
"Tunggu. Jangan turun dulu Max. Kak Rio bukakan pintunya ya." sergah Mario sambil melepas sabuk pengamannya.
Tiba-tiba Max memegang tangan Mario.
"Tidak perlu kak. Biar Max saja." ucap Max sambil tersenyum.
"Baiklah tapi..tunggu kau terlihat pucat. Ada yang kau rasakan? Ada yang sakit kan?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Mario. Baru saja Max akan menjawabnya, Mario sudah memberondonginya dengan pertanyaan kembali.
"Kau sakit kan? Kenapa tak bilang pada kakak? Seharusnya kau menurut tadi. Kakak kan sudah bilang, agar kau jangan sekolah hari ini, Max."
Max tersenyum sendu.
"Aku baik-baik saja kak. Aku ini kan memang sakit, apa kakak lupa? Dan mengenai wajahku yang pucat itupun juga sudah biasa, kak." jawab Max sambil tersenyum.
Mario menggelengkan kepalanya cepat.
"Bu..bukan seperti itu. Maksudku.." belum selesai Mario berbicara Max sudah memotongnya.
Max terkekeh.
"Aku tahu. Aku mengerti apa maksud kak Rio. Kakak tenang saja, aku baik-baik saja. Oke." ucap Max lalu segera keluar dari mobil setelah sebelumnya ia melepaskan sabuk pengamannya.
"Apa yang terjadi? Kenapa seperti ada sesuatu yang kau sembunyikan Max? Ada apa denganmu?" gumam Mario pelan dan segera turun menyusul adik kembarnya.
Max dan Mario mengernyitkan dahinya bingung saat mereka sudah sampai di depan kelas, mereka tiba-tiba mendapat tatapan tajam dari Hayden dan Jonathan.
"Kenapa? Tatapan macam apa itu?" tanya Max bingung.
"Ini masih pagi. Jangan macam-macam atau mau kucongkel mata kalian,hah?" kesal Mario.
"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Jonathan tidak menggubris pertanyaan yang keluar dari mulut Max dan Mario.
Max dan Mario saling menatap satu sama lain lalu mengangguk bersamaan.
"Kau baik-baik saja kan Max?" tanya Hayden khawatir.
Max mengangguk dan segera menghampiri tempat duduknya.
"Kalian aneh sekali? Salah makan ya? Atau salah minum obat?" canda Max setelah ia duduk di kursinya.
"Heh bayi, kami ini meng.." ucapan Jonathan terpotong saat bel masuk berbunyi.
Max terkekeh saat ucapan Jonathan terpaksa berhenti.
"Mulutnya tolong di lem dulu. Ingat ada ulangan bahasa Indonesia sekarang. Kau tahukan Bu Sastra terkenal killer. " ucap Max menginstrupsi.
Mario menggelengkan kepalanya saat adiknya mengatakan yang tidak-tidak tentang guru mereka.
"Saras Max, bukan Sastra dan jangan menyebut beliau guru killer." peringat Mario.
"Hehe maaf kak. Iya bu Saras. Saras kosong-kosong delapan kan? Film jaman dulu yang ada di youtube itu kan?" ucap Max sambil menaik-turunkan alisnya.
Mario menghembuskan nafasnya kasar sedangkan Jonathan, ia sudah tertawa terbahak-bahak.
BRAKKK!!
Suara keras yang tiba-tiba membuat Jonathan tersedak sedangkan Max yang sedang bersandar pada tembok langsung mengusap dadanya pelan dan memperbaiki posisi duduknya menghadap kedepan. Sebenarnya bukan hanya Max dan Jonathan yang terkejut tapi semua muridpun sama terkejutnya dengan Max. Ternyata yang menggebrak meja adalah guru bahasa Indonesia mereka yang bernama Bu Saras.
"Kenapa kelas kalian gaduh, hah?! Bukankah di sekolah ini harus menjunjung tinggi kedisiplinan kan? Kenapa sikap kalian tidak mencerminkan semua itu?!" marah Bu Saras membuat suasana kelas hening seketika. Tak ada yang berani macam-macam dengan Bu Saras, jika mereka tidak mau mendapatkan masalah.
"Budi bagikan soal-soalnya." perintah Saras.
