Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
37. Lelaki Lemah


__ADS_3

Max kini terbaring di atas ranjang UKS dengan nassal canulla yang terpasang di hidungnya dan juga infus di tangan kanannya. Mario yang kini duduk di sampingnya tidak berhenti membujuk Max untuk pergi ke rumah sakit. Khawatir terjadi sesuatu yang serius pada jantung sang Adik, mengingat sang Adik jatuh tersungkur dengan dada yang terbentur lantai.


“Max tidak apa-apa, Kak. Kak Rio jangan khawatir. Semua masih aman, kok.”


Mario menggenggam tangan Max erat yang terbebas dari infus. Perkataan Max tetap tak membuatnya tenang.


“Di, lukamu tidak apa-apa, kan?” tanya Max sambil melirik pada Rudi yang duduk di ranjang sebelah, di belakang Mario duduk.


Rudi mengangguk mantap.


“Iya. Sip. Tenang saja. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil,” jawab Rudi sambil menunjuk pada sikut tangannya yang terbalut plester.


Mario menoleh ke belakang lalu menatap tajam ke arah Rudi.


“Kenapa, sih, Yo? Aku dan Hayden, kan sudah menjelaskannya. Bukan aku yang salah, tapi Rey.”


Mario masih menatap tajam pada Rudi, tak mengindahkan ucapan Rudi sama sekali.


“Tapi kenapa harus kau dorong Adikku? Memangnya tak ada jalan lain, apa? Yang kau lakukan itu sangat membahayakan,” kesal Mario.


Rudi menghembuskan napasnya kasar.


“Susah ya berbicara denganmu. Aku rasa kucing saja lebih mengerti dari dirimu,” sahut Rudi.


Mario bangkit berdiri dari duduknya.


“Kau mengataiku kucing?!” bentak Mario tidak terima.


“Hey, Kak. Tenanglah,” ucap Max sambil menahan tangan Mario.


Sementara itu Rudi beringsut mundur, takut Mario berbuat yang tidak-tidak padanya.


“Yo, tadi itu keadaannya darurat. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Lagi pula aku tidak tahu jika mendorong Max hingga terjatuh akan membuat Max sampai seperti ini. Aku saja yang juga ikut jatuh dengannya, tidak kenapa-kenapa,” jelas Rudi.


Max menunduk mendengarnya. Kata-kata Rudi seolah menjelaskan betapa ia sangat lemah saat ini.


“Sebenarnya kau sakit apa, Max? Tadi kau terlihat sangat kesakitan terutama bagian dadamu. Apa jangan-jangan kau sa---“


“Berisik! Terima kasih karena kau sudah menolong Adikku. Aku tidak akan mempermasalahkan pada apa yang kau lakukan tadi, asalkan kau diam sekarang,” ancam Mario.


Rudi mengangguk pelan. Rasanya percuma berbicara dengan Mario saat ini. Ia tahu, itu karena Mario sangat menyayangi Max.


“Sama-sama. Itu bukan apa-apa. Max juga sudah menolongku waktu itu,” sahut Rudi.


Mario mengernyitkan dahinya dan menatap pada Max lekat. Ia baru akan bertanya pada Max tentang maksud yang dikatakan Rudi, tapi tak jadi saat ia melihat Max yang terdiam dengan tatapan kosong.


“Max,” panggil Mario khawatir sambil mengusap lembut kepala Max.


“Kenapa? Ada yang sakit, hemm?” tanyanya lagi.


Max mengerjapkan kedua matanya lalu menatap Mario sendu. Ia menggelengkan kepalanya pelan.


“Tidak apa-apa, Kak. Hanya lemas saja,” jawab Max, tidak sepenuhnya berbohong. Hanya saja bukan itu yang membuat ia terdiam saat ini, tapi karena perkataan dari Rudi tadi.


“Apa yang Rudi katakan benar. Dia saja saat jatuh tidak kenapa-kenapa, sedangkan aku hampir sekarat hanya karena terjatuh tadi. Aku benar-benar lemah,” batinnya.


Mario dan Rudi menatap Max khawatir karena Max lagi-lagi terlihat melamun.


“Yo, apa tidak sebaiknya kita bawa Max ke rumah sakit saja?” saran Rudi.


Mario mengangguk, menyetujui perkataan Rudi.


“Max, ki---“


“Makanan datang!!” teriak Jonathan.


Jonathan dan Hayden baru saja dari kantin. Mereka membeli makanan untuk mereka berlima. Meskipun sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, tapi mereka tetap menyempatkan untuk makan karena kata Jonathan, hidup itu untuk makan. Oke. Lupakan saja. Biarkan Jonathan sendiri dengan pemikirannya yang aneh.

