
Max terdiam. Memikirkan soal tadi. Andai saja Kakak dan teman-temannya tidak mengganggu, mungkin Rudi akan mengatakan yang sejujurnya, tapi meski begitu ia tahu jika Rudi menaruh hati pada Clara. Terlihat dari wajah Rudi yang memerah karena malu. Max menghembuskan napasnya pelan. Memikirkannya membuat kepalanya terasa pusing saja.
“Kalau Rudi juga menyukai Clara. Sudah jelas aku kalah. Lelaki lemah sepertiku tidak akan bisa membahagiakan Clara. Apa lagi aku juga tidak tahu sampai kapan aku masih bisa ada di sini?” batin Max.
“Apa sebaiknya aku mengalah saja, ya? Aku sepertinya harus menyerah dan membiarkan Clara dengan Rudi, tapi kenapa aku tak rela, ya?” lanjutnya dalam hati.
“Jangan melamun,” tegur Mario.
Max yang sedari tadi melamun sambil melihat ke jendela mobil pun menoleh.
“Max tidak melamun, Kak. Hanya melihat ke luar saja,” elak Max.
“Kita ke rumah sakit, ya?” bujuk Mario lagi tanpa melihat ke arah Max dan tetap fokus menyetir.
Max menghembuskan napasnya pelan. Entah sudah yang ke berapa kalinya Mario mengatakan itu. Hari ini adalah hari yang sial menurutnya. Padahal dia berharap jika hari ini, ia bisa bertemu Clara bukannya bertemu dengan peralatan medis di UKS.
“Max, kan sudah bilang. Max tidak apa-apa, Kak Rio.”
Mario tetap tidak percaya mendengar ucapan adiknya. Memangnya kapan adiknya baik-baik saja?
“Iya, Kakak tahu. Kita ke sana untuk memastikan saja. Hanya sebentar saja, setelah itu kita pulang,” katanya.
“Tidak mau. Aku tidak mau berakhir di rumah sakit lagi. Iya, kalau Om dokter bilang aku baik-baik saja. Kalau tidak, bagaimana?”
Mario menoleh pada Max sekilas.
“Ya karena itu makanya kita harus ke rumah sakit. Takut ada yang tidak beres padamu. Kakak khawatir, Max. Tadi saat kau jatuh, dadamu itu terbentur.”
Max terdiam. Iya juga, pikirnya. Jika ada yang tidak beres dengannya bagaimana? Bukannya itu hanya akan membuat kondisinya semakin parah saja. Jika semakin parah, maka kesempatannya untuk bertemu Clara akan semakin tipis.
“Ya, sudah, iya.”
Mario tersenyum lega. Akhirnya Max mau ke rumah sakit juga. Tidak sia-sia perjuangan ia membujuk Max hari ini. Ia pun segera melajukan mobilnya ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Max segera diperiksa oleh dokter Abdi.
“Benturannya cukup keras, makanya kamu sampai kesakitan tadi, tapi untungnya tidak apa-apa,” jelas Abdi.
“Tuh, kan. Apa Max bilang,” celetuk Max.
“Tapi bukan berarti kamu bisa beraktivitas seperti biasa. Kamu harus bedrest.”
Max membulatkan kedua matanya kaget. Dia lalu menggelengkan kepalanya ribut.
“Tidak tidak tidak! Max baru bisa masuk hari ini, masa harus bedrest lagi. Tidak mau Om dokter!” tolak Max mentah-mentah.
“Tapi, kan ka---“
“Tidak mau! Hikshiks ....”
Abdi dan Mario kaget. Tidak menyangka Max akan menangis seperti ini. Mario langsung memeluk Max erat. Berusaha menenangkan sang Adik.
“Cup cup cup. Sudah ya, Max sayang. Maxnya Kakak, kan kuat. Masa cengeng, sih? Sudah, ya nanti sesak. Nanti kalau Jojo lihat, Max bisa diejek habis-habisan, loh. Sudah, ya.”