Siswa bernama Budi itupun segera mengambil kertas berisi soal-soal dan membagikannya kepada semua murid di kelasnya.
"Hhh..soalnya susah sekali.." keluh Jonathan.
"Soalnya mudah sekali.." ucap Max santai. Membuat Mario, Hayden dan Jonathan menatapnya.
"Jawabannya yang susah.." lanjut Max sambil terkikik. Membuat ketiganya mendengus mendengarnya. Meskipun kenyataannya mereka juga tahu Max pasti bisa mengerjakannya. Max memang selalu bilang soalnya itu susah tapi nilai Max selalu saja lebih baik dibanding mereka.
"Bagi jawaban ya?" bisik Jonathan yang duduk di belakang Max.
"Siap. Jika aman." jawab Max santai.
Mario dan Hayden menatap Jonathan tajam.
"Halahhh.. seperti kalian tidak saja. Jika darurat, kalian juga akan melakukan hal yang sama sepertiku,kan?" ejek Jonathan pada Mario dan Hayden.
__ADS_1
Mario dan Hayden hanya mendelik tajam tak ingin membahasnya lebih jauh. Merekapun segera mengerjakan soal-soal bahasa Indonesia dengan khidmat tapi semua itu tak berlangsung lama saat guru bahasa Indonesia mereka ijin keluar sebentar, kegaduhanpun terjadi kembali.
"Max nomor tujuh belas apa?" teriak Ari yang duduk dibelakang.
Max tidak menoleh hanya mengangkat dua jarinya ke atas.
"Nomor dua puluh Max?" teriak yang lain.
Max mengangkat empat jarinya.
Mario dan Hayden ingin sekali melempar orang-orang itu dengan sepatu karena terus menerus meminta jawaban pada Max. Sedangkan Max, ia tidak terlihat terganggu sama sekali dan tetap mengerjakan soalnya dengan tenang.
"Sesama pencari jangan marah." gumam Jonathan.
"Maksudmu?" tanya Hayden.
"Sama-sama pencari contekan..hehe." ucap Jonathan. Hayden mendengus mendengarnya.
Hayden dan Mario memang kadang-kadang juga akan ikut menyontek pada Max tapi tak sesering yang dilakukan oleh Jonathan dan beberapa teman sekelasnya. Mereka berdua hanya akan melakukannya jika mereka benar - benar sudah tak tahu jawabannya saja dalam artian hanya dalam keadaan darurat saja. Sedangkan Max jika dalam keadaan darurat ia akan memilih menghitung kancing atau jari tangannya saja jika itu soal pilihan ganda jika bukan pilihan ganda maka ia akan menjawab sebisanya saja.
Tak lama kemudian Bu Saras kembali masuk ke dalam kelas, suasana kelaspun kembali hening seketika.
"Baik kumpulkan semuanya di depan. Budi ambil semua soal ulangannya dan Sisi ambil semua lembar jawabannya."
Hampir semua murid membelalakan matanya lebar. Kebanyakan dari mereka belum selesai menjawab semua pertanyaannya.
"Yahh Bu..Kami belum selesai.." keluh beberapa murid.
"Jangan mengeluh! Cepat kumpulkan!"
"Budi! Sisi!" perintah Bu Saras.
"Ba..baik bu." jawab Budi dan Sisi serempak.
Setelah semua dikumpulkan. Bu Saraspun segera keluar ruangan. Jam pelajaranpun terus berganti hingga bel jam istirahatpun berbunyi.
Semua murid bersorak gembira.
"Hhh.. lelahnya.." keluh Jonathan.
"Diam muka datar. Aku tidak berbicara padamu!" kesal Jonathan.
"Shhhss.." ringis Max pelan saat kepalanya terasa sakit kembali.
Mario, Jonathan dan Hayden langsung menoleh kearah Max.
"Max, kau kenapa?!" panik mereka bertiga.
Max menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Aku ke toilet dulu ya." ucap Max.
"Kak Rio antar ya?" tawar Mario.
"Denganku saja. Aku juga mau ke toilet." ucap Jonathan lalu menarik tangan Max.
Setelah Max dan Jonathan pergi. Hayden menatap Mario lekat. Mario menatap Hayden bingung.
"Ada apa?" bingung Mario.
