
"Kak.." panggil Max lagi tapi tetap tak ada jawaban yang ia dapatkan.
Max menghela nafas sejenak.
"Jangan marah padanya,kumohon.." lirih Max.
Mario menatap kedua mata Max lekat. Mata adiknya terlihat begitu sedih.
"Ada apa ini? Kenapa Max harus sesedih itu? Apa memang Max mengingatnya?" monolog Mario dalam hati.
"Aku memang belum ingat sepenuhnya..tapi..aku tidak suka melihat Clara bersedih.. kumohon jangan sakiti dia,setidaknya jika bukan demi dirinya maka demi diriku kak.." mohon Max.
Mario terdiam lalu memalingkan wajahnya kearah lain.
"Kakak mau makan malam dulu,kau tidak perlu turun, nanti biar Bi Inah yang akan bawakan makanannya kesini. Bunda juga sebentar lagi pulang. Ya sudah kakak ke bawah dulu." ucap Mario mengalihkan pembicaraan dan segera pergi keluar kamar dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan Max sendirian ditemani keheningan malam.
Max menghembuskan nafasnya kasar lalu memejamkan matanya sejenak menghalau sesak dan sakit di kepalanya yang sudah terasa sejak ia membahas tentang Clara dengan kakaknya. Ini memang sudah menjadi hal lumrah baginya jika ia mengingat masa lalunya apalagi saat ia mengingat Clara tapi ia justru semakin penasaran siapa Clara sebenarnya. Ia merasa Clara mempunyai tempat tersendiri di hatinya.
Max beranjak dari tempat tidurnya membuka jendela kaca kearah balkon. Ia pun berdiri memegang pagar balkon dengan kepala menengadah keatas menatap indahnya langit malam.
"Aku memang belum sepenuhnya mengingatmu tapi.."
Max menjeda ucapannya lalu memejamkan matanya sejenak.
"Tapi aku yakin kau memiliki tempat yang istimewa dihatiku.." lanjutnya.
"Aku akan berusaha mengingatmu dan melindungimu dari orang-orang yang ingin menyakitimu apapun resikonya.." gumamnya lagi lalu beranjak dari sana dan kembali masuk ke dalam kamar setelah menutup jendela kamar rapat-rapat karena ia tak ingin angin malam memasuki kamar ia dan Mario karena ia tak pernah bersahabat dengan yang namanya angin malam.
Max lalu mengambil ponselnya dan memasangkan airpods ditelinga kanannya lalu memutar lagu di ponselnya yang berjudul Death Bed.
Iapun membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya menikmati alunan musik dan lagu yang ia putar sambil sesekali bergumam mengikuti lirik lagunya.
****
"Hey Clara,kau sedang apa disini? Ayo masuk!" ajak Cassie sambil menarik tangan Clara.
"Sebentar Cassie. Aku hanya ingin menikmati langit malam saja." ucap Clara.
"Disini dingin. Angin malam tidak baik untuk tubuh. Ayo cepat masuk." ajak Cassie lagi.
"Kumohon,sebentarrrr saja. Aku janji hanya sebentar. Setelah ini aku akan masuk dan tidur, ya ya. Kumohon." mohon Clara.
Cassie menghembuskan nafasnya kasar.
"Baiklah,tapi hanya sebentar. Jika kau tidak masuk juga. Akan ku tarik paksa kau atau perlu ku gendong dan kuhempaskan kau di tempat tidur." ancam Cassie.
Clara terkekeh mendengarnya.
"Memangnya kau kuat menggendongku? Aku rasa tidak. Yang ada kita akan jatuh ke lantai bersamaan atau jatuh dari atas balkon.Ish, aku tidak mau. Membayangkannya saja sudah menakutkan. Aku tidak mau." ucap Clara melebih-lebihkan.
"Pikiranmu terlalu panjang. Tentu saja aku kuat. Kau tidak lihat otot-ototku ini. Ototku saja lebih besar dari si Jojo itu."
Cassie menunjukan lengannya yang tidak berotot sama sekali menurut Clara.