Max masih tetap menangis. Hari ini Max sedang badmood, tapi orang-orang dengan seenaknya menambah hancur harinya.
Mario menatap khawatir pada Max lalu ia menoleh pada Abdi seakan meminta pertolongan. Abdi menghembuskan napasnya kasar. Sepertinya pasiennya ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
“Ya, sudah. Max tidak perlu bedrest. Besok boleh sekolah lagi. Boleh aktivitas lagi, tapi jangan aktivitas yang berat-berat. Kalau capek istirahat. Jangan dipaksakan. Jangan memaksa mengingat juga, tidak baik buat kondisimu.”
Max merenggangkan pelukannya sambil masih sesenggukan. Ia mengangguk patuh. Ini lebih baik daripada ia yang harus bedrest dan mendekam di kamarnya.
Mario mengusap kedua pipi Max yang basah dan memerah. Begitu menggemaskan menurutnya. Seperti bayi yang baru lahir.
UHUK UHUK!
“Tuh, kan dibilang jangan menangis,” tegur Mario khawatir.
“Yo, baringkan Max sebentar,” titah Abdi.
Max menatap tajam pada Abdi. Sama sekali tidak menyeramkan menurut Abdi. Justru wajah Max lucu seperti balita menurut Abdi.
“Hanya sebentar saja, Max. Agar tidak sesak. Pasti kamu sesak habis menangis tadi,” jelas Abdi sambil mengambilkan sebotol air mineral yang masih tersegel pada Mario.
Mario menerimanya lalu membuka segelnya dan membantu meminumkannya pada Max. Max menurut lalu meminumnya hingga habis setengah. Sepertinya tenggorokannya kering karena menangis tadi.
“Mau, ya?”
Max menatap lekat pada Mario. Tidak tega juga menolaknya. Sepertinya Kakaknya terlihat sangat khawatir padanya. Max akhirnya mengangguk. Mario dan Abdi bernapas lega.
Max pun segera naik ke atas brankar kemudian berbaring. Dokter Abdi lalu memasangkan nassal canulla pada Max kemudian mengaturnya sesuai kebutuhan Max.
“Sebentar saja, kok. Cukup satu jam. Nanti baru dilepas. Ya, sudah. Dokter keluar dulu. Dokter harus menangani pasien lain,” kata Abdi.
Ia lalu menoleh pada Mario.
“Kalau ada apa-apa panggil dokter, ya.”
Mario mengangguk.
“Iya, dok. Terima kasih,” jawabnya.
“Jangan nakal ya bayi besar,” ucap Abdi pada Max sambil mengusap kepala Max pelan membuat Max mendelik tak suka.
__ADS_1
Abdi hanya terkekeh lalu segera ke luar dari sana sebelum pasien menggemaskannya mengamuk.
...**** ...
“Kak, stop! Jangan ganggu dia lagi. Kakak sendiri, kan yang bilang kalau Max mungkin amnesia. Kenapa Kakak masih saja mengganggunya? Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?” peringat Roy.
Rey tersenyum miring.
“Kenapa? Bukannya itu maumu? Apa yang terjadi, hmm?”
Roy menunduk.
“Penjara telah membuatku sadar. Jika selama ini aku salah. Aku jahat. Rasa iriku sudah membutakan mata hatiku, Kak. Aku sudah membuat Max celaka. Waktu itu aku merasa puas, tapi semua itu sirna saat aku di penjara. Rasa puas itu berubah menjadi penyesalan panjangku. Rasa takut dan bersalah menjadi satu. Aku takut pada diriku sendiri. Aku sudah menjadi setan. Bukan lagi manusia. Ke mana hatiku? Ke mana? Rasanya aku ingin kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.”
Roy menjeda ucapannya sejenak lalu membuang napasnya kasar.
