
"Apa tidak apa mendadak seperti ini? Seharusnya kita minta ijin terlebih dahulu pada Mario kalau kita mau menjenguk Max hari ini. Lagi pula kita juga tidak tahu ruang rawat dia kan? Kita hanya tahu nama Rumah Sakitnya saja." ucap Alvin yang hanya dijawab deheman oleh James dan Benua.
"Hhh.." Alvin menghembuskan nafasnya kasar saat mendengar hanya deheman yang ia dapatkan, apalagi saat ia melihat tingkah James dan Benua di minimarket.
Saat ini mereka bertiga sedang berbelanja di minimarket dekat sekolah. Hari ini mereka berniat untuk menjenguk Max yang di rawat di Rumah Sakit, maka dari itu mereka membeli sesuatu dulu di minimarket sebagai buah tangan tapi yang menjadi perhatian Alvin adalah kedua temannya ini membeli banyak makanan ringan sedangkan ia tidak yakin jika Max boleh memakannya.
"Interupsi sebentar." ucap Alvin membuat kedua temannya yang sedang memilih-milih makanan mengalihkan pandangan kearahnya dengan tatapan seolah-olah mengatakan "Ada Apa?" tanpa suara.
Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sadarkah kalian jika apa yang kalian beli itu tidak cocok untuk orang yang sedang sakit?" tanya Alvin.
Benua melihat apa saja yang ia beli di dalam keranjangnya.
"Aku tidak tahu Vin. Memangnya Max tidak boleh makan semua ini ya?" tanya Benua balik.
"Ya, sepertinya begitu. Memangnya kau pernah melihat orang sakit memakan snack ? Tidak, kan?"
Benua mengangguk tapi sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya karena ia sendiri bingung harus menjawab apa.
"Ini saja." ucap James tiba-tiba sambil memasukkan susu kaleng steril ke karanjang miliknya dan juga milik Benua.
"Masa hanya ini?"
Benua menengok kesana kemari tapi ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia beli. Tiba-tiba James yang tadi sempat pergi sebentar, datang kembali dengan membawa dua buah botol.
"Tambah ini."
James memasukkan larutan penyegar ke dalam keranjang miliknya dan juga milik Benua.
"Emm..ini aman umtuk orang sakit ya?" tanya Benua.
James mengedikkan bahunya acuh. Lalu kembali mengambil beberapa coklat yang ada di rak depan.
"James, kau yakin akan membawakan Max coklat?" tanya Alvin memastikan.
"Ini untukku dan beberapa snacks juga untukku. Sisanya untuk Max. Jika ia tidak bisa memakannya saat ini maka ia bisa memakannya nanti jika ia sudah sembuh. Kadaluarsanya juga masih lama, jadi cukup aman, kan?"
Alvin mengangguk saja. Percuma juga ia melarang James. Pasti ada saja alasan yang akan dibuat James.
James melihat keranjang yang Alvin bawa masih kosong belum terisi apapun.
"Lalu kau? Apa yang mau kau beli? Dari tadi hanya berkomentar saja, jangan bilang kau tidak bawa uang? Aku akan melempar kau ke jalanan jika kau berbicara seperti itu?" ancam James.
Alvin mendelik.
"Enak saja kau ini! Jangan samakan aku dengan Benua yang sering lupa membawa uang ya?" kesal Alvin.
"Kok aku? Aku kan dari tadi diam saja. Kenapa disalahkan?" bingung Benua.
Alvin mengedikkan bahunya lalu pergi kearah tempat buah-buahan.
"Yaaaa Vin..mau kemana? Jangan marah!" panggil Benua panik.
"Dia tidak marah bodoh! Dia pergi kesana, lihat baik-baik."
Benua melihat arah telunjuk James. Iapun membulatkan mulutnya membentuk huruf "o" tanpa suara saat ia melihat Alvin mengambil beberapa buah-buahan segar yang ada disana.
"Aku pergi kesana sebentar. Kau mau ikut atau tetap disini?" tanya James.
"Disini saja. Aku lelah dari tadi kita terus berkeliling." jawab Benua.
"Keliling minimarket saja lelah apalagi supermarket atau pasar. Payah." ejek James.
Benua tak peduli ia lebih memilih duduk di lantai dingin dekat rak.
James menggelengkan kepalanya. Ia heran melihat tingkah Benua yang seenaknya sendiri. Iapun segera pergi ke rak yang tak begitu jauh dari Benua duduk tadi. Ia ingin membeli susu dan sereal yang ada disana tapi karena tak memperhatikan jalan ia tak sengaja menyenggol seorang perempuan yang ada di sebelahnya.
"Eh, maaf." ucap James tak enak. Sedangkan perempuan yang tak sengaja tersenggol tadi terlihat marah padanya.
James tersenyum canggung. Ia jadi merasa tak enak pada perempuan tadi tapi saat ia meneliti wajah perempuan itu ia mengerutkan dahinya. Ia merasa mengenal perempuan di depannya ini.
__ADS_1
"Kau....orang yang mengintip Clara di UKS kan?"
Perempuan yang tadi tersenggol lengan Jamespun membulatkan kedua matanya (silahkan baca Chapter 17).
"A..apa maksudmu? Clara? Clara siapa? A..aku tidak kenal." elak Silvana. Ya, perempuan tadi adalah Silvana.
"Jangan berbohong. Aku melihatmu dengan jelas waktu itu. Aku hanya pura-pura tidak melihatmu saja waktu kau bersembunyi karena aku harus mengantarkan makanan untuk Clara dari Max. " ujar James.
Silvana menatap tajam James.
"Tidak perlu menatapku seperti itu. Aku tidak takut. Kau suka pada Max ya? Kau tidak suka ya melihat Clara dekat dengan Max?"
