Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
25. Semua Mengkhawatirkannya


__ADS_3

Clara terus melamun sambil menarik mahkota, kelopak sampai putik bunga yang dia pegang satu persatu tanpa sadar. Ia sedang gundah saat ini. Perasaanya dari tadi tidak tenang, pikirannya tidak menentu. Ia tidak tahu kenapa dan ada apa dengannya hingga satu nama terlintas begitu saja.


"Apa kau baik-baik saja Max?" batin Clara.


Ya Max lah yang terlintas dibenaknya. Bukan M. Entahlah Clarapun tidak tahu. Semenjak ia mengenal Max. Yang ia ingat kini adalah Max bukan M. Bolehkah Clara berpikir jika M itu adalah Max. Clara menggelengkan kepalanya pelan lalu menghembuskan nafasnya kasar dan menarik satu persatu bagian-bagian bunga lagi.


"Clara?" panggil Cassie yang datang menghampiri Clara tapi Clara tetap tak bergeming.


"Hhh..Claraaaa.." panggil Cassie lagi tapi hasilnya nihil, Clara tetap tak bergeming.


Ayolah kesabaran Cassie sudah habis sekarang.


"Satu..dua..tiga. CLARAAA!!" teriak Cassie sambil mengguncang-guncangkan tubuh Clara.


"Uwaaaaa!!! Gempa!!! Cassie!! Tante!! Gempa!!" teriak Clara histeris.


PLETAKK!


"AWWW!!" ringis Clara sambil mengusap kepalanya yang telah mendapat jitakan sayang dari Cassie.


"Apa yang kau lakukan, hah?! Ini sakit, tahuu!!" kesal Clara.


"Ckk.."


Cassie berdecak kesal.


"Seharusnya aku yang bertanya bukan kau! Kau dari tadi melamun terus. Setelah sadar kau justru berteriak. Tentu saja aku harus memukul kepalamu agar kepalamu itu bisa berfungsi lagi dengan baik!"


Clara mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Cassie.


"Sadar? Kau kira aku pingsan. Sudah jangan mengomel terus. Aku minta maaf. Habisnya kau mengguncangkan tubuhku terlalu kencang jadi aku kira tadi ada gempa ternyata tidak."


Cassie memutar bola matanya malas.


"Kau melamun apa tadi, hem?" tanya Cassie menyelidik.


"Siapa yang melamun? Aku?"


Clara menunjuk pada dirinya sendiri.


"Ingin ku mengumpat namun ku tahan!"


Clara terkekeh mendengar Cassie yang menyuarakan kekesalannya dengan bernyanyi.


"Suaramu bagus tapi lebih bagus lagi jika kau diam..hehe." ledek Clara.


"Whatever!!! Jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang katakan padaku apa yang sedang kau pikirkan? Dari tadi kau melamun terus sampai kau tak sadar jika kau sudah merusak bunga yang sedang kau pegang."


Clara yang mendengar ucapan Cassie seketika terkejut melihat bunga dalam genggamannya sudah hancur tak berbentuk. Clara menegang melihat hasil karyanya.


"Jika tante Viona tahu, aku rasa gajimu akan dipotong." ujar Cassie enteng.


Clara melotot tajam.


"Ishh! Kau ini menakutiku saja! Tidak mungkin tanteku setega itu padaku. Aku kan keponakan tersayangnya." ucap Clara sambil menunduk.


"Ikikin kipinikin tirsiyingnya." ledek Cassie.


"Ishh berisik!" kesal Clara.


Clara lalu berlalu menuju ruang kerja tantenya sambil memegang bunga yang tak sengaja dirusaknya.


TOK!! TOK TOK!


Clara mengetuk pintu ruang kerja tantenya.


"Masuk. Tidak dikunci!" teriak Viona.


CKLEKK!


"Clara, ada apa?" tanya Viona setelah ia melihat Clara masuk.


"MAAFKAN AKU TAN!" teriak Clara kencang sambil menunjukan bunga yang sudah rusak tadi kedepan Viona.


Viona mengusap dadanya pelan karena terkejut dengan teriakan Clara yang tiba-tiba. Ia lalu menghembuskan nafasnya pelan. Kedua netranya sedikit terkejut dengan bunga yang dipegang Clara.


"Bunganya? Kenapa bisa rusak?" selidik Viona.


Clara menggigit bibirnya kencang. Ia tahu ia sudah melakukan kesalahan fatal. Ia tahu betapa sayang dan sukanya tantenya terhadap bunga. Itu juga yang mendasari tantenya untuk membuka usaha toko bunga.


"Maaf..Clara tak sengaja merusaknya.." cicit Clara.


Viona menghela nafasnya sejenak.


"Hhh.. sudahlah tidak apa-apa tapi lain kali hati-hati ya Ra. Kasihan bunganya."

__ADS_1


Clara mengangguk lesu.


