
“Apa maksud dokter, hah?! Apa?!” marah Mario tidak terima.
“Max itu Adikku. Adik kembarku! Dia Adik kandungku!”
Harry mengusap pundak Mario pelan berusaha menenangkan Mario.
“Saya tahu kamu itu Kakak kembar Max. Saya yakin itu, tapi saya ingin tahu siapa orang tua kandung kalian? Kenapa baik Ayah atau Ibu kalian tidak memiliki golongan darah yang sama dengan Max?” tanya Abdi.
Mario menghembuskan napasnya kasar.
“Mungkin yang punya golongan darah sama dengan Max adalah Ayah kandung kami.”
Abdi mengernyitkan dahinya bingung.
“Maksudmu?”
Harry menghembuskan napasnya pelan.
“Mario dan Max adalah anak tiriku.”
Abdi membelalakkan kedua matanya kaget.
“Tapi aku sudah menganggap mereka anak kandungku sendiri. Itulah sebabnya golongan darahku tidak cocok dengan Max.”
Abdi terdiam. Ia menggenggam kedua tangannya erat.
“Apa maksud ini semua?” batin Abdi bertanya-tanya.
Ia lalu menatap Mario lekat.
“Lalu Ayah kandung kalian siapa?”
Mario menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak tahu. Hanya Bunda yang tahu.”
Mario berdiri dari duduknya lalu menggeser kursi.
“Maaf, Rio permisi duluan. Rio mau menemani Max.”
Baru saja Mario akan duduk, tapi tangannya ditarik oleh Harry.
“Makan dulu, dari tadi makanannya cuma kamu aduk-aduk, Yo.”
Mario menggelengkan kepalanya pelan.
“Rio tidak lapar, Yah.”
Harry menggelengkan kepalanya pelan.
“Kamu tetap harus makan, Max pasti sedih jika dia tahu kamu tidak mau makan.”
Mario menundukkan kepalanya. Harry mengusap tangan Mario pelan.
“Begini saja, Rio bungkus makanannya sekalian pesankan satu lagi untuk Bunda, ya.”
Mario mengangguk menuruti perintah Harry. Setelah Mario pergi. Harry menatap Abdi penuh tanya.
“Dok, apa ada yang ingin ditanyakan lagi?”
Abdi menganggukkan kepalanya pelan.
“Kapan kalian menikah? Maaf, jika saya mengganggu privasi Anda. Saya ... hanya sekedar ingin tahu saja sebagai dokter yang merawat Max selama ini."
Abdi sedikit tidak enak, tapi dia benar-benar ingin tahu.
“Belum lama setelah Max menjalankan operasi, saya dan Aulia menikah. Saya sangat menyayangi mereka,” jelas Harry.
“Jadi Max belum tahu kalau Anda bukan Ayah kandungnya?”
Harry menggelengkan kepalanya pelan.
“Saya tidak tahu. Saya tidak tahu Aulia mengatakannya atau tidak pada Max.”
Abdi mengangguk mengerti. Mengingat Max yang amnesia dan juga memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin Aulia tidak berani mengatakan kebenarannya pada Max.
“Mereka ditinggalkan sejak dalam kandungan.”
Abdi tersentak kaget mendengarnya.
“Sejak dalam kandungan?!”
Harry menganggukkan kepalanya. Sementara Abdi menegang.
“Apa ... jangan-jangan Max dan Mario ... mereka ....”
...****...
CKLEKK!
Aulia menoleh melihat Mario yang masuk sambil membawa kantung putih berukuran agak besar, tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya kini, tapi wajah sang putra yang terlihat murung dan tidak bersemangat.
“Rio, kenapa, Nak? Kok, lesu? Ayo, sini dekat Bunda.”
__ADS_1
Mario menatap Aulia lekat lalu menghampirinya kemudian memeluk Aulia erat. Aulia membalas pelukannya dan mengusap punggung putra sulungnya lembut.
