Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
19. Penyembunyi Luka


__ADS_3

Mario langsung berlari ke dalam rumah menyusul adik kembarnya yang sudah lebih dulu masuk. Tiba-tiba Inah menghampirinya dengan raut wajah khawatirnya.


"Nak Rio, ada apa sebenarnya?! Kenapa nak Max menangis, bibi takut terjadi apa-apa padanya?!" panik Inah.


Mariopun tak kalah panik dengan Inah.Tanpa menjawab pertanyaan dari Inah, ia segera pergi berlari menaiki tangga menuju lantai dua.


"Nak Rio,tunggu!! Nak Max di kamar tamu!" panggil Inah.


Mario terdiam sejenak lalu kembali tersadar dan segera kembali ke bawah karena memang kamar tamu berada di lantai bawah. Sesampainya didepan pintu kamar tamu, ia lalu mencoba membuka pintu tapi ternyata pintu terkunci dari dalam. Iapun semakin panik dibuatnya.


TOK TOK TOK!!


"Max, buka pintunya! Kakak minta maaf! Kakak minta maaf Max! Kak Rio janji tidak akan mengulanginya lagi! Jangan pikirkan kata-kata kakak tadi, semua tidak benar. Kak Rio sangat menyayangimu. Sangat. Maaf kan kak Rio, Max!" teriak Mario dari luar sambil terus menggedor pintu.


Panik dan merasa bersalah, itulah yang sedang Mario rasakan kini. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu pada Max. Selama ini adik kembarnya sudah sangat menderita dan dengan seenaknya ia masuk sebagai penambah luka untuk adiknya. Dulu, ia memang sempat iri pada Max. Bahkan bukan hanya sekali tapi dua kali kesalahan pernah ia lakukan. Pertama saat sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama ia sempat menjaga jarak pada adiknya dan memilih untuk tidak satu sekolah dengan adiknya dan itu ia lakukan hanya karena ia iri dengan Max yang sejak dulu selalu menjadi juara kelas, padahal Max selalu ingin agar mereka tetap satu sekolah tapi Mario tidak peduli dan tetap memilih untuk bersekolah di sekolah yang berbeda dengan Max. Kedua setelah Max mengalami kecelakaan dan mengakibatkan trauma di kepalanya serta jantungnya yang juga ikut bermasalah. Rasa iri Mariopun semakin tumbuh, itu dikarenakan menurut Mario, bundanya lebih perhatian pada Max dibanding pada dirinya. Sampai kejadian itupun datang dimana Max hampir kehilangan nyawanya dan harus melakukan operasi CABG hingga Maxpun mengalami amnesia sampai sekarang. Mario baru menyadari semua kesalahan yang telah ia lakukan. Adiknya tidak bersalah. Ia lah yang bersalah. Rasa irinya telah membutakan mata hatinya. Ia sangat menyesal. Ia tidak mau kehilangan Max. Ia tidak mau.


Mario menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya. Pikirannya sudah berkecamuk tidak karuan. Rasa takut sudah mendominasi pikirannya.


"Maaf..hikshiks.." lirih Mario sambil terisak.


Mario pernah hampir kehilangan adik kembarnya dan ia tidak ingin hal itu kembali terulang. Seharusnya ia merasa beruntung, adiknya masih bertahan sampai sekarang. Sehingga ia masih bisa menebus kesalahannya yang telah lalu.


"Maafkan kak Rio, Max..maaf.. Jangan seperti ini..kakak takut..hikshiks.." isak Mario semakin menjadi-jadi.