"Tante boleh kok potong gaji Clara untuk mengganti bunga yang Clara rusak."


Viona terkekeh mendengarnya.


"Tante tidak akan memotong gajimu Ra. Kamu kan tidak sengaja. Lagi pula kamu kan sudah jujur tadi. Ayo kesini." ucap Viona sambil merentangkan kedua tangannya.


Clara langsung menghampiri Viona dan memeluk tantenya.


"Sayang tante banyak-banyak." ucap Clara manja.


Viona semakin terkekeh mendengarnya.


"Sayang Clara banyak-banyak juga." balas Viona.


CKLEKK!


"Inginku dipeluk tapi ku tahannn!" Nyanyi Cassie saat ia masuk ke ruang kerja Viona.


Clara dan Viona terkekeh mendengarnya.


"Ayo kesini." ajak Clara dan Viona serempak membuat kedua mata Cassie berbinar dan segera menghambur ke pelukan Clara dan Viona.


"Teletubbies berpelukannnn!!" girang Cassie yang disambut tawa oleh Clara dan Viona.


****


"Eunghh.."


Mario melenguh pelan sambil mengerjapkan kedua matanya guna mengumpulkan kesadarannya serta menyesuaikan netranya dengan cahaya. Setelah penglihatannya cukup jelas ia mengedarkan pandangannya dan menemukan seseorang yang duduk di sofa menghampirinya.


"Akhirnya kau sadar juga. Aku panggil dokter ya?"


Baru saja Jonathan akan menekan tombol untuk memanggil dokter, Mario sudah menahannya dengan memegang tangannya.


"Aku kenapa?" tanya Mario.


"Kau.." belum selesai Jonathan berbicara, Mario sudah memotongnya.


"Tunggu.. Max? DIMANA DIA?! DIA TIDAK APA-APAKAN?! MAX BAIK-BAIK SAJA KAN?!" teriak Mario panik.


"Hmm..aku panggil dokter dulu."


Mario menarik tangan Jonathan.


"Max baik-baik saja kan?" lanjutnya lirih.


Jonathan diam tak menyahut.


"Jangan diam saja Jo. Aku bertanya padamu? Aku tidak tahu apa yang dokter katakan saat itu tentang Max. Tolong beritahukan padaku. Max baik-baik saja kan?"


Jonathan mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Haruskah kuberitahu tentang Max padamu?" tanya balik Jonathan.


Mario mengernyit heran.


"Tentu saja. Kau ini kenapa Jo? Max baik-baik saja kan?"


"Nanti saja kita membahasnya. Aku panggilkan dokter dulu untuk memastikan keadaanmu."


Jonathan menekan bel dan tak lama kemudian datanglah seorang dokter. Dokter itupun segera memeriksa kondisi Mario.


"Tidak apa-apa. Kau hanya kelelahan. Setelah ini tolong beristirahatlah, jangan terlalu banyak pikiran. Kau sudah boleh pulang jika infusnya sudah habis. Kalau begitu saya pamit, permisi."


Mario hanya menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih dok." ucap Jonathan.


Dokter itupun segera meninggalkan ruangan meninggalkan dua anak manusia disana.


"Istirahatlah. Tidur lagi saja." saran Jonathan.


Mario menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau. Aku ingin bertemu dengan Max. Kau belum menjawab pertanyaanku Jo?"


Jonathan menghembuskan nafasnya kasar.


"Max belum sadarkan diri. Jika dalam waktu lima hari Max belum juga sadarkan diri maka ia dinyatakan koma."


Kedua mata Mario membola.


"A..apa? Kau..kau bohongkan Jo..?"

__ADS_1


Jonathan menggelengkan kepalanya. Mario langsung bangun terduduk. Baru saja ia akan menapaki kakinya ke lantai. Jonathan sudah menahannya.


"Kau mau kemana?"


Mario melepas paksa tangan Jonathan.


"Tentu saja ke kamar rawat Max! Memangnya kemana lagi?! Aku akan menemani Max. Ini semu salahku. Jika saja aku bisa me.." belum selesai Mario berbicara Jonathan sudah memotongnya.


"Ya benar. Semua memang salahmu. Semuanya karenamu." ucap Jonathan datar.


Mario terkejut dengan semua yang diucapkan Jonathan.


"Max mengkonsumsi painkiller terlalu banyak dan terlalu sering. Padahal ia tidak boleh meminumnya terlalu sering karena itu bisa merusak organ tubuhnya. Seharusnya ia cukup meminum obat yang harus ia minum rutin saja bukan painkiller. Painkiller hanya boleh diminum saat keadaan Max benar-benar collaps dan itupun setelahnya kita langsung membawanya ke rumah sakit tapi ternyata Max justru meminumnya tanpa aturan." lanjut Jonathan.


Mario benar-benar terkejut mendengarnya. Sejak kapan? Sejak kapan adiknya menyembunyikan sakitnya sampai-sampai Max meminumnya tanpa aturan, pikirnya.


