Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
9. Teman VS Teman


__ADS_3

"Clara buka pintunya! Hey jangan seperti ini! Kemana Clara yang selalu ceria? Kemana Clara yang selalu semangat? Ayolah Clara jangan seperti ini,aku tidak mau kau kenapa-kenapa? Kumohon buka pintunya Clara!"


Cassie terus menggedor pintu toilet yang terkunci dari dalam. Clara ada disana mengurung diri dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Clara!!" teriak Cassie dari luar.


Sementara Clara yang ada didalam terdiam disana menatap cermin yang ada di toilet. Ia menatap wajahnya yang berantakan dengan mata sembab sebentar lalu menunduk.


"Ini semua gara-gara aku! Clara bodoh! Bodoh! Gara-gara aku dia masuk rumah sakit..hikshiks.


Ia pun mendongak dan menatap cermin lagi.Entah itu halusinasinya atau apa,Ia merasa melihat seseorang tersenyum padanya dari dalam cermin dan mengingatkan ia pada kata-katanya terakhir dari orang itu.


"Aku serius. Aku serius Clara. Aku sangat mencintaimu. Sejak pertama aku melihatmu,aku sudah menyukaimu. Mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama seperti yang orang-orang katakan."


Mengingat itu membuat Clara menangis lagi.


"Bohong! Apanya yang cinta pada pandangan pertama?! Jika kau cinta padaku,kau tidak akan meninggalkanku seperti ini! Kau jahattt. Aku sangat membencimu M sangattt..hikshiks." Clara terisak.


"Tapi.."


Clara menggantungkan ucapannya sambil terus menangis dan menatap cermin.


"Tapi kenapa hatiku tidak bisa membencimu..hikshiks.Kenapa Hatiku juga ikut berkhianat, ia juga tidak mau bekerja sama denganku.hikshiks.. Kau jahat M. Kau jahat! Ini semua gara gara dirimu."


Clara melirik ember yang ada didekatnya lalu menendangnya.


"Dasar M. Dasar emberrrr!!!"


Clara terus menendang ember tak berdosa itu.


"Kau itu bukan malaikat pelindung tapi kau itu ember bocor pemberi harapan palsu. Enyah kau dari sini!" kesal Clara dan menendang ember itu lagi membuat ember itu menggelinding.


Tiba-tiba ia terdiam dan mengingat lagi kata-kata yang pernah diucapkan oleh M yang selalu menjadi kata-kata penenang baginya.


"Kau harus selalu tersenyum,selalu tertawa, jangan pernah menyerah. Intinya kau harus selalu semangat karena kau harus ingat seberapa besarpun kesulitan yang menghadangmu, Allah pasti akan memberikan kemudahan jadi kau bisa mengatasinya."


"Hhhh..Kata-kata penenang itu masih selalu ku ingat sampai sekarang...."


"Karena hal itu juga... aku bisa seperti sekarang M. Aku berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dan menjadi seorang teman atau... lebih mungkin. Arghh!! sudahlah kenapa aku jadi bebicara sendiri? hhh..sepertinya aku jadi gila karenamu.."


Clara menatap ember yang sudah ia tendang itu lalu berjongkok mengambilnya.


"Maafkan aku M. Pasti sakit ya? Tapi... Itu salahmu sendiri karena kau sudah jahat padaku."


Clara menepuk ember itu berkali-kali lalu mengusapnya dan meletakkannya di sudut ruangan toilet. Iapun beranjak bangun lalu mendekati cermin,menyalakan kran air dan membasuh wajahnya.


Ia mengambil tisu dari kantong almamaternya dan mengelap wajahnya. Lalu merapikan rambutnya dan seragamnya.


"Yak! selesai!" ucap Clara.


"Bismillah.."


CKLEKK!!


Clara membuka pintu toilet dan didepan pintu ternyata sudah ada seseorang yang berdiri disana yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya Cassie yang sedang menangis.


Cassie lalu menerjang tubuh Clara dan memeluknya.


"Jangan seperti ini lagi..hikshiks..aku takut..hikshiks."


Almamater Clara sudah basah oleh air mata Cassie.


Clara menepuk punggung Cassie pelan. Ia lupa jika ada seseorang yang sangat takut dengan hal seperti ini karena dulu ada siswi di sekolah dasar mereka yang mengurung diri di toilet dan melakukan percobaan bunuh diri disana. Siswi itu memang selamat tapi ia meninggalkan banyak darah di lantai toilet akibat memotong urat nadinya sendiri. Cassie yang melihatnya menjadi trauma jika melihat ada seseorang yang mengurung diri di toilet.


"Maaf..maafkan aku..Sudah ya. Jangan menangis lagi. Aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku janji. Aku tadi hanya ingin menenangkan diri tidak lebih." sesal Clara.