“Kenapa, Nak? Cerita sama Bunda. Rio sedih karena Max belum bangun, ya?”
Mario mengangguk membenarkan. Ia merenggangkan pelukannya.
“Bu, Ayah kandung Rio sama Max itu siapa?”
Aulia tersentak kaget dengan pertanyaan Mario yang tiba-tiba.
“Ri ... Rio kok, tiba-tiba nanya itu?”
Sungguh Aulia belum siap memberitahukan hal ini pada anak-anaknya.
“Maaf, Bunda.”
Aulia mengusap kepala Mario pelan.
“Kok, minta maaf? Rio, kan tidak salah.”
Mario menundukkan kepalanya.
“Rio takut buat Bunda sedih.”
Aulia tersenyum miris mendengarnya. Ia bahagia anak-anaknya terutama Mario sudah bisa berpikiran dewasa seperti ini padahal mereka masih remaja.
“Terus, tadi kenapa tiba-tiba nanya begitu? Terus Ayah ke mana?”
Mario mendongak menatap wajah sang Bunda.
“Ayah di kantin, Bun sama dokter Abdi. Dokter Abdi nanya soal Max. Dia ingin tahu siapa Ayah kandung kita karena dia heran kenapa Ayah sama Bunda golongan darahnya tidak ada yang sama dengan Max.”
Aulia menegang. Tiba-tiba keringat dingin mengalir membasahi pelipisnya.
“Ada apa ini? Ja ... jangan-jangan Abdi sudah tahu. Apa ini sudah saatnya?” batin Aulia bingung sekaligus khawatir.
Ia menatap lekat Mario lalu Max. Ia terdiam sejenak. Ia tahu putra bungsunya selamat juga melalui Abdi. Aulia kemudian menghembuskan napasnya pelan lalu menggenggam tangan Mario erat. Ia tersenyum lembut pada Mario.
“Sebentar lagi Rio akan tahu soal siapa Ayah kandung Rio sebenarnya? Ayah kalian sebenarnya berada dekat sekali dengan kita.”
Mario membulatkan kedua matanya kaget.
“Maksud Bunda?”
Aulia tersenyum lalu mengusap kepala Mario pelan.
“Ayah kalian berada dekat dengan kita, tapi dia tidak tahu tentang kalian. Bunda punya alasan kenapa menyembunyikannya dari kalian, itu ka---“
“Karena dia sudah meninggalkan Bunda dan kita saat kita masih dalam kandungan, kan Bunda? Dia tidak peduli pada kita, kan Bunda?”
“Jangan begitu, Nak. Jangan marah, ya. Bunda tidak mengajarkan kalian untuk dendam. Semua ada alasannya, Nak. Jangan marah, ya karena bagaimanapun dia adalah Ayah kalian. Ayah kandung kalian. Bunda akan kasih tahu Rio, tapi Rio harus berjanji untuk tetap menghormati dan menghargai Ayah kalian. Janji?”
Mario memalingkan wajahnya ke arah lain. Bagaimana bisa ia tidak marah? Bagaimana mungkin?
“Rio, sayang. Lihat, Bunda, Nak. Lihat, Bunda.”
Mario menatap Aulia lekat.
“Rio, sayang. Rio harus janji untuk tidak marah karena bagaimanapun Ayah kalian adalah Ayah kandung kalian. Ayah kalian juga sangat berjasa buat kita terutama buat Max?”
Mario mengernyitkan dahinya semakin bingung.
“Setidaknya lakukan ini demi Max ya, sayang?”
Mario menatap lekat Aulia. Ia semakin tidak mengerti dengan maksud Aulia. Hanya saja mendengar Ibunya mengatakan ini semua juga ada kaitannya dengan Max. Ia pun akhirnya mengangguk pelan.
“Iya, Rio usahakan. Demi Max,” jawabnya.
Aulia tersenyum lalu berdiri mengecup kening sang putra sulung dan memeluknya erat.
“Terima kasih, sayang.”
