Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
32. Kenapa Bukan Aku?


__ADS_3

BRUKK!


"Aww!! Adududuhhh!" ringis Rudi setelah ia terjatuh karena bertabrakan dengan seseorang.


"Aduhh sakitttt..!" ringis Jonathan. Ya orang yang bertabrakan dengan Rudi adalah Jonathan.


Hayden yang kini sedang berdiri diantara mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua orang itu yang terjatuh karena bertabrakan.


"Ayo bangun." tawar Hayden.


Hayden mengulurkan tangannya kearah Jonathan yang langsung di terima Jonathan, setelah Jonathan berdiri, Haydenpun mengulurkan tangannya pada Rudi.


"Ayo kubantu." tawar Hayden.


Rudi mendongak lalu segera menerima uluran tangan dari Hayden.


"Terima kasih." ucap Rudi yang diangguki oleh Hayden. Rudi menepuk-nepuk pantatnya dan mengusap-usap lututnya yang semakin terasa sakit akibat terjatuh barusan dan juga ulah Reynaldy tadi.


"Hhh..sudah jatuh tertimpa tangga. Malang sekali nasibmu Di..Di.." gerutu Rudi.


Jonathan yang mendengar Rudi menggerutu mengernyit bingung.


"Maksudnya?" tanya Jonathan bingung.


Hayden menoleh.


"Ckk.. Masa kau tidak tahu. Itu kan pelajaran anak SD. Mungkin dia sedang ada masalah dan barusan ia terjatuh, jadi ia mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga. Itu peribahasa, bodoh!" decak Hayden.


Jonathan hanya memutar bola matanya malas. Ia benar-benar malas jika Hayden sudah berlagak sok pintar dan mengatainya bodoh. Sementara itu Rudi yang dari tadi mendengar percakapan Hayden dan Jonathan hanya menyimak tak berniat ikut campur karena yang terpenting saat ini baginya adalah segera kembali ke kamar rawat Max, baru saja ia akan melangkahkan kakinya, tangannya sudah di tarik pelan oleh Jonathan.


"Eh, tunggu! Aku belum minta maaf. Aku minta maaf karena sudah menabrakmu tadi." ucap Jonathan.


Rudi mengangguk.


"Iya tidak apa-apa. Tidak masalah. Ini salahku juga karena berjalan tak lihat-lihat jalan." balas Rudi.


Hayden tiba-tiba berjalan melewati keduanya.


"Eh? Hayden tunggu aku!" panggil Jonathan.


"Kau lama Jo. Aku ingin bertemu Max. Bukan menunggu kau mengobrol dengannya." ucap Hayden datar.


Jonathan mendesah.


"Hhh..Iya-iya maaf."


Jonathan dan Hayden akhirnya kembali meneruskan perjalanan mereka menuju kamar rawat Max.


Rudi mengernyit.


"Max?" gumam Rudi.


"Apa jangan-jangan Max yang dimaksud mereka adalah Max yang sama? Ah tidak, memangnya yang memiliki nama Max hanya dia. Sudahlah aku harus segera kembali." lanjutnya. Ia pun segera melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.


"Loh kok? Ternyata Max yang sama." gumam Rudi karena melihat dua orang didepannya berjalan searah dengannya.


"Kalian ingin menjenguk Max juga ya?" tanya Rudi dari belakang. Jonathan dan Hayden menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Eh, kau yang tadi ya? Kau mau menjenguk Max juga?" tanya Jonathan. Rudi mengangguk sambil tersenyum.


"Kau kenal Max?" tanya Jonathan. Rudi mengangguk.


"Iya, dia pernah menolongku saat di sekolah." jawab Rudi.


"Hhh..bocah itu." gumam Hayden dan Jonathan. Sangat paham dengan sifat Max yang sering menolong orang.


"Ya sudah ayo kesana bersama-sama." ajak Jonathan yang diangguki Rudi.


Tak lama merekapun sampai tapi mereka kaget karena banyak sekali orang di luar kamar rawat Max dan wajah mereka semua terlihat sedih bahkan Clara kini sudah menangis dalam pelukkan Cassie. Rudi, Jonathan dan Hayden segera menghampiri mereka semua.


"Yo! Rio! Ini kenapa?! Ini ada apa, hah?" panik Jonathan dan Hayden.


Mario langsung memeluk Jonathan sambil terisak.


"Max Jo..Max Jo..hikshiks.."


Jonathan mengusap punggung Mario pelan.


"Tenang Yo. Tenang. Max pasti baik-baik saja."


Hanya itu yang bisa ia ucapkan kini. Jonathan memang tidak tahu apa yang sudah terjadi tapi ia tahu pasti terjadi sesuatu pada Max dan hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menenangkan Mario.


Hayden menatap nanar pintu kamar rawat Max yang tertutup rapat.


"Apa lagi yang terjadi padamu Max? Kumohon Bertahan Max, please!" gumamnya sambil berdoa. Iapun mengedarkan pandangannya kesekitar.


"Kenapa ba**nyak orang? James, Alvin dan Benua juga ada disini? Dan...siapa perempuan itu?" Batin Hayden penasaran.


CKLEKK!!


Saat pintu ruang rawat Max terbuka dan menampilkan seorang suster yang keluar dari ruangan Max, mereka semua tanpa terkecuali segera menghampiri suster itu, terutama Mario.


"Bagaimana keadaan Max, Sus? Bagaimana keadaan adik saya. Adik saya tidak apa-apakan?" khawatir Mario dengan serentetan pertanyaan.


