
Max duduk bersandar pada tembok sambil mendengarkan sang Kakak sekaligus teman sebangkunya, mengobrol bersama Jonathan dan juga Hayden yang kini duduk di depan meja mereka setelah menarik kursi mereka ke sana.
“Bel istirahatnya kapan, sih? Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Clara,” batinnya.
“Max.”
Max menoleh, begitu juga dengan Mario, Hayden dan Jonathan.
“Kenapa, Na?” tanya Max setelah mengingat nama teman sekelasnya ini.
Mariana tersenyum senang. Max mengingat namanya saja sudah membuatnya senang apalagi jika mereka bisa berpacaran.
“Ini untukmu.”
Mariana memberikan kotak bekal pada Max.
“Ini aku yang buat sendiri. Aku tanya pada Om Abdi apa saja yang boleh kamu makan, jadi aku buatkan sandwich isi dengan daging tanpa lemak untukmu,” ucap Mariana.
“Tanpa lemak dia bilang? Pasti tidak enak. Dasar Om dokter!” batin Max menggerutu.
Mario berdiri dari duduknya.
“Mau ke mana, Kak?” bingung Max.
“Ke toilet,” jawab Mario singkat lalu segera pergi dari sana.
Max menatap bingung Mario.
“Kak Rio kenapa?” batin Max.
“Ayo, ambil Max. Ini enak, kok.”
Max menoleh ke arah Mariana lalu mengambil kotak bekal itu.
“Terima kasih. Ini pasti enak,” ucap Max sambil melihat isinya. Terdapat beberapa sandwich di sana.
“Kak Rio dan teman-temanku boleh memakannya juga, kan?” tanya Max.
“Tentu saja. Kami juga harus dibagi. Lagi pula ini, kan sudah milikmu Max, jadi terserahmu mau diapakan,” celetuk Jonathan.
PLETAKK!
“Yak! Kenapa kau memukulku?!” marah Jonathan sambil mengusap kepalanya. Sedangkan pelaku pemukulannya yang tak lain adalah Hayden tidak peduli sama sekali.
“Iya, Max tentu saja kau boleh membaginya dengan yang lain,” ucap Mariana.
“Terima kasih, Na. Pasti akan kami makan,” kata Max sambil tersenyum.
Mariana balas tersenyum senang.
“Melihatmu tersenyum padaku, sudah membuatku senang, Max,” batin Mariana.
Bel pun berbunyi. Mariana pamit untuk pergi ke kantin. Sementara Max dan yang lain masih menunggu Mario. Sedangkan Mario masih berdiam diri di toilet.
“Apa Ana menyukai Max? Kenapa? Kenapa harus pada Max? Kenapa bukan padaku?” gumam Mario.
“Padahal aku yang menyukainya, tapi dia tidak pernah melirikku bahkan menganggapku ada saja sepertinya tidak,” lanjutnya.
“Apa yang membuat dia lebih menyukai Max? Apa kurangnya aku? Aku, kan le ....”
Mario menghentikan ucapannya. Ia lalu menggelengkan kepalanya ribut.
“Tidak tidak tidak! Apa yang sudah kupikirkan?! Aku benar-benar sudah gila! Aku harus segera kembali ke kelas.”
Mario pun segera beranjak pergi dari sana menuju kelasnya.
“Kak Rio!” panggil Max saat ia melihat Mario memasuki kelas mereka.
Mario melihat ke arah Max. Ia menghembuskan napasnya pelan lalu segera menghampiri Max dan yang lainnya.
“Kok, masih di sini? Kenapa belum ke kantin?” tanya Mario sambil tersenyum lalu mengusap kepala Max pelan.
“Kita, kan menunggu Kak Rio,” jawab Max.
“Mana mau si bayi besar pergi tanpamu, Yo,” sahut Jonathan.
Max mendelik tak suka pada Jonathan karena Jonathan yang selalu memanggilnya dengan sebutan bayi besar. Mario tersenyum. Namun, senyumnya luntur saat melihat Hayden menatapnya datar.
“Hayden kenapa?” batin Mario.
“Ya, sudah. Ayo, kita ke kantin,” ajak Jonathan.
Mereka semua akhirnya pergi ke kantin bersama. Mereka memilih tempat duduk di pojok kantin. Max mengedarkan pandangannya. Berusaha mencari Clara. Namun, masih tidak ketemu.
“Jadi, siapa hari ini yang akan memesan makanan?” tanya Jonathan.
“Biar aku dan Mario saja yang memesan makanan,” tawar Hayden.
“Tumben kau menawarkan diri, Den. Biasanya juga kau menyuruhku,” kata Jonathan heran.
“Oh,” sahut Hayden datar dan menarik tangan
Mario agar mengikutinya dan segera pergi dari sana. Jonathan mendengus.
“Dasar muka datar. Jawabannya hanya oh saja, memangnya tidak bisa apa lebih diperpanjang. Heran, kok bisa ya aku punya teman seperti dia,” gerutu Jonathan.
Ia lalu menoleh pada Max yang menoleh ke sana ke mari.
