Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
15. Senyum itu..


__ADS_3

Mario melirik sesekali kearah adiknya yang tertidur disampingnya. Tangan kirinya mengusap kepala Max sebentar sedangkan tangan kanannya tetap fokus mengemudi.


Mario menghembuskan nafasnya pelan.


"Hhh..masih lemas begini tapi tetap memaksa sekolah. Kenapa adik kembarku sangat keras kepala ?" gumam Mario.


Sepertinya dirinya tidak menyadari jika dia dan Max itu sama-sama keras kepala.


Tak lama mobil yang mereka tumpangipun sudah sampai di SMA Angkasa Pura dan segera menuju area parkir.


Mario mengusap kepala Max lalu menguncang pundak Max pelan.


"Max, ayo bangun. Kita sudah sampai." ucap Mario.


Max menggeliat pelan.


"Eunghh.."


Max melenguh pelan kemudian melirik kearah kakaknya yang sedang tersenyum padanya.


"Sudah sampai ya?" tanya Max sambil melihat kearah depan dan ke kiri.


Mario mengangguk.


"Jadi sekolah? Pulang saja ya?"


Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Mario begitu saja membuat Max mendengus kasar.


"Ish! Pertanyaan yang tidak berbobot. Kak Rio jangan macam-macam ya,kita ini sudah sampai di sekolah. Bicara seperti itu sekali lagi,aku akan benar-benar marah pada kakak!" jawab Max ketus lalu segera keluar dari mobil.


Mario menggelengkan kepalanya.


"Dasar bayi besar, begitu saja marah.."gumam Mario lalu keluar dari mobil dan segera menyusul adiknya.


"Adik kembarnya kak Rio jangan marah-marah terus,ingat tidak baik untuk jantung." peringat Mario setelah ia berhasil menyusul Max dan berjalan di sampingnya.


"Sudah tahu adiknya sakit tapi dari tadi membuatku marah terus." kesal Max.


"Iya iya maaf. Sudah jangan marah-marah terus nanti tambah lemas." ucap Mario sambil memegang tangan Max.


Max melotot melihat Mario yang menggenggam tangannya sambil berjalan. Max berusaha melepaskan tangannya.


"Ck..kak Rio,lepaskan tangannya. Malu dilihat yang lain. Kita ini lelaki,kalau kakak lupa." ucap Max risih. Max benar-benar risih apalagi saat banyak murid yang memperhatikan mereka berdua terutama siswi-siswinya yang saling berbisikan.


"So sweet.."


"Lucunya mereka."


"Btotherly love.."


"Waaahhh seperti yang di aplikasi cerita yang aku baca.. brothership.."


Itulah bisikan-bisikan yang mereka berdua dengar di sepanjang perjalanan menuju kelas mereka.


Max menoleh pada kakaknya yang terlihat tak peduli.


"Kakkk..lepass."rengek Max.


"Kenapa? Kita ini kembar kalau kamu lupa. Kamu adik kak Rio jadi ini wajar saja. Kenapa harus malu?"


Max mendengus. Memang percuma berbicara dengan Mario. Kakaknya ini sangat keras kepala dan tak peka. Ya sebelas dua belas dengannya.


TAP TAP TAP!


Suara langkah kaki tepatnya suara langkah kaki orang berlari menggema di koridor sekolah dan berhenti saat berada di depan mereka.


"Ya ampun bocahhhh!! Bayi besar,kau sedang apa disini? Kenapa kau sekolah?!" teriak Jonathan.


Max yang kaget langsung mengusap dada kirinya pelan.


PLETAKK!!


"Awww!!! Sakit Riooo!!" ringis Jonathan sambil memegang kepalanya yang terkena pukulan Mario.


"Kau ingin membuat Max terkena serangan jantung,hah?!" marah Mario.


"Hehehe maaf. Aku tadi terlalu khawatir Yo, peace.." ucap Jonathan sambil menunjukan cengirannya dan dua jarinya di samping kepalanya.


PLETAKKK!!!

__ADS_1


"Aduhhhh kepalakuu!!" ringis Jonathan lagi setelah mendapat pukulan di belakang kepalanya dari Hayden yang tadi Jonathan tinggalkan karena Jonathan yang heboh dengan kedatangan Max ke sekolah.


