
Max membasuh wajahnya dengan air beberapa kali lalu mengusap wajahnya dengan handuk yang ada di kamar mandi. Ia pandangi wajahnya di cermin. Pucat. Itulah yang kini ia lihat. Max menghembuskan napasnya pelan.
“Baru saja aku ingin masuk sekolah, tapi mimisan itu datang lagi. Merepotkan,” gerutu Max.
Ia lalu mengambil lip balm yang ada di laci wastafel, yang sengaja ia simpan untuk keadaan darurat seperti ini.
“Jangan sampai mengacaukan hari ini,” gumam Max sambil mengoleskan lip balm di bibirnya yang pucat.
“Lumayan,” bangga Max.
Ia lalu segera pergi menuju ke ruang makan yang terletak di lantai bawah. Hari ini adalah hari pertama ia kembali masuk ke sekolah.
“Kok lama? Dandan dulu ya?” ledek Mario.
Max mendengus lalu duduk di depan berseberangan dengan Mario.
“Sembarangan! Max mengambil ini, nih!” tunjuk Max pada ponselnya.
Mario terkekeh. Menggoda Adiknya adalah hobinya. Senyum sendu pun terbit di bibirnya. Ia sangat bersyukur bisa melihat sang Adik sarapan lagi dengannya di meja makan. Tidak lagi di kamar atau pun rumah sakit.
“Kenapa, Kak?” tanya Max sambil mengernyitkan dahinya bingung saat melihat sang Kakak terlihat melamun.
“Tidak apa-apa,” jawabnya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Keduanya pun memakan sarapannya dengan khidmat. Setelah sarapan, mereka segera berangkat ke sekolah setelah sebelumnya berpamitan pada Bi Inah karena kedua orang tua mereka sedang tidak ada di rumah. Sesampainya di sekolah Max segera membuka sabuk pengamannya dan berniat untuk turun dari mobil. Namun, tangan Mario menghentikannya.
“Kenapa, Kak?” tanya Max bingung.
“Kamu benar-benar mau sekolah? Yakin, tidak ada yang sakit, kan?” tanya balik Mario memastikan.
Max mengangguk sambil tersenyum.
“Yakin, Kak. Yakin seratus persen. Lagi pula kalau ada apa-apa, Max pasti kasih tahu Kakak,” jawab Max.
“Ya, sudah. Jangan turun. Biar Kakak yang bukakan pintunya,” ucap Mario lalu segera keluar memutari mobil dan membukakan pintu untuk Max.
“Terima kasih Kak Rio,” ucap Max.
“Iya, sama-sama.”
Mario menggandeng tangan Max erat. Max mendelik ke arah Mario.
“Kenapa harus digandeng, Kak? Kita, kan bukan lagi menyeberang?”
Mario hanya tersenyum menanggapinya.
“Bayi besar Kakak jangan banyak protes. Sudah bagus Kakak gandeng bukan Kakak gendong,” sahutnya.
Max memutar bola matanya malas.
“Kenapa Kak Rio jadi lebih overprotective begini, sih?” batin Max.
TAP TAP TAP! TAP!
“Max!! Bayi besarku!!” panggil Jonathan sambil berlari menghampiri Max dan Mario meninggalkan Hayden yang berjalan di belakangnya.
Ia lalu memeluk Max erat sedangkan Max yang dipeluk kini menekuk wajahnya.
“Kak Jo kangen tahu,” ucapnya.
Max, Mario dan Hayden ingin muntah mendengarnya.
“Lepas! Mau ku pukul kau!” berontak Max sambil mengangkat tangannya ke atas.
“Ish! Kok jadi galak, sih?”
Max menatap tajam Jonathan.
“Sudah ku bilang, kan jangan panggil aku bayi besar, Jojo!” marah Max.
“Oh,” sahut Jonathan sambil menganggukkan kepalanya pelan.
“Susah kalau itu. Bayi besar ya tetap bayi besar. Tidak bisa diganti. Iya, kan Yo, Den?”
Mario dan Hayden mengangguk setuju membuat Max semakin menekukkan wajahnya.
“Terserah!”
Ia lalu menarik tangan Hayden untuk mengikutinya.
“Eh?! Kalian mau ke mana?!” kaget Mario dan Jonathan.
__ADS_1
“Ke toilet! Tidak perlu ikut! Sana pergi!” teriak Max sambil menarik tangan Hayden, lebih tepatnya menyeret Hayden.
