
"Kakak yang bawa." ucap Mario sambil mengambil tas punggung Max.
"Tidak perlu kak.."
Mario tidak peduli, ia tetap berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah diikuti Max di belakangnya.
"Kakkk.." panggil Max lebih terdengar seperti rengekan sebenarnya.
Mario menoleh ke belakang.
"Nanti di sekolah saja kau bawanya." ucap Mario.
Max akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah menyetujui perintah kakaknya padahal ia tidak ingin merepotkan Mario. Tiba-tiba Max merasa ada sesuatu yang keluar dari hidungnya, ia pun berhenti berjalan dan mengusap hidungnya. Seketika ia terkejut dengan mata yang membola.
"Darah!! Gawat!! Aku mimisan!" Max langsung berbalik arah menuju kamar mandi yang terletak di kamarnya.
"Ada sesuatu yang tertinggal kak! Kakak duluan saja!" teriak Max dengan suara yang terdengar panik.
Mario yang sudah sampai di akhir tangga menoleh dan mengernyit bingung saat ternyata adiknya sudah masuk kembali kedalam kamar.
"Cepat sekali? Ada apa dengannya? Memangnya apa yang tertinggal?"
"Hhh..sudahlah."
Mariopun mengedikkan kedua bahunya.
"Kakak tunggu di ruang makan! Jangan lama-lama nanti kita terlambat!" teriak Mario menuju ruang makan.
Sementara itu Max langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi, setelah sampai ia langsung mengunci pintu kamar mandi dari dalam. Ia biarkan air keran mengalir bersamaan dengan darah yang ikut mengalir ke wastafel. Tak lama kemudian darahnyapun berhenti. Iapun membasuh hidungnya dengan air.
"Hhh..untungnya darahnya tidak banyak dan tidak mengotori seragamku. Alhamdulillah."
Maxpun mengambil handuk kecil dan mengusap wajahnya.
"Hhh..tambah pucat." keluh Max.
"Ya sudahlah. Kau tetap tampan Max..hehe." ucapnya menyemangati dirinya sendiri sambil terkekeh.
Maxpun segera keluar dari kamar mandi dan turun menuju ruang makan.
"Selai coklat atau selai strawberry Max?" tanya Mario, sesampainya Max disana.
"Coklat kak." jawab Max sambil terkekeh. Mariopun ikut terkekeh mendengarnya.
"Kak Rio kan yang makan, kenapa justru bertanya padaku?"
Mario terkekeh.
"Hanya iseng."
Max menggelengkan kepalanya sambil melahap nasi putih dan telur kecap. Bingung dengan pemikiran kakak kembarnya. Sedangkan ia seperti biasa tidak akan pernah berani memakan yang manis-manis disaat perut kosong jika ia tidak mau lambungnya kembali kambuh.
Setelah selesai sarapan mereka berdua segera berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah Mario masih membawakan tas milik Max.
"Kak..biar aku saja yang bawa." rengek Max.
"Hhh..ini." Mario menyodorkan tas itu pada Max. Tiba-tiba dia mengernyitkan dahinya saat melihat ada sesuatu yang mengganjal pada adiknya.
"Sebentar, ini kenapa? Mukamu pucat sekali Max?!" panik Mario sambil memperhatikan tiap inci wajah Max.
"A..a..aku tidak apa-apa kak. Ayo masuk kelas." ucap Max cepat dan segera pergi menuju kelasnya.
Mario terdiam.
"Apa..Max menyembunyikan sesuatu dariku?" gumam Mario.
****
"Hai." sapa Rudi pada Clara yang duduk di kantin sendirian.
Clara mendongak dan tersenyum.
"Hai juga." jawab Clara.
"Boleh aku duduk disini?"
Clara mengangguk mengiyakan.
"Kau sendirian saja?"
Clara menggelengkan kepalanya.
"Berdua dengan temanku. Dia sedang mengantri makanan di kantin."
Rudi mengangguk.
"Kalau kau?"
Rudi mengernyit.
"Oh? Aku tadi bersama teman-temanku tapi karena melihatmu sendiri jadi aku menghampirimu kesini. Oh ya teman-temanku ada disana." tunjuk Rudi kearah bangku kantin yang terletak di depan.
Clara mengangguk dengan mulut terbuka membentuk huruf "O" tanpa suara.
"Emm..kau irit bicara ya?"
Clara terkekeh.
__ADS_1
"Tidak juga, hanya pada orang yang tidak ku kenal, atau baru ku kenal atau tidak terlalu dekat denganku saja aku jadi irit bicara jika pada orang yang dekat denganku mereka selalu bilang aku ini cerewet..hehe." ucap Clara sambil terkekeh.
"Kalau begitu, ijinkan aku untuk dekat denganmu ya?" ucap Rudi sambil tersenyum.
"Hah?" bingung Clara.