"Otot yang mana? Tidak ada otot di lenganmu. Ckck..Mengarang bebas saja kau ini. Lagi pula kenapa kau bawa-bawa si Jojo? Kau suka ya?" goda Clara.
"Apa?! Aku? Suka Jojo?! Jangan harap itu terjadi. Tidak,tidak dan tidak. Seperti tidak ada lelaki lain saja di dunia ini." kesal Cassie.
"Ya ya ya. Sudah sana masuk. Aku ingin menikmati indahnya langit malam, jika kau mengoceh terus lalu kapan aku bisa menikmatinya." ucap Clara dengan gerakan tangan seolah mengusir.
Cassie mencebikkan mulutnya.
__ADS_1
"Dasar, bilang saja kau ingin melamun." gumam Cassie lalu beranjak pergi dan masuk kekamarnya tepatnya kamar ia dan Clara.
Sementara itu setelah dirasa Cassie memang sudah pergi. Clara menengadahkan kepalanya,menatap sendu langit malam. Ia bergumam lebih tepatnya bernyanyi pelan.
"Don't stay awake for too long.."
"Don't go to bed.."
"I'll make a cup of coffee for your head.."
"It'll get you cup and going out of bed.."
Clara menyanyikan lagu yang sama dengan lagu yang diputar oleh Max dari ponselnya.
Mungkin itu pertanda hati mereka tetap menyatu tanpa mereka sadari.
****
"Hhh..sayang. Apa kamu yakin untuk sekolah hari ini? Memangnya Max benar-benar sudah kuat,hmmm..? Besok-besok saja ya sekolahnya.." tanya Aulia dengan raut wajah khawatir menatap sang putra bungsu yang hanya mengangguk sambil memakan nasi goreng sebagai menu sarapannya hari ini.
"Dia nakal bun. Rio sudah melarangnya sekolah tapi dia tetap memaksa. Lihat saja dia sudah rapi dengan seragamnya. Biarkan saja bun,kalau ada apa-apa tidak usah dipedulikan." kesal Mario.
"Huss..Rio tidak boleh begitu sayang. Jaga adiknya ya sayang. Bunda titip adik nakal kamu ini ya." ucap Aulia sambil mengusap kepala si sulung.
Sedangkan Max tetap memakan nasi gorengnya dengan khidmat.
Aulia tersenyum melihat Max yang lahap memakan menu sarapannya mungkin karena Max ingin sekali bersekolah sampai ia terlihat lahap seperti itu padahal hari- hari sebelumnya nafsu makan Max sangatlah menurun drastis.
"Ya sudah,Bunda keatas dulu untuk siap-siap ke kantor ya. Bunda juga ada rapat pagi, hari ini. Selesaikan sarapannya ya anak-anak kesayangan bunda." ucap Aulia sambil mengusap kepala Max pelan lalu segera beranjak menuju lantai dua letak kamarnya berada.
Mario melirik kearah adiknya.
"Max,mau mencoba susu dan roti kak Rio tidak? Selai coklatnya enak apalagi ditambah susu,enaknya jadi bertambah berkali-kali lipat. Ayo coba sedikit." ucap Mario sambil menyodorkan roti dan susunya kehadapan Max.
"Mau buat aku keram perut ya? Lupa,kalau adiknya tidak bisa makan yang manis-manis saat perut kosong?" tanya Max lebih pada pernyataan dan kekesalan sebenarnya.
Mario mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh iya ya. Adik kak Rio kan sakit lambung ya.." ucap Mario santai.
Max mendelik mendengarnya.
"Kak Rio sengaja ya supaya aku tidak bisa sekolah hari ini?"
Mario mengangguk lagi sambil tersenyum.
"Iya. Kakak mau memberi kamu roti dan susu ini sedikit supaya kamu keram perut tapi kan kalau sedikit tidak berbahaya. Keramnya juga sebentar tapi bunda pasti melarang kau sekolah. Itu tujuannya."
Max memukul lengan kakaknya yang saat ini memang duduk disamping kirinya.
PLAKK!
"Aww.." ringis Mario sambil mengusap lengannya yang dipukul Max.
"Jahatttt!! Meskipun makannya sedikit tapi tetap membuatku sakit kakkk!!" teriak Max kesal.