“Pelan-pelan, Max. Nanti kau cepat lelah,” tegur Hayden saat mereka sudah menjauh dari Mario dan Jonathan.
Max menghentikan jalannya membuat Hayden juga ikut berhenti. Max berbalik lalu menatap Hayden lekat.
“Bagaimana?” tanya Max.
Hayden menghembuskan napasnya pelan.
“Semuanya sudah kulakukan sesuai keinginanmu,” jawab Hayden.
Senyum Max mengembang. Baru saja Max akan membuka mulutnya, Hayden sudah lebih dulu berbicara.
“Sudah cukup Max. Jangan diteruskan. Ini berbahaya. Kau bi---“
“Jangan khawatir. Aku baik-baik saja, Den. Lagi pula sedikit demi sedikit aku mulai ingat semuanya tentang Clara,” potong Max.
“Ya karena itu masalahnya, Max. Kamu itu tidak boleh mengingat masa lalumu. Justru itu biang masalahnya. Please, Max. Jangan main-main. Dokter, kan sudah melarang ka---“
“Bukan, Den. Bukan kayak begitu maksud Om dokter. Kalau aku memaksakan buat ingat baru dilarang, tapi kalau ingat sendiri. Ya tidak dilaranglah,” potong Max lagi.
Lagi-lagi Max membantah. Hayden membuang napasnya kasar. Memang susah menghadapi ke keras kepalaan seorang Max.
“Ya sudah terserah. Yang penting kalau ada-ada apa-apa bilang. Jangan di pendam sendiri,” peringat Hayden.
Max mengangguk sambil tersenyum lebar.
“Thank you, Bestie!” ucap Max sambil berhambur ke pelukan Hayden.
“Menjijikkan,” sahut Hayden.
Max terkekeh.
“Jijik jijik, tapi pelukannya tidak dilepaskan. Heran,” ejek Max.
“Bukan pelukannya yang bikin jijik, tapi ucapannya itu. Lebay,” sahut Hayden.
Max terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya dengan Hayden.
“Dasar bayi besar,” batin Hayden sambil tersenyum tipis.
...****
...
“Hari ini suratnya tidak ada,” jawab Clara lalu kembali duduk di kursinya.
“Wah, tumben ya,” sahut Cassie.
“Mungkin pengagum rahasiamu tidak masuk hari ini, tapi sudah lupakan saja. Aku punya kabar baik untukmu,” lanjutnya.
“Kabar baik? Kabar baik apa?” tanya Clara penasaran.
“Max sudah masuk sekolah lagi. Tadi aku tidak sengaja melihat dia dan Hayden di koridor sekolah,” jelas Cassie.
Clara terdiam, membuat Cassie mengernyitkan dahinya bingung.
“Kenapa? Kok, kamu tidak terlihat senang? Apa kamu tidak suka Max masuk sekolah lagi?” tanya Cassie heran.
Clara membulatkan kedua matanya lalu menggelengkan kepalanya ribut.
“Tidak! Tidak tidak! Sembarangan! Tentu saja aku senang Max sudah masuk sekolah. Senang sekali,” bantah Clara.
“Ya, terus. Kenapa respon kamu tadi aneh, Ra?”
Clara menghembuskan napasnya pelan.
“Menurut kamu ada yang aneh tidak?”
Cassie mengernyitkan dahinya bingung.
“Anehnya di mana?” tanya Cassie.
Clara menghembuskan napasnya pelan lalu menatap Cassie lekat.
“Pas Max tidak masuk, surat-surat itu selalu ada di laci. Sedangkan pas Max masuk, surat itu tidak ada sama sekali di laci. Menurutmu aneh, tidak?”
Cassie terdiam. Menurut Cassie ucapan Clara ada benarnya juga.
“Benar juga katamu. Jangan-jangan si Max itu yang sudah mengirim surat-surat itu untukmu melalui si Hayden. Kan, kamu sendiri yang bilang kalau waktu itu kamu sering memergoki Hayden ada di depan kelas kita. Entah itu hanya papasan atau sekedar kebetulan, tapi kayaknya memang dia pelakunya,” tebak Cassie.
__ADS_1
Clara menganggukkan kepalanya pelan lalu menggigit bibirnya.
“Kalau begitu berarti Max itu ... adalah M ...?” lirih Clara yang diangguki Cassie.
...****
...
