Amnesia Of Love

Amnesia Of Love
31. Rebut dan Ribut


__ADS_3

"Silvana / Kau?" ucap Max dan Clara bersamaan.


Clara saling menoleh pada Max.


"Silvana? Kau mengenalnya?" tanya Clara pada Max. Max menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian James, Alvin dan Benua muncul di belakang Silvana.


"Kalian juga datang?" tanya Max sambil tersenyum senang. James dan Alvin mengangguk sambil tersenyum. Jarang-jarang Max kedatangan teman-temannya bila ia dirawat di rumah sakit karena biasanya Mario selalu melarang teman-temannya datang menjenguk dengan alasan takut Max terganggu.


"Iya kami datang membawa oleh-oleh untukmuuuu. Lihat banyak kan???" girang Benua sambil memperlihatkan apa saja yang ia dan teman-temannya bawa. Max terkekeh senang.


"Kami membawa oleh-oleh yang berbeda-beda untukmu, jika ada yang tidak boleh kau makan saat sakit, bisa kau makan jika sudah sehat." sahut James.


"Jangan lupa buah-buahannya dimakan ya Max agar kau cepat sembuh." ucap Alvin menimpali.


Max mengangguk sambil tersenyum.


"Terima kasih.."


Mereka bertiga mengangguk.


"Oh ya ngomong-ngomong kalian ini sudah saling kenal ya?" tanya Alvin penasaran. Max mengangguk.


"Iya, Sisil bilang dia teman sekelasku waktu SMP. " jawab Max.


Clara, James dan Alvin mengerutkan dahinya. Sedikit bingung dengan kata-kata yang diucapkan Max.


"Apa maksud Max sebenarnya? Kenapa dia seolah-olah tidak tahu apa-apa dan lebih kearah percaya saja pada Silvana?" batin James bingung.


"Kenapa terdengar aneh sekali menurutku?" batin Clara.


"Tunggu sebentar.. dia bilang dia teman sekelasmu waktu SMP, tapi itu kata dia kan? Memangnya kau tidak ingat sama sekali tentang Silvana, Max?" tanya Alvin.


Max terdiam ia melirik kearah Silvana lalu kembali menatap kearah Alvin lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak ingat.. a..ku tidak tahu.." ucap Max pelan.


"Ckk!! Kenapa harus membahas yang tak penting seperti itu? Dari pada hal itu, menurutku ada yang lebih penting." decak Silvana. Yang lain menatapnya bingung.


"Kalian berdua?" tunjuk Silvana pada Max dan Clara. Clara dan Max mengernyitkan dahinya bingung. Silvana berdecak kesal kemudian segera menghampiri Max dan Clara lalu melepaskan tautan tangan Max dan Clara. Max dan Clara kaget dengan gerakan Silvana yang tiba-tiba. Ya mereka berdua tanpa sadar memang masih berpegangan tangan.


"Lepaskan tangan kotormu PEREMPUAN MURAHAN!" bentak Silvana dengan menekankan kata pada kata perempuan murahan. Kedua mata dan mulut Clara membola, terlalu terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Silvana.


"Jaga ucapanmu! Clara itu perempuan baik-baik." sanggah Max yang tak terima Clara dihina.


"Kenapa kau membelanya Max? Apanya yang baik? Dia sudah memegang tanganmu!"


Max menggelengkan kepalanya.


"Bukan Clara tapi aku yang memegang tangannya. Aku tidak suka dengan ucapanmu barusan, cepat minta maaf atau kita tidak usah berteman lagi!" ancam Max.

__ADS_1


"Apa?! Kau.. Kau menyuruhku minta maaf padanya! Dia yang salah bukan aku, Max!" elak Silvana.


"Kau yang sudah menghina Clara tentu saja kau yang salah, Sil!"


Max tak habis pikir dengan pemikiran Silvana.


"Sudahlah Max, aku tidak apa-apa. Dia tidak perlu meminta maaf padaku." ujar Clara menenangkan Max.


"Tidak bisa Clara, dia harus minta maaf. Dia sudah sangat keterlaluan padamu." ucap Max sambil menoleh kearah Clara.


Silvana mengepalkan tangannya erat. Pemandangan didepannya benar-benar menyakitinya. Ia pun maju dan menampar Clara.


PLAKKK!


Clara membulatkan mulutnya terkejut dengan tindakan yang telah dilakukan Silvana. Rasa panas menjalar ke pipinya. Tamparan yang dilayangkan oleh Silvana memang tak main-main. Clara mengusap pipinya pelan-pelan.


"APA YANG KAU LAKUKAN!! KAU SUDAH GILA, HAH!" marah Max. Emosinya sudah tak dapat dibendung lagi. Ia langsung bangun dari ranjangnya. James, Alvin dan Benua sigap menghampiri Max, Silvana dan Clara. Mereka khawatir akan terjadi keributan.


"Clara kau tidak apa-apa?"


Benua menghampiri Clara yang masih memegang pipi kirinya yang kini memerah. Clara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"YA AKU GILA! AKU GILA KARENAMU, MAX!!!" teriak Silvana sambil menangis histeris.


Max terdiam begitu juga dengan yang lain. Mereka semua kaget dengan ungkapan isi hati Silvana yang keluar begitu saja.