Aulia lalu menghampiri Max yang masih terpejam. Ia mengecup kening Max lama.
“Cepat bangun, sayang.”
Setelah itu ia berbalik pada Mario.
“Bunda titip Max, ya. Bunda ada urusan sebentar. Kalau ada apa-apa sama Adek kamu, hubungi dokter dan juga Bunda, ya.”
Aulia segera pergi ke luar. Mario terdiam. Ia melihat pada kantung berisi makanan untuk dia dan Ibunya.
“Tapi Bunda belum makan,” lirihnya.
...****
...
“Kenapa, dok?” tanya Harry saat melihat Abdi terdiam.
“Apa ini pernikahan kedua Aulia?”
Harry mengernyitkan dahinya bingung. Ia jadi tidak suka dengan serentetan pertanyaan dari Abdi.
__ADS_1
“Kenapa Anda menanyakan itu, dok? Ini masalah privasi antara saya dan istri saya. Anda tidak bisa seenaknya bertanya soal itu.”
Harry mulai emosi dan Abdi paham itu. Ia juga tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga Harry dan Aulia. Hanya saja mendengar beberapa fakta yang ada. Ia semakin penasaran dan ingin tahu siapa ayah kandung Max dan Mario? Ia takut apa yang ia pikirkan memang benar.
“Maaf, saya tahu ini privasi Anda. Saya hanya ingin tahu si---“
“Siapa Ayah kandung Max dan Mario, kan?” sela Aulia tiba-tiba.
Harry dan Abdi menoleh pada Aulia. Aulia mendekat lalu ikut duduk di sana.
“Aku akan kasih tahu kalian siapa Ayah kandung mereka.”
Harry dan Abdi menatap lekat Aulia. Aulia menghembuskan napasnya pelan.
“Sebelumnya aku minta maaf pada kalian karena aku menyembunyikan ini semua dari kalian. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini semua. Aku terpaksa melakukannya. Tadinya ... aku mau kasih tahu ini semu sama kamu, Mas.”
Aulia menatap Harry lekat lalu menggenggam tangan sang suami. Setelah itu ia menoleh pada Abdi.
“Apa yang kamu pikirin, Di? Kenapa kamu jadi ingin tahu soal Max dan Mario? Apa ini ada hubungannya dengan golongan darah Max yang sama denganmu?”
Abdi terdiam sejenak lalu mengangguk pelan.
“Kenapa? Apa kamu berpikir Max dan Mario anakmu?”
Pertanyaan dari Aulia membuat Abdi dan Harry tersentak kaget.
“Aulia ... ini ... mak ... sudnya apa?” tanya Harry bingung.
Aulia menatap Harry lekat.
“Maaf, ya, Mas. Aku baru bisa ngasih tahu ini semua ke kamu. Abdi adalah ... mantan suamiku.”
Harry membelalakkan kedua matanya kaget.
“Apa?!”
Aulia menggenggam tangan Harry erat.
“Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud menyembunyikan ini semua. Kamu tahu, kan kalau ini berat untukku? Kamu tahu, kan betapa aku membenci mantanku itu? Apalagi saat sesuatu terjadi pada Max.”
Air mata Aulia menetes membuat Harry dan juga Abdi tak tega melihatnya. Harry langsung mengusap air mata di pipi Aulia.
“Hey, jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu menangis.”
Aulia tersenyum tipis.
“Tapi aku sekarang sudah tidak membencinya lagi, Mas. Sudah banyak yang ia lakukan untuk Max.”
Abdi terdiam menunduk, sedangkan Harry tersenyum tipis sembari menggenggam tangan Aulia erat.
“Mas,” panggil Aulia pada Harry. Harry menatap penuh tanya pada Aulia.
“Abdi ... adalah Ayah kandung Max dan Mario.”
Harry dan Abdi membelalakkan kedua matanya kaget.
“Ja ... jadi mereka ... a ... anak-anakku?”
Aulia menganggukkan kepalanya pelan. Abdi terdiam. Rasanya seluruh tubuhnya lemas.