Silvana membulatkan mulutnya lebar.
"A..apa..maksudmu?" tanya Silvana gugup.
James mengedikkan bahunya.
"Lupakan. Aku hanya asal bicara. Oh ya kau mau ikut ke rumah sakit tidak?" ajak James.
"Hah?" bingung Silvana.
"Kami mau menjenguk Max. Kau kenal Max kan?"
Silvana mengangguk ragu.
"A..aku kenal.."
James mengangguk lalu menarik tangan Silvana tiba-tiba.
"Yak kau mau apa?! Lepaskan tanganku!" teriak Silvana kaget.
"Diam. Ikuti saja aku."
Akhirnya Silvana hanya bisa menurut mengikuti James. Setelah selesai berbelanja, mereka berempatpun segera pergi dengan mobil James. Tak butuh waktu lama merekapun akhirnya sampai di Rumah Sakit, tempat Max dirawat.
****
CKLEKK!
Max mengalihkan pandangannya kearah pintu, dimana ada kepala menyembul dengan cengiran lebarnya.
"Rudi?" tanya Max bingung.
"Hehehe. Boleh kami masuk?" ijin Rudi.
Max mengangguk tapi sedetik kemudian ia terkejut karena Rudi tidak datang sendiri tapi bertiga bersama Clara dan Cassie.
"Cla..ra.." batin Max.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Rudi saat ketiganya menghampiri ranjang Max.
Max mengangguk sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
"Sudah lebih baik. Terima kasih kalian sudah datang."
Rudi dan Cassie mengangguk kecuali Clara yang hanya diam menatap lantai.
"Kenapa mereka datang bersama? Apa mereka punya hubungan? "monolog Max dalam hati.
"Ini kami bawakan buah-buahan dan juga bunga. Ini dari kami bertiga ya." ucap Cassie sambil menaruhnya di atas nakas.
"Terima kasih padahal kalian tidak perlu repot-repot." kata Max.
"Tidak repot kok. Itu bukan apa-apa. Emm.. Mario kemana? Tadi aku meminta ijin padanya untuk menjengukmu melalui Jonathan. Tidak mungkin kau sendirian, kan? Dan aku juga ingin memastikan kata orang-orang yang bilang kalian itu kembar."
Rudi menengok kesana-kemari tapi tak melihat batang hidung Mario sama sekali.
"Dia di kantin. Aku memaksanya untuk makan siang. Dari tadi ia tidak mau makan dengan alasan ingin menjagaku dan kami memang kembar Di tapi jika kau sudah mengenal kami pasti kau bisa membedakannya." jawab Max sambil sesekali melirik kearah Clara yang masih terdiam.
Cassie yang memperhatikan Max, tersenyum lalu menggeser tubuh Clara untuk mendekat kearah Max.
__ADS_1
"Cassie, apa yang kau lakukan,hah?" bingung Clara.
Max tersenyum kearah Cassie.
"Di, ayo kita ke kantin. Aku belum makan siang juga." ajak Cassie.
"Hah? Ta..tapi.."
Belum selesai Rudi berbicara Cassie sudah menarik tangan Rudi kencang keluar.
"Cassie tunggu aku!" panggil Clara.
Clara baru saja akan mengejar Cassie namun tangannya sudah ditahan oleh Max.
"Mau kemana? Kau tega meninggalkanku sendirian?" tanya Max dengan puppy eyesnya.
"Dari tadi kau juga sendirian kan?" ketus Clara.
"Ya itu kan tadi. Sekarang kan ada kau? Jadi temani aku. Lagi pula memangnya kau tidak kasihan padaku, hmm?" goda Max.
Clara mendelik.
"Tidak." elaknya.
"Jangan bohong."
Clara menggelengkan kepalanya tapi Max tak peduli justru ia sekarang sedang asyik mengayunkan tangan Clara yang masih belum dilepasnya, persis seperti anak kecil yang sedang bermain dengan mainannya.
"Ckk! Lepaskan tanganku." ketus Clara padahal ia sendiri sebenarnya tidak berniat untuk melepasnya.
Max tersenyum kearah Clara membuat degup jantung Clara berdetak tak karuan.
"Kenapa senyummu sama seperti M? Apa benar kau bukan M?" tanya Clara dalam hati.
"Kenapa? Senyumku manis ya?" goda Max sambil menaik-naikan kedua alisnya. Entahlah Max senang sekali menggoda Clara.
Clara mendengus, lamunannya hilang seketika.
"Ckk.. Kenapa kau PD sekali sih dan kenapa kau juga selalu menggodaku, hah?!" kesal Clara.
"Menggodamu itu seperti candu bagiku." ujar Max sambil tersenyum.
BLUSHH!
Kedua pipi Clara memerah.
"Aku menemukan kata-kata itu tadi di internet. Bagus tidak?" tanya Max dengan polosnya membuat Clara ingin sekali memukul Max.
"Hehe jangan marah. Aku hanya bercanda. Tadi itu benar-benar dari lubuk hatiku yang paling dalam kok." bujuk Max meyakinkan.
"Terserah! Aku mau menyusul Cassie dan Rudi saja." marah Clara.
Clara ingin pergi tapi tangannya masih dipegang oleh Max.
"Max lepas.." pinta Clara.
"Kalian punya hubungan ya?"
Clara mengernyit bingung.
"Kau dan Rudi. Kalian pacaran?"
Kedua mata Clara membola dengan mulut terbuka tapi tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya.
Max tersenyum sendu. Ia pun melepaskan tangan Clara pelan.
"Aku mengerti. Maaf aku sudah lancang memegang tanganmu..."
"Pergilah.."
BERSAMBUNG....
__ADS_1