Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
24. Serangan Panik


__ADS_3

"Hhh.."


Helaan nafas terus terdengar dari mulut seorang dokter bernama Abdi. Jika dihitung entah yang keberapa kalinya ia menghela nafas. Jarinya mengetuk meja berkali-kali. Lalu perlahan ia membuka lacinya dan melihat sebuah figura dimana didalamnya terdapat foto seorang wanita yang tak pernah lepas dari ingatannya. Ia mengambil figura itu dan menatap fotonya sendu. Tak lama kemudian Ia menghembuskan nafasnya kasar lalu segera memasukkannya kembali ke dalam laci dan menutup lacinya rapat-rapat.


"Aulia.."


Nama wanita itupun akhirnya terucap lirih dari mulut Abdi. Ia lalu menelungkupkan kepalanya pada meja.


"Bolehkah aku berharap.."


Ia menjeda ucapannya sejenak.


"Berharap kau.."


"Menjadi istriku kembali.."


Perkataannya benar-benar pelan dan tak terdengar jelas karena teredam oleh meja, hanya terdengar seperti gumaman saja.


Dua menit telah berlalu, ia pun mendongakkan kepalanya setelah sebelumnya ia sempat melupakan tugasnya sebagai seorang dokter.


"Bangun Di. Bangun. Kalau memang Jodoh tak akan kemana. Yang hilang mungkin akan kembali." gumamnya lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.


Abdi bersenandung pelan untuk menghilangkan rasa penat yang terus menghinggapinya. Tiba-tiba suara brankar yang beradu dengan lantai rumah sakit membuat ia segera mengalihkan atensinya. Kedua matanya membola selaras dengan gerakan kakinya yang berlari cepat kearah brankar.


"Ada apa ini?!" tanyanya pada anak-anak remaja yang terlihat sangat kacau dan panik.


"Tolong Max dok! Tolong Max!"


"Rio tidak menemukan denyut nadinya dok! Tidak ada!"


Racauan demi racauan menggema. Sosoknya terlihat benar-benar putus asa tak berbeda dengan dua sosok remaja lainnya namun tentu sang kakak merasakan sakit yang lebih.


"Tenang Yo. Tenang. Om akan berusaha menyelamatkan adikmu. Ingat adikmu kuat. Max kuat. Dia tidak aka pernah menyerah dengan mudah. Berdoalah!" ucap Abdi sambil membantu mendorong brankar dan segera masuk ke ruang ICCU bersama dengan perawat yang lainnya meninggalkan ke tiga remaja yang terlihat sangat kacau.


****


PRAKK!


Aulia menjatuhkan ponselnya ke lantai, tubuhnya melemas seketika setelah ia menerima pesan dari Jonathan. Ya, Jonathan memang sempat mengirim pesan padanya saat dalam perjalanan ke rumah sakit tadi.


"Max..hikshiks.."


Air matanya sudah mengalir deras tak dapat dibendung sama sekali. Dunianya terasa runtuh. Dadanya terasa sesak dan nyeri seakan-akan ada tali yang mengikat dadanya dengan kencang.


CKLEKKK!


Suara pintu terbuka terdengar.


"Aul?"


Aulia yang mendengar kedatangan suaminya langsung berbalik dan segera menghampiri suaminya lalu menghambur kedalam pelukan sang suami. Ia menangis sesenggukkan. Harry yang kagetpun segera membalas pelukan istrinya dan mendekapnya erat. Ia juga mengusap-usap punggung istrinya guna menenangkan istrinya meskipun beribu pertanyaan bermunculan di benaknya. Tapi ada satu hal yang selalu ia ingat, sang istri akan sangat histeris jika terjadi sesuatu pada kedua putra kembarnya terutama pada sang bungsu yang memang tak pernah baik-baik saja.


"Max..hikshiks..Max..Ry..Max..masuk rumah sakit lagi..hikshiks..aku takut..hikshiks..aku takut Ry.."

__ADS_1


Benar ternyata apa yang ada dibenak Harry, memang telah terjadi sesuatu pada putra bungsunya.


"Kamu tenang ya. Kita ke rumah sakit sekarang. Kita ke rumah sakit. Max baik-baik saja. Putra kita baik-baik saja. Kau harus yakin itu. Putra kita kuat. Oke." ucap Harry lalu mencium puncak kepala Aulia dan mempererat pelukan mereka.


