
Max kini sedang berbaring di kamarnya, menatap langit-langit dengan kedua tangan terlipat di atas perut. Pikirannya menerawang saat ia pertama kali selesai menjalankan operasi waktu itu. Ia seperti manusia yang baru lahir. Tidak mengingat apa pun, keluarga, teman dan bahkan dirinya sendiri. Saat itu ia sungguh sangat sedih begitu juga dengan kedua orang tuanya dan kakak kembarnya, tapi berkat dukungan mereka Max bisa kembali beraktivitas dan sedikit demi sedikit mengetahui siapa dirinya dan juga masa lalunya. Meskipun hanya sebagian yang ia ingat, tapi ia tidak lagi peduli karena yang ia tahu ia memiliki keluarga dan teman-teman yang baik berada di sampingnya. Apalagi saat ini kebahagiaan itu bertambah dengan hadirnya seorang kekasih yaitu Clara. Sungguh ia sangat bersyukur.
CKLEKK!
Mario masuk ke kamar Max. Ia mendekati tempat tidur Max dan duduk di sisi tempat tidur. Pandangannya sendu saat Max sama sekali tak menanggapi kehadirannya di sana.
“Max,” panggil Mario.
Max berdehem pelan sebagai jawaban. Ia tidak tahu harus bagaimana? Baru saja dia bahagia, tapi kenyataan tentang kondisi tubuhnya kini membuat ia hanya bisa diam. Terlalu banyak yang ingin ia lakukan, tapi terlalu banyak juga yang mungkin tak bisa ia wujudkan. Rasanya ia lelah. Sangat lelah. Percakapan sang Bunda dengan Mario tadi membuat ia tak bisa lagi bergerak bebas. Rasanya sesak. Rasanya ia ingin menyerah saja. Sungguh, ia lelah.
“Max, Adiknya Kak Rio jangan diam terus dong, Kakak khawatir,” ucap Mario.
Sungguh melihat Max hanya diam membuat ia sangat sedih. Max juga begitu. Di lain sisi ia juga tahu kalau sikapnya ini bisa membuat orang-orang di sekitarnya menjadi sedih, tapi apa mau dikata ia juga saat ini sedang sedih, bahkan lebih dari itu. Ia merasa hancur. Hidup benar-benar mempermainkannya.
“Dek,” panggil Mario lagi.
Ia usap tangan Max yang terlipat di atas perut.
“Kak, apa aku DNR saja, ya?”
Mario sontak membulatkan kedua matanya kaget.
“Jangan bicara yang aneh-aneh! Kak Rio tidak suka!” bentaknya.
Apa-apaan Adik kembarnya ini. Ia dan kedua orang tuanya bahkan teman-temannya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga Max agar tetap bersama mereka, tapi Max dengan mudahnya mengatakan bahwa ia ingin DNR (Do Not Resuscitate) yaitu penolakan untuk dilakukannya CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation) atau RJP (Resusitasi Jantung Paru) jika Max collaps atau ada hal darurat yang terjadi pada jantungnya atau henti napas.
“Maaf ... hikshiks.”
Isak tangis terdengar dari sang Adik. Mario langsung menarik tubuh Max dan memeluknya erat. Mengecup kepalanya berulang kali. Ia takut. Sangat takut mendengarnya.
“Jangan. Jangan bicarakan ini lagi, ya. Kak Rio tidak suka mendengarnya. Kakak mohon Max bersabar, ya. Pasti akan ada donor jantung yang cocok untukmu. Kak Rio yakin itu.”
Max tak menjawab. Max hanya semakin terisak dalam dekapan Mario. Sungguh Mario tidak sanggup mendengarnya. Air matanya pun sudah tak dapat lagi terbendung dan berlomba-lomba turun membasahi pipinya. Rasanya sangat menyakitkan mendengar Max seolah menyerah dengan penyakitnya.
“Kakak mohon jangan menyerah ya, Max. Kita berjuang sama-sama. Kita hadapi ini semua sama-sama. Pukul Kakak sekencang-kencangnya. Bagi semua rasa sakitmu agar Kakak juga bisa merasakannya walau tak sebanding sama yang kamu rasakan.”