__ADS_1


“Tidak usah teriak-teriak. Bisa, kan?” tegur Mario kesal. Ia kesal karena ucapannya dipotong begitu saja oleh Jonathan.


“Ckk! Iya, maaf. Sudah, jangan marah. Ayo, makan. Sebentar lagi bel masuk berbunyi.”


Jonathan dan Hayden segera menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka berlima dibantu oleh Mario dan Rudi. Sedangkan Max hanya diam sambil memperhatikan mereka. Ia juga sesekali melirik pada Rudi.


“Apa aku tanyakan langsung saja padanya, ya?” batin Max.


“Di,” panggil Max.


Rudi menoleh pada Max.


“Iya, kenapa Max?” tanya Rudi.


“Apa kau menyukai Clara?” tanya Max pelan, membuat semua orang menghentikan aktivitas mereka masing-masing. Bahkan Rudi sampai kaget dibuatnya.


“A ... aku ....”


...**** ...


“Kita ke mana sekarang?” tanya Cassie sambil merapikan peralatan sekolahnya dan memasukkannya ke tas.


“Ke mana? Pulanglah. Ke mana lagi?”


Cassie menganggukkan kepalanya pelan mendengar jawaban dari Clara.


“Memangnya kau tidak mau ke kelas Max dulu? Mungkin saja ia masih di kelas sekarang. Kita, kan dari tadi belum melihat dia sama sekali. Di kantin saja hanya ada Hayden dan si Jojo itu,” ucapnya.


Clara terdiam. Sebenarnya ia ingin sekali bertemu dengan Max. Banyak yang ingin ia tanyakan, tapi mengingat Mario, Hayden dan Jonathan yang tak menyukainya. Ia urungkan semua. Ia tak mau membuat kekacauan dan berakhir dengan kondisi Max yang memburuk lagi.


“Sudahlah, kita pulang saja, Cassie. Aku tidak mau mengacaukan hari ini,” sahut Clara lirih.


“Ckk! Hanya menemui dia. Bukan mengajaknya ribut, Ra.”


Clara menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari duduknya.


“Wahh! Syukurlah kalian belum pulang!” teriak Rudi senang sambil berlari menghampiri Clara dan Cassie. Tidak memedulikan tatapan seisi kelas yang belum semuanya keluar dari kelas.


“Hey, jangan seenaknya masuk ke kelas orang!” tegur Cassie.


Rudi mengedikkan bahunya tak peduli. Ia menatap ke sekeliling. Saat murid-murid sudah keluar. Ia pun memberanikan diri.


“Kalian ada waktu tidak hari ini? Kita jalan-jalan, yuk.”


Clara dan Cassie saling menatap satu sama lain.


“Kau ulang tahun?” tanya Clara.


“Tidak. Bukan karena itu. Hanya ingin jalan saja berdua, eh?! Maksudnya bertiga dengan kalian.”


Cassie menatap Rudi penuh selidik. Pasalnya ia tahu jika Rudi hanya ingin berduaan dengan Clara. Apa lagi saat Rudi dengan jelasnya, mengakui kalau ia menyukai Clara saat di rumah sakit waktu itu.


“Jalan bertiga. Mereka asik berduaan sedangkan aku sendirian bagaikan nyamuk. Enak saja!” batin Cassie kesal.


“Tanganmu kenapa?” tanya Clara khawatir melihat tangan Rudi yang di plester. Cassie turut melihat ke arah tangan Rudi.


“Dia, kan lelaki, Ra. Itu, sih biasa. Paling juga habis berkelahi atau mungkin juga dia ceroboh sepertimu.”


Bukan Rudi yang menjawab, tapi Cassie. Clara menatap Cassie tajam saat ia mendengar Cassie mengatainya ceroboh. Ia tak suka, meskipun pada kenyataannya ia memang ceroboh.


“Sok tahu. Aku tidak berkelahi atau ceroboh Cassie, tapi karena tadi aku menolong Max yang hampir terkena bola,” bantah Rudi.


“Apa?!” kaget Clara.


“Lalu apa yang terjadi? Apa Max baik-baik saja?!” panik Clara.


“Iya, dia tidak apa-apa. Tapi, aku tidak tahu jika tadi aku terlambat menolongnya,” jawab Rudi.

__ADS_1


“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Max bisa hampir terkena bola? Dan kenapa kau sampai luka karena menolong Max? Apa tadi kalian sedang bermain bola? Ayo, jelaskan!” perintah Cassie.


Rudi menatap datar pada Cassie.


“Seenaknya saja memerintahku,” kata Rudi.