Aulia mengangguk dalam dekapan Harry sambil terisak hebat.


"Kita siap-siap. Masukkan semua barang-barang yang harus kita bawa." ucap Harry.


Aulia dan Harry segera memasukkan barang-barang mereka yang kebanyakan adalah berkas-berkas. Tak lama semua yang harus ia bawapun sudah siap.


"Ayo." ajak Harry sambil menggenggam tangan Aulia dan merekapun segera pergi menuju Rumah sakit.


Sementara itu di rumah sakit tepatnya di depan ruang ICCU, ke tiga remaja terlihat sangat kacau. Aura rumah sakitpun terasa mencekam. Jonathan yang terus berjalan kesana kemari didepan ruang ICCU sambil terus mengusap air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir membasahi pipinya dan sesekali ia juga menggigit ujung kukunya jika rasa panik semakin mendominasi sedangkan Hayden sosok itu terlihat semakin dingin. Duduk diam tak bersuara sambil meremat kedua tangannya hingga memutih meskipun tatapannya tak pernah lepas dari pintu ruang ICCU. Sementara itu Mario, jangan di tanya lagi. Dia lah yang paling terpukul dibandingkan dengan yang lainnya. Dialah yang saat ini paling ketakutan bahkan rasa takutnya sudah menjalar memenuhi pikirannya. Wajahnyapun kini sudah terlihat pucat. Pikirannya bahkan telah berkelana kemana-kemana, kejadian yang baru saja terjadi sampai kejadian beberapa hari yang lalu terus berputar berulang-ulang dalam ingatannya bagai sebuah kaset yang terus diputar ulang. Kejadian tadi dimana adik kembarnya jatuh tak sadarkan diri dengan hidung yang terus mengeluarkan darah, nafas yang tak beraturan hingga satu hal yang membuat Mario kehilangan pijakannya bahkan hingga ia merasa kesulitan untuk sekedar bernafas adalah ia tak bisa menemukan kembali denyut nadi adiknya. Dunianya seakan runtuh. Ia sungguh ketakutan. Ia meremat tangannya erat. Seandainya. Seandainya ia bisa menghentikan Rey untuk berbicara, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Mengapa, mengapa ia tidak pernah bisa melindungi adiknya? Mengapa ia tidak pernah bisa berguna untuk adiknya? Mengapa ia hanya bisa menyakiti adiknya? Mengapa?! Pikirannya benar-benar tak beraturan membuat ia benar-benar tak karuan.


"Bodoh! Bodoh kau Rio!! Kenapa kau tidak berguna! Kenapa kau tidak bisa melindungi Max! Kenapa kau hanya bisa melukainya!! Bodoh!" teriak Mario sambil menjambak rambutnya kencang.


"Bodoh! Bodoh!! Bodoh!!"


Mario lalu memukul kepalanya dengan tangannya dan membenturkan kepalanya ketembok yang membuat Hayden dan Jonathan langsung menghampiri Mario dan menenangkannya.


"Yo hentikan Yo! Hentikan!! Jangan bertindak bodoh!!" teriak Jonathan.


"Aku memang bodoh! Aku bodoh Jo! Kenapa aku tidak pernah bisa berguna untuk adikku?! Kenapa aku hanya bisa menyakitinya?! Kenapa aku tidak bisa melindunginya! Kenapa?!!!" teriak Mario frustasi.


"Hentikan Yo! Hentikan! Ini bukan salahmu!"


Jonathan terus berusaha menenangkan Mario yang terus berontak.


"Ini memang salahku Jo! Ini salahku!!!"


Mario terdiam tak berkutik sedangkan kedua mata Jonathan terbelalak tak percaya dengan apa yang sudah Hayden lakukan.


"Kau bodoh! Kau memang bodoh!" teriak Hayden setelah tadi ia menampar Mario.


"Jika kau tahu kau itu bodoh maka jangan tambah kebodohanmu!"


Mario diam menunduk sambil memegang pipinya yang kini terasa panas.


"Memangnya kau pikir jika kau melukai dirimu sendiri maka Max akan baik-baik saja, hah?! Yang ada justru jika ia melihatmu seperti ini maka Max tidak akan bangun lagi!" marah Hayden.


Mario semakin menunduk dibuatnya.