"Khawatirmu membahayakan Max,bodoh!" maki Hayden dengan tatapan tajamnya.


"Ayolah jangan salahkan aku,tadi aku hanya kaget saat melihat bayi besar ini sudah masuk sekolah." mohon Jonathan.


Max memutar bola matanya jengah saat mendengar lagi dan lagi Jonathan mengatainya bayi besar.


"Ya tapi itu berbahaya Jojo,kalau Max ter.."


Belum selesai Mario berbicara,Max sudah memotongnya.


"Hhh..Sampai kapan kalian berdebat. Kakiku sudah lelah berdiri. Aku ingin cepat sampai ke kelas." keluh Max.


Mario, Jonathan, dan Hayden langsung menatap Max cemas.


"Kenapa? Kau lemas? Sudah kakak bilang kan tidak usah sekolah dulu!" panik Mario.


"Dasar bayi,kenapa keras kepala sekali sih?!" ucap Jonathan yang tak kalah panik.


"Aku tahu kau itu kepala batu seperti kakakmu tapi seharusnya kau me.." belum selesai Hayden berbicara, Max sudah berlalu meninggalkan ketiganya.


Max kesal dengan mereka, Max tahu mereka khawatir tapi jika mereka dibiarkan terus mengoceh lalu sampai kapan mereka akan terus berada di lorong sekolah. Max sudah lemas,ia ingin cepat-cepat sampai ke kelas.


"Max tunggu!!" panggil Mario, Jonathan dan Hayden bersamaan.


"Max,hey. Tunggu kakak. Jangan cepat-cepat jalannya." peringat Mario setelah berhasil menyamai langkah kaki Max.


Max memutar bola matanya malas. Ia tidak merasa berjalan cepat sama sekali, karena ia sekarang sedang lemas jadi bagaimana bisa ia berjalan cepat.


"Bukan aku yang cepat tapi kalian saja yang lambat karena keasikan berdebat!" ketus Max.


"Ckck..adik dan kakak kembar ini memang sama-sama ketus ya,Den." ucap Jonathan menggelengkan kepalanya sambil menoleh kearah Hayden.


"Apa?" tanya Hayden ketus.


Jonathan mendengus. Ia merutuk dalam hati.


"Kenapa ketiga temanku sama-sama ketus,sih?! Kenapa tidak seperti diriku yang ramah,rajin menabung,tidak suka makan sabun. Eh? Mereka juga tidak suka makan sabun kan?" monolog Jonathan dalam hati sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Jo,kau sedang apa disini mengangguk-anggukan kepala sendirian? Kau gila?" tanya James bingung.


"Eh?"


"Yakkk!! Kemana mereka semua?!" teriak Jonathan kaget.


James mengerutkan dahinya bingung.


"Siapa yang kau maksud? Aku tidak melihat siapa-siapa disini? Aku hanya melihat kau disini yang sedang mengoceh sendirian sambil mengangguk-anggukan kepalamu." jawab James.


Jonathan melotot sembari membuka mulutnya lebar.


"Dasar teman tak setiaaaa!!!" teriak Jonathan kesal lalu berlari menuju kelasnya.


James terlonjak kaget sembari menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya lalu ia mengernyitkan dahinya bingung.


"Kenapa dia? Aneh sekali. Tidak adakah murid yang normal disini?" gumam James.


"Memangnya kau normal?" tanya Alvin tiba-tiba.


James lagi-lagi terlonjak kaget kemudian ia menengok kebelakang,sudah ada Alvin dan Benua disana.


"Tidak bisakah kalian tidak mengagetkanku?!!" kesal James.


"Kenapa aku juga? Aku kan tidak berbicara apa-apa James hanya si Alvin yang bicara." ucap Benua membela diri.


"Sama saja!" kesal James.


"Kau saja yang aneh." ucap Alvin.


"Aku tidak aneh! Kau saja yang mengagetkanku chipmunk." teriak James.


"Hhh..sudah-sudah jangan berteman." ucap Benua.


"Bertengkar!" teriak James dan Alvin bersamaan.


Benua menutup kedua telinganya.


"Kompaknyaaaa..tapi kalian sudah membuat polusi suara dan itu tidak baik. Ini masih pagi tahu. Sudahlah jangan marah-marah, ayo ke kelas sebelum terlambat." ajak Benua sembari menarik kedua tangan temannya.

