ada persiapan. Aku tadi sedang mengantar oma berobat, lalu teringat padamu. Ini juga kata temanku katanya kamu dirawat di rumah sakit ini."


Max tersenyum.


"Iya tidak apa-apa, oleh-oleh tidak penting. Yang penting doanya." ujar Max.


"Aku doakan semoga kamu cepat sembuh ya."


Max mengangguk sambil tersenyum.


"Aamiin. Terima kasih."


Mariana mengangguk.


"Kamu sakit apa Max? Padahal belum lama kamu juga sakit dan masuk rumah sakit kan?" tanya Mariana khawatir sekaligus penasaran.


Entahlah sejak awal Ia memang menaruh simpati pada Max. Ah, bukan. Bukan hanya simpati tapi ia juga menaruh perasaan pada Max. Intinya ia menyukai Max.


"Aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan." jawab Max sambil tersenyum.


"Ekhm.."


Abdi berdehem.


"Iya benar. Hanya saja kelelahannya bisa berakibat fatal." sahut Abdi.


Abdi tahu Max berusaha menyembunyikan penyakitnya pada Mariana maka dari itu ia juga akan merahasiakannya pada Mariana tapi tak ada salahnya jika dengan berucap seperti tadi Mariana bisa sedikit mengetahui jika kelelahannya seorang Max cukuplah berbahaya.


"Hah? Bisa berbahaya ya Om?" tanya Mariana kaget dan khawatir.


Max berdecak pelan. Sedikit kesal dengan Abdi yang ikut campur dengan urusannya.


"Berarti kamu jangan sampai kelelahan Max." saran Mariana dengan raut wajah khawatirnya.


Max termenung sesaat. Ia jadi teringat akan sosok yang kini ia rindukan. Clara. Nama itulah yang terpatri di ingatannya.


CKLEKK!


Pintu toilet terbuka menampilkan sosok pemuda yang berwajah mirip dengan Max.


"Eh? Ada dokter dan...Mariana ya?" ucap Mario setelah mengingat sosok perempuan satu-satunya yang ada di ruangan ini sekarang.


"Hai Yo. Apa kabar?" sapa Mariana.


"Baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Mario balik.


"Baik juga. Maaf ya aku tidak bawa apa-apa."


Mario mengangguk.


"Iya tidak apa-apa." jawab Mario lalu menoleh kearah Abdi yang mengecek kondisi Max. Padahal ini belum jamnya pengecekan.


"Ada apa dok? Max tidak apa-apa kan?" tanya Mario khawatir.


"Tidak apa-apa. Om hanya sekalian saja memeriksa Max setelah om mengantarkan Mariana kemari."


Mario mengangguk.


"Jangan banyak bergerak dulu ya Max. Main ponselnya juga jangan terlalu lama. Jangan banyak pikiran juga. Ingat kondisi kamu masih naik turun belum sepenuhnya stabil, takutnya kamu kelelahan dan drop." peringat Abdi.


Max mengangguk.


"Tuh kan Max! Apa kakak bilang?! Main ponsel juga bisa membuat kamu kelelahan!" panik Mario bercampur kesal. Entahlah sejak kejadian kemarin Mario menjadi semakin was-was takut terjadi sesuatu pada Max. Dia menjadi lebih overprotektif pada Max.


"Iya kak. Maaf." jawab Max singkat lalu menaruh ponselnya di nakas.


"Ya sudah om keluar dulu, ada pasien yang harus om tangani." pamit Abdi.


"Eh? Tunggu Om. Ana ikut. Ana juga harus segera kembali menemui oma takut oma terlalu lama menunggu Ana." jawab Mariana yang diangguki Abdi.

__ADS_1


Mariana menoleh pada Max dan Mario bergantian.


"Aku pulang dulu ya Max, Yo. Max cepat sembuh ya, jangan sakit terus. Aku tidak suka. Aku lebih suka kamu sehat dan ceria lagi." ucap Mariana tulus.


Max tersenyum.


"Aamiin. Terima kasih ya Na doanya. Terima kasih juga sudah datang menjengukku. Kamu juga sehat selalu. Bahagia selalu ya. Salam untuk oma dan keluargamu." ucap Max.


