Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
11. Sama-sama Terluka


__ADS_3

"Biar aku saja yang lihat." ucap Hayden dan pergi keluar.


CKLEKK!


"Oh tante." Hayden tersenyum tapi saat ia menoleh kearah lain,wajahnya berubah masam.


"Hayden,ini teman sekolah kalian kan? Ajak mereka masuk. Kasian mereka menunggu di luar. Tadi tante heran melihat mereka tapi saat melihat seragam mereka yang sama. Tante yakin mereka satu sekolah dengan kalian."


Hayden menatap tajam Clara dan Cassie.


"Oh ya nama kalian siapa? Maaf ya tadi tante mengagetkan kalian." tanya Aulia.


"Ah,iya tidak apa-apa tante. Maafkan kami juga tante belum memperkenalkan diri." Ucap Clara.


"Saya Clara tante." ucap Clara sambil mencium tangan Aulia dususul Cassie yang ikut bersalaman dan mencium tangan Aulia.


"Cassie tan."


Aulia mengangguk.


"Sekali lagi tante minta maaf sudah mengagetkan kalian."


Clara dan Cassie menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa tante." ucap Clara yang diangguki Cassie.


CKLEKK!


Jonathan yang penasaran ikut keluar dari kamar rawat Max.


"Eh tante? Cepat sekali. Tante tidak jadi pulang?" tanya Jonathan.


"Tante mau pulang tapi tante mau mengambil ponsel tante dulu yang tertinggal di dalam Jo. Oh ya, itu ada teman kalian Clara dan Cassie,ajak masuk kasian dari tadi menunggu di luar. Ya sudah tante masuk ya." ucap Aulia meninggalkan keheningan disana.


Jonathan menatap tajam pada Clara dan Cassie.


"Pergi." usir Jonathan.


"Heh Jojo. Kami datang kesini untuk menjenguk Max. Kenapa kau justru ingin mengusir kami!" kesal Cassie.


"Karena kalian pengganggu! Kehadiran kalian hanya akan menambah masalah saja!"


Cassie mengeram kesal tak terima.


"Pengganggu?! Apa maksudmu,hah?! Memangnya kau pikir kami ini apa?! Hama?!" marah Cassie.


"Kalian tidak tahu apa-apa. Jadi sebaiknya kalian pergi." ucap Hayden yang akhirnya ikut berbicara.


Cassie terkekeh sinis.


"Tidak tahu apa-apa ya? Bagaimana kami bisa tahu jika mulutmu saja kau jahit,Hayden?!" teriak Cassie.


Clara memegang lengan dan pundak Cassie.


"Sudahlah Cassie,tenanglah. Ingat ini rumah sakit. Jangan buat keributan disini." nasihat Clara.


"Mereka yang duluan. Dari kemarin sikap mereka benar-benar menyebalkan. Tidak tahu adab!" kesal Cassie.


CKLEKK!


"Eh,kenapa kalian justru mengobrol di luar? Ayo semuanya masuk kebetulan Maxnya masih bangun karena sebentar lagi waktunya Max minum obat dan pasti Max akan tidur lagi. Jadi sebaiknya kalian cepat masuk ya. Ya sudah tante tinggal ya,ada yang harus tante selesaikan di rumah. Assalammualaikum." pamit Aulia dan pergi dari sana.


"Waalaikum salam." jawab Clara,Cassie,Hayden dan Jonathan bersamaan.


"Hati-hati di jalan tan!" teriak Jonathan.


"Ayo Clara."


Cassie menarik tangan Clara dan langsung masuk membuat Hayden dan Jonathan memekik bersamaan.


"Yak! Kalian! Jangan masuk!!"


CKLEKK!


"Assalammualaikum.." ucap Clara dan Cassie bersamaan.


Kedua mata Mario membola sedangkan Max hanya menatap lekat wajah Clara.


"Hai Max. Kami datang kesini untuk menjengukmu." ucap Cassie mencairkan suasana.


Max tersenyum.


Jonathan dan Hayden ikut menyusul masuk.

__ADS_1


Mario menatap tajam kearah Jonathan dan Hayden.


Jonathan dan Hayden menatap sebentar Mario lalu menunduk seolah-olah mereka mengatakan maaf tanpa kata-kata.


"Hai juga Cas..Cassie dan..Clara kan?" ucap Max sambil mengingat-ingat nama mereka berdua saat terakhir mereka bertemu.


Cassie dan Clara mengangguk.


"Iya betul. Seratus untukmu!" sorak Cassie.


Clara menyenggol lengan Cassie pelan.


"Pelankan suaramu. Max sedang sakit Cassie." peringat Clara berbisik.


Cassie menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Hehehe maaf. Aku terlalu bersemangat." kekeh Cassie.


"Jika sudah tidak ada urusan sebaiknya kalian pergi." ucap Mario dingin.


Max memegang tangan Mario. Ia tidak pernah melihat Mario bersikap dingin seperti ini apalagi pada perempuan.