Bi Inah yang berada di dapur langsung bergegas ke ruang makan ketika mendengar majikan kecilnya berteriak.
"Max kenapa nak? Ada apa?" tanya Inah khawatir sambil berjalan tergopoh-gopoh.
"Tidak ada apa-apa bi. Maxnya saja yang rusuh. Pakai teriak-teriak segala. Padahal itu tidak perlu."
__ADS_1
Bukan Max yang menjawab tapi Mario yang menjawab sambil menaik turunkan alisnya menggoda adik kembarnya.
"Hhhh..bibi kira ada apa? Nak Rio jangan jahil sama adiknya. Kalian kan sedang makan, nanti tersedak. Sudah-sudah ya jangan bertengkar lagi, sekarang lanjutkan sarapannya. Bibi harus kembali ke dapur." ucap Inah yang hendak kembali ke dapur.
Namun langkahnya terhenti dikarenakan Max menarik tangan Inah pelan.
"Bi Inah sudah sarapan belum? Kalau belum, ayo sarapan bersama Max dan kak Rio." ajak Max.
Inah dan Mario tersenyum mendengarnya. Inahpun mengusap kepala Max lembut.
"Belum nak. Nanti bibi akan sarapan bersama ibu. Sudah ya, sekarang lanjutkan sarapannya, bibi harus kembali ke dapur, masih banyak pekerjaan yang harus bibi selesaikan." ucap Inah dan kembali ke dapur.
"Hhh..dasar bayi besar. Semua orang diberi perhatian tapi dirinya sendiri tidak." gumam Mario pelan namun masih dapat didengar oleh Max.
Max menatap kesal kearah sang kakak. Ia berdiri beranjak dari tempat duduknya.
Mario langsung menoleh kearah Max.
"Eh? Kau mau kemana? Sarapannya?" tanya Mario bingung.
"Sudah selesai." jawab Max ketus.
Mario melihat piring Max yang sudah kosong dan tak tersisa makanan sama sekali.
"Oh sudah habis ternyata tapi kau belum minum obat,Max. Ayo duduk lagi jangan pergi dulu lagipula kita juga belum berpamitan pada bunda." peringat Mario.
Max diam tak menyahut.
"Hey,kenapa? Marah ya? Jangan marah ya,kakak hanya bercanda. Tidak mungkin kakak tega membiarkan adiknya kesakitan karena penyakit lambungnya kambuh. Sudah-sudah, ayo duduk lagi setelah itu minum obatnya." bujuk Mario sambil menarik tangan Max pelan agar kembali duduk.
"Maafkan kakak ya.." mohon Mario lagi menatap sang kembaran lekat.
Aulia yang baru saja turun setelah selesai bersiap-siap untuk ke kantor mengernyit bingung menatap kedua putranya.
"Kenapa lagi? Kalian bertengkar lagi?" tanya Aulia.
Mario mengangguk.
"Max tidak mau memafkan Rio bun.." adu Mario.
Aulia menggelengkan kepalanya pelan mendengar aduan dari putra sulungnya kemudian ia beralih menatap putra bungsunya yang memajukan bibirnya tanda Max sedang kesal.
"Hhh..Bunda heran pada kalian apa tidak lelah bertengkar terus setiap hari?" tanya Aulia sambil menghela nafasnya lelah.
"Ck..iya iya Max maafkan." ucap Max yang masih berdecak kesal.
Aulia tersenyum sambil mengusap kepala Max.
"Terima kasih adik kesayangan kak Rio."
Max hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi Rio heran bun,kenapa juga Max memaksa ingin sekolah padahal kan dirumah lebih enak?" tanya Mario.
"Rio.. sudah sayang,jangan jahil terus pada Max,kasihan adik kamu." peringat Aulia sambil mengusap kepala Mario pelan.
Sedangkan Max tidak menyahut dan tetap hanyut dalam pikirannya sendiri.
"*Aku ingin sekolah... karena aku ingin bertemu Clara.."
"Setidaknya jika tak bisa bertemu secara langsung,aku masih bisa memastikan keadaannya, agar tetap baik-baik saja*.." monolog Max dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG..