
“Apa yang sudah terjadi?! Apa, Cassie?! Kenapa Max bisa masuk rumah sakit lagi?!” tanya Clara panik.
Cassie menggelengkan kepalanya pelan.
“Aku tidak tahu. Aku hanya dengar semua itu tadi saat ke minimarket. Aku melihat dua siswi sekolah kita membicarakan tentang Max. Kau tahu sendiri, kan bagaimana populernya Max dan Mario itu? Jadi saat Max masuk rumah sakit saja, mereka langsung bisa tahu,” jelas Cassie.
“Aku hanya dengar, Max digendong Mario ke rumah sakit saat pulang sekolah tadi bersama dengan Hayden dan Jonathan. Mungkin ... dia tadi collaps, Ra.”
DEG! DEG DEG!
Clara menggigit bibirnya pelan dengan kedua tangan saling bertautan.
“Aku takut ... aku takut Max kenapa-kenapa, Cassie? Aku takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Apa jangan-jangan ini semua gara-gara aku? Aku yang sudah membuatnya collaps. Aku, Cassie. Aku ... hikshiks.”
Pertahanan Clara akhirnya runtuh juga. Tangis yang sedari tadi ia tahan, akhirnya jatuh juga. Cassie beranjak dari duduknya lalu menghampiri Clara dan memeluknya erat. Ia usap punggung Clara pelan.
“Sudah ... sudah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Ra.”
Clara terisak dalam dekapan Cassie.
“Ini salahku. Ini salahku, Cassie! Seharusnya aku tidak bersikap seperti itu tadi. Sikapku tadi pasti sudah membuatnya sedih dan berpikiran yang tidak-tidak. Kalau saja aku langsung mengatakan jika aku memaafkannya karena dia tidak salah dan semua ini bukan keinginannya, pasti Max tidak akan seperti ini, Cassie. Seharusnya aku juga minta maaf padanya karena aku juga tidak peka pada kondisinya. Hikshiks.”
“Sudah, Ra. Sudah. Ini bukan salahmu.”
Clara menggelengkan kepalanya ribut sambil terisak. Ia melepaskan pelukan Cassie.
“Aku yang salah, Cassie. Aku! Ini semua salahku! Aku jahat, Cassie. Aku jahat!”
Cassie menggelengkan kepalanya ribut lalu mengusap air mata di pipi Clara kemudian menggenggam tangan Clara erat.
“Sudah, ya. Lupakan semuanya. Tidak ada gunanya kau menyesali semua yang sudah terjadi. Apalagi ini semua bukan sepenuhnya salahmu. Lebih baik kita segera ke rumah sakit agar kita bisa tahu bagaimana kondisi Max sekarang?”
Clara menganggukkan kepalanya pelan.
“Iya. Ayo, kita ke rumah sakit, Cassie.”
Cassie mengangguk.
“Ayo, kita bersiap-siap. Lalu minta ijin Tante Viona sekalian meminjam motornya, agar kita bisa cepat sampai ke rumah sakit.”
Clara menganggukkan kepalanya. Mereka lalu segera bersiap-siap. Setelah selesai, mereka berdua segera meminta ijin pada Viona sekaligus meminjam motornya untuk pergi ke rumah sakit.
“Ya, sudah kalian berdua hati-hati. Jangan mengebut naik motornya,” nasihat Viona.
“Iya, Tante. Kita pamit, ya. Assalammualaikum.”
Viona menganggukkan kepalanya.
“Waalaikum salam. Hati-hati!” teriak Viona yang dijawab lambaian tangan Clara yang diboncengi Cassie.
Bertepatan dengan perginya mereka berdua, Rudi baru saja datang, hendak mengajak Clara dan Cassie ke Cafe dekat sekolah mereka.
__ADS_1
“Assalammualaikum, Tante.”
Viona tersenyum.
“Waalaikum salam. Kamu ... temannya Clara dan Cassie yang waktu itu, kan?” tanya Viona memastikan saat ia teringat pada Rudi yang menunggu lama Clara di depan tokonya.
Rudi tersenyum lebar. Suatu kebanggaan baginya, karena Viona selaku Tantenya Clara mengingat dirinya.
“Iya, Tante. Saya Rudi yang waktu itu menunggu keponakan Tante di depan toko,” jawab Rudi.
Viona tersenyum.
“Kamu mau cari apa ke sini? Cari bunga atau mau ketemu sama Clara?”
Rudi tersenyum lebar.
“Iya, Tan. Mau ketemu Clara. Mau mengajak Clara dan Cassie nongkrong di cafe dekat sekolah, Tan.”
Viona tersenyum.
“Wah, sayang sekali, Di. Kamu telat datangnya. Clara dan Cassie baru saja pergi.”
Rudi mendesah pelan. Ia kecewa, kenapa begitu sulit untuk sekedar menghabiskan waktu dengan Clara? Jangankan menghabiskan waktu berdua. Bertiga dengan Cassie saja, ia belum bisa mewujudkannya. Rudi memaksakan senyumnya.
“Memangnya mereka pergi ke mana ya, Tan?” tanya Rudi.
“Ke rumah sakit. Me----“
“Hah?! Apa?! Memangnya siapa yang sakit, Tan?! Clara baik-baik saja, kan? Mereka berdua baik-baik saja, kan?!” panik Rudi memotong ucapan Viona.
“Bukan. Bukan Clara yang sakit. Clara dan Cassie baik-baik saja. Mereka berdua ke rumah sakit karena mereka mau menjenguk teman mereka, kalau tidak salah namanya Max."
Rudi terdiam.
“Men ...jenguk Max?”
Viona menganggukkan kepalanya.
“Max ya,” gumam Rudi.
Viona mengernyitkan dahinya bingung. Ia tidak mendengar dengan jelas ucapan dari Rudi.
“Kenapa, Di?” tanya Viona.
Rudi menggelengkan kepalanya pelan.
“Ah, bukan apa-apa, Tan. Oh, ya Tan kalau boleh tahu, rumah sakitnya di mana ya, Tan. Kebetulan Max juga teman Rudi, jadi Rudi juga mau menjenguknya.”
“Oh, Rumah Sakit Medika, Di.”
Rudi tersenyum.
__ADS_1
“Ya, sudah saya pamit ya, Tan. Assalammualaikum.”
“Waalaikum salam.”
Viona pun segera masuk kembali ke tokonya. Sementara itu Rudi berjalan pelan sambil memesan ojek online dari aplikasi di ponselnya.
“Max lagi ...” gumamnya.
“Apa Clara benar-benar menyukai Max, ya? Atau mungkin ... mereka sudah berpacaran? Kenapa Clara begitu peduli pada Max? Apa hanya karena Max baik atau karena Max sakit? Ckk! Rasanya aku jadi iri pada Max. Semua wanita tergila-gila padanya. Selalu jadi most wanted di sekolah. Sudah pintar, populer pula. Bisa tidak, ya. Aku jadi seperti dia?” lanjutnya.
“Bisa gila, sih iya, Mas.”
Rudi menoleh ke belakang kaget.
“Eh?!”
Tukang ojek online menyengir lebar ke arahnya dengan dua jari ke atas tanda perdamaian.
“Maaf, Mas. Saya bercanda. Habisnya dari tadi Masnya bicara sendiri kayak orang gila.”
Rudi menatap kesal pada tukang ojek yang ada di depannya kini.
“Mas, Mas Rudi, kan?” tanyanya pada Rudi.
Rudi mengangguk malas lalu langsung duduk di jok belakang.
“Mana helmnya, Mas? Antar saya ke Rumah Sakit Medika, ya.”
Tukang ojek online itu mengangguk sambil menyerahkan helm untuk penumpang pada Rudi. Ia lalu melajukan motornya menuju rumah sakit.
...****
...
Suasana berubah canggung saat kedatangan dua orang perempuan ke kamar rawat Max. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Clara dan Cassie. Awalnya kedatangan mereka berdua disambut dengan emosi oleh Jonathan dan juga Mario. Entah karena apa yang pasti mereka berdua selalu beranggapan, collapsnya Max itu memang karena Clara dan juga Cassie.
“Sudah, Jo, Yo. Jangan marah seperti itu. Aku, kan tadi sudah menjelaskannya,” tegur Hayden.
Iya, Hayden sudah menjelaskan semua kejadian di kantin sekolah tadi. Ia juga memang berasumsi jika Max collaps juga karena memikirkan hal itu, tapi ia juga tidak mau menyalahkan Clara, mengingat Clara adalah perempuan yang Max sukai.
Mario dan Jonathan hanya bisa terdiam. Entah mereka harus berbuat apa? Mau marah, tapi tidak bisa. Mau mengusir, nanti jika Max tahu, keduanya pasti akan dimarahi dan didiamkan oleh Max. Max itu kalau marah, dia akan memilih diam dan berakhir dengan tumbangnya dirinya. Tentu mereka berdua tidak mau itu terjadi. Kondisi Max sudah tidak main-main lagi. Sedikit kesalahan bisa berisiko tinggi untuk nyawa Max.
“Eunghh ....”
Kelima orang yang berada di sana sontak mengalihkan pandangannya ke arah Max dan langsung menghampiri Max. Mereka melihat kedua mata pemuda yang terbaring di atas ranjang itu mengerjap perlahan. Berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Setelah mulai terbiasa, kedua mata itu mengedar menatap satu persatu orang-orang yang mengerumuninya. Hingga pandangannya berhenti, kala ia melihat tatapan khawatir seorang perempuan yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini hadir di sana.
“Cla ... ra ...” ucapnya lirih.
Namun, masih bisa didengar oleh orang-orang yang ada di sana.
Clara tersenyum. Bukan senyum kecewa ataupun senyum sinis, tapi senyum hangatlah yang Max dapatkan. Membuat senyum itu menular dan akhirnya Max pun tersenyum membalasnya. Dalam hati Max bersyukur, pujaan hatinya datang untuk menjenguknya. Meskipun ia tidak tahu apa saja yang akan Clara ucapkan padanya. Namun, kedatangan Clara saja sudah cukup membuatnya senang. Tak peduli baik atau buruk yang akan Clara bicarakan padanya, ia terima dengan lapang dada. Mungkin ini yang namanya cinta. Bahagia meski belum tentu bisa memilikinya. Ya, Max sedari awal memang sudah menjatuhkan hatinya untuk Clara. Hanya Clara. Cinta pertama dan mungkin cinta terakhirnya.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ....
...