“Ckk! Ini juga bocah satu, aneh sekali tingkahnya,” gumam Jonathan.
“Hey, bayi besar! Sedang apa kau, hah? Kau mencari apa?”
__ADS_1
Max melirik sekilas pada Jonathan. Ingin marah, tapi ini bukan saatnya karena yang jadi fokusnya saat ini adalah bertemu dengan Clara. Ya, itu tujuan utamanya hari ini.
“Wah, kau mencari masalah denganku, ya? Aku bertanya padamu dari tadi, kenapa tidak dijawab, hah?” kesal Jonathan sambil menarik tangan Max agar menghadap ke arahnya.
“Ish! Apa, sih, Jo?! Kau mengganggu. Aku sedang mencari seseorang, jangan ganggu!” sahut Max tak kalah kesal.
“Seseorang? Siapa?” tanya Jonathan.
“Ah, itu dia!” teriak Max girang.
Jonathan menoleh ke arah yang Max lihat.
“Clara?” batin Jonathan.
Baru saja Max akan menghampiri Clara, tapi tangan Jonathan sudah menahannya.
“Tidak boleh. Duduk. Jangan macam-macam, Max.”
Max menepis tangan Jonathan.
“Apa, sih, Jo? Sudah, kau di sini saja. Aku hanya mau bertemu Clara sebentar,” ucap Max.
“Ku bilang tidak boleh, Max!”
Jonathan menarik kencang tangan Max hingga Max jatuh terduduk kembali dan tak sengaja tangannya terantuk meja.
JDUKK!
“Aww!”
Jonathan terbelalak kaget.
“Eh?! Sorry, Max! Kamu tidak apa-apa, kan?!” panik Jonathan sambil menarik tangan Max dan meniup-niupkan pada tangan Max.
“Aku tidak apa-apa, Jo.”
Jonathan tidak peduli dengan ucapan Max.
“Makanya kalau disuruh pakai jaket ya pakai. Kalau pakai jaket, kan tangannya tidak akan merah seperti ini,” ucap Jonathan.
Max memutar bola matanya malas.
“Kan dia yang membuat tanganku terbentur, kenapa justru dia yang marah-marah,” batin Max.
“Sudah-sudah, aku tidak apa-apa, Jo. Tanganku hanya sedikit merah, jangan berlebihan. Kau tenang saja yang penting, kan bukan kepala atau dadaku yang terbentur. Sekarang kau duduk manis di sini. Aku mau menemui Clara sebentar, bye.”
Max berlari ke arah meja Clara.
“Yak! Max! Jangan lari!” teriak Jonathan, tapi Max tak peduli.
Sementara itu Mario yang mendengar Jonathan berteriak sontak menoleh. Ia baru akan berbalik. Namun, tangan Hayden menahannya.
“Bicara? Bicara apa?” tanya Mario bingung.
“Kita, kan di sini karena ingin memesan makanan, Den.”
Hayden menatap datar pada Mario.
“Tadi kau kenapa?” tanya Hayden tiba-tiba.
“Tadi? Memangnya aku kenapa?” tanya Mario balik.
“Kau cemburu, kan? Kau menyukai Mariana, kan?” tanya Hayden mengintimidasi.
Mario terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Siapa yang bilang? Aku tidak cemburu, kok. Sudahlah. Lupakan,” elak Mario.
“Jangan mengelak lagi,” kata Hayden.
“Tapi aku harap, kecemburuanmu itu tidak membutakan mata hatimu. Aku tidak mau masa lalu terulang kembali. Aku tidak suka jika kau marah pada Max hanya karena cemburu atau iri. Aku tidak suka. Kemarahanmu pada Max waktu itu saja, aku masih belum memaafkanmu sepenuhnya. Jadi, aku tidak mau melihat kejadian seperti tadi. Pergi begitu saja, untung saja Max tidak berpikir yang macam-macam, bagaimana kalau tidak? Kau tahu, kan akibatnya akan seperti apa?”
Mario terdiam menunduk.
“Sampai seperti itu Hayden pada Max. Benar kata Hayden. Dia lebih mengerti Max dibandingkan aku yang Kakak kembarnya,” batin Mario.
“Iya, maaf. Aku juga hanya sebentar, kan di toiletnya. Aku juga langsung sadar, kok kalau apa yang kulakukan tadi itu salah,” kata Mario.
“Baguslah, kalau kau langsung sadar,” sahut Hayden.
...**** ...
“Hey, Ra!” sapa Max dan Rudi bersamaan membuat Max dan Rudi menatap satu sama lain.
“Kok, bisa, sih?” batin Max dan Rudi.
Clara menoleh pada mereka berdua.
“Hey, Max. Hey Rudi. Ayo, duduk. Kalian belum dapat tempat duduk, ya?”
Max dan Rudi terdiam. Rudi lalu berdehem pelan.
“Iya, Ra. Aku belum dapat tempat duduk,” jawab Rudi bohong.
