
Max menutup telinganya rapat dengan kedua tangannya. Sungguh teriakan Clara dan Cassie memekakkan telinga. Untung saja dia tidak kaget dengan respons keduanya, jika tidak maka dipastikan jantungnya akan berulah dan berakhir di UKS atau bahkan di rumah sakit.
“Kamu serius, M? Kamu tidak bercanda, kan?” tanya Cassie masih tak percaya.
Max membuka kedua tangannya dari telinganya. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum.
“Oh, My God!”
Cassie menggelengkan kepalanya pelan. Masih tak percaya bahwa orang yang kini berada di depannya adalah orang yang dicari oleh Clara dan dirinya selama bertahun-tahun. Cassie menepuk lengan Clara berkali-kali.
“Pencarian kita akhirnya selesai, Ra. Alhamdulillah, semuanya sesuai yang kita harapkan, Ra.”
Cassie sangat senang. Sangat senang. Namun, ia mengernyit bingung saat melihat raut wajah Clara yang terlihat menahan marah.
“Kau kenapa, Ra? Kau harusnya senang, kan? Tapi kenapa wajahmu seperti itu?” tanya Cassie bingung.
“Benar, kau adalah M?” tanya Clara.
Max meneguk ludahnya kasar. Ia seketika dibuat gugup oleh tatapan dari Clara.
“Lalu kenapa selama ini kau tidak mengaku, Max?”
Max baru akan membuka mulutnya. Namun, urung saat Clara sama sekali tak membiarkan ia berbicara.
“Apa maksudmu, Max? Apa maksud semua ini, Max? Apa?!” bentak Clara.
Air mata Clara pun kini sudah jatuh membasahi wajahnya.
“Ra, tolong dengarkan penje---“
“Apa?! Apa yang mau kamu jelaskan, hah?! Apa kamu mau bilang kalau kamu selama ini hanya ingin mempermainkanku saja?! Iya, kan? Iya, kan Max?!”
Max menggelengkan kepalanya ribut lalu menarik tangan Clara dan menggenggamnya erat.
“Tidak, Ra. Tidak. Bukan seperti itu. Kau salah paham. Aku melakukan ini karena aku juga---“
__ADS_1
“Juga apa, Max?!”
Clara menepis tangan Max kasar membuat Max tersentak kaget. Hayden yang sedari tadi hanya memperhatikan dari jauh tak bisa menahan emosinya saat ia melihat perlakuan Clara pada Max. Ia segera menghampiri kursi yang diduduki Max, Clara dan Cassie.
“Apa yang kau lakukan, hah?! Bisa tidak, jangan kasar padanya?!” marah Hayden.
Max memegang tangan Hayden pelan. Berharap kemarahan sang sahabat hilang.
“Sudah, Den. Sudah. Dia tidak kasar. Sudah, jangan marah. Aku yang salah,” ucap Max mencoba menenangkan.
“Ayo, duduk.”
Max menarik tangan Hayden agar duduk di sampingnya, mencoba untuk menenangkannya. Begitu juga dengan Cassie, ia juga mencoba untuk menenangkan Clara dengan mengusap lengan Clara pelan. Max menatap sendu pada Clara.
“Ra, aku tahu kamu kecewa padaku. Aku tahu, Ra dan aku benar-benar minta maaf, tapi aku mohon dengarkan penjelasanku dulu. Setelah kau mendengarkan semua penjelasanku, baru kamu bisa mengambil keputusan. Dan keputusannya itu semua terserah kamu. Terserah kamu mau percaya atau tidak dan terserah kamu mau memaafkan aku atau tidak,” kata Max.
Clara terdiam. Dia juga tidak mengerti kenapa dia begitu marah pada Max? Mungkin karena dia mencintai Max sehingga dia sangat kecewa saat Max seolah tidak mengenalinya dan menganggap dirinya tidak ada. Apalagi saat ia ingat Max pernah menyatakan cinta padanya. Namun, setelah itu Max membuangnya begitu saja. Tentu saja Clara kecewa. Bertahun-tahun ia hidup dengan penantian panjang, berharap lelaki di hadapannya kini hadir dan kembali bersamanya. Namun, yang ia dapat justru kekecewaan. Wajar memang jika ia marah. Ia kecewa. Namun, ia juga masih berharap jika penjelasan yang akan diberikan oleh Max bisa mengurangi atau menghilangkan kekecewaannya.
“Ya, sudah. Jelaskanlah!” titah Clara.
“Aku bukan pura-pura tidak mengenalimu dan juga Cassie. Aku bukan juga tidak menganggap kalian. Aku juga bukan bermaksud untuk melupakan kalian. Bukan, Ra. Bukan. Ini semua karena kondisiku. Kalian mungkin sering bertanya-tanya kenapa aku sering sakit dan masuk rumah sakit, kan? Kalian juga mungkin bingung kenapa Hayden pura-pura tidak mengenal kalian? Kalian juga mungkin bingung kenapa Mario dan Jonathan selalu marah pada kalian? Jawabannya adalah karena kondisiku, Ra. Aku amnesia ....”
Clara dan Cassie membelalakkan kedua matanya kaget.
“Amnesia? Kau serius, Max? Tapi bagaimana bisa?” tanya Cassie masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Max tersenyum. Ia lalu menjelaskan semua kejadian yang bahkan ia sendiri tidak begitu ingat bagaimana kronologisnya.
“Itu yang aku dengar dari Kak Rio, Bunda dan juga Hayden. Karena kecelakaan yang aku alami, ada trauma kepala dan juga masalah di jantungku. Waktu itu, setelah aku mengajari kamu bermain badminton kondisiku semakin memburuk sehingga aku menyuruh Hayden agar ia dan teman-teman sekelasku untuk pura-pura tidak mengenal kalian berdua. Tak lama kemudian aku collaps dan harus menjalani operasi di luar negeri. Namun, efek samping dari operasi itu adalah aku harus kehilangan ingatanku.”
Max tersenyum sendu dengan pandangan kosong.
“Aku tidak boleh memaksakan diri untuk mengingat dan juga tidak boleh kelelahan, karena efeknya sangat berbahaya untuk diriku.”
Clara dan Cassie terdiam. Mereka tidak tahu harus mengatakan apa? Sungguh ini semua sangat mengejutkan bagi mereka. Hayden berdehem pelan.
__ADS_1
“Sudah cukup Max,” ucap Hayden sambil mengusap kepala Max pelan. Ia lalu menatap pada Clara dan Cassie.
“Kalian semua sudah mendengarkan semua penjelasan dari Max, kan? Seperti apa yang Max katakan tadi, terserah kalian mau percaya atau tidak. Terutama kamu, Ra.”
Clara mendongak lalu menatap Hayden kemudian pada Max yang sedang menunduk.
“Terserah kamu mau percaya atau tidak pada Max dan terserah padamu juga, mau memaafkan Max atau tidak. Ah, bukan hanya Max, tapi padaku juga. Terserah kamu mau memaafkan kami atau tidak. Yang jelas itu semua adalah faktanya,” jelas Hayden.
Ia lalu berdiri dan menarik Max pelan agar Max juga ikut berdiri.
“Ayo, bangun. Kita makan. Lihat, Mario dan Jonathan sepertinya sudah selesai memesan makanan. Ayo, kita kembali ke tempat duduk kita,” ajak Hayden.
Max mendongak ke arah Hayden lalu menoleh ke arah Clara lalu tersenyum tipis dan berdiri dari duduknya. Ia lalu pergi bersama Hayden untuk kembali ke tempat duduk mereka kembali.
Clara dan Cassie menatap ke arah tempat duduk Max. Mereka melihat Max yang kembali terlihat ceria seolah tidak ada sesuatu yang terjadi tadi.
“Ra,” panggil Cassie.
Clara berdiri dari duduknya. Cassie mengernyitkan dahinya bingung.
“Mau ke mana, Ra? Ini makanannya belum habis, loh.”
Cassie menunjuk pada makanan mereka yang belum habis.
“Habiskan saja semua, aku mau ke toilet,” jawab Clara pelan.
“Serius? Untukku semua?”
Clara mengangguk pelan. Cassie tersenyum lebar kemudian memakan semua makanan dengan lahap. Sementara itu Clara segera pergi dari sana. Max yang sedari tadi melirik ke arah Clara hanya bisa menatap sendu ke arah Clara.
“Apa kamu tidak percaya padaku, Ra? Apa kamu tidak mau memaafkanku? Atau kamu tidak mau dekat denganku karena mengetahui fakta tentang kondisiku? Mungkin aku memang harus merelakanmu dengan yang lain. Dengan lelaki yang lebih baik dariku,” batin Max.
...BERSAMBUNG ....
...
__ADS_1