“Aku ingin berbaikan dengan Max karena aku tahu Max orang baik. Dia bermusuhan dengan kita juga karena dia ingin menolong orang-orang yang kita ganggu. Kita yang salah, Kak. Bukan dia. Hanya karena dia ikut campur, kita marah padanya. Hanya karena guru-guru dan orang-orang memuji dan menyukainya, kita benci padanya. Padahal Max tidak pernah menyakiti kita. Tidak pernah,” lanjutnya.
“Dia itu hanya cari muka. Dia ingin dipuji dan dikenal banyak orang. Dia bukan orang baik. Kita tidak salah. Dia nya saja yang sok baik. Sok suci. Kalaupun dia amnesia sekarang, itu karena kesalahannya sendiri bukan karena kau,” bantah Rey.
Roy menatap Kakaknya sendu.
“Kenapa Kakak masih saja tidak mengerti? Kenapa Kakak masih saja dendam padanya? Padahal apa yang kita dapat dari dendam kita selama ini? Jawabannya tidak ada, Kak. Hanya ada penyesalan saja. Masa remajaku hilang karena dendamku ini. Ayah juga kini tak lagi peduli dan tak lagi menganggap kita anaknya. Perusahaan kita hancur. Keluarga kita hancur dan itu semua karena dendam yang kulakukan, Kak. Bukan karena Max. Dendam kitalah yang menghancurkan kehidupan kita.”
BRAKK!
“Omong kosong! Jangan menceramahiku!”
Rey menatap nyalang Adiknya. Ia lalu terkekeh.
“Terlambat. Semua penyesalanmu sudah terlambat. Keluarga kita hancur karena dendam kita. Karena kebodohanmu. Perbuatanmu yang tanpa berpikir itulah yang membuat kita hancur dan sekarang kau menyuruhku untuk berhenti?”
Rey menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak akan! Aku baru akan berhenti jika Max dan Kakak kembarnya itu hancur. Baru aku akan berhenti. Dengan begitu nasib kita akan sama. Itu baru adil, kan?”
Roy menatap Kakaknya tak percaya. Kenapa begitu sulit membuat Kakaknya berubah?
“Tidak, Kak. Tolong, jangan lakukan itu. Keadaan Max sekarang saja, itu sudah membuktikan kalau mereka juga tidak baik-baik saja, sama seperti kita. Aku mohon, Kak. Hentikan semua ini. Jangan sakiti dia lagi. Jangan sakiti mereka. Jangan kau buat aku lebih tersiksa lagi. Jangan kau buat penyesalanku semakin bertambah. Jangan, Kak. Ku mohon,” mohon Roy.
Namun, Rey tidak peduli. Ia sudah muak dengan semua yang diucapkan sang Adik padanya.
“Nasi sudah menjadi bubur. Dan ini semua karena dirimu. Aku hanya meneruskan dan menyelesaikan misimu saja. Aku pergi. Jaga dirimu,” pamit Rey.
“Kak, tunggu aku Kak! Jangan seperti ini! Kumohon hentikan, Kak! Kak Rey!” teriak Roy.
Namun, sipir penjara menghentikannya hingga Rey menghilang dari pandangannya.
“Silahkan,” ucap Cassie sambil tersenyum.
Ia meletakkan semangkuk mi rebus rasa bakso kesukaan Clara lengkap dengan bakso, sosis, dan juga sawinya. Ia juga meletakkan segelas cola lengkap dengan es batu.
Clara menatap datar makanan dan minuman yang ada di hadapannya itu.
“Ayo, dimakan. Aku membuatnya khusus untukmu. Kalau sudah dingin, tidak enak, loh.”
Clara tak bergeming. Dia masih kesal pada mulut Cassie yang seenaknya. Gara-gara Cassie, Rudi menghina Max.
Cassie menarik tangan Clara pelan. Mereka kini saling berhadapan di meja makan.