“Sudahlah, tinggal jelaskan. Apa repotnya, sih?!” kesal Cassie sambil sesekali melirik pada Clara yang terlihat khawatir.


“Ya, sudah aku jelaskan, tapi nanti kalian ikut aku jalan-jalan, ya?”


Cassie menganggukkan kepalanya ribut.


“Iya, bawel!” sahut Cassie ketus.


“Jadi, tadi aku melihat Rey dan teman-temannya di lapangan sekolah. Rey ternyata ingin mengerjai Max. Dia menendang bola kencang, tepat ke arah Max. Untung saja aku cepat mendorong Max, jika tidak entah apa yang terjadi pada Max. Kalian tahu, Rey tidak main-main. Tendangannya sangat kencang. Bahkan bola yang meleset itu, menghantam tembok dan berbalik menghantam tempat sampah hingga semua sampahnya jatuh berserakan. Gila, kan si Rey itu,” jelas Rudi sambil menggelengkan kepalanya.


“Kau benar, Di. Orang itu benar-benar gila. Sebenarnya dia itu ada masalah apa ya dengan Max? Kau mengenal dia?” tanya Cassie.


“Tidak juga. Aku tidak begitu mengenalnya. Yang aku tahu dia itu preman sekolah ini. Dia Kakak kelas kita,” jawab Rudi.


“Di sekolah elit begini ada preman?”


Rudi menganggukkan kepalanya pelan.


“Iya, memangnya kau tidak tahu. Clara memangnya tidak menceritakannya padamu?” tanya Rudi.


Cassie mengernyitkan dahinya bingung. Ia lalu menoleh ke arah Clara.


“Ra, apa yang tidak aku tahu? Kau tidak pernah bilang kalau di sini ada Kakak kelas yang seperti preman?”


Cassie menatap Clara dengan tatapan menuntut.


“Maaf, aku lupa. Namanya Rey. Dia mungkin kenal dengan Max, tapi Max bilang tidak. Waktu itu Max menolong Rudi yang diganggu Rey,” jelas Clara.


Cassie kaget mendengarnya.


“Dan kau ada di sana?! Kenapa kau tidak bilang?! Kalau mereka berbuat yang macam-macam padamu bagaimana?!” marah Cassie.


“Iya, maaf. Sudahlah, yang penting, kan aku tidak apa-apa,” sahut Clara.


“Ya, iya, sih.”


Cassie lalu menoleh pada Rudi.


“Dan kau!” tunjuk Cassie pada Rudi.


“Kenapa kau tidak melawan, sampai harus ditolong Max segala? Kau, kan lelaki. Masa lelaki lemah, sih?”


Rudi menatap kesal pada Cassie. Dia tidak suka diremehkan.


“Cassie, jangan seperti itu,” tegur Clara.


“Bukan tak mau melawan. Aku hanya tidak mau ribut dengan Kakak kelas. Apa lagi aku, kan murid baru. Lagi pula kau tidak perlu meremehkan aku seperti itu. Max, kan juga sama. Masa dia langsung kesakitan saat aku dorong tadi. Aku saja hanya luka kecil, tapi dia sampai harus di infus dan pakai nassal canulla segala. Menurutmu siapa di sini yang lemah?! Aku atau dia?!” marah Rudi yang tersulut emosi.


“Ish! A---“


“Hentikan! Kenapa kalian jadi ribut?!” tegur Clara.


“Cassie, kau tidak seharusnya meremehkan Rudi.”


Cassie menunduk. Ia tahu ia salah. Clara lalu beralih menoleh pada Rudi.


“Dan kau, Di. Aku tidak suka mendengar ucapanmu. Max tidak lemah. Dia anak yang pemberani. Jika dia lemah, dia tidak mungkin menolongmu yang diganggu oleh Rey waktu itu.”


Rudi juga menunduk. Ia tak bermaksud menghina Max. Tadi ia hanya tersulut emosi saja.


“Kalaupun Max sampai seperti itu. Itu pasti karena ia sakit, kan? Kau, kan lihat sendiri waktu itu Max meminum banyak obat. Apa karena Max sakit, kau menganggapnya lemah? Justru dia anak yang kuat, Di. Karena meskipun dia sakit, dia masih peduli dan mau menolongmu. Hingga dia tidak memedulikan dirinya sendiri. Tolong, jangan sembarangan bicara. Jika Max dengar dia akan sedih. Aku tidak suka,” lanjut Clara lalu beranjak pergi keluar dari kelas. Meninggalkan dua anak manusia berbeda jenis terdiam dalam keheningan di sana.

__ADS_1


...BERSAMBUNG .......


__ADS_2