
" Apa." Pekik, Sena wanita itu langsung berlari masuk kedalam rumah pamannya, sebelum Adiknya itu, berbuat yang tidak-tidak dengan temannya. Walaupun hal itu belum tentu terjadi tapi sebagai kakak yang baik, Sena tidak ingin Della sampai salah langkah seperti dirinya.
"Del, Della, Della." Teriak Sena, suaranya menggema di setiap penjuru ruangan dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan, sebab wanita itu harus berlari menaiki tangga menuju kamar adik sepupunya.
Setibanya di depan pintu kamar Della, sena langsung mengetuk pintu kamar itu, dia masih berteriak memanggil-manggil nama sepupunya.
Tak lama, pintu kamar itu pun terbuka, Della dengan raut wajah bingungnya menatap sang kakak sepupu dari atas sampai ke bawah seraya bertanya. "Kak Sena ada apa, sih kak? Kenapa teriak-teriak."
" Mobil siapa di depan? cowok kamu ya? Del kakak tahu kamu udah besar, kamu udah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk tapi saat paman dan bibi tidak ada, kamu tidak boleh seperti ini." Wanita itu terus berbicara tanpa jeda. Namun sebisa mungkin dia berbicara baik-baik dengan adik sepupunya agar tidak terjadi salah paham di antara mereka berdua.
Sedangkan Della justru tersenyum sembari menggeleng kepalanya. " Astaga Kak, itu mobil temen aku dan dia itu bukan cowok." Sahut Della, Membuat Sena mengerutkan keningnya.
Dan Tentu saja Sena tidak akan percaya begitu saja dengan ucapan Della. "Del, jangan Bohong kamu sama kakak, kakak nggak suka ya." Tegas Sena.
" Ya Tuhan, kakak ku yang cantik dan baik hati! Della nggak bohong! Sini Della kenalin." Gadis itu langsung, menarik tangan kakaknya untuk masuk kedalam kamar." Indi, Kenalin kakak aku, Sena. Kak Sena kenalin ini Indi teman aku." Ucap wanita itu lagi, sembari memperkenalkan wanita yang berpenampilan layaknya seorang pria itu kepada Sena.
__ADS_1
Wanita yang di panggil Indi itu memiliki potongan rambut pendek, sangat pendek biasanya di bilang rambut cepak dan Ada Chester nya juga.
Belum lagi dia hanya mengunakan kaos hitam dan di lapisi kemeja kotak-kotak berwarna merah di padukan dengan Jeans sedikit kebesaran. Siapa yang akan percaya jika dia adalah seorang wanita, bersyukurnya dia memiliki sedikit gundukan di dada jika tidak, Entahlah. " Haah, syukurlah kakak tadi sempat takut banget." Tubuh Sena, sampai melorot ke lantai, saking khawatirnya dengan Della. Tapi wanita itu dapat bernafas lega, karena semua itu, hanya kekhawatiran saja.
" Kakak nggak perlu cemas, Aku udah melihat banyak rasa sakit di kakak. Dan aku tidak ingin merasakan hal itu. Sebab aku tidak sehebat kak Sena. Tapi bila suatu hari ada pria yang mengatakan cinta padaku, aku akan memintanya untuk menemui mama dan papa. " Ucapannya sembari memeluk Sena.
Della begitu sayang kepada Sena begitu pun sebaliknya, sehingga wanita itu bisa mengerti kekhawatiran kakaknya.
" Kakak belum kenalan sama teman aku, kenalan dulu yuk." Sena pun mengangguk kemudian mengulurkan tangannya kepada Indi, keduanya saling berjabat tangan kemudian menyebutkan nama satu sama lain.
" Dek! Kamu belok?" Tanya Sena tiba-tiba, Setelah melepaskan jabatan tangannya dengan Indi, membuat Kedua gadis itu kompak menepis pertanyaan Sena.
" Amit-amit, Jauhkan ya Tuhan, aku masih ingin merasakan benda tumpul itu lagi." Ucap Indi agak frontal, sembari mengetuk pelan kepalanya sendiri. Kemudian berjongkok mengetuk lantai.
" Amit-amit kah, jangan sampai." Sela Della, sembari menatap tak percaya kakaknya itu.
__ADS_1
Entah pikiran itu datang dari mana sampai dia bisa berpikir seperti itu. " Maaf, kakak nggak bermaksud apa-apa! Lagian selama inikan kamu nggak pernah dekat sama cowok, kok tiba-tiba bahwa teman perempuan kamu ke rumah, Udah gitu penampilannya kaya gini! Siapa yang nggak akan berpikir seperti itu. " Jelas Sena, membuat Della menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Kakak kan sudah sering dengar, Kalau aku nggak mau pacaran. Aku maunya langsung nikah, gimana sih." Kesel Della.
" Iya-iya kakak lupa! Maaf ya!" Sena meletakkan Kedua tangannya di telinga, sebagai bentuk pengakuan kalau dia salah dan mengharapkan maaf dari adiknya.
Melihat hal itu Della pun hanya tersenyum, seraya mengangguk kepalanya. Jika dia telah memaafkan kakaknya itu. " Ya udah kalian lanjut lagi, kakak mau ke kamar dulu." Pamit Sena. Wanita itu kemudian berbalik meninggalkan Della dan teman barunya itu, setelah mendapatkan Anggukan kepala lagi dari Della juga Indi.
Sena pun masuk ke dalam kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar Della, wanita itu merasa lega, karena kekhawatirannya tidak terjadi.
Begitu berada di dalam kamar, Sena langsung bergegas, masuk kedalam bathroom setelah meletakkan tasnya pada tempatnya.
Sena mengguyurkan tubuhnya, di bawah pancuran air shower dengan mata yang terpejam. Saat ini dia begitu merindukan mamanya! Dia ingin sekali bertemu dengan Ningsih. Tapi mengingat Daffa, membuat wanita itu mengurungkan keinginannya.
Karena dia tahu jika dia mengatakan hal itu pada mamanya, mamanya pasti akan langsung datang bersamaan Daffa, Sena masih belum ingin bertemu putranya itu. Sehingga setiap mamanya berencana untuk menemuinya, Sena selalu menolaknya dengan segala macam alasan. Dan Ningsih yang tahu betul alasan sebenarnya, Sena Hanya bisa mengiyakan. Karena tidak ingin anak ataupun cucunya terluka dengan penolakan Sena.
__ADS_1