Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
42. Aku Yang Kau Cari


__ADS_3

“Den,” panggil Max pelan.


Hayden yang berada di depannya menoleh. Saat ini mereka berdua sedang menunggu Mario dan Jonathan memesan makanan di kantin.


“Kenapa? Ada yang sakit?” tanya Hayden khawatir.


Max menggelengkan kepalanya pelan. Ia menatap Hayden lekat.


“Surat-surat buat Clara sudah kamu berikan, kan?”


Hayden mendesah pelan. Sungguh ia ingin sekali memarahi Max, tapi ia mencoba menahannya karena ia tahu Max sedang tidak dalam kondisi yang baik menurutnya. Entah kenapa ia merasa seperti itu? Yang ia tahu setelah pulang dari rumah sakit meskipun dokter bilang kondisi Max sudah baik-baik saja, tapi ia merasa Max berbeda. Max tak seperti biasanya dan semuanya juga merasakan hal yang sama. Apalagi mereka ingat saat dokter mengatakan agar Max bisa lebih mengurangi aktivitasnya.


“Sudah. Sesuai yang kau inginkan,” jawabnya datar.


“Terima kasih, Den. Kau memang sahabat terbaikku,” ucap Max.


Hayden menatap Max lekat.


“Sudahi semua ini Max. Aku takut kondisimu memburuk gara-gara semua ini. Aku, Jonathan, Mario dan juga orang tuamu sangat panik melihat kau kemarin sampai collaps lagi padahal kau baru saja dirawat di rumah sakit. Bahkan ... kau ....”


Hayden tak meneruskan ucapannya. Ia menunduk dengan tangan yang saling bertaut. Ia terlalu takut mengatakannya. Sungguh melihat Max seperti kemarin dalam waktu yang amat sering membuatnya tak tenang.


“Maaf ... maafkan aku membuat kalian panik kemarin.”


Max menghembuskan napasnya pelan, menjeda sejenak ucapannya.


“Aku memang berniat untuk menyudahi ini semua, Den.”


Hayden mendongak menatap Max yang kini tersenyum ke arahnya.


“Maksudmu? Apa kau akan berhenti mengirim surat untuknya?” tanya Hayden penuh selidik.


Max mengangguk pelan lalu arah matanya menatap ke sekitar kantin sambil mencari seseorang yang kini sedang dibicarakan. Hingga matanya berhenti saat ia menemukan orang yang dia cari.


“Aku akan berhenti mengiriminya surat. Aku akan menyudahi semuanya. Aku akan ....”


“Berterus terang padanya. Aku akan mengatakan siapa aku sebenarnya dan kenapa aku melakukan ini semua padanya? Aku akan mengatakan itu, Den.”


Hayden membelalakkan kedua matanya kaget.


“Apa?!”


...****...


“Na, kamu yang mengantar buku-buku Fisika tadi, kan?” tanya Amira.


Mariana menganggukkan kepalanya pelan.


“Iya, memangnya kenapa, Ra?” tanyanya.


“Pak Yudha menyuruhmu datang ke kantor katanya.”


Mariana menganggukkan kepalanya. Lalu berdiri dari duduknya padahal makanan yang ia pesan saja belum datang.


“Ya sudah, aku ke kantor guru dulu sebentar, nanti aku kembali lagi.”

__ADS_1


Teman-temannya mengangguk mengerti.


Mariana lalu berjalan santai melewati koridor sekolah yang cukup panjang menuju kantor guru. Koridor sekolah saat ini cukup sepi karena banyak siswa yang lebih memilih untuk ke kantin, taman atau lapangan sekolah, tapi dia tidak menyadari jika ada tali panjang yang terikat pada tiang. Tali itu membentang di bawahnya. Hingga saat Mariana lewat, ia pun jatuh.


BRUKK!


“Aww!”


Mariana meringis lalu berusaha duduk. Lututnya kini mengeluarkan darah. Tidak banyak, tapi cukup menyakitkan.


“Ini ...”


Ia melihat ada tali yang membentang. Itulah yang membuatnya jatuh.


“Siapa yang melakukan ini? Ini, kan sangat berbahaya,” ucapnya sambil sesekali meringis ngilu.


“Eh?”


Ia melihat ada seseorang yang berdiri di hadapannya. Ia melihat dari kaki hingga ke atas. Seketika wajahnya yang sedari tadi meringis kesakitan berubah menjadi tatapan yang penuh amarah.


“Kau?! Jadi kau yang melakukan ini!”


Silvana tersenyum miring lalu tertawa.