"Sejak pertengkaranmu dengan Max." ucap Jonathan seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Mario.


"Kau bilang pada Hayden kan jika kau memarahi Max dan kalian bertengkar?"


Mario diam menunduk. Ya dia memang menceritakan semuanya pada Hayden mengenai pertengkaran ia dan Max dan juga apa saja yang sudah ia katakan pada Max. Hayden benar-benar marah padanya waktu itu tapi ia memaafkannya karena Max saja tidak marah padanya tapi Hayden merasa khawatir saat itu karena menurutnya Max menyembunyikan sesuatu dari mereka dan ternyata kekhawatiran Hayden selama ini benar. Max memang menyembunyikan sakitnya pada mereka. (episode 20)


"Mengapa Hayden lebih peka dari pada diriku yang notabenenya adalah kakak kembarnya?" batin Mario.


Mario akhirnya tak kuasa menahan tangisnya.


"Dimana kamar rawat Max Jo? Aku ingin menemui Max." mohon Mario sambil mengusap air matanya.


Jonathan mengangguk. Ia akhirnya mengantarkan Mario ke tempat Max dirawat.


"ICCU?" tanya Mario menuntut penjelasan pada Jonathan saat ia melihat mereka akan pergi menuju ruang ICCU.


"Iya. Kondisi Max belum stabil. Ia masih membutuhkan penanganan yang intensif Yo."


Jawaban dari Jonathan semakin membuat Mario menyalahkan dirinya sendiri.


Jonathan melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang ICCU sambil membantu Mario membawa tiang infusnya. Sesampainya disana mereka melihat Hayden sedang duduk di kursi tunggu di depan ruang ICCU dengan pandangan kosong. Saat Mario dan Jonathan semakin mendekat, Hayden menoleh dengan tatapan tajam menghunus pada kedua mata Mario.


Mario menunduk lalu berjalan menuju pintu ruang ICCU dilihatnya Max yang masih belum sadarkan diri dengan beberapa kabel yang menempel ditubuhnya yang tidak diketahui Mario apa namanya. Air matanya kembali menetes bahkan terlihat semakin deras.


"Maaf..Maafkan kak Rio...Max. Maaf.." lirih Mario sambil sesekali terisak.


Hayden dan Jonathan hanya bisa terdiam tanpa kata.


****


"APA?!!" teriak Roy yang mebuat ia mendapat tatapan tajam dari penghuni lapas lain yang juga mendapat kunjungan dari sanak saudaranya.


"Ishh! Kau ini! Kenapa harus berteriak sih?!" kesal Reynaldy sambil menatap ke sekeliling.


"Tentu saja aku berteriak. Aku benar-benar kaget dengan apa yang kau lakukan kak?"


Reynaldy mengernyit bingung mendengarnya.


"Kenapa kau harus kaget? Jangan katakan jika kau mulai luluh karena dia amnesia, Roy?"


Roy terdiam menunduk. Hatinya memang berdesir tak nyaman. Ia kaget saat mendengar Max amnesia bahkan kemarin akibat kakaknya, Max sampai tak sadarkan diri. Dulu ia memang ingin Max tiada tapi sekarang tidak. Mungkin ia memang merasa bersalah sekarang.


"Kenapa diam? Kemarin kau setuju padaku jika aku mengganggu Max. Kau tidak terima melihat Max baik-baik saja kan?" tanya Rey.


"Iya, itu kemarin saat kau bilang Max masih baik-baik saja. Tentu saja aku tidak terima mendengarnya apalagi aku masih harus mendekam disini tapi.."


Roy menjeda perkataannya sejenak.


"Tapi itu sebelum aku tahu kalau Max sakit kak. Bagaimana jika Max bukan hanya amnesia tapi sakit parah? Bagaimana jika yang kau lakukan kemarin berakibat fatal dan mengancam nyawanya kak?"


Reynaldy terkekeh mendengarnya.


"Bukankah itu maumu?"


Roy menunduk. Entahlah perasaannya bercampur aduk saat ini.


"Jangan bilang kau tak tega ya? Ayolah Roy aku hanya meneruskan tujuanmu yang sudah gagal. Kau harus ingat jika waktu itu kau tidak gagal pasti nyawa Max sudah melayang kan?"


Roy masih terdiam. Ia meremat kedua tangannya erat yang bertumpu pada kedua pahanya.


"Hhh..sudahlah. Aku pamit. Jam besuk sudah habis. Makan bekal dari ibu ya. Ibu menyiapkannya khusus untukmu. Untuk putra bungsu kesayangannya."


Roy mengangguk.


"Bye adik kesayangan kakak." pamit Reynaldy dan pergi.


Roy menatap punggung kakaknya yang hilang dibalik pintu.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku? Tapi...aku merasa khawatir padanya sekarang.." gumam Roy.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2