
Orang yang menggebrak pintu yang tak lain dan tak bukan adalah Reynaldy kakak kelas mereka. Ia menatap mereka satu persatu.
"Well well well. Ternyata murid baru tahun ini banyak yang ku kenal yaa.." ucap Reynaldy sambil mendekat kearah Hayden, Jonathan, Mario dan Max di ikuti dua temannya di belakang.
Hayden mengepalkan tangannya kuat.
"Kau.."
"Kenapa kau ada disini?" tanya Hayden dengan sorot mata yang tajam.
Reynaldy tersenyum miring melihatnya.
"Memangnya kenapa? Apa urusanmu jika aku bersekolah disini? Lagi pula aku ini kakak kelasmu, jadi seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Kenapa kalian ada disini? Atau.."
Reynaldy menjeda kalimatnya.
"Kalian sengaja ya mengikutiku?" lanjutnya sambil tersenyum remeh.
"Hayden kau mengenal dia?" tanya Mario bingung.
Hayden diam. Ia tidak mau menjawab tepatnya tidak bisa karena ia tidak ingin terjadi apa-apa pada Max. Ia melirik pada Max yang terlihat sedang menatap Reynaldy dalam.
"Aww. Siapa ini? Mirip sekali denganmu Max?"
Mario mengernyit bingung begitu juga dengan Jonathan yang hanya diam menyimak.
"Ah..aku tahu.."
Reynaldy menjeda ucapannya lagi.
"Dia ini kakak kembarmu kan?"
Max mengangguk pelan. Entahlah ia bingung sekarang. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi Reynaldy. Ia tidak ingat Reynaldy sama sekali. Ia memaksakan diri untuk mengingat tapi tidak membuahkan hasil sama sekali, yang ada kepalanya yang sakit semakin bertambah sakit bahkan berkali-kali lipat sakitnya. Ia benar-benar bingung. Apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupnya di masa lalu? Mengapa banyak orang-orang baru bermunculan? Dan yang lebih membingungkan, orang-orang baru itu memiliki rahasia masing-masing yang selalu saja membuat Mario dan yang lainnya melarang Max untuk berhubungan dengan orang-orang itu. Max mengambil nafasnya sejenak lalu menghembuskan nafasnya perlahan berusaha menghilangkan rasa sakitnya.
"Ada apa lagi? Apa ada sesuatu yang penting yang ingin kau bicarakan sampai kau datang kemari?" tanya Max membuat Hayden, Mario, dan Jonathan menoleh padanya.
"Max? Kau sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Hayden kaget.
"Max? Kau mengenalnya?" tanya Mario sambil mengernyitkan dahinya bingung.
Max mengedikkan kedua bahunya.
"Kemarin."
"Entahlah. Mungkin aku mengenalnya. Aku tidak ingat."
Jawaban Max yang terlampau jujur membuat Reynaldy marah. Ia mengepalkan tangannya erat lalu dengan cepat menerjang kearah Max dan menarik kerah seragam Max sampai Max langsung berdiri dari duduknya.
"Max!!" kaget Mario, Jonathan dan Hayden yang lengah.
Mario langsung mencengkeram tangan Reynaldy kencang.
"Lepaskan adikku!!" teriak Mario lalu menghempaskan tangan Reynaldi dengan sekuat tenaga.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh adikku!! Jika sedikit saja adikku terluka, aku tidak akan segan-segan membuatmu babak belur!!" teriak Mario marah.
Reynaldi terkekeh pelan sambil tersenyum miring.
"Memangnya kau bisa ap.."
__ADS_1
BUGHHH!
Belum selesai Reynaldy berbicara, pukulan telak ia dapatkan dari Hayden hingga ia jatuh tersungkur.
"Jangan macam-macam! Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi dan memenjarakanmu sama seperti adikmu!"
Reynaldy terkekeh sambil mengusap sudut bibirnya yang sedikit terluka.
BUGHHH!!
Pukulan kembali dilayangkan oleh Hayden tepat mengenai rahang tegasnya.
"Stop!!!" teriak Max dan menahan tubuh Hayden agar tak lagi memukul Reynaldy.
"Lepaskan aku Max! Aku harus memberinya pelajaran! Dia yang sudah mence.."