__ADS_1


"Yak jangan tarik-tarik peta!" teriak James.


"Benua bukan peta." jawab Benua yang tetap menarik tangan James dan Alvin. Alvin pasrah saja saat tangannya ditarik sedangkan James sudah marah-marah dari tadi.


****


Bel istirahatpun berbunyi. Murid-murid bersorak gembira. Sebagian dari mereka langsung berhamburan ke luar kelas. Ada yang ke kantin, ke lapangan, ke depan kelas,ke taman,ke rooftop dan ada juga yang lebih memilih tetap di kelas, entah itu hanya untuk tidur, mengobrol, bermain games bersama, mendengarkan musik atau sekedar memainkan ponselnya.


"Ayo ke kantin!!!" teriak Jonathan semangat.


"Saat jam pelajaran saja kau terlihat tak bersemangat giliran jam istirahat semangatnya luar biasa." ejek Mario.


"Padahal tadi kau seperti hidup segan mati tak mau." ucap Hayden datar.


Jonathan mendengus mendengarnya sedangkan Max hanya terkekeh mendengarnya. Jonathan menoleh kearah Max.


"Hehh bayi besar jangan tertawa, kau mau mengejekku juga,hah?" kesal Jonathan.


Max mendengus saat lagi dan lagi ia dikatai bayi besar. Ia lalu menendang kaki Jonathan dari bawah kolong meja.


"Awww!!! Aduduhhhduhhhhh! Sakit Max!!" ringis Jonathan.


"Rasakan! Itu karena kau mengataiku bayi besar terus. Aku tidak perlu mengejekmu Jojo,semuanya sudah terwakilkan oleh kak Rio dan Hayden." ucap Max sambil menjulurkan lidahnya kearah Jonathan.


"Dasar bocah.." gumam Jonathan.


Mario terkekeh lalu mengusap kepala Max pelan sedangkan Hayden hanya tersenyum melihatnya.


"Ya sudah ayo ke kantin." ajak Hayden.


Mereka berempatpun segera pergi menuju kantin. Saat dalam perjalanan tiba-tiba Max ingin ke toilet.


"Aku ingin ke toilet sebentar,kalian duluan saja." ucap Max sambil berlari pergi.


"Yak! Max tunggu,jangan lari! Kak Rio antar!" panggil Mario.


"Tidak usahh!" teriak Max dan berlari kearah toilet.


Mario menghembuskan nafasnya kasar.


"Kenapa dia selalu lupa dengan kondisinya sendiri..hhh.." gumam Mario.


****


"Hhh..leganya.." ucap Max dan Clara cukup kencang bersamaan setelah mereka keluar dari toilet. Toilet untuk siswa dan siswi memang berdampingan tapi toilet keduanya luas jadi cukup jauh jaraknya tapi karena ucapan mereka kencang jadi mereka bisa mendengar ucapan mereka masing-masing.


Max dan Clara saling menoleh.


"Mmm..Max.." lirih Clara sambil menggigit bibirnya.


Max tersenyum kearah Clara lalu menghampiri Clara.


"Hey.. apa kabar?" sapa Max ramah.


"Senyum itu..Aku yakin itu kau M.." batin Clara.


Karena tak ada jawaban dari Clara, Max lalu mengibaskan tangannya didepan wajah Clara.


"Clara.." panggil Max.


Clara tersentak kaget ia pun tersadar dari lamunannya.


"Eh? I..iya Max..a..ada apa?" tanya Clara gugup.


Max terkekeh.


"Kau lucu.." ucap Max sambil tersenyum.


"Aku tanya bagaimana kabarmu,hmm..?" tanya Max lagi.


Clara menganggukkan kepalanya pelan.


"Baik..kabarku baik. Lalu..kau? Apa kau sudah baik-baik saja?" tanya Clara pelan.


Max menganggukkan kepalanya pelan.


"Baik dan semakin baik saat melihatmu baik-baik saja." ucap Max sambil mengusap kepala Clara lembut. Entahlah Max hanya ingin melakukannya.


Clara terdiam.

__ADS_1


"M..apa benar ini kau..?"


BERSAMBUNG..


__ADS_2