Mario terdiam menatap lurus kearah keduanya. Entahlah ia tidak tahu perasaan macam apa yang ia rasakan kini. Ia hanya tidak nyaman melihat kedekatan antara Max dan Mariana.


"Iya sama-sama. Terima kasih juga doanya. Nanti akan kusampaikan salammu pada oma dan keluargaku."


Mariana lalu menoleh kearah Mario.


"Oh ya Yo. Kamu juga sehat terus ya. Salam untuk orang tua kalian. Aku pulang dulu ya. Assalammualaikum. Bye." pamit Mariana.


"Waalaikum salam. Bye Na." jawab Max dan Mario serempak.


Mariana dan Abdipun pergi meninggalkan Max dan Mario disana.


Max melirik kearah kakaknya yang masih menatap kearah pintu.


"Kak..kak Rio?" panggil Max.


Mario menoleh kearah Max.


"Iy..iya Max kenapa?" tanya Mario kaget.


"Kakak kenapa? Kok melamun?" tanya Max khawatir.


"Ah, tidak. Kak Rio tidak melamun." elak Mario.


"Kak Rio kenapa? Apa kak Rio...menyukai Mariana ya?" batin Max bertanya-tanya seketika pusing mulai menghinggapi. Sepertinya apa yang dikatakan dokter Abdi benar bahwa ia tidak boleh kelelahan bahkan hanya untuk sekedar berpikir sedikit saja.


Mario terkejut saat menatap Max yang tiba-tiba memejamkan kedua matanya.


"Max, kenapa? Apa ada yang sakit? Hey, ayo bilang kakak? Mana yang sakit?" panik Mario.


Baru saja Mario akan menekan tombol darurat tapi tangan Max sudah menahannya.


Max membuka kedua matanya perlahan.


"Aku tidak apa-apa kak. Max tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing. Tidak perlu memanggil dokter. Kak Rio tolong pijat kepala Max saja ya. Jangan kemana-mana. Max takut sendirian." mohon Max.


Mario tersenyum lalu memijat kening Max.


"Iya kakak pijat ya. Kak Rio janji tidak akan kemana-mana. Jadi Max jangan takut ya." ucap Mario menenangkan.


"Terima kasih.." ucap Max tulus sambil memejamkan matanya kembali sembari merasakan kenyamanan dari pijatan Mario.


Mario tersenyum sendu menatap wajah sang adik.


"Cepat sembuh kesayangan kakak." gumam Mario pelan.


Mario mengecup kening Max pelan setelah dirasa sang adik sudah mulai terlelap merajut mimpi.


"Jangan pernah tinggalkan kakak, Max."


****


"Pelan-pelan Ra jalannya. Kita bukan sedang mencari dukun beranak. Tidak ada yang ingin melahirkan. Max juga sedang tidak hamil." peringat Cassie sedikit melantur.


Clara menoleh kebelakang menatap tajam sang sahabat yang jika berbicara sering melantur kemana-mana.


Cassie yang mendapat tatapan tajam dari Clara hanya tersenyum sambil mengangkat dua jarinya membentuk tanda perdamaian.


Clara kembali berjalan cepat kedepan tapi matanya tak sengaja melihat sosok yang dikenalinya dari arah kanannya bersama dengan seorang dokter yang juga ia kenal.


"Apa yang dilakukannya disini dengan dokter Abdi? Apakah ia sudah menjenguk Max ya....?" monolog Clara dalam hati.


Clara menghentikan langkah kakinya membuat Cassie di belakangnya menabrak punggung dan kepala belakang Clara karena ia tak siap dengan gerakan tiba-tiba Clara yang berhenti mendadak.


"Sshhhsss.. sakittt..kenapa berhenti mendadak sih?!" gerutu Cassie sambil mengusap-usap dahinya yang menabrak belakang kepala Clara.


Tapi Clara tidak menanggapinya sama sekali karena ia justru sibuk dengan pemikirannya yang meliar kemana-mana.


"Apa..jangan-jangan mereka benar-benar punya hubungan ya? Apa...Max itu sebenarnya M tapi ia pura-pura tidak mengingatku..? Apa...karena dia sudah punya kekasih........?" batin Clara yang semakin meliar kemana-mana.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2