Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
30. Hanya Hati Yang Tahu


__ADS_3

"Kenapa kau membawaku kesini?"


Cassie mendongak sekilas pada Rudi setelah Batagor di piringnya habis tapi ia masih belum menjawab pertanyaan dari Rudi.


"Cassie." panggil Rudi lagi.


Cassie lalu berdehem kemudian mengambil minuman colanya yang tersisa setengah lalu meminumnya sampai tandas.


"Karena aku lapar."


Rudi memicingkan matanya.


"Benarkah?" tanya Rudi lagi lebih seperti mengintimidasi sebenarnya.


Cassie mengangguk.


"Aku lapar dan aku tidak mau pergi sendiri. Jadi aku mengajakmu untuk menemaniku ke kantin."


Rudi meremat kaleng colanya. Cassie tentu melihat itu semua. Ia tahu Rudi pasti kesal padanya.


"Kenapa kau tidak mengajak Clara saja. Kenapa harus aku?"


Pertanyaan yang ditunggu-tunggu Cassiepun keluar. Cassie tersenyum miring dan mengalihkan pandangannya ke arah taman rumah sakit dimana terdapat banyak pasien disana.


"Max belum mengenalmu dengan baik kan? Mana mungkin aku meninggalkan Max bersamamu, dia pasti akan canggung. Orang sakit harus dibuat nyaman agar cepat pulih. Jadi aku pilih Clara untuk menemaninya." jelas Cassie.


"Apa benar seperti itu?"


Rudi menatap Cassie tajam.


"I..iya. Kau..ini kenapa sih?" gugup Cassie lama-lama ia juga tak nyaman ditatap seperti itu oleh Rudi.


"Hhh..Kau ingin menjodohkan Clara dengan Max kan?" sinis Rudi.


Cassie diam tak berniat untuk menjawab.


Rudi terkekeh sinis melihat Cassie yang hanya diam.


"Kenapa harus pada Max? Aku juga menyukai Clara. Mereka belum pacaran kan? Kenapa kau harus menjodoh-jodohkan mereka seperti itu? Kenapa tidak denganku? Aku juga berhak mendekati Clara bukan hanya Max." tuntut Rudi yang mulai terbakar emosi.


Cassie menggigit bibirnya lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin memberikan Clara dan Max waktu untuk berdua saja. Mereka sudah lama tidak bertemu jadi aku hanya ingin memberikan kesempatan pada mereka untuk sekedar mengobrol. Lagi pula sudah ku bilang kan, Max mungkin akan canggung jika berbicara denganmu, sedangkan pada Clara, Max sudah kenal. Dan..soal kau yang menyukai Clara, kau harus mengatakannya langsung pada Clara. Jangan marah padaku. Aku kan tidak tahu menahu soal hatimu." sanggah Cassie.


Rudi tertunduk lesu.


"Sudah. Aku sudah mengatakannya tapi Clara belum memberikan jawabannya.hhh.."


"Oh." sahut Cassie datar.


"Itu sih deritamu.." batin Cassie.


"Cassie.." panggil Rudi.


Cassie menatap Rudi dengan tatapan bertanya tanpa suara.


"Apa.. Apa Clara menyukai Max?"


Cassie mengedikkan kedua bahunya.


"Mana aku tahu. Aku kan bukan Clara. Tapi...mungkin saja kan? Max itu tampan, baik dan pintar. Jadi bisa saja Clara menyukainya." jawab Cassie enteng.


Rudi menghembuskan nafasnya kasar lalu bersandar pada kursi kantin sambil menatap langit-langit.


"Itu semua bukan ukuran seseorang bisa menyukai lawan jenisnya, Cassie."


Cassie mengangguk.


"Iya aku tahu tapi kebaikan yang lelaki berikan bisa saja menumbuhkan rasa cinta di diri seorang perempuan. Salah satunya Clara dan..."


Cassie menggantungkan ucapannya sejenak.


"Dan Max mungkin. Jadi jika kau ingin mengambil hati Clara. Berbuat baiklah terutama pada Clara. Mungkin hati Clara akhirnya akan tersentuh tapi itu hanya kemungkinan ya. Itu hanya opiniku karena aku sendiri juga tidak tahu menahu soal isi hati Clara, lagi pula bisa saja di hati Clara sudah ada seseorang yang spesial yang sampai saat ini belum tergantikan."


"Apa?! Seseorang yang spesial?! Siapa?! Siapa dia?" desak Rudi.


Cassie mengedikkan kedua bahunya lagi.


"Mana ku tahu. Itu kan hanya kemungkinan. Jadi hanya Clara dan Allah lah yang tahu."