“Aku sangat minta maaf. Tolong, maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku mengaku aku salah sudah menghina Rudi. Gara-gara aku, Rudi jadi menghina Max. Aku menyesal, Ra. Aku sangat menyesal. Tolong, maafkan aku. Kumohon,” mohon Cassie.
Clara menatap datar Cassie hingga ia terkejut saat melihat ada air mata yang jatuh di sudut mata Cassie.
“Kumohon, maafkan aku, Ra. Kau temanku. Kau sahabatku. Aku tidak mau didiamkan olehmu. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku takut, Ra. Aku takut kehilanganmu. Kumohon maafkan aku,” ucap Cassie lirih sambil sesekali terisak.
Clara tersenyum lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri Cassie. Ia lalu memeluk Cassie erat.
“Jangan menangis. Dasar cengeng. Sejak kapan kau suka menangis, hah? Biasanya juga kau yang mengataiku cengeng,” ledek Clara.
Cassie semakin menangis dibuatnya.
“Aku sudah memaafkanmu, Cassie. Asal kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”
Cassie menganggukkan kepalanya ribut.
“Iya, aku janji, Ra. Aku janji!” ucap Cassie semangat.
“Wah, ada apa ini? Apa Tante melewatkan sesuatu?” tanya Viona yang datang menghampiri mereka.
Clara dan Cassie melepaskan pelukan mereka berdua. Cassie langsung menghapus air matanya.
“Tidak ada apa-apa, Tan. Hanya ada kesalahpahaman saja, tapi sekarang semua sudah beres, kok,” sahut Cassie cepat.
“Baguslah,” sahut Viona. Ia lalu menoleh pada Clara.
“Oh, ya, Ra. Temanmu yang bernama Rudi ada di luar. Tetangga kita bilang, dia ada di luar sejak dua jam yang lalu.”
Clara dan Casssie membulatkan mulutnya dan kedua matanya kaget.
“Dua jam, Tan!” pekik Clara dan Cassie serempak.
__ADS_1
Viona mengangguk.
“Iya, katanya sih begitu. Pas Tante tanya, dia bilang dia menunggumu, Ra. Dia ingin bertemu denganmu. Dia sudah berkali-kali menelepon dan mengirimmu pesan, tapi kau tetap saja tidak mau menemuinya,” terang Viona.
“Dia melakukan itu, Ra?” tanya Cassie.
Clara menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu. Handphoneku di kamar. Dari tadi aku tidak bermain handphone,” jawab Clara.
Ia lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.
“Hati-hati, Ra!” peringat Viona dan Cassie.
Viona lalu melihat ke arah meja, di mana ada semangkuk mi yang sangat menggugah selera.
“Punya Clara?” tanyanya pada Cassie.
Cassie mengangguk.
“Buat Tante saja. Biar Clara Cassie buatkan lagi, soalnya sayang minya kalau dingin, kan jadi tidak enak. Apa lagi Clara sepertinya masih banyak urusan,” ucap Cassie.
“Serius, nih Tante makan?” tanya Viona meyakinkan.
Cassie mengangguk.
“Iya, Tante. Cassie juga tadi niatnya akan membuatkan satu untuk Tante setelah Tante pulang.”
Viona tersenyum. Ia senang dengan kehadiran Clara dan Cassie di rumahnya. Selain keduanya membantu urusan tokonya. Mereka juga membantu pekerjaannya di rumah.
“Oke, Tante makan, ya. Makasih, Cassie sayang,” kata Viona sambil melahap mi di hadapannya.
Hati Cassie menghangat. Ia bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti Clara dan Viona.
“Kembali kasih, Tante Viona sayang,” sahutnya.
Yang membuat keduanya tersenyum senang.
...****...
CKLEKK!
Rudi mendongak. Ia lalu bangun dari duduknya. Sedari tadi ia duduk di lantai. Di teras depan toko bunga Viona. Tadi Viona sudah menyuruhnya masuk, tapi Rudi menolak.