“Aulia ... mereka ... me---“
“Aku saat itu sedang hamil, Di. Sekitar dua minggu, tapi kamu ... kamu lebih memilih pendidikanmu. Kamu lebih memilih kariermu. Cita-citamu. Kamu tinggalkan aku. Tanpa peduli bagaimana sakitnya aku? Tanpa peduli bagaimana perasaanku? Kamu tidak pernah memikirkanku, Di. Kamu tidak pernah mau menerima teleponku. Kamu memilih pergi tanpa pamit dan meninggalkanku dengan anak-anak dalam kandungan aku. Kamu tidak tahu bagaimana sulitnya jadi aku, Di.”
Air mata Aulia kembali jatuh tak tertahankan. Abdi semakin merasa bersalah pada Aulia. Ia jahat. Ia memang jahat. Kenapa ia harus meninggalkan Aulia demi kariernya? Kenapa ia tidak membawa Aulia untuk hidup bersamanya, untuk tinggal bersamanya, menjalankan pendidikannya dan meniti kariernya bersama Aulia? Kenapa?
“Aku minta maaf Aulia. Aku minta maaf. A---“
“Aku harus menghidupi anak-anak tanpamu. Untungnya kedua orang tuaku dan juga keluargaku membantuku. Mereka semua yang membuat aku kuat," ucap Aulia memotong ucapan Abdi.
Harry duduk mendekat pada Aulia lalu merangkul pundak Aulia dan mengusapnya pelan.
“Max dan Mario adalah sumber kebahagiaanku. Mereka yang membuat aku bisa bertahan sampai saat ini. Hingga pada kejadian di mana Max sakit dan aku harus membawanya ke luar negeri untuk melakukan operasi, aku bertemu dengan Harry. Harry yang selalu ada di sampingku selain keluargaku. Dia selalu membantuku, bahkan biaya pengobatan Max pun dia yang tanggung. Dia yang selalu berperan menjadi seorang Ayah untuk Max dan Mario tanpa diminta oleh siapa pun. Hingga akhirnya Harry melamarku dan kami pun menikah. Harry sudah seperti Ayah kandung Max dan Mario. Apalagi Max, dia tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu Harry adalah Ayah kandungnya karena yang ia ingat hanya itu.”
Suara Aulia semakin lirih terdengar. Ia akan sangat sedih jika mengingat tentang Max. Abdi semakin kecewa pada dirinya sendiri. Abdi menunduk dengan terkepal di bawah meja.
“Jadi selama ini ... pasienku itu adalah anakku. Anak kandungku. Darah dagingku sendiri ...” lirih Abdi.
Tanpa mereka sadari Mario mendengar semuanya. Ia berbalik lalu berlari menjauh dari kantin. Ia berlari di lorong rumah sakit tanpa arah. Tanpa tujuan. Bahkan sesekali ia menabrak beberapa orang yang berlalu lalang. Hingga ia berlari menaiki tangga dan berhenti di rooftop. Ia berjalan lunglai dengan peluh dan juga air mata yang tak kunjung berhenti.
Kenyataan apa ini? Kenapa sesakit ini? Kenapa harus Abdi? Kenapa harus dokter yang selama ini merawat Max yang menjadi Ayah kandung mereka? Pikirnya.
“Arghh!!!”
Mario berteriak kencang. Meluapkan seluruh emosi dan perasaannya.
“Berengsek!!”
Kakinya melemas lalu jatuh terduduk. Ia melipat kakinya dan menyembunyikan wajahnya di sana.
“Kenapa? Kenapa Ayah tega ninggalin Bunda dan kita, Yah? Kenapa?! Ayah tidak tahu seberapa sulitnya Bunda menjalani hidup. Ayah tidak tahu seberapa sulitnya kami saat melihat Max sakit. Ayah tidak tahu! Jahat! Ayah jahat!!”
...BERSAMBUNG ....
__ADS_1
...