“Sakit, kan? Ini belum seberapa. Ini hanya awal permulaan sebagai salam perkenalan dariku, wanita yang mencintai Max. Jika kau masih saja ingin merebut Max dariku maka akan banyak kejadian yang membuatmu terluka, Na.”


Silvana menarik dagu Mariana kencang.


“Apa kau yakin masih mau menantangku, hah?!”


“Ya! Aku yakin! Dan harus kau ingat kalau Max itu bukan milikmu. Jadi tidak ada yang merebutnya darimu. Lagi pula kita juga tahu, kan kalau dia mencintai orang lain. Jadi kita ini sama. Sama-sama mendapatkan penolakan. Jadi lebih baik kita bertarung secara fair saja. Siapa yang akan mendapatkan hati Max? Aku, kau atau wanita itu?”


Mariana lalu beranjak berdiri dari duduknya dan berbelok menuju UKS. Sepertinya dia harus mengobati lukanya dulu, baru setelah itu dia pergi ke tujuan utamanya yaitu ke kantor guru.


Sementara itu Silvana mengepalkan tangannya hingga memutih.


“Berengsek kau Ana! Tidak akan kumaafkan! Akan kubuat hidupmu menderita!!” teriaknya marah.


Ia lalu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kelasnya. Namun, tiba-tiba suara seseorang terjatuh membuat ia menoleh ke belakang. Kedua matanya membola saat melihat guru bahasanya terjatuh. Ia tadi memang melarang teman-temannya dan juga murid-murid lain untuk melewati koridor ini dan berjalan di sampingnya.


“Gawat! Aku lupa melepas talinya!” batin Silvana panik.


“Silvana!!! Ini ulahmu, kan?!”


Silvana meneguk ludahnya kasar.


“Tamat riwayatmu Silvana,” gumamnya panik.


...****...


Hayden menarik tangan Max pelan saat Max berdiri dari duduknya.


“Mau ke mana? Jangan ke mana-mana, Max. Duduklah, kau tidak boleh terlalu banyak bergerak, Max. Nanti kau lelah. Tunggulah, sebentar lagi pesanan kita akan datang.”


Max tersenyum.

__ADS_1


“Hanya sebentar. Kumohon. Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu yang kupunya, Den. Aku tidak tahu kapan aku punya kesempatan lagi. Ingatan ini pun ....”


Max menjeda ucapannya lalu menunjuk pada kepalanya.


“Bisa saja hilang kembali, kan? Ingatanku bisa kembali, tapi bisa saja hilang jika aku tidak kuat menahannya. Jadi saat aku masih sanggup, tidak ada salahnya jika aku segera mengatakan padanya, kan?”


Hayden terdiam.


“Aku ke sana dulu ya, Den.”


Hayden memandang punggung Max yang kini menjauh menuju dua siswi yang sedang menikmati makanannya.


“Eh?”


Clara dan Cassie mendongak kaget saat Max berada di hadapan mereka.


“Hey, boleh aku duduk di sini?” sapa Max sambil tersenyum.


Clara dan Cassie mengangguk lalu menoleh ke arah lain di mana ada Hayden yang duduk sambil menatap Max dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Ekhm!


Cassie berdehem, mengurangi kecanggungan yang ada.


“Bagaimana kabarmu, Max? Kau sudah sembuh ya? Maaf, kami tidak bisa menjenguk. Kau tahu sendiri, kan Kakak dan teman-temanmu tidak menyukai kami. Jadi kami tidak bisa datang.”


Clara menyikut lengan Cassie pelan.


“Jangan bicara yang tidak-tidak, Cassie,” tegur Clara berbisik.


Cassie menganggukkan kepalanya pelan.


“Iya, sorry.”


Max terkekeh pelan melihatnya.


“Dari dulu kalian tidak berubah, ya? Masih saja lucu.”


Clara dan Cassie menatap Max penuh tanya.


“Apa kamu masih ingat cara bermain badminton, Ra?” tanya Max sambil tersenyum manis pada Clara.


DEG DEG! DEG DEG!


Jantung Clara berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Kedua matanya tak lepas dari Max. Pikirannya kini terasa kosong. Antara yakin dan tidak dengan apa yang dia dengar. Cassie juga diam. Ia juga masih tak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut Max.


“Kenapa kalian memandangku seperti itu? Seperti melihat setan saja. Baiklah, apa kita harus memulai ulang perkenalannya. Oke. Kita kenalan lagi ya. Hallo, Aku M, senang bisa bertemu kalian lagi.”


Clara dan Cassie membulatkan kedua matanya kaget.


“M!!!” teriak Clara dan Cassie serempak.


...BERSAMBUNG ....


...

__ADS_1


__ADS_2