"Apa yang terjadi kemarin? Kenapa kau tak membalas pesan dariku? Apa saja yang sudah kau katakan pada Max? Kau marah-marah padanya kan?"
Mario menunduk.
"Itu.." Mario menggantungkan ucapannya.
****
"Max.." panggil Jonathan yang kini berada di belakang Max.
"Hmm.." Max hanya menjawabnya dengan deheman.
"Kau baik-baik saja kan? Mario tidak marah-marah padamu kan?" tanya Jonathan dengan raut wajah khawatir.
Max tersenyum.
"Aku baik-baik saja. Semua baik-baik saja. Ayo cepat, jangan banyak bicara, aku sudah tidak tahan." ucap Max cepat.
__ADS_1
Max dan Jonathanpun segera pergi ke toilet.
CKLEKK!
Setelah selesai Max langsung keluar. Sedangkan Jonathan masih ada didalam.
"Hhh..leganya..Eh? Itu Clara kan?"
Max tiba-tiba melihat Clara yang juga baru keluar dari toilet.
"Claraaa!" panggil Max.
Clara menoleh. Max menghampiri Clara.
"Wah kita bertemu lagi ya. Apa kita berjodoh? Wah bagus sekali untuk dijadikan judul FTV."
"Hah?" bingung Clara.
"Iya judul FTV. Judulnya, ada cinta di depan toilet. Wahhh bagus kan." ucap Max senang sambil bertepuk tangan.
Clara menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pemikiran Max.
"Hhhh..Ada-ada saja kau ini,Max." ucap Clara pelan.
"Teman tomboymu mana?" tanya Max sambil nenengok ke kanan dan ke kiri.
"Namanya Cassie, Max." jawab Clara.
"Iya itu." ucap Max tak peduli.
"Dia ada di.." belum selesai Clara berbicara tiba-tiba ada suara cukup keras dari halaman belakang sekolah.
Max langsung berlari kearah suara berasal.
"Eh? Max tunggu aku!"
Clara ikut berlari menyusul Max. Sesampainya disana mereka melihat ada seorang siswa yang sedang dikerumuni tiga orang siswa bertubuh tegap. Tiga orang itu sepertinya adalah kakak kelas mereka.
"Ampun kak. Jangan sakiti aku. Aku minta maaf. Sisa uangku memang hanya tinggal itu." ucap siswa yang sedang dikerumuni itu.
"Ya sudah sana kau pergi." ucap kakak kelas bertubuh tegap yang memakai plester di dahinya.
"Te..terima kasih kak." siswa itu segera pergi dari sana tapi baru saja dia melangkah pergi kakinya tersandung salah satu kaki kakak kelasnya.
"Waaa." teriak siswa tadi dan hampir saja ia terjatuh jika Max tidak segera datang menolongnya.
"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Max sambil memegang pundak siswa itu.
Siswa itu mengangguk berkali-kali. Clara juga ikut menghampiri mereka. Sementara Max menatap tajam kearah tiga orang siswa itu.
"Kau sengaja kan?" tanya Max sambil menatap tajam kearah kakak kelas itu.
"Kalau iya, memangnya kenapa? Anak kecil jangan ikut campur!"
Max mendorong bahu kakak kelas tadi.
Orang itu menatap tajam kedua mata Max tapi Max tidak peduli.
"Apa yang kau lakukan itu bisa membahayakan orang lain?! Dan kalian semua seharusnya bisa menjadi contoh yang baik untuk adik kelasnya, bukannya bertingkah semena-mena seperti ini!"
Clara menarik lengan Max.
"Sudah Max, sudah hentikan. Jangan bertindak gegabah seperti ini." peringat Clara. Clara tidak mau terjadi apa-apa pada Max.
"Dasar pahlawan kesiangan." ucap kakak kelas yang tadi menjegal kaki siswa tadi.
Salah satu kakak kelas yang memakai plester itu menghampiri Max.
"Jadi kau benar-benar Max ya? Hmm.. pantas aku merasa pernah melihatmu." ucap kakak kelas yang memakai plester di dahinya.
Max mengernyitkan dahinya bingung.
"Senang bertemu denganmu lagi Max. Aku sangat menunggu moment ini datang." ucap lelaki itu dengan senyum miringnya.
"Hah?"
BERSAMBUNG..
__ADS_1