"Kak Rio..Jangan seperti itu. Tidak baik." ucap Max pelan.


Mario menatap manik kembar Max lalu menghela nafas.


"Maaf.." ucap Mario pada Max.


"Kau sa..kit apa Max?" tanya Clara sambil menggigit bibir dalamnya.


Clara mencoba memberanikan diri tapi kegugupan lebih menguasainya.


Max tersenyum.


"Hanya kelelahan saja. Ini sudah biasa." jawab Max.


Clara dan Cassie mengangguk.


"Kalian berdua kelas berapa?" tanya Max pelan.


Sebenarnya Max merasa tubuhnnya semakin lemas saat berbicara tapi ia tidak bisa diam saja melihat Clara dan Cassie yang datang menjenguknya tapi seolah diacuhkan dan dibenci oleh Mario,Jonathan dan Hayden.


"Kami kelas sepuluh tiga Max.." jawab Clara sambil menatap Max sendu.


Max tersenyum. Entah kenapa melihat dan mendengar Clara berbicara membuat ia senang sekaligus sedih. Apalagi saat tatapan sendu yang Clara berikan untuknya terasa seperti melihat luka yang tak kasat mata bagi Max.


Clara dan Cassie mengangguk.


"Cepat sembuh ya Max." ucap Cassie dan diangguki Clara.


"Terima kasih." ucap Max sambil tersenyum.


Mario menggenggam tangan Max erat. Mario benar-benar tak tenang sekarang maka dari itu ia menggenggam tangan Max erat untuk memastikan adik kembarnya tetap baik-baik saja.


Max menatap sang kakak,dengan tatapan seolah-olah bertanya. Mario tahu apa maksud dari tatapan itu.


"Jangan banyak bicara dulu ya. Masih lemas kan?" tanya Mario.


Max hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Sekarang sebaiknya kalian pulang. Kalian lihat kan,Max masih lemas,kalian malah mengajaknya bicara." kesal Jonathan.


Cassie kesal baru saja ia akan berbicara tapi Clara menahan lengannya.


"Maaf jika kami mengganggu,kami.." belum selesai Clara berbicara.


Jonathan sudah lebih dulu berbicara meskipun terdengar seperti gumaman tapi masih terdengar oleh mereka semua.


"Pengganggu."


Cassie yang terlanjur kesal tak bisa menahan amarahnya.


"Bisakah kau berbicara baik-baik. Jangan selalu membuatku naik pitam." kesal Cassie dengan suara pelan namun tegas.


"Kedatangan kalian hanya merusak suasana." ucap Jonathan masih dengan suara pelan namun sarat akan kekesalan.


Clara menunduk sedih. Ia tak mengerti kenapa orang-orang terdekat Max begitu membenci ia dan Cassie. Ia tahu kemarin ia sudah bersikap aneh dan membuat mereka tidak nyaman tapi saat ini ia dan Cassie juga cukup mengerti untuk tidak berbicara yang aneh-aneh pada Max apalagi di rumah sakit,meskipun memang banyak pertanyaan diotaknya.


"Kau benar-benar tidak bisa diajak berbicara baik-baik ya. Apa kau memang tidak mengerti bahasa manusia ya?" ucap Cassie.


Jonathan mendelik tajam.


"Kalian yang tidak bisa diajak berbicara baik-baik. Sudah kami katakan untuk tidak masuk dan lebih baik pulang tapi kalian tidak mau mendengarkan." ucap Jonathan sinis.

__ADS_1


Terjadi perdebatan panjang yang lagi-lagi terjadi diantara Cassie dan Jonathan. Mario dan Haydenpun sebenarnya juga ingin menyuruh Clara dan Cassie pergi karena mereka khawatir pada Max jika Clara dan Cassie terlalu lama disini tapi menurut mereka Jonathan sudah mewakili mereka berdua.


Sedangkan Max ia hanya menatap lekat kearah Clara. Ia takut kata-kata yang Jonathan lontarkan menyakiti Clara dan Cassie. Terlebih saat ia melihat Clara terlihat menunduk sedih. Entah kenapa membuat kepalanya terasa terikat tali yang kuat. Kilasan-kilasan ingatan mulai terekam di memorinya tapi semuanya terasa seperti kaset rusak. Kepalanya terasa semakin sakit.


Mario terkejut saat genggaman tangan Max pada tangannya terasa lebih erat.


Dilihatnya wajah Max memucat. Lebih pucat dari sebelumnya. Dahinyapun terlihat mengernyit seperti menahan sakit. Genggaman tangan Max semakin mengerat bahkan disertai ringisan.


"Shhhsshhss."


Mario panik dan langsung berdiri dari duduknya.


"Max?!" teriakan Mario mengalihkan orang-orang yang ada di kamar rawat itu untuk melihat kearahnya.


"Sssshhhsss. Sa..kitttt..kak.." ringis Max.