"Aku gila karenamu..hikshiks. Aku menyukaimu sejak kita masih SMP. Kau pintar dan baik. Kau selalu menolongku. Kau selalu memberi perhatian padaku. Kau selalu menghiburku disaat aku sedih. Disaat aku butuh seseorang kau selalu ada, itu yang membuatku menyukaimu. Aku suka padamu Max..Aku mencintaimu..tapi..dengan kurang ajarnya perempuan ini masuk dikehidupan kita dan merebutmu dariku! Aku tidak terima! Aku tidak terima Max!" marah Silvana.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu? Kau salah paham. Aku tidak pernah merebut siapapun darimu." jelas Clara bingung dengan apa yang dituduhkan Silvana padanya.


"Diam kau perempuan licik!" marah Silvana lalu segera menerjang dan menjambak rambut Clara.


"Argh!! Apa yang kau lakukan!! Lepas!!" berontak Clara dan ikut menjambak rambut Silvana. James segera menahan tangan Clara begitu juga Alvin yang mencoba menahan tubuh Silvana, sementara Benua berada di tengah-tengah berusaha memisahkan mereka berdua.


"Lepaskan aku!! Akan ku hajar kau perempuan penggoda!" berontak Silvana.


Silvana terus menjambak rambut Clara kencang, Clarapun tak mau kalah ia juga menjambak rambut Silvana. Benua, James dan Alvin sudah kewalahan menangani mereka berdua. Mereka terus berkelahi sampai mereka tak menyadari jika di belakang mereka Max kini sedang kesakitan dan berusaha untuk tetap mempertahankan kesadarannya.


"Sil hentikan! Ini rumah sakit!" teriak Benua berusaha merelai Silvana dan Clara tapi naas Benua justru mendapat cakaran dari Silvana yang tepat mengenai tangannya.


"Awww!! Sakitttt!!!" teriak Benua dan melompat ke pinggir. Ia meringis kesakitan. Sungguh tangannya sekarang terasa sangat perih. James yang melihat Sivana semakin brutal lalu ikut menahan tubuh Silvana bersama dengan Alvin.


CKLEKK!!


"APA YANG KALIAN LAKUKAN!!" teriak Mario kaget melihat kekacauan yang ada di kamar rawat adiknya.


Semua menoleh kearah Mario yang baru saja datang kecuali Silvana justru ia tersenyum miring, ini kesempatan baginya untuk menyakiti Clara karena semua sedang lengah saat ini. Iapun berontak dan berhasil melepaskan diri dari cengkraman James dan Alvin lalu dengan cepat mendorong Clara kencang.


"CLARAA!!!" teriak semua orang kaget.

__ADS_1


Diambang batas kesadarannya Max yang melihat Clara hampir jatuh dan membentur meja, langsung berlari menangkap tubuh Clara.


PRANGG!!!


Gelas yang berada diatas nakaspun pecah berkeping-keping bersamaan dengan tubuh Max yang juga ikut jatuh sambil mendekap Clara. Naas bagi Max karena ia jatuh dengan kepala belakang yang membentur sisi meja dengan kencang.


"MAX!!!!"


Mario langsung berlari kearah Max dan Clara. Mario langsung memangku tubuh lemas Max yang kini sudah tak sadarkan diri.


"Da..rah.."


Mario tergagap. Ia benar-benar terkejut melihat kepala belakang Max yang terluka dan mengeluarkan darah.


"Max.." Clara berusaha bangun dan duduk. Ia menutup mulutnya kaget bersamaan dengan air matanya yang mengalir lalu mengguncang-guncangkan tubuh Max.


"MAXX!!! BANGUN MAXX!!" teriak Clara.


"YAKK!! CEPAT PANGGIL BANTUAN!!" teriak Mario histeris.


Alvin segera menekan tombol darurat. Sedangkan James sudah pergi keluar berteriak mencari bantuan.


"Max bangun Max. Jangan tutup matamu Max. Kakak mohon Max. hikshiks.. Max Dek, bangun. Kakak mohon. Jangan tinggalkan kakak Max..hikshiks." racau Mario sambil terisak.


...ΩΩΩΩ...


"Clara!!" panggil Cassie.


Ia baru saja datang dan terkejut melihat banyak orang di depan kamar rawat Max. Clara menoleh pada Cassie. Cassie langsung menghampiri Clara dan membawa Clara dalam pelukkannya. Clara terisak dalam dekapan Cassie.


"Tenangkan dirimu. Tenang, semua akan baik-baik saja. Max pasti baik-baik saja." ucap Cassie berusaha memberikan kata-kata penenang untuk Clara.


Ia memang tidak tahu pasti dengan apa yang sudah terjadi tapi ia tahu bahwa telah terjadi sesuatu pada Max. Cassie terkejut, ia tak sengaja melihat tangan Clara yang mengeluarkan darah. Sepertinya tangan Clara tergores pecahan gelas tadi.


"Ya ampun Clara! Tanganmu berdarah!" panik Cassie.


James, Alvin dan Benua menoleh cepat pada Clara dan Cassie.


"Sebaiknya tanganmu segera diobati Clara, kau juga Ben." saran Alvin.


Clara tak menjawab ia terus saja terisak sedangkan Benua hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sementara itu Mario terus merapalkan doa-doa agar Max selamat. Ia tak mau kehilangan adik kembarnya. Begitu juga dengan Silvana ia terus berdoa agar Max baik-baik saja. Ia benar-benar menyesal sudah mencelakai Max.


"Maafkan aku Max. Maaf. Aku tidak bermaksud melukaimu. Kau harus selamat. Harus! Kau harus baik-baik saja Max!" monolog Silvana dalam hati.


Silvana lalu menoleh kearah Clara yang masih menangis dalam dekapan Cassie. Ia menatap Clara tajam.


"Seharusnya kau yang terluka bukan Max! Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Max! Tunggu pembalasanku Clara!" batin Silvana.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2