Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
33. Bangun dan Kembali


__ADS_3

"Eunghh.."


Aulia yang tertidur di samping sang bungsu segera mengerjapkan kedua matanya saat ia mendengar suara lenguhan sang bungsu disertai gerakan pelan kedua mata putra bungsunya.


"Max..sayang, ini Bunda, nak.."


Aulia menggenggam erat jari - jemari sang putra. Ia tersenyum lega saat melihat kedua mata putra bungsunya akhirnya terbuka setelah dua hari mata itu terpejam membuat semua orang yang mengenal sang putra kehilangan kebahagiannya.


Max mengedarkan kedua matanya, hingga ia melihat sang ibu tersenyum dengan mata berkaca - kaca berada di sampingnya.


"Bun..da.."


Susah payah Max mengeluarkan suaranya. Tenggorokannya terasa benar - benar kering.


"Iya sayang, ini Bunda. Bunda disini nak. hikshikshiks."


Air mata yang semula berusaha Aulia tahan akhirnya tumpah juga membasahi pipinya. Max menatap sendu sang ibu, terbesit rasa bersalah di hatinya kala ia ingat jika lagi dan lagi ia membuat orang yang ia sayangi menangis.


"Ma..af..Bun..da..ja..ngan me..na..ngis.."


Susah payah ia mengeluarkan suaranya dengan terbata - bata. Aulia menggelengkan kepalanya ribut.


"Tidak. Tidak sayang. Jangan minta maaf. Bunda menangis karena Bunda senang bisa melihat Max bangun lagi. Sudah ya jangan bicara dulu, Bunda panggil dokter dulu."


Aulia lalu menekan tombol darurat. Tak lama kemudian datang Abdi beserta dua orang suster kesana. Aulia pun keluar agar Abdi dan kedua suster itu bisa memeriksa keadaan Max.


TAP TAP TAP TAP!!


"BUNDAAAA!!!" teriak Mario panik saat ia melihat sang ibu berada di luar kamar rawat adiknya.


"Hhh..hhh Bunda..Max..Max kenapa? Hhh..adik Rio kenapa Bun..? hhhh.." ucap Mario dengan nafas yang terengah - engah akibat berlari tadi.


Aulia tersenyum lalu menarik tangan sang putra dengan lembut.


"Ayo duduk, nak. Max tidak apa - apa. Dia sudah sadar sayang. Doakan adikmu ya, agar semua baik - baik saja."


Mario mengangguk. Ia tersenyum lega meskipun tak sepenuhnya rasa khawatirnya hilang tapi ia lega sang adik akhirnya membuka matanya kembali. Iapun segera duduk disamping sang ibu dan menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu. Aulia mengusap kepala Mario lembut.


CKLEKKK!


Aulia dan Mario segera beranjak dari duduknya dan segera menghampiri Abdi yang baru saja keluar dari kamar rawat Max.


"Bagaimana keadaan Max, Di? Bagaimana?" tanya Aulia.


Abdi tersenyum menatap keduanya.


"Alhamdulillah. Keadaan Max sudah stabil kembali, hanya saja kondisinya masih lemah tapi tidak apa - apa, jika kondisinya tetap membaik seperti ini Max bisa segera pulang."


Penjelasan Abdi membuat keduanya menghela nafasnya lega.


"Tapi tentu semua butuh pengawasan terutama pada kepalanya yang terkena benturan. Aulia bisa ikut aku, ayo kita bicara di ruang kerjaku saja."


Aulia mengangguk lalu menoleh kearah Mario yang kini terdiam.


"Yo, Mario masuk ya nak. Temani adik kamu ya, kalau ada apa - apa cepat panggil dokter."


Mario mengangguk dan menuruti perintah Aulia. Setelah Aulia sudah pergi bersama dengan Abdi. Mariopun segera bersiap untuk masuk ke kamar rawat Max setelah dua suster itupun sudah keluar.


CKLEKKK!


Max menoleh kearah pintu dimana sang kakak datang. Max tersenyum yang dibalas senyuman juga oleh Mario. Mario segera berjalan cepat. Sesampainya disana Mario langsung memeluk Max erat.


"Hikshikshiks.. Kebiasaan buruknya datang terus sih Max. Jangan membuat kakak takut terus. Kau membuat kakak takut, Max. hikshiks."


Mario terus berbicara sambil terisak. Max mengusap punggung sang kakak pelan.


"Maaf kak.."


Hanya kata itu yang dapat terucap. Ia sendiri bingung harus mengatakan apa. Mario merenggangkan pelukannya. Ia menatap wajah yang sama persis dengannya itu lekat.


"Jangan maaf - maaf terus. Ini belum lebaran Max. Kak Rio senang adik kembar kakak ini akhirnya bangun juga."


Mario mengusap rambut Max pelan dan menciumi tangan Max berulang kali lalu beralih mencium keningnya.


"Bagaimana aku bisa pergi jika kalian seperti ini? Dan...Aku juga masih ingin hidup lebih lama lagi.." batin Max.

__ADS_1


"Hey Max? Adiknya kakak? Kenapa, hmm?" tanya Mario khawatir saat melihat Max seperti melamun.


Max menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Max tidak kenapa - kenapa kak. Max hanya ingin bilang kalau Max sayang Kak Rio. Sayang kakak banyak - banyak."


Mario terkekeh mendengarnya.