"Sudah apa?" tanya Max bingung.
Hayden diam dan memalingkan wajahnya kearah lain. Ia tidak ingin menjawab. Kondisi Max sedang tidak baik saat ini. Ia tidak ingin membuat kondisi Max semakin memburuk.
"Kau jangan gegabah. Ingat kita masih berada di lingkungan sekolah." peringat Max pada Hayden.
"Iya apa yang dikatakan Max benar. Kau tidak mau di skors, kan?" ucap Jonathan yang juga ikut memperingati.
Sedangkan Mario masih terdiam menunduk. Ia berusaha mencerna percakapan-percakapan yang baru saja ia dengarkan.
"Penjara? Seperti adikmu? Apa maksudnya?" monolog Mario dalam hati.
Kedua mata Mario tiba-tiba membola. Ia pun menegakkan kepalanya.
"Jangan-jangan dia..orang yang sudah mencelakai Max?"
Mario mengepalkan tangannya erat. Ia lalu menghampiri Max dan memegang tangan Max, membuat Max menolehkan kepalanya tiba-tiba.
PROK! PROKK! PROKK!
Tepuk tangan yang kencang dari Reynaldy. Ia yang sudah dibantu teman-temannya untuk berdiripun mengalihkan atensinya pada Max, Mario, Hayden dan Jonathan.
"Aku mengerti. Aku mengerti sekarang. Kenapa mereka terlihat begitu melindungimu, padahal biasanya kau lah yang paling terlihat kuat dibanding yang lainnya, ternyata kau penyakitan ya sekarang?"
Mario yang terbakar emosi hendak melayangkan tinjuannya jika saja Jonathan tak menghalanginya.
"Jaga ucapanmu, brengsek!!" geram Mario.
"Yo tenang Yo tenang." ucap Jonathan berusaha menenangkan.
Reynaldy tersenyum miring.
"Kau amnesia ya? Apa perlu kuingatkan tentang kecelakaan itu, Max?"
Max mengernyitkan dahinya bingung.
"Jangan kau dengarkan dia Max?!" peringat Hayden tapi Max tak mengindahkan perkataan Hayden sama sekali.
"Apa maksudmu Rey? Kecelakaan apa yang kau maksud?" tanya Max penasaran.
Reynaldy tersenyum.
"Kecelakaan yang merenggut ingatanmu saat kita masih SMP.."
__ADS_1
Kedua mata Max membola.
"Ap..pa..?!"
Kilasan-kilasan ingatan terus berputar dikepalanya. Max meringis kesakitan membuat Mario, Hayden dan Jonathan panik.
FLASHBACK
Reynaldi dan adiknya yang bernama Roy bersekolah di SMP yang sama dengan Max dan Hayden. Mereka berdua seringkali berbuat ulah di sekolah. Mereka sering membully teman-teman sekolahnya dan juga sering merampas uang jajan teman-temannya. Tapi kejahatan mereka tidak selalu berhasil karena sering digagalkan oleh Max. Max yang saat itu adalah teman sekelas Roy seringkali memergoki kejahatan mereka berdua. Mereka sering kali baku hantam. Rey dan Roy selalu kalah jika berhadapan dengan Max. Max selalu memperingati mereka tapi mereka berdua tidak pernah mau mendengarkan. Hingga pada suatu hari mereka kembali berulah di kantin sekolah. Mereka berdua memukul salah satu siswa yang tak mau menuruti perintah mereka. Saat itu Max yang sedang kurang sehat melihat kejadian itu. Max tentu tidak bisa tinggal diam melihatnya. Ia lalu menghampiri Rey dan Roy untuk menghentikan perbuatan mereka berdua tapi kondisi Max yang saat itu kurang baik membuat Max kalah dan berhasil di jatuhkan kelantai. Rey dan Roy yang melihat itu tentu memafaatkan situasi itu untuk membalas dendam pada Max. Roy mencekik leher Max yang masih terbaring di lantai. Max hampir saja kehabisan oksigen jika saat itu Hayden terlambat datang untuk menolong Max. Beberapa siswa yang ada disana segera melaporkannya pada pihak sekolah dan akhirnya Rey dan Roy di skors selama seminggu. Rey dan Roy tentu saja tak terima terutama Roy. Ia yang memang sejak awal sudah iri pada Max karena Max selalu dipuja-dipuji oleh guru-guru dan teman-teman sekolahnya berkat prestasi dan kebaikan yang Max lakukan, tentu kejadian ini membuat ia semakin membenci Max.