Cassie melepaskan pelukannya lalu memukul lengan Clara.


"Aww.." teriak Clara sambil mengusap-usap lengannya.


"Jangan diulangi lagi,bodoh! Jika kau ulangi aku akan memasukkanmu kedalam pipa!" ancam Cassie.


"Tidak bisa. Pipa itu kecil." ucap Clara menggelengkan kepalanya sambil berjalan.


"Bisa jika pipanya besar." ucap Cassie tidak mau kalah dan menyamai langkah Clara disampingnya.


"Tidak ada pipa yang sebesar aku." jawab Clara.


"Bisa. Kau kan kecil seperti kurcaci." ejek Cassie.


"Ckk..Badanku ini mungil tapi tidak sekecil kurcaci juga.." kesal Clara sambil mencebikkan bibirnya kearah Cassie.


Cassie terkekeh. Cassie bersyukur Clara baik-baik saja. Merekapun terus bersenda gurau dan kembali kekelas yang ternyata sudah ramai.

__ADS_1


****


Bel pulang sekolah sudah berbunyi Clara dan Cassie sudah berada di parkiran sekolah menunggu kedatangan Hayden dan Jonathan.


Tak lama kemudian mereka berdua melihat kedatangan Hayden tanpa Jonathan. Clara dan Cassie pun berlari mendekat menghampiri Hayden.


"Hayden.." panggil Clara pelan.


Hayden menatap Clara dan Cassie tajam. Matanya seperti pisau tajam. Yang akan melukaimu jika kau mendekatinya.


"Ka..ka..mi..kami hanya ingin tahu bagaimana keadaan Max sekarang?" tanya Clara pelan.


"Kami menanyakan ini karena kalian teman kami jadi wajarkan jika kami ingin tahu?" ucap Cassie.


"Pengganggu!" Ketus Hayden.


Cassie mengepalkan tangan kanannya erat.


"Kami hanya bertanya. Kenapa kau selalu ketus menjawabnya?! Kami salah apa padamu,hah?!" teriak Cassie.


"Kami ini bertanya baik-baik padamu. Kami hanya ingin tahu bagaimana keadaan Max. Kami dengar ia dirumah sakit. Kami hanya ingin menjenguknya dan meminta maaf padanya. Kenapa kau harus ketus seperti itu,hah?!" marah Cassie.


Clara menarik tangan Cassie pelan.


"Cassie sudah. Jangan marah-marah." bujuk Clara.


"Tunggu..ada yang aneh disini.." ucap Cassie sambil menaikkan alisnya dan mendekati Hayden.


"Dulu kau juga seperti ini saat kami menanyakan M padamu dan sekarang kau juga seperti ini saat kami menanyakan Max padamu. Jangan...jangan.."


Cassie semakin mendekat dan mengangkat telunjuknya didepan wajah Hayden.


"Jangan-Jangan M dan Max itu orang yang sama ya?"


Alis Hayden menukik tajam. Cassie tersenyum melihatnya lalu menurunkan jari telunjuknya.


"Ah? Ternyata benar ya? hmm.." ucap Cassie sambil tersenyum.


"Jangan sok tahu! Kau itu tidak tahu apa-apa,Cassie!!" marah Hayden.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa berlari menghampiri mereka. Ia adalah Jonathan.


"Yak! Kalian lagi. Kalian lagi. Apa mau kalian,hah?! Kalian sudah mengusik ketenangan kami! Kalian juga sudah membuat temanku masuk rumah sakit. Sekarang kalian mau apa lagi,hah?!" kesal Jonathan.


"Maaf.." ucap Clara.


Cassie mendelik.


"Kenapa kau minta maaf? Kau tidak salah apa-apa Clara. Ini bukan kesalahanmu." ucap Cassie.


"Ini memang kesalahanku Cassie..jika aku kemarin ti.." belum selesai Clara berbicara Jonathan memotongnya.


"Drama! cuihhh.."


Cassie mengeram kesal.


"Apa maksudmu Jojo bodohhh! Ini bukan drama?!" kesal Cassie.


"Itu akibatnya jika kalian terlalu sering menonton sinetron jadi tingkah kalian penuh drama. Kalian pikir aku akan tertipu,tentu tidak Fergusso!" ejek Jonathan sambil tersenyum sinis.


"Dasar manusia tak berakal! Berbicara sesuka hati. Itu akibatnya jika kau terlalu banyak makan MSG!" ejek Cassie tak mau kalah.


"Yak! Beraninya kau padaku. Jika bukan perempuan akan ku.." belum selesai Jonathan berbicara Hayden sudah menarik tas punggungnya membuat Jonathan mau tak mau berjalan mundur.