“Ra,” sapanya dengan senyum yang merekah di bibirnya, berbanding terbalik dengan penampilan kusut yang ada pada dirinya karena menunggu kedatangan Clara hingga dua jam lamanya. Untung saja cuaca sedang panas. Hingga angin malam tak membuat ia mati membeku kedinginan.
Clara masih tak bergeming. Masih menatapnya datar. Membuat Rudi melunturkan senyumnya. Kini ia menunduk penuh penyesalan.
“Maaf ...” lirihnya.
“Aku minta maaf atas semua perkataanku tadi di sekolah. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu semua. Aku sangat menghormati Max. Dia yang sudah menolongku, saat tidak ada satu pun orang yang berani melawan Rey. Aku benar-benar menyesal, Ra.”
Clara terdiam. Hanya berniat untuk mendengarkan.
“Aku tahu aku salah, Ra. Aku menyesal. Kata-kataku memang keterlaluan. Tidak seharusnya aku mengatakan itu tentang Max. Sebenarnya aku justru mengkhawatirkannya bukan sebaliknya. Aku justru takut Max sakit parah, Ra. Makanya aku berusaha menolongnya. Aku takut terjadi sesuatu padanya.”
Clara menatap kosong pada Rudi. Kata-kata Rudi sama dengan perasaannya kini. Sejak awal ia sangat mengkhawatirkan Max. Bahkan ia berusaha menahan diri untuk tidak menemui Max karena takut kehadirannya akan membahayakan nyawa Max. Entah itu berlebihan atau tidak, tapi memang itu yang ia rasakan. Ia bahkan merasa Max seperti sebuah gelas yang rapuh, yang akan pecah jika ia sentuh.
“Aku tahu kamu sangat marah, Ra. Makanya kamu mendiamkanku dan tidak mau menjawab telepon maupun membalas pesanku,” kata Rudi.
Kata-kata Rudi membuyarkan lamunannya.
“Aku memang marah padamu, tapi soal kedatanganmu, telepon dan pesan darimu, aku tidak tahu. Sejak pulang sekolah aku tidak memainkan handphone-ku. Aku menaruhnya di kamar,” sahut Clara.
Rudi tersenyum tipis sambil mengangguk. Ia senang, Clara mau berbicara dengannya. Ia tidak peduli apa yang diucapkan Clara, entah itu jujur atau bohong. Yang penting Clara masih mau menemuinya dan berbicara dengannya.
“Terima kasih. Meskipun kau belum mau memaafkanku, tapi aku senang kamu masih mau berbicara dan menemuiku,” ujar Rudi tulus.
Clara menghembuskan napasnya pelan.
“Aku memaafkanmu,” kata Clara.
Rudi menatap Clara tak percaya.
“Aku memaafkanmu, tapi kau harus berjanji untuk tidak mengatakan hal itu lagi apalagi di depan Max. Kau harus berjanji untuk tidak menyakitinya. Kau mau berjanji, kan?”
Rudi terdiam. Sedikit tak rela saat ia mendengar Clara begitu peduli pada perasaan Max. Sungguh, ia cemburu sekarang, tapi tidak apa-apa. Ini lebih baik daripada ia harus kehilangan Clara. Sosok bidadari yang menjelma menjadi manusia, pikirnya.
“Iya, aku berjanji, Ra. Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi apalagi di depan Max. Aku berjanji tidak akan menyakitinya. Tidak akan. Aku berjanji,” ucapnya yakin.
Clara tersenyum hangat pada Rudi.
“Terima kasih. Aku sudah memaafkanmu, Di.”
Rudi terpaku.
“Ya Allah. Senyumnya manis sekali. Jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku. Jika ini nyata, tolong biarkan waktu berhenti agar aku bisa menikmati keindahan yang kau ciptakan ini,” batin Rudi.
“Nikmat mana lagi yang kau dustakan?” gumamnya.
...BERSAMBUNG ....
__ADS_1
...