"Asal kau tahu Yo, Max itu sangat menyayangimu! Ia tidak akan pernah rela jika sesuatu terjadi padamu! Melihatmu sedih saja ia tidak bisa, apalagi melihat kau menyakiti dirimu sendiri karena dia! Pakai otakmu sebelum bertindak!!"


Nafas Hayden memburu bersamaan dengan emosi yang memuncak tapi tak berlangsung lama, ia segera menurunkan nada suaranya.


"Aku sangat mengenal adikmu Yo..bahkan lebih mengenal dia dibandingkan kau sebagai kakaknya.. "


JLEBB!


Sindiran pedas yang dilontarkan Hayden membuat Mario terdiam. Ia sadar jika ia memang bukan kakak yang baik. Selama ini, Hayden lah orang yang selalu ada menemani adiknya baik itu dalam suka maupun duka. Haydenlah orang yang selalu menemani Max di saat Max berjuang diantara hidup dan matinya. Sedangkan ia saat itu justru membenci dan menjauhi adiknya hanya karena ego semata.


"Selama ini..dia selalu menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu padamu meskipun itu bukanlah salahnya bahkan...ia juga akan menyalahkan dirinya sendiri saat melihat kau membencinya dan berusaha menghindarinya tanpa alasan. Bahkan.. ia juga pernah mengatakan.."

__ADS_1


Hayden menjeda sebentar ucapannya.


" Lebih baik ia tiada... jika keberadaannya hanya membuatmu tak bahagia..."


Mario yang dari tadi menunduk seketika mendongak dengan tatapan terkejutnya.


"Ap..pa..?"


Hayden menatap lurus pada kedua mata Mario.


"Max bahkan memilih menyerah saat ia tahu kondisinya semakin memburuk..ia bilang.."


"Kau pasti bisa bahagia tanpanya.."


Mario menggelengkan kepalanya ribut.


"Tidak..hikshiks..tidak..Max...hikshiks.. maafkan kakak.." ucap Mario lirih sambil terisak.


"Jangan lakukan hal bodoh lagi Yo, jika kau ingin Max bahagia.."


Mario semakin terisak hebat, tubuhnya bahkan terlihat bergetar. Ia terduduk di lantai yang dingin sambil bersandar pada dinding.


TAP TAP TAP!!!


Suara derap langkah kaki menggema mengalihkan atensi mereka semua. Langkah kaki itu adalah langkah kaki Aulia dan Harry yang datang tergesa-gesa menghampiri mereka bertiga.


"Rio!!" Panggil Aulia dengan nafas memburu karena lelah berlari.


Mario langsung berdiri dan segera berlari menghambur ke pelukan Aulia.


"Max bun..Max..hikshiks.."


"Maafkan Rio bun..maaf..hikshiks..Rio tidak bisa menjaga Max..ini semua salah Rio bun. Salah Rio..seandainya..seandainya Rio bisa menghentikan Rey mungkin Max tidak akan seperti ini..hikshiks."


Aulia mengusap punggung Mario pelan. Ia juga sama takutnya seperti Mario. Air matanyapun mengalir sama derasnya seperti Mario. Hati ibu mana yang tak akan sakit melihat anaknya selalu berada dalam kesakitan.


"Jangan menyalahkan dirimu nak, Max tidak akan suka..Kita doakan Max ya..Max kuat nak, adik kamu itu kuat.." ucap Aulia yang menahan isakannya.


Harry memeluk keduanya erat.


"Kita juga harus kuat ya.." ucapnya berusaha menenangkan.


Tak lama kemudian pintu ruang ICCU pun terbuka bersamaan dengan Abdi yang turut keluar. Semua segera menghampiri Abdi tapi fokus Abdi terbelah menjadi dua. Ia melirik pada tangan Harry yang memegang erat tangan Aulia.


"Abdi..bagaimana keadaan Max Di? Max baik-baik saja kan? Bagaimana keadaannya?" tanya Aulia bertubi-tubi.


Abdi tersentak kaget dan kembali tersadar dari lamunannya. Iapun menghembuskan nafasnya pelan.


"Max.."


BRUKKK!!


Suara dentuman keras yang tiba-tiba membuat mereka menoleh dengan mata yang terbelalak kaget.

__ADS_1


"Rioooo!!!!!"


BERSAMBUNG..


__ADS_2