Sementara itu didalam, Max yang kini sedang berdiri sambil bersandar pada pintu, mendengarkan semua ucapan kakaknya. Ia ingin berbicara tapi sungguh semua terasa sulit. Tenggorokannya terasa tercekat. Saat ini ia sedang berusaha menahan semua rasa sakit yang menghujam kepala dan dadanya tanpa ampun. Ia menggigit bibir dalamnya dengan kencang sampai rasa asin dan anyirpun menyeruak keluar. Ia mengusap darah yang keluar dari bibirnya menggunakan punggung tangannya kemudian ia berusaha menetralkan nafasnya yang kini sudah tak beraturan. Ia segera mengambil beberapa butir obat baik itu kapsul maupun tablet dari tabung obat yang ia simpan di saku celananya dan langsung menelannya tanpa bantuan air. Ia hampir saja memuntahkannya, jika tak segera ia tahan dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Jujur ia tidak pernah bisa melakukannya, biasanya semua obat berjenis tablet pasti haruslah digerus terlebih dahulu tetapi kini dengan terpaksa ia harus melakukannya. Setelah obat-obat itu benar-benar berhasil ia telan, iapun menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan lalu berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya.


"Kakak..tidak perlu meminta maaf.. Disini..akulah yang bersalah..Maafkan Max kak.." ucap Max terbata-bata dari dalam kamar.


Mario menggelengkan kepalanya cepat tanpa menyadari jika Max tidak akan bisa melihatnya.


"Tidak Max. Tidak. Kak Rio yang salah. Kakak yang salah. Tolong maafkan kakak. Kakak mohon Max..hikshiks."


Max terdiam dengan mata yang menatap kosong ke depan.


"Max sudah bilang..kak Rio tidak salah. Itu artinya..kakak tidak perlu meminta maaf padaku..karena aku sudah memaafkan kakak.."


Mario terpaku mendengarnya. Terbuat dari apakah hati adik kembarnya ini? Apakah Max bukan manusia? Sedari dulu adiknya memang tidak pernah marah padanya. Jikalaupun mereka harus bertengkar pasti tidak akan lama karena salah atau tidak salah adiknya selalu meminta maaf padanya. Bahkan saat kecil adiknya tidak akan berhenti menangis jika Mario masih marah padanya. Meskipun kesalahan yang ia lakukan sudah sangat keterlaluan tetapi adiknya tetap memaafkannya. Dan ketika Max mengalami amnesia seperti sekarang, hal itu tetap tidak menghilangkan sedikitpun kebaikan di hati adiknya.


"Terima kasih.." ucap Mario pelan sambil sesekali terisak.


Max tersenyum sendu menatap lantai sambil memegang dada kirinya. Ia terlalu menyayangi Mario bahkan melebihi nyawanya sendiri, tidak mungkin ia bisa marah pada kakak kembarnya itu.


"Kak..Max tidur disini sebentar ya.. Max lelah..Kakak beristirahatlah di kamar.." ucap Max dari balik pintu.


Mario mengangguk.

__ADS_1


"Baiklah tapi jika terjadi apa-apa padamu, bilang pada kakak. Oke."


Max menarik nafasnya dalam lalu membuangnya perlahan.


"Iya.."


Mario pun beranjak dari sana menuju lantai atas tempat kamar ia dan Max berada meninggalkan Max sendirian di kamar tamu. Saat sudah tak terdengar suara langkah kaki, Maxpun menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku..tidak mau menyusahkan kakak lagi..aku akan berusaha bertahan sendiri.." gumam Max.


"Meskipun aku tahu..untuk kondisiku.. itu sangat sulit untuk kulakukan.." gumam Max lagi.


Max yang masih berdiri sambil bersandar pada pintu langsung meluruhkan tubuhnya dan terduduk dilantai. Tubuhnya sudah benar-benar lemas. Kepalanya terasa berputar-putar dan pandangannyapun mulai berkunang-kunang, entah itu karena obatnya sudah tak bereaksi pada tubuhnya atau ia yang memang sudah sangat kelelahan. Kesadarannyapun terasa direnggut paksa dan kini hanya kegelapan yang ia rasakan.


****


Hari sudah sore tapi Max masih terbaring tak sadarkan diri di lantai yang dingin.