Rudi terdiam.


"Ekhm!" Cassie berdehem.


Rudi mendongak, menatap pada Cassie yang sudah bangkit berdiri dari duduknya.


"Aku mau kembali ke kamar rawat Max. Kau mau ikut?" tanya Cassie yang dijawab anggukan malas oleh Rudi.


Rudipun bangkit dari duduknya. Baru beberapa langkah mereka berjalan, didepannya sudah ada Mario yang menatap mereka berdua dengan tatapan menyelidik.


"Kau sedang apa disini?" tanya Mario.


Rudi menatap wajah Mario lekat. Sedetik kemudian mulut dan kedua matanya membola.

__ADS_1


"Wahhh!! Kau mirip dengan Max! Kau pasti kakak kembar Max ya?!" tanya Rudi antusias.


Mario mengangguk menatap aneh Rudi sekilas lalu arah pandangannya kembali pada Cassie.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kau disini?"


Cassie menunjuk pada dirinya sendiri.


"Aku?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.


"Oh ya Tuhannnn. Kau benar-benar menjengkelkan! Tentu saja aku bertanya padamu, CAS-SIE." kesal Mario dengan penekanan kata.


Cassie terkekeh.


"Aku lapar. Jadi aku makan batagor disini. Kenapa? Apa kau ingin membayarkannya untukku? Emmm..tapi tak perlu. Aku sudah bayar tadi."


"Ckk!!"


Mario berdecak kesal.


"Hentikan basa basinya. Kau pasti bersama Clara kan? Dimana dia?"


Cassie diam tak menyahut hanya menatap Mario malas. Begitu juga dengan Rudi yang hanya diam menyimak.


Mario menatap Cassie penuh selidik.


"Kenapa kau diam?"


Sedetik kemudian wajah Mario menegang.


"Ah! Jangan-jangan dia ada di-!"


Marco yang menyadari sesuatu langsung berlari meninggalkan Cassie dan Rudi.


"Ckk! AH! SIAL!!" umpat Cassie dan segera mengejar Mario.


Rudi mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Mereka kenapa?" gumam Rudi kebingungan.


Tiba-tiba suara lengkingan terdengar.


"YAK!! RUDI BODOH!! IKUTI AKU!!!" pekik Cassie kencang yang jaraknya sudah cukup jauh dari Rudi.


Rudi menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. Orang-orang memperhatikan dia saat ini.


"Ishh! Dasar gila. Kenapa mengataiku bodoh?!Membuatku malu saja." desis Rudi namun tak ayal ia juga ikut berlari mengejar Cassie dan Mario.


Cassie terus mengejar Mario menyusuri koridor Rumah Sakit, meninggalkan Rudi yang tertinggal jauh dibelakangnya.


"YO!!! RIO!!! TUNGGU AKU!!" panggil Cassie kencang namun tak digubris Mario. Justru lari Mario semakin kencang.


"RIO!!!"


BRUKKK!


"Aww!!"


Seorang remaja lelaki jatuh terduduk setelah tak sengaja tertabrak Cassie.


"Yak!! Kau!!" bentak orang itu.


Cassie menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"MAAFF!!" teriak Cassie sambil tetap berlari.


"Gadis gila!" kesal lelaki tadi lalu berusaha bangkit.


"CASSIE!! TUNGGU AKU!!"


Lelaki yang tadi terjatuh menoleh ke belakang didapatinya Rudi yang juga sedang berlari. Senyum licikpun terbit. Iapun sengaja menjulurkan kakinya ke tengah jalan.


Rudi yang tadi tertinggal di belakang terus mengejar Cassie tanpa melihat kearah jalan hingga ia tersandung kaki lelaki yang tertabrak oleh Cassie tadi dan jatuh ke lantai yang dingin.


BRUKK!!


"Awww!!! Sakittttt!" ringis Rudi sambil mengusap-usap lututnya yang terasa nyeri.


Suara kekehan terdengar membuat Rudi mendongak menatap seseorang yang kini berada didepannya. Kedua mata Rudi seketika membola. Ia benar-benar kaget sekaligus takut dibuatnya.


"Kak...Rey.."


Ya. Orang yang tadi tertabrak oleh Cassie adalah Reynaldy. Reynaldy tersenyum miring menatap remeh kearah Rudi.


"Kenapa? Sakit? Aku memang sengaja melakukannya. Salahkan saja teman wanitamu yang menabrakku seenaknya. Ah..tunggu.. Aku baru ingat. Kau bocah yang di tolong si Max itu kan. Ah semakin senang aku melakukannya."