"Kak Rio lebih sayang Max. Kak Rio sayang Max banyak - banyak juga." ucap Mario lalu memeluk Max lagi dengan erat.


Aulia yang hendak masuk ke kamar rawat Max mengurungkan niatnya, saat ia melihat pemandangan manis disana. Setetes air matapun jatuh kembali membasahi pipinya.


"Putra - putra Bunda kuat, kan. Kalian harus kuat sayang..hikshiks."


"Max, sayang. Kau harus kuat ya nak. Jangan pernah tinggalkan kami..hikshiks.."


...****...


CKLEKKK!


"Yuhuuuuu!! Kami datanggg!!" teriak Jonathan girang padahal ia sedang ada di rumah sakit sekarang. Hayden yang berada di belakangnya hanya bisa menggeleng - gelengkan kepalanya.


PUKKK!


"Tidak kena. Tidak kena. Wleee." Jonathan menjulurkan lidahnya kearah Mario yang tidak berhasil melemparkan sebuah bantal padanya.


"Awas kau Jojo. Akan ku rendam kau di minyak tanah dan membuatmu mengembang dan lebar seperti karet gelang!" kesal Mario karena Jonathan seenaknya saja membuat kegaduhan di kamar rawat adiknya.


"Oh tidak bisa, minyak tanah sedang langka sekarang. Wleeee." Jonathan terus menjulurkan lidahnya kearah Mario. Mario yang tak terima langsung mengejar Jonathan.


Max terkekeh melihat tingkah kedua saudaranya ini sedangkan Hayden hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah sambil menggeleng - gelengkan kepalanya. Hayden menghampiri Max yang kini sedang bersandar.


"Bagaimana keadaanmu, hmm?" tanya Hayden sambil mengusap lembut kepala Max agar tidak mengenai luka di kepala Max.


"Aku baik - baik saja. Lihat aku masih disini kan? Kau rindu aku tidak?"


Hayden mengangguk sambil tersenyum.


"Iya. Aku rindu kau bayi besar."


"Kau mau ku lempar bantal juga ya?!"


Hayden mengedikkan kedua bahunya.


"Silahkan, aku tidak takut." tantang Hayden.


Max yang kesal lalu mengambil gelas berisi air.


"Aku siram mau tidak?"


Max menaik - turunkan kedua alisnya.


"Ishh! Dasar! Iya maaf."


Max terkekeh mendengarnya. Ia lalu menaruh gelas itu kembali ke nakas kemudian menyodorkan tangannya kearah Hayden. Hayden mengernyit bingung.


"Apa? Pesananmu ya? Oke aku am__"


"Bukan itu. Mana?" potong Max.


"Apa Max?"


Max mengerucutkan bibirnya.


"Mana Hayden. Jangan pura - pura tidak tahu." rengek Max.


"Apa?"


Max mencubit lengan Hayden.


"Aww!! Sakitt! Bocil!!" ringis Hayden sambil mengusap - usap lengannya.


"Jangan pura - pura bodoh Hayden!" ucap Max setengah berteriak berjaga - jaga agar Mario dan Jonathan tidak mendengarnya.


"Ckk! Jangan mengataiku bodoh. Aku ini lebih pintar dari dua saudaramu itu, Max." sahut Hayden.

__ADS_1


"Ya sudah makanya mannnaaaa?" rengek Max kesal.


"Iya iya. Sudah jangan banyak bergerak. Nanti kepalamu sakit."


Hayden mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.


"Nih."


Max yang melihatnya tersenyum senang.


"Ini seriuskan?" tanya Max memastikan.


Hayden mengangguk.


"Ya sudah send."


Hayden mengirimkannya pada Max. Max yang sudah menerimanya langsung menyimpannya.


"Thank you, Hayden."


Hayden mengangguk pelan.


"Apa tidak apa - apa?" tanya Hayden khawatir.


"Tidak apa - apa. Justru aku senang. Anggap saja ini permintaan terakhirku."


Hayden menatap Max tajam. Max memamerkan giginya yang rapi lalu menaikkan dua jarinya keatas.


"Peace. Aku hanya bercanda. Sudah jangan marah dan jangan berisik nanti mereka dengar."


...****...


"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau memikirkan Max ya?" tanya Cassie. Clara mengangguk.


"Tenang saja. Dia sudah baik - baik saja, Ra."


Clara menoleh pada Cassie.


"Aku tadi mendengar dari anak - anak kelas Max, katanya Max sudah sadarkan diri. Berita Max yang tak sadarkan diri sudah menyebar ke penjuru sekolah, makanya saat Max sadarpun mereka langsung tahu."


Clara menghembuskan nafasnya lega.


"Syukur Alhamdulillah. Ya sudah aku ke kamar duluan ya."


Cassie mengangguk.


"Jangan lupa berdoa. Have a nice dream."


Clara mengangkat kedua jempolnya kearah Cassie sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


"Sipp!" ucap Clara.


CKLEKKK!


Clara langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya saat ia sampai di kamarnya. Baru saja ia akan mengambil selimut, ponselnya berdering. Ada pesan dari nomor yang tak dikenal yang tertera disana.


+*62838057xxxx**x*


Hello, how are you, Ra?


Clara mengernyit bingung. Ia pun membalas pesan itu.


^^^Me^^^


^^^Sorry, Who are you???^^^


+62838057xxxxx


Pria bertopi.. 😎


DEG DEG DEG DEG!!


"Pri..pria bertopi.. Jangan - jangan..dia.."


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2