Max semakin terisak. Ia tidak tahu harus sedih atau senang mendengarnya. Ia juga tidak tahu harus menyerah atau kembali berjuang.
...****...
“Yakin, mau sekolah hari ini? Max di rumah saja ya, Bunda temani.”
Entah yang ke berapa kalinya Aulia menanyakan hal itu pada Max. Max yang sedang menikmati nasi goreng sosis sapi sebagai menu sarapannya pagi ini, terpaksa berhenti sejenak untuk menatap sang Bunda lekat dengan senyum cerianya.
“Max, yakin, Bun. Jangan khawatir ya. Kan, bodiguard Max banyak. Bunda kerja saja. Max oke, kok,” candanya sambil mengusap tangan sang Bunda lembut dan sesekali melirik sang Kakak kembar yang tersenyum padanya sambil memakan roti dengan selai kacang.
Aulia menghembuskan napasnya pelan lalu menganggukkan kepalanya berusaha meyakinkan dirinya bahwa putra bungsunya akan baik-baik saja meskipun kondisinya kini tidak lagi baik.
“Ya, sudah. Tapi Max harus janji kalau ada apa-apa harus bilang sama Mario atau teman-teman kamu. Pokoknya siapa pun yang ada di dekat Max, paham?”
__ADS_1
Max menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum hangat.
“Paham Bunda, sayang.”
Aulia menghembuskan napasnya lega sambil menoleh ke arah Mario yang menganggukkan kepalanya pelan seolah berkata bahwa ia pasti akan selalu menjaga Max.
Max, Mario dan juga Aulia sudah selesai sarapan. Aulia tak lupa menyodorkan beberapa butir obat yang sudah digerus pada Max untuk diminum. Max dengan patuh meminum semua obat itu dibantu dengan air. Setelah selesai ia memakan buah jeruk untuk menghilangkan rasa pahitnya. Setelah selesai keduanya pun segera berpamitan setelah sebelumnya Max diingatkan agar tidak beraktivitas yang berat-berat selama di sekolah.
Mobil yang ditumpangi oleh Max dan Mario akhirnya sampai. Setelah berpamitan dengan sopir mereka, mereka pun segera memasuki gerbang sekolah setelah sebelumnya Max menyapa satpam sekolah yang berjaga di sana. Entah ada apa dengan Max hari ini, yang pasti ia hanya ingin menebar senyum dan kebahagiaan pada semua orang di sekitarnya agar ia bisa menorehkan kenangan yang indah bersama mereka.
“Mau digendong, tidak?” tawar Jonathan tiba-tiba membuat Max refleks memukul kepala Jonathan.
Jonathan meringis sambil mengusap kepalanya pelan.
“Maksud aku, kan baik. Kok, malah dipukul, sih?”
Max mengerucutkan bibirnya kesal. Siapa yang tidak kesal saat tiba-tiba sepupunya ini sudah berdiri di depannya tanpa ada sapaan terlebih dahulu. Untung saja jantungnya tidak melompat karena terkejut.
PLETAK!!
“Aww! Apaan, sih kalian berdua?! Kok, ikut-ikutan mukul?!” teriak Jonathan tak terima.
“Padahal aku sudah memberitahu dia dan Hayden soal kondisi Max, tapi dia malah bikin Max kaget. Heran,” batin Mario kesal.
Ia lalu menggandeng tangan Max pelan agar mengikutinya. Hayden juga mengikuti mereka berjalan di samping Max setelah ia tadi menawarkan diri untuk membawakan tas milik Max yang tadi dibawakan Mario.
“Lah, malah ditinggal! Dasar teman tidak ada akhlak!” gerutu Jonathan.
“Pasti ada yang tidak beres lagi dengan anak itu. Baguslah kalau begitu aku jadi bisa dengan mudah menyingkirkannya,” gumam Rey lalu pergi menuju kelasnya.
...****...
“Kau itu lapar atau rakus, hah?! Kau mau memerasku, ya?!”