"Kau mau kemana Roy?" tanya Rey saat ia melihat adiknya tergesa-gesa menuruni tangga berniat untuk pergi keluar rumah dengan jaket hitam yang membalut tubuhnya.
"Aku hanya ingin berjalan-jalan saja." jawab Roy.
"Benarkah? Dengan jaket hitam ini? Cuaca sedang panas seperti ini. Apa kau tidak kepanasan?" heran Rey.
"Berisik. Aku naik motor jadi pakai jaket. Sudah aku pergi." pamit Roy.
Roy pergi ke sekolah diam-diam. Ia memanjat tembok belakang sekolah dan mengamati satu persatu mobil yang terparkir disana. Ia tersenyum miring saat ia menemukan mobil yang ia cari. Ia berhasil membuka pintu mobil dan merusak rem kemudinya. Setelah selesai, iapun segera pergi dari sana dengan memanjat tembok kembali dan mengendarai sepeda motornya yang terparkir di luar tepatnya disamping tembok sekolah.
"Kau yakin tidak mau kuantar?" tanya Max pada Hayden.
"*Iya Max. Aku sudah memesan taxi online. Kau tidak perlu mengantarku ke bandara. Arah rumahmu dan bandara itu berlawanan arah." jawab Hayden.
"Hhh..baiklah kalau begitu. Sampaikan salamku pada tantemu. Hati-hati dijalan."
Hayden mengangguk*.
"*Kau juga hati-hati Max."
Hayden lalu pergi keluar gerbang sekolah sedangkan Max, ia pergi kearah pos satpam menghampiri supirnya yang yang tadi datang menjemput lalu mereka berdua segera pergi keparkiran menuju mobil Max. Lalu merekapun pergi dengan mobil menuju rumahnya. Saat diperjalanan pulang tiba-tiba rem kemudinya tidak dapat dikendalikan dan akhirnya menabrak pohon. Untungnya mereka berdua berhasil selamat. Supirnya hanya mengalami luka ringan saja tapi naas bagi Max, ia terluka parah. Ia mengalami benturan pada kepala dan dadanya. Kecelakaan itu tentu saja segera diselidiki oleh pihak berwajib setempat dan pada hari itu juga mereka langsung menangkap sang pelaku yaitu Roy adik dari Reynaldy. Bukti didapatkan dari kamera CCTV yang terpasang di belakang sekolah*.
Rey yang tak terima adiknya harus mendekam di penjara segera datang ke rumah sakit dua minggu setelah kejadian. Ia datang kesana karena ia mendengar Max sudah sadarkan diri beberapa hari yang lalu. Saat ia sampai di depan kamar rawat Max tiba-tiba pintu terbuka ternyata itu adalah Hayden.
"*Kau!"
"Apa yang kau lakukan disini, hah?!" teriak Hayden lalu mencengkram kaos yang dipakai Rey*.
"*Aku datang kesini untuk membalas dendam pada Max! Max harus bertanggung jawab!"
"Karena dia Roy harus mendekam di penjara*!"
"Aku tidak terima!" teriak Rey.
"*Diam kau! Adikmu memang pantas mendapatkan ganjarannya! Bahkan itu tidak sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan pada Max!" teriak Hayden.
Rey melepaskan cengkraman tangan Hayden dari kaosnya.
"Aku tidak peduli! Tunggu pembalasanku*!"
Sementara didalam kamar rawat. Max mendengar semua percakapan keduanya.
FLASHBACK END
Max mencengkram kepalanya erat.
"Arghh!"
Max meringis kesakitan. Kepalanya sudah sangat sakit ditambah dadanya yang ikut sesak akhirnya ia limbung dan tak sadarkan diri. Hampir saja ia terjatuh ke lantai jika Mario tak segera menahannya.
__ADS_1
"Max! Bangun Max! Max!!" teriak Mario panik sambil memangku kepala Max yang sudah tak sadarkan diri.
BERSAMBUNG..