"Eunghh.." Max melenguh. Ia mengerjapkan kedua matanya yang masih terasa berat lalu membuka kedua matanya perlahan-lahan. Penglihatannya masih buram tapi beberapa detik kemudian penglihatannya telah kembali normal.


"Ternyata aku masih hidup.. aku kira tinggal nama.." gumam Max.


Maxpun berusaha untuk mendudukkan dirinya.


TOK TOK TOK!!


"Max, buka pintunya. Kita makan bersama ya. Kamu juga harus minum obat." panggil Mario.


Max menatap lurus kedepan. Pikirannya tiba-tiba kosong kembali.


TOK TOK TOK!


Max tersadar kembali setelah suara ketukan pintu kembali terdengar.


"Max.." panggil Mario lagi.


"I..iya kak sebentar. Aku baru bangun tidur. Aku cuci muka dulu." jawab Max.


"Ya sudah kak Rio tunggu di ruang makan ya." ucap Mario dari luar.


"Ya kak."


Terdengar suara kaki Mario menjauh dari depan kamarnya.


Max menghembuskan nafasnya pelan.

__ADS_1


"Untung saja aku sudah bangun.. jika tidak, pasti aku akan membuat kepanikan dan.." Max menjeda ucapannya.


"Kembali menyusahkan.." gumamnya pelan.


Max beranjak berdiri dengan sedikit terhuyung untung saja ia berpegangan pada dinding. Tubuhnya memang masih lemas. Max berjalan dan masuk ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya pelan sambil menatap kaca didepannya.


"Hhh..kenapa wajahku begitu pucat..? Bibirku juga kering.."


"Lalu bagaimana aku bisa menutupi sakitku?!" frustasi Max sambil mengacak-acak rambutnya.


"Ah tunggu.."


Max keluar dan mengacak-acak isi tasnya.


"Ah ketemu!"


Ia bersorak gembira saat benda yang dicarinya ia temukan. Benda itu adalah lip balm. Inah yang memberikannya padanya tadi pagi sebelum berangkat sekolah. Tadi pagi ia sempat mengeluh pada Inah bahwa bibirnya kering dan terlihat pucat maka dari itu Inah menyarankan Max untuk memakai lip balm saja. Maxpun kembali ke kamar mandi dan memakai lip balm, setidaknya wajahnya sedikit terlihat bercahaya tidak sepucat tadi, bibirnya juga sudah tidak kering lagi. Ia pun segera keluar dari kamar dan pergi menuju ruang makan. Sesampainya disana ia melihat Mario sedang menunggunya sambil memainkan ponselnya. Raut wajah Mario terlihat sangat sedih dan gelisah.


"Kenapa kak?" tanya Max sambil menarik kursi makan dan duduk.


"Eh? Max? Ti..tidak ada apa-apa. Ayo dimakan. Makanan yang dibuat bi Inah terlihat enak semua. Ayo kita makan bersama."


Max tersenyum sambil mengangguk, meskipun ia merasa penasaran tapi ia tidak akan memaksa kakaknya untuk bercerita. Ia lalu mengambil nasi beserta lauk pauknya kedalam piring. Disampingnya juga sudah tersedia semangkuk sayur bayam untuknya.


"Tunggu.."


Mario memegang tangan Max dan menatap lekat wajah Max.


"Ada yang sakit,hmm..?" tanya Mario khawatir.


Max menegang tapi itu tak berlangsung lama kemudian ia menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


"Tidak ada kak. Aku merasa baik-baik saja." jawab Max masih dengan senyuman andalannya.


Mario mengangguk.


"Kalau ada yang sakit, bilang pada kakak ya?"


Max mengangguk sambil tersenyum dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Untuk saat ini..aku akan berusaha menutupi rasa sakit yang kurasakan kak.. Aku tidak mau terus menerus membebanimu..Aku tidak mau menyusahkanmu terus.."


"Kecuali jika aku.."


"Sudah tak mampu lagi bertahan.."

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2