Reynaldy lalu berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi Rudi yang saat ini masih terduduk. Dia kemudian berbisik di telinga Rudi.


"Katakan pada Max, mulai sekarang dia harus berhati-hati padaku. Aku akan membuat penyakitnya sering kambuh yang berarti aku akan membunuhnya secara perlahan. Sampaikan padanya ya. Bye!" bisik Reynaldy lalu menepuk pundak Rudi berkali-kali dan pergi meninggalkan Rudi sendirian.


DEG! DEG! DEG!


Rudi meraba dadanya pelan. Jantungnya berdetak tak karuan.

__ADS_1


"A..ap..pa mak..sudnya..?"


Rudi menatap punggung Reynaldy yang semakin hilang tertelan jarak.


"Su..aranya..so..rot matanya..benar-benar menyeramkan.." ucap Rudi gemetaran.


****


"Kenapa masih disini?" tanya Max pelan sambil mengibaskan tangannya kearah Clara.


"Kau mengusirku?" tanya balik Clara.


Max menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak. Aku tidak bilang begitu." elak Max.


"Ckk. Tanganmu menunjukan itu Max." decak Clara kesal.


"Aku tidak mengusirmu. Aku hanya tidak mau membuat Rudi salah paham dengan kita. Jadi sebaiknya kau segera susul Rudi sebe-"


PLAKK!!


"AWWW!!! Sss..sakittt..! Kenapa kau memukul lenganku sih?" teriak Max sambil mengusap lengannya yang terkena pukulan Clara.


"Opini! Opini! Terus saja kau beropini sesuka hatimu! Siapa yang pacaran, hah?! Aku bahkan belum lama mengenal dia! Bagaimana bisa aku pacaran dengannya?!" marah Clara tak terima.


"Ya mungkin saja kan ka-"


Ucapan Max terpotong dan yang terdengar justru ringisan.


"Sshhsss..Kau salah tempat tadi. Seharusnya lengan kananku yang kau pukul bukan kiri." ringis Max.


Clara mengernyit bingung tidak mengerti dengan apa yang Max bicarakan tapi sedetik kemudian ia kaget melihat aliran darah di infus Max naik.


"Waaaaaa!!!!! Maaf. Maafkan aku Max."


Clara langsung memperbaiki laju aliran infus Max. Setelah kembali normal. Iapun menghembuskan nafasnya lega.


Max menggelengkan kepalanya sambil berdecak.


"Ckk! Sudahlah, aku tidak apa-apa Ra. Tidak perlu khawatir."


Clara mendelik.


"Siapa yang khawatir? Aku tidak khawatir padamu. Lagi pula ini semua juga gara-garamu!"


Max membulatkan mulutnya lebar tak percaya dengan ucapan Clara.


"Lah. Kok aku? Kan yang salah kau. Aku ini korban, loh." bingung Max.


"Iya tentu saja kau yang salah. Kalau kau tidak beropini macam-macam, aku tidak akan marah padamu dan tidak akan memukulmu. Berarti kan kau yang salah." ucap Clara membela diri.


"Hhh..Iya iya aku yang salah. Pasienlah yang salah disini." sahut Max sambil memutar bola matanya malas.


"Ya memang." sahut Clara.


Max hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu ia berdehem pelan.


"Ekhm..Jadi?"


Clara mendengus.


"Tentu saja kami tidak pacaran. Sudah kubilang kan tadi. Aku bahkan baru beberapa hari mengenalnya."


Max mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi kau tidak pernah menyukai lelaki hanya dalam waktu beberapa hari ya? Harus lama ya." tanya Max.


Clara mengangguk ragu.


"Pernah sih..dan itu..kau.." gumam Clara namun tak dapat didengar Max.


Max mengernyitkan dahinya.


"Hah? Tadi kau bicara apa Ra? Maaf, aku tidak dengar."


Clara melotot lalu menggelengkan kepalanya ribut.


"TIDAK! TIDAK! TIDAK! Aku tidak bicara apa-apa." elak Clara akhirnya. Wajahnya sudah memerah bagai kepiting rebus.


Clara mengalihkan pandangannya ke jendela kamar untuk menghindari tatapan dari Max.


Max menarik tangan Clara.


"Hey, kau lihat apa? Lihat kesini saja."


Clara terpaksa menoleh kearah Max. Max tersenyum melihat wajah Clara yang memerah.


CKLEKK!


Pintu terbuka membuat Max dan Clara menoleh kearah pintu bersamaan tanpa melepaskan tautan tangan mereka.


Max dan Clara terkejut saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Kau/Silvana??!" ucap Clara dan Max bersamaan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2