"Yak! Muka datar!! Apa yang kau lakukan,bodoh?! Aku belum selesai bicara!" Jonathan terus berontak tapi tak dipedulikan oleh Hayden.


Hayden dan Jonathanpun masuk kemobil yang terparkir disana meninggalkan Clara dan Cassie.


Clara mengambil ponsel dan memotret plat nomor mobil Hayden.


Cassie mengernyit bingung.


"Apa yang kau lakukan? Untuk apa itu?" tanya Cassie.


Clara tak menjawab,Ia lalu menarik tangan Cassie untuk mengikutinya.


"Clara kau.."belum selesai Cassie bertanya. Sebuah mobil berwarna putih berhenti didepan mereka.


"Ayo naik.." ajak Clara yang sudah masuk ke mobil.


"Ta..tapi.."


Clara menarik tangan Cassie membuat Cassie ikut masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Tolong ikuti mobil sedan hitam yang ada didepan ya pak." perintah Clara pada sang supir. Supir itupun mengangguk dan melaju mengikuti mobil sedan hitam yang tak lain adalah mobil Hayden.


"Clara. Jadi kita mau mengikuti mereka?" tanya Cassie.


Clara mengangguk.


"Lalu ini?"


Clara mengerti apa maksud Cassie.


"Tadi aku memesan taksi online."


Cassie membulatkan mulutnya membentuk huruf "o" .


****


"Apa yang kau lakukan itu jahat?!" ucap Jonathan.


Hayden memutar bola matanya malas.


"Kau mengatakan pada mereka kalau mereka melakukan drama tadi akibat terlalu sering menonton sinetron. Lalu kau apa barusan Jojo. Kau yang terlalu banyak drama akibat terlalu sering menonton film."


"Ish! Itu beda ya. Jangan samakan aku dengan mereka. Lagipula seharusnya kau bersyukur aku tidak marah padamu. Kau tadi sudah membuat harga diriku turun didepan mereka dengan menarik tas punggungku, membuat aku berjalan mundur. Jika kau bukan temanku,akan kutendang kau keluar dari mobil ini." ucap Jonathan mendengus kesal.


Hayden tersenyum miring sambil terkekeh.


"Hei,tuan Jojo yang pintar. Tolonglah bangun dari tidurmu dan perhatikan baik-baik mobil ini. Mobil ini milik siapa?" tanya Hayden.


"Milikmu." jawab Jonathan.


"Yang mengemudi siapa?" tanya Hayden lagi.


" Tentu saja kau." jawab Jonathan.


"Lalu yang pantas keluar dan ditendang dari dalam mobil ini siapa?"


Jonathan menunjuk pada dirinya sendiri.


"Aku..hehehe."Jonathan menyengir dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Dasar tak tahu diri." gumam Hayden sambil berdecak.


"Hehe jangan marah Hayden,aku tadi hanya terbawa emosi. Jangan marah ya,kumohon."


Hayden mengangguk datar.


Suasanapun hening hanya ada suara kendaran lain disana. Mereka juga tidak menyadari jika Clara dan Cassie mengikuti mereka dibelakang.


Jonathan bukan tipe pendiam. Diam adalah musuhnya. Ia sangat tidak menyukai suasana yang tenang. Ia lebih suka keramaian. Iapun berpikir keras mencari topik pembicaraan. Ia pun teringat dengan pembicaraan ia dan Mario ditelepon tadi pagi.


"Muka datar.." panggil Jonathan.


Hayden mendelik kearahnya.


"Iya iya Hayden maksudku. Jangan marah. Kau tahu apa yang membuat Max masuk rumah sakit?" tanya Jonathan serius.


Hayden menggelengkan kepalanya dengan tangan tangan yang tetap fokus mengemudi dan mata yang tetap fokus melihat jalanan.


"Aku hanya tahu karena penyakit Max kambuh,iya kan?"


Jonathan mengangguk.


"Iya tapi lebih tepatnya karena ia mengingat masa lalunya. Itu kata Om Bryan."


CKITTT


"Astagfirullah! Hayden!!"


Karena terlalu terkejut Hayden jadi tak fokus melihat jalan. Hampir saja ia menabrak pembatas jalan untung saja ia sempat mengerem.


"Maaf.." ucap Hayden.


"Kau hampir membuat jantungku melompat keluar!" panik Jonathan.


"Kau bilang Max ingat masa lalunya. Maksudmu apa?" tanya Hayden.


"Clara dan Cassie. Ini pasti ada hubungannya dengan mereka. Kau mengenal mereka kan?" tanya Jonathan.


Hayden mengangguk.


" Max menyukai salah satu dari mereka."


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2