Padahal tadi ia dan beberapa teman lelaki di kelasnya sudah mendapatkan tempat, tapi tiba-tiba Rudi yang memisahkan diri karena ingin makan bersama dengan Clara.
“Oh, begitu. Ya, sudah, Di. Duduk di sini saja. Kursinya masih kosong, kok. Hanya aku dan Cassie saja yang duduk di sini,” sahut Clara.
Ia lalu menoleh pada Max.
“Kau juga ya Max? Ya, sudah duduk bersama saja di sini,” saran Clara.
__ADS_1
Max menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak. Aku dapat tempat duduk, kok. Itu di pojok.”
Max menunjuk pada kursi yang diisi oleh Jonathan. Clara mengangguk.
“Aku tadinya mau berbicara denganmu sebentar,” ucap Max.
Rudi mendengus.
“Jadi, ceritanya kau mengusirku?”
Max menoleh pada Rudi sambil tersenyum.
“Jangan baper. Aku tidak mengusirmu, Di. Duduk saja, di sini. Ayo, duduk.”
Max menarik Rudi agar ikut duduk di sampingnya. Rudi pun menurut.
“Cassie ke mana, Ra?” tanya Max.
“Dia sedang memesan makanan. Kemarin aku yang memesan, sekarang giliran dia yang memesan,” jawab Clara.
Max menganggukkan kepalanya pelan. Rudi menatap Max penuh selidik.
“Apa yang mau dikatakan si Max, ya? Jangan-jangan dia mau menyatakan cinta pada Clara. Ah, gawat!” batin Rudi.
“Oh, ya Max. Memangnya kau mau bicara apa denganku?” tanya Clara.
Max tersenyum.
“Aku i----“
“Ra, kamu nanti ada waktu, tidak? Kita jalan-jalan ke mall, yuk. Ajak Cassie juga sekalian,” potong Rudi.
Max dan Clara menoleh pada Rudi. Max hanya tersenyum sambil menghembuskan napasnya pelan.
“Sudah kuduga pasti respons Rudi akan seperti ini,” batin Max.
“Aku rasa hari ini tidak bisa, Di. Aku dan Cassie harus menjaga toko bunga. Hari Jumat, aku baru libur,” ucap Clara.
“Yahh ... tidak bisa ya,” lesu Rudi.
“Maaf ya, Di.”
Rudi menganggukkan kepalanya pelan.
“Max tadi kamu mau bicara apa?” tanya Clara lagi.
Max tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku senang bisa bertemu denganmu lagi. Sehat-sehat terus ya, Ra.”
Clara terdiam menatap lekat mata Max. Ia merasa seperti dejavu. Max lalu mengusap kepala Clara lembut.
“Aku ke tempat dudukku lagi, ya. Bye, Ra, Di.”
Max pun pamit dan pergi ke tempat duduknya menghampiri Jonathan yang menatapnya sengit, tapi Max tak peduli. Ia mendudukkan dirinya di samping Jonathan lalu membuka kotak bekal yang diberikan oleh Mariana tadi. Ia lalu mengambil sandwich-nya dan memakannya.
“Enak, kau mau, Jo?” tawar Max.
Jonathan mengambil paksa kotak bekal yang ada di depan Max kemudian mengambil sandwich-nya dan memakannya dengan masih menampakkan rasa kesalnya. Max terkekeh melihatnya.
“Jangan marah, nanti kau tersedak, loh.”
Jonathan mendengus lalu menelan sandwich-nya kasar.
“Diam, bayi besar! Aku sedang kesal padamu. Kau susah sekali diatur. Heran,” kesal Jonathan.
Max tersenyum lalu menarik tangan Jonathan dan bersandar di pundak Jonathan lalu memejamkan kedua matanya. Jonathan yang kesal kini berubah panik.
“Kenapa?! Ada yang sakit?! Minum obat, ya?! Atau kita ke UKS?!” panik Jonathan.
“Aku mengantuk dan lapar, Jo. Kak Rio dan Hayden lama sekali memesan makanan dan minumannya,” adu Max.
“Serius? Bukan karena sakit, kan?”
Jonathan mendorong kepala Max pelan. Ia lalu menatap wajah Max lekat. Max mengerucutkan bibirnya.
“Serius, Jojo!”
Max memukul lengan Jonathan cukup kencang.
“Loh, kok aku dipukul?” tanya Jonathan bingung.
“Terserah!” jawab Max ketus.
Jonathan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Kau benar-benar lapar, ya? Itu, kan ada sandwich. Kau juga sudah memakannya, kan. Makan lagi saja kalau lapar. Lagi pula ini enak, kok Max.”
Jonathan memakan sandwich-nya dengan lahap. Baru saja ia akan mengambilnya lagi, tapi tangan Max menghentikannya.
“Jangan dihabiskan, Jojo. Ini, kan juga untuk Kak Rio dan Hayden. Mereka belum mencobanya,” tegur Max.
Sementara itu tak jauh dari sana, Clara terdiam sembari menatap Max lekat.
“Max ... siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu memang M yang kucari?” batin Clara.
...BERSAMBUNG ....
...
__ADS_1