Suster itu tersenyum.


"Tenanglah, adik kamu memang sempat kritis dan kehilangan banyak darah, padahal darah golongan A stok nya sudah habis tapi untunglah dokter Abdi menawarkan bantuan untuk mendonorkan darahnya pada adikmu."


Mario mengernyit heran.


"Dokter Abdi mendonorkan darahnya? Bagaimana bisa? Ah iya golongan darah Max kan bukan golongan darah yang langka, apa yang aneh? Kenapa pikiranku selalu kemana-mana sih setiap melihat dokter Abdi?" monolog Mario dalam hati.


"Kalian boleh masuk tapi tidak boleh lebih dari tiga orang ya, karena kondisi pasien belum stabil."


Mario mengangguk mengerti.


"Yo, boleh aku ikut masuk kan? Aku ingin melihat Max, aku ingin menemui Max. Aku ingin meminta maaf padanya." ucap Silvana tiba - tiba.


Mario menatap tajam pada Silvana.


"Jo, Hayden ayo masuk." titah Mario pada Jonathan dan Hayden mengabaikan Silvana yang kini menatapnya kesal.


Mario langsung masuk dan menghampiri ranjang Max diikuti Jonathan dan Hayden di belakangnya.


"Maafkan kakak ya Max. Kak Rio tidak bisa menjagamu dengan baik. Kalau saja Kakak bisa segera menolongmu pasti sekarang Max baik-baik saja." ucap Mario lirih. Ia mengusap kepala Max yang kini terbalut perban.

__ADS_1


"Pasti tambah sakit ya? Kenapa selalu kau yang sakit, kenapa bukan Kak Rio, Max?"


Air mata Mario mengalir begitu saja.


"Maaf..maafkan Kak Rio.."


......🐣🐥 🐣🐥 ......


"Ish!! Kenapa mereka lama sekali sih?! Tidak bisakah mereka bergantian. Aku kan juga ingin menemui Max!" gerutu Silvana.


Sementara itu Clara terus terisak sambil meracau menyalahkan dirinya sendiri dalam dekapan Cassie.


"Kenapa harus Max, kenapa bukan aku saja yang terluka? hikshiks..Ini semua salahku..hikshiks.."


"Sshusttt. Sudah Ra. Sudah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini bukan salahmu. Oke."


Clara merenggangkan pelukannya lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak Cassie. Ini semua memang salahku. Kalau saja aku tadi tidak terja__"


Ucapan Clara harus terpotong oleh ucapan Silvana.


"Iya memang ini semua salahmu! Dari awal kau memang sudah salah. Jika saja kau tidak ada dan tidak dekat-dekat dengan Max, semua ini pasti tidak akan terjadi. Seharusnya kau yang terluka, bukan Max! Dasar pembawa sial." sinis Silvana.


"Heh! Perempuan gila! Jangan sembarangan bicara! Kau ini kenapa, hah?! Dari awal kita bertemu selalu saja marah-marah tak jelas. Kau ini sebenarnya ada masalah apa dengan Clara, hah?! Sekali lagi kau berbicara seperti itu tentang Clara akan kucongkel bola matamu itu!" ancam Cassie. Silvana yang diancam seperti itu justru maju mendekat kearah Cassie dan mendorong dada Cassie dengan telunjuknya.


"Kau pikir aku takut, hah? Aku bisa melakukan hal yang sama seperti yang kau katakan tadi bahkan berkali-kali lipat lebih parah darimu. Mulai saat ini kau dan temanmu itu harus terbiasa karena aku akan selalu menganggu kalian jika kalian masih saja dekat-dekat dengan Max." ancam Silvana balik sambil menatap tajam Clara dan Cassie lalu pergi dari sana.


Cassie menatap kesal kearah Silvana yang sudah menjauh.


"Dasar psikopat. Kenapa harus ada manusia seperti dia di dunia ini? Dasar jelmaan iblis." gumam Cassie yang masih bisa didengar oleh orang-orang yang ada disana.


"Memangnya apa yang sudah terjadi Ra?" tanya Rudi penasaran.


"Biar aku saja yang jelaskan." sahut James. Jamespun akhirnya menceritakan semua kejadian tadi pada Rudi dan Cassie.


Rudi menggelengkan kepalanya pelan tak habis pikir dengan pemikiran Silvana.


"Ckk! Dasar perempuan gila! Jadi dia juga menyukai Max." decak Cassie.


"Juga menyukai Max? Memangnya siapa lagi yang menyukai Max?" tanya Rudi.


"A..i..itu..itu__" Cassie tergagap. Tidak mungkin kan jika ia mengatakan Clara juga menyukai Max.


"Banyak. Yang menyukai Max tentu banyak Di. Aku saja jika perempuan pasti aku suka Max." sahut Benua membuat James dan Alvin menjauh dari Benua.


"Kalian kenapa?" bingung Benua.


"Jauh-jauh dari kami Ben. Kami masih normal." ucap James yang diangguki Alvin.


"Yak!! Aku juga normal kok!" teriak Benua yang tak terima.


Sementara Benua, James dan Alvin terus saja ribut, Rudi justru kini terdiam memikirkan perkataan dari Cassie.


"Mungkin apa yang Cassie maksud itu Clara, sama seperti kejadian tadi dimana Silvana bertengkar dengan Clara dan semuanya terjadi karena mereka memperebutkan Max..hhh.. Kenapa harus kau Max, kenapa bukan aku?" monolog Rudi dalam hati.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2