"Kita sudah saling kenal kan, jadi ijinkan aku dekat denganmu ya?" ucap Rudi lagi sambil memegang tangan Clara.
"Eh?"
Clara terdiam tidak tahu harus berbicara apa?
"Kenapa kau diam? Kau belum memiliki pacar kan? Max bukan pacarmu kan?" tanya Rudi lebih seperti desakkan.
Clara terkejut tapi tak lama ia menunduk lesu. Yah, dia memang belum memiliki hubungan apa-apa dengan Max tapi ia juga tidak berniat memiliki hubungan dengan lelaki lain saat ini karena ia masih tetap ingin membuktikan siapa Max itu sebenarnya? Apakah dia M atau bukan?
"Belum.." jawab Clara pelan.
Rudi bersorak gembira. Ia bertepuk tangan. Lalu memegang kedua tangan Clara sambil mengayun-ayunkannya.
"Eh?! Eh?! Apa yang kau lakukan?!" kaget Clara.
Sementara itu tak jauh dari sana ada Max yang melihat mereka berdua.
Max terdiam. Ada rasa yang tak mampu ia jabarkan. Ada rasa tak rela. Ada rasa ingin memiliki dan ada rasa sesak yang menghimpit dadanya tapi bukan karena jantungnya berulah. Tapi semua tak berlangsung lama ia kemudian memejamkan kedua matanya serta mengenyahkan semua pemikirannya yang saat ini berkeliaran kemana-mana. Lalu membuang nafasnya perlahan dan kembali membuka kedua matanya. Ia tersenyum sendu kearah Clara lalu berbalik arah keluar dari kantin.
"Eh? Max kau mau kemana? Tempat duduk kita ada di ujung sana." tanya Hayden sambil menunjuk ke arah bangku yang terletak diujung di dekat jendela.
Tadi itu Max memang ingin pergi kesana untuk segera duduk disana sambil menunggu Mario dan Jonathan yang memesan makanan dan minuman sedangkan Hayden pergi ke toilet. Tapi diurungkannya karena ia tadi melihat Clara dan Rudi yang berpegangan tangan.
"Max?" panggil Hayden.
Max tersenyum.
"Iya aku tahu tapi aku mau ke toilet sebentar. Kalian duluan saja ya."
Hayden menarik lengan Max.
"Aku antar."
Max menggelengkan kepalanya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." ucap Max sambil tersenyum lalu segera berlalu dari sana.
Hayden baru saja akan mengejar Max tapi Jonathan memanggilnya.
"Hayden! Muka datar! Cepat kemari bantu kami membawa makanan dan minumannya. Ini berat dan banyak!" teriak Jonathan memanggil Hayden.
Hayden mendengus kesal.
"Mengganggu." gumam Hayden kesal tapi tak ayal, ia tetap menuruti Jonathan dan menghampirinya.
"Di..tangannya. Lepas." ucap Clara risih.
Dari tadi ia ingin melepaskan tangan Rudi tapi entah Rudi yang tidak mendengar ucapan Clara atau Rudi yang memang terlalu antusias sampai Rudi tetap tak melepaskan pegangan tangannya.
DUGG!
Tiba-tiba ada seseorang yang menendang kaki Rudi.
"Awww!" ringis Rudi sambil meloncat-loncat dengan memegang kaki kanannya yang ditendang.
"Kau ini, dari tadi Clara sudah bilang lepas tapi kau masih saja memegang tangannya! Kau ini siapa,hah?!" teriak Cassie kesal sambil memegang nampan berisi dua piring Siomay.
"Aduhhh, kasar sekali kau ini! Kau itu perempuan atau bukan sih?!" teriak Rudi sambil sesekali meringis.
"Sembarangan kalau bicara! Tentu saja aku ini perempuan! Memangnya kau tidak lihat aku pakai rok,hah?!" kesal Cassie.
"Aku lihat tapi kau kas.." belum selesai Rudi berbicara Clara sudah memotongnya.
"Sudah jangan bertengkar dan jangan berdebat." ucap Clara sambil mengambil dua piring siomay yang dibawa Cassie lalu meletakkannya di meja mereka.
"Tapi dia.." ucapan Rudi dan Cassie terputus setelah menyadari mereka mengucapkannya secara bersamaan. Merekapun saling menatap satu sama lain.
"Kenapa kau mengikutiku?!" ucap Rudi dan Cassie yang lagi-lagi diucapkan mereka secara bersamaan.
Clara menggelengkan kepalanya.
"Sudah. Sudah." ucap Clara berusaha menghentikan keributan.
"Cassie, kenalkan dia Rudi. Rudi kenalkan dia Cassie temanku." ucap Clara.
"Rudi siapa? Aku tidak mengenal lelaki aneh seperti dia."
Rudi mengeram kesal mendengarnya.
"Sudah jangan ribut lagi. Aku ke toilet dulu sebentar. Kalian makan saja duluan. Cassie titip siomayku, ingat jangan dihabiskan. Itu punyaku." peringat Clara lalu pergi dari sana.