“Rey,” panggil Bayu.
Rey menoleh dengan tatapan bertanya.
“Lihat, deh.”
Bayu menunjuk pada Max, Mario, Jonathan dan Hayden yang berjalan menuju kantin. Mereka melewati lapangan yang kini dipakai Rey dan teman-temannya bermain bola.
“Si Pahlawan kesiangan ternyata,” gumam Rey sinis.
“Bagaimana kalau kita kerjai mereka? Bukannya kau tidak suka adik kelas yang sok itu?” saran Jendra.
Rey mengangguk sambil tersenyum miring.
“Ide bagus,” sahut Rey.
Bayu mengoper bola ke arahnya. Rey menangkapnya dengan senang hati. Ia lalu menaruh bola itu tepat di depannya. Kemudian ia mulai mengambil ancang-ancang untuk bersiap-siap menendang. Dengan sekuat tenaga ia pun menendang bola itu kencang mengarah pada Max, Mario, Jonathan dan Hayden. Namun, lebih tepatnya ke arah Max.
“Max!! Awas!!!”
Max, Mario, Hayden dan Jonathan sontak menoleh ke belakang. Mereka melihat Rudi yang berlari cepat ke arah mereka dan mendorong Max hingga mereka jatuh ke lantai.
BRUKK!!
“Max!!!” kaget Mario, Hayden dan Jonathan.
Mereka segera menghampiri Max dan Rudi yang kini jatuh tengkurap di lantai. Sedangkan bola yang ditendang Rey dengan kecepatan penuh itu kini menghantam tembok dengan keras lalu berbalik dan menghantam tempat sampah di pinggir lapangan hingga jatuh dan menumpahkan sampah yang ada di dalamnya.
Rey mengepalkan tangannya kesal karena lagi-lagi ia tak berhasil melukai Max.
“Cabut!” perintah Rey pada teman-temannya.
Mereka pun segera pergi dari sana.
“Max! Kau tidak apa-apa?!” tanya Rudi khawatir.
“Minggir!”
Mario mendorong kasar Rudi dan segera melihat kondisi Max. Rudi menggeser tubuhnya ke samping membiarkan Mario mengecek kondisi Max.
“Shss ... sakit ... Kak,” adu Max sambil memejamkan kedua matanya erat.
Mario panik begitu juga dengan yang lainnya. Apa lagi saat mereka melihat Max mencengkeram dada kirinya erat. Mario segera menggendong Max ala bridal style menuju UKS diikuti Jonathan di belakangnya. Rudi baru akan berdiri dan mengikuti mereka, tapi Hayden menghentikannya dan menatapnya nyalang.
“Apa yang sudah kau lakukan, hah?! Apa kau ingin kubunuh!” teriak Hayden marah sambil menarik kerah seragam Rudi.
Rudi menepis tangan Hayden kasar. Lalu menunjuk pada bola yang ada di samping tempat sampah.
“Lihat itu! Kalau bukan karena aku, Max yang akan dibunuh bola itu!” teriak Rudi.
Hayden menatap bola itu lekat. Ia lalu melihat pada tempat sampah yang jatuh dengan sampah yang sudah berserakan ke mana-mana.
“Rey yang melakukannya. Aku melihat dia sengaja menendang bola ke arah Max. Untungnya aku melihat jadi bola itu hanya membentur tembok dan berbalik menghantam tempat sampah,” jelas Rudi.
Hayden terdiam. Namun, kini tangannya mengepal erat hingga memutih.
“Sekarang kau tidak salah paham lagi, kan?”
Hayden mendongak lalu berdiri dan mengangguk pelan.
“Baguslah. Jelaskan juga pada Rio dan Jonathan, agar mereka tidak salah paham padaku.”
Hayden mengangguk lalu segera berlari ke arah UKS. Rudi menghembuskan napasnya pelan.
“Hhh ... ditinggal tanpa ucapan terima kasih,” gerutu Rudi.
Ia lalu melihat ke arah lapangan yang kini kosong.
“Sebenarnya ada masalah apa ya mereka? Kenapa sampai berbuat seperti ini. Menyeramkan.”
Rudi bergidik ngeri apa lagi saat ia ingat kata-kata yang diucapkan oleh Rey saat di rumah sakit ternyata bukanlah main-main.
“Semoga Max baik-baik saja,” ucapnya pelan lalu segera menyusul mereka ke UKS.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....