Hayden sigap menekan tombol darurat yang ada di dekat ranjang Max yang juga berada didekat Mario. Hayden juga keluar untuk meminta pertolongan sedangkan Mario dan yang lainnya karena terlalu panik,mereka sampai tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Ia sebagai orang yang masih bisa bepikirlah yang harus melakukannya meskipun kata tenang juga sudah tak ada di pikirannya.


Tak sampai dua menit dokter beserta susterpun datang.


Mario,Jonathan,Hayden,Clara dan Cassie harus menunggu di luar. Mereka sangat mencemaskan keadaan Max yang sedang dalam penanganan. Clara bahkan sudah menangis dalam diam tanpa bersuara. Pikirannya benar-benar kalut. Pertanyaan demi pertanyaan semakin bermunculan di benaknya. Pertanyaan yang satu saja belum terjawab sudah bermunculan pertanyaan-pertanyaan yang baru.


Cassie memegang pundak Clara menenangkan meskipun ia juga sama khawatirnya dengan yang lain.


Jonathan menghampiri Clara dan Cassie.


"Pergi!" ia berucap pelan namun sarat akan emosi.


"Inikan yang kalian inginkan? Kalian menginginkan saudaraku kambuh. Kalian sudah puaskan?!"


Clara dan Cassie mendongak dan menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang sudah Jonathan tuduhkan pada mereka berdua.


"Jaga ucapanmu. Kami tidak sepicik itu. Pemikiranmu terlalu jauh. Kami bahkan belum mengenal kalian. Bagaimana bisa kau menuduh kami seperti itu?!" kesal Cassie sambil mengepalkan tangannya kuat.


Jonathan tersenyum remeh.


"Jika kalian sadar jika kita belum saling mengenal lalu kenapa kalian terus mengikuti kami sampai kesini,hah? Aku tahu pasti kalian mengikuti kami kan? Kalian mengikuti mobil kami kan?!" teriak Jonathan sudah tak mampu membendung amarahnya. Ia sudah tak bisa menahannya jika semua itu berhubungan dengan orang-orang terdekatnya terutama pada Max.


"Itu karena kami hanya ingin menje.." belum selesai Clara berbicara,Jonathan sudah memotongnya.


"Maksudmu ini tentang M kan? Buang jauh-jauh khayalanmu mengenai orang yang bernama M itu. Kami tidak ada hubungannya dengan orang itu. Kalian lihat kan bagaimana situasinya disini? Bagaimana situasi didalam? Max sedang tidak baik-baik saja. Jadi sekali lagi ku katakan pada kalian untuk segera PER - GI.." jelas Jonathan dengan penekanan kata pergi pada akhir kalimat yang diucapkannya.


Hayden yang dari tadi terdiam akhirnya ikut bangun dan menghampiri mereka bertiga.


"Sebaiknya kalian pergi dari sini dan simpan semua pertanyaan kalian untuk kalian sendiri jika kalian tidak mau aku memanggilkan pihak keamanan untuk mengusir kalian." ucap Hayden datar.


Cassie berdiri lalu menarik pelan Clara.


"Ayo kita pergi Clara." ucap Cassie.


Clara mengangguk pasrah. Lalu pergi bersama Cassie menjauh dari sana.


Hayden menghembuskan nafasnya kasar.


"Maaf..Kita semua sama-sama terluka disini.." batin Hayden.


****


Setelah mereka diusir dari rumah sakit. Mereka langsung memesan taksi online untuk pulang. Di perjalanan Clara tidak henti-hentinya menangis.


"Sudah..jangan menangis lagi Clara.." ucap Cassie menangkan dan menjeda ucapannya.


"Sudah ya,jangan dengarkan ucapan mereka. Mereka hanya sedang emosi saja." lanjutnya.


Clara menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak memikirkan perkataan mereka. Aku mengerti jika mereka sedang emosi karena terlalu khawatir. Yang kupikirkan adalah apa yang terjadi pada Max sebenarnya? Sakit apa dia Cassie?hikshiks.." ucap Clara penuh tanya sambil terisak.


"Bagaimana..bagaimana jika..Max sakit parah.. Ini semua salahku. Seharusnya kita tidak perlu kesana Cassie..hikshiks.." lanjutnya sambil menggigit bibir bagian dalamnya.


"Hey,jangan digigit. Nanti bibirmu luka Ra." peringat Cassie.


"Tapi..bagaimana jika M itu benar-benar dia? Bagaimana jika..M menghilang karena dia sakit..Ba.." belum selesai Clara berbicara Cassie sudah memeluknya erat.


"Shussstt,sudah ya. Tenangkan dirimu. Semuanya akan baik-baik saja.oke. Tenang.."


Clara mengangguk sambil tetap terisak di pelukan Cassie.


"Kata-kata yang diucapkan Cassie sama seperti yang pernah M ucapkan padanya.


"Sudah jangan menangis.. Semua akan baik-baik saja.."


Ucapan itu terus terngiang-ngiang ditelinga Clara.

__ADS_1


"Kau dimana? Tolong aku M..aku membutuhkanmu.." batin Clara.


BERSAMBUNG..


__ADS_2