Sungguh rasanya Mario ingin sekali membuang Jonathan detik ini juga karena terlalu kesal. Bagaimana ia tidak kesal jika Jonathan memesan hampir semua menu makanan di kantin sekolah mereka.
“Sudahlah, yang ikhlas. Biar berkah,” sahut Jonathan enteng.
Hari ini Mario sudah mengeluarkan banyak uang untuk mentraktir Jonathan, Hayden, Cassie, Rudi, Clara dan Max. Ia menepati janjinya sebagai PJ alias pajak jadian Max dan Clara. Max dan Clara yang berpacaran, tapi justru dia yang harus mentraktir. Mau menolak, tapi tak bisa. Ini demi Max. Untung sayang, kalau tidak sudah dipastikan ia akan menolaknya mentah-mentah.
Mereka semua akhirnya menikmati semua makanan yang terhidang di meja. Menu yang dihidangkan sangat banyak membuat banyak orang yang menatap heran pada mereka.
“Clara kelihatan senang sekali. Apa kebahagiaannya memang Max ya?” batin Rudi sambil bertanya-tanya.
Ia sedari tadi diam-diam melirik Max dan Clara yang terlihat bahagia sambil menikmati makan mereka dan itu juga tak luput dari pandangan Max.
“Maaf ya, Di. Aku tahu kamu pasti sedih melihat aku dan Clara jadian. Tadinya aku ingin melepas Clara untukmu, tapi ternyata aku tak sanggup. Aku ternyata ingin memilikinya,” batin Max.
Clara berdiri dari duduknya.
__ADS_1
“Eh? Mau ke mana?” tanya Max.
Clara tersenyum.
“Mau ke toilet sebentar, nanti aku balik ke sini lagi.”
Max mengangguk pelan.
“Aku antar ya.”
Clara terkekeh mendengarnya.
“Tidak usah. Aku Cuma sebentar, kok. Kamu lanjutkan saja makannya, biar badan kamu lebih berisi.”
Max mengerucutkan bibirnya, sedangkan yang lain terkekeh mendengarnya. Tubuh Max itu memang kecil dan agak kurus, mungkin efek sakitnya, tapi meski begitu kedua pipi Max tetaplah tembam.
Clara tersenyum melihat ekspresi Max yang kesal seperti anak kecil yang sedang merajuk menurutnya.
“Sudah, ya. Aku ke toilet dulu.”
Clara pun segera pamit menuju toilet. Sesampainya di sana ia segera buang air kecil. Setelah selesai ia segera ke luar dari toilet. Namun, tangannya ditarik dan mulutnya ditutup oleh seseorang, membuat Clara berontak. Namun, percuma kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan orang-orang yang kini memegang tubuhnya. Tiba-tiba tubuhnya diangkat dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa pelakunya, itu adalah Rey dan teman-teman Rey.
Clara terus berontak, tapi gagal. Ia dibawa oleh Rey dalam gendongan menuju rooftop sekolah. Sesampainya di sana Clara di jatuhkan di lantai.
“Apa yang kalian inginkan, hah?!” teriak Clara marah bercampur takut.
Ia takut Rey dan teman-teman Rey akan melakukan yang tidak-tidak padanya.
Rey tersenyum menghampiri Clara.
“Kau tenang saja. Aku tidak menginginkanmu. Aku hanya menginginkan Max. Aku hanya ingin menjadikanmu umpan agar Max datang dan masuk ke dalam jebakanku.”
Clara membulatkan kedua matanya lebar.
“Apa yang akan kau lakukan padanya, hah?! Jangan berani-beraninya kau menyakiti dia!”
Rey dan teman-teman Rey tertawa mendengarnya.
“Jadi kau ingin tahu apa yang akan kulakukan padanya?” tanya Rey.
Ia lalu mendekat ke arah Clara dan berbisik di telinga Clara.
“Aku akan menghabisinya.”
Clara membulatkan mulut dan kedua matanya kaget.
“A ... apa ... ?!”
...BERSAMBUNG ....
__ADS_1
...