Cassie berdecak kesal mendengarnya sedangkan Rudi justru terkekeh mendengarnya.
****
"Hhh.."
Max menghembuskan nafasnya pelan setelah ia selesai buang air kecil, mencuci tangan dan juga membasuh wajahnya. Ia pun keluar dari toilet.
"Ini." ucap seseorang tiba-tiba sambil menyodorkan tisu kearahnya.
__ADS_1
Max berjengit kaget. Ia mengusap dadanya pelan. Bagaimana tidak kaget jika saat membuka pintu tiba-tiba ada seseorang di luar yang menunggumu.
"Hhhh..Apa ini?" tanya Max bingung.
"Wajahmu basah. Sebaiknya kau keringkan dengan tisu." ucap orang itu lagi.
Maxpun mengambilnya sambil tersenyum.
"Aku kira Clara ternyata bukan. Padahal biasanya kan Clara. Apa karena kami tidak berjodoh ya? Hhhh.. Tidak mungkin Clara berjodoh denganku, aku saja tidak yakin masih bisa hidup sampai besok." monolog Max dalam hati.
"Terima kasih." ucap Max.
"Kembali kasih." jawab orang itu.
Max terkekeh mendengarnya.
"Kau lucu." ucap Max.
Pipi orang itu bersemu merah sambil menunduk.
"Namamu siapa?" tanya Max.
"Hhh.." orang itu menghela nafasnya sejenak.
Max mengernyitkan dahinya bingung.
"Namaku Mariana. Aku ini sekelas denganmu Max. Aku ini teman sekelasmu." jawabnya.
"Ah? Ya ampun maaf. Maaf! Aku benar-benar minta maaf! Maafkan ingatanku yang buruk ini. Aku memang sulit mengenali orang jika hanya sesekali bertemu."
Max meminta maaf dengan menangkupkan kedua tangannya.
"Soal pelajaran saja kau ingat, sedangkan pada teman sekelasmu justru tidak ingat." cibir Mariana.
"Hehehe bukan ingat. Aku hanya beruntung saja."
Mariana mencebikkan bibirnya.
"Hhh dasar.."
Tak jauh dari sana Clara yang ingin ketoilet tiba-tiba berhenti saat melihat Max dan Mariana mengobrol berdua.
"Siapa perempuan itu..?
"Jangan-jangan..."
"Dia pacar Max ya?"
Clara bergumam lirih. Ia menunduk sedih. Tiba-tiba ada yang menepuk bahunya.
"Dorrr!!!" teriak Rudi mengagetkan Clara.
Clara melotot tajam pada Rudi, ia ingin sekali menendang Rudi jauh-jauh. Ia benar-benar kesal sekarang. Bagaimana tidak? Suara Rudi benar-benar kencang bahkan Max dan Mariana saja mendengarnya.
Max tersenyum sendu saat melihat kedekatan antara Clara dan Rudi.
"Mereka terlihat dekat.."
****
Dari tadi Max hanya bisa menelungkupkan kepalanya di atas meja. Kepalanya sangat sakit apalagi tadi kilasan-kilasan masa lalunya sempat hadir dan semuanya tentang Clara. Sampai bel berbunyipun rasa sakitnya tak juga berkurang.
"Apa aku memang si M itu ya? Aku tidak yakin tapi.." batin Max sambil sesekali meringis.
"Apa aku bilang, harusnya kau pulang dari tadi Max atau setidaknya ke UKS? Kenapa kau dan Rio sama-sama keras kepala?! Apa kalian terbuat dari batu,hah?!" kesal Jonathan.
PLETAKK!!
"Aww! Sakit!! Kenapa kau memukulku muka datar?!" ringis Jonathan.
"Diam!" ucap Hayden datar.
Sedangkan Mario sedang merapikan isi tasnya dan tas Max. Dia benar-benar panik sekaligus kesal. Ia kesal kenapa adiknya tidak mau berterus terang padanya.
"Max, ayo kakak gendong ya?" ucap Mario sambil mengusap kepala Max pelan.
Tapi Max belum bangun juga dan masih menelungkupkan kepalanya diatas meja.
"Kenapa aku lagi-lagi menyusahkan kak Rio..?" Batin Max sedih bercampur kesal.
"Max.." panggil Hayden.
BRAKKK!
Tiba-tiba suara gebrakan pintu terdengar membuat semua yang ada disana berjengit kaget. Bahkan Max sampai mendongak lalu mengusap dadanya pelan.
Semua orang disana mengeram kesal.
"Apa yang sudah kau lakukan,hah?!" teriak Mario pada orang tadi.
Sedangkan sang pelaku tersenyum miring lalu mendekat kearah mereka diikuti kedua temannya.
"Hai..senang bertemu dengan kalian semua.." ucapnya.
Hayden membelalakan kedua matanya.
"Kenapa...dia...ada disini..?!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...