
Pagi itu Daffa terbangun seperti biasanya, ia kemudian berjalan ke dapur untuk mencari keberadaan Ningsih.
" Mah," panggil Daffa.
Ningsih menengok kebelakang untuk melihat keberadaan cucunya. " Pagi sayang, kamu sudah bangun." Daffa mengangguk sebagai jawaban, anak itu kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di pantry.
" Mama masak apa?" Tanya Daffa lagi.
" Menu kesukaan kamu, sayang." Jawabnya Ningsih. Tanpa melihat kepada cucunya itu. " Kak Sena masih nangis ya mah? Maaf ya mah! Daffa udah jahat sama kak Sena." Lanjutnya membuat Ningsih melengkung bibirnya.
Wanita itu tahu cucunya adalah anak yang baik dan dia yakin lambat-laun Daffa bisa menerima keadaan sama seperti Sena dulu.
Ningsih mematikan kompornya, wanita paruh baya itu kemudian menghampiri Daffa kemudian duduk di hadapan cucunya itu.
" Mama nggak marah kok! Mama dan kak Sena itu sayang sama Daffa. Apa yang mama dan kak Sena lakukan, semua itu untuk kebaikan kamu. Mungkin sekarang kamu belum mengerti karena kamu masih kecil tapi suatu saat kamu pasti akan mengerti, sekarang Daffa cukup tahu kalau mama dan kak Sena selalu sayang kepada Daffa." Ucap Ningsih.
Sementara Daffa hanya diam sembari mengangguk, karena se-marah apapun dia pada kenyataannya yang ada, nyatanya rasa sayang yang dia miliki kepada ibu yang selama ini dia kenal sebagai kakaknya itu, jauh lebih besar dari di atas segala-galanya.
" Sekarang Daffa mandi, siap-siap habis itu kita sarapan sama-sama." Sekali lagi anak itu hanya mengangguk, lalu beranjak dari tempat duduknya, kembali ke kamar untuk melakukan apa yang di suruh Ningsih.
...\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Disisi lain Sena berjalan masuk ke ruangnya, di sana perawat yang biasa membantunya belum datang, karena waktu masih terlalu pagi.
Sena duduk di kursi kerjanya, lalu meletakkan stetoskopnya begitu saja di atas meja, Setelah itu ia meletakkan kepala di atas meja itu dengan kedua lengan sebagai bantalnya, ia begitu lelah! Tetapi dia memiliki jadwal praktek pagi ini, sehingga ia menunda waktu pulangnya dengan beristirahat sejenak di ruangan kerjanya itu.
Belum ada setengah jam ia terpejam, ponselnya kembali berdering membuat wanita itu kembali membuka kedua matanya, ia mencari ponselnya, yang berada di dalam tasnya.
Tanpa melihat siapa yang menelepon wanita itu langsung jawabnya. "Selamat pagi, dokter Senara?"
" Iya saya sendiri?" Jawab Sena.
" Dok, Pasien atas nama melati di ruang NICU_"
"Tolong beri penanganan yang terbaik untuknya." Pesan Sena lagi.
Setelah berbicara dengan perawat yang menelponnya, Sena langsung meraih stetoskop dan snelli-nya.
Wanita itu segera mengunakan snelli itu, mengabaikan rasa pusing yang mendadak ia rasakan, karena kurang tidur.
Sena menyimpan ponsel yang dia pegang pada saku snelli, yang dia pakai Setelah mengatur mode silent pada ponsel itu.
Sena keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa, wanita itu bahkan berlari kecil menuju ruangan NICU.
__ADS_1
Setibanya di depan ruangan itu, ibu dari balita itu sudah menangis di depan ruang NICU.
Sena tidak sempat untuk bertegur sapa dengan mereka, wanita itu langsung masuk keruang steril untuk mensterilkan tubuhnya. Sebelum ia masuk kedalam ruangan NICU memberikan tindakan kepada bayi yang sedang membutuhkan mereka.
Di dalam ruangan itu Sena tidak sediri, ada dokter spesialis NICU, dokter anak dan Sena.
Mereka berusaha dengan sebaik-baik sesuai prosedur yang harus mereka lakukan tapi dokter tetap lah manusia, Sekeras apapun mereka berusaha jika pada akhirnya ajal telah menjemput segala usaha akan berakhir sia-sia.
" Pukul 07: 57." Ucap Dokter anak menyebutkan waktu meninggalkannya anak itu.
Mendengar itu membuat Sena lemas wanita itu langsung terduduk, ia merasa tubuhnya lemas, ia bahkan menitihkan air matanya karena merasa gagal.
"Kita sudah melakukan yang terbaik dok." Ucap dokter spesialis NICU itu untuk meyakinkan Sena, tapi hal itu justru membuatnya semakin bertambah sedih.
" Dokter Senara, bangunlah." Mereka kemudian membantunya untuk berdiri sementara dokter spesialis anak itu keluar untuk menemui orang tua dari anak itu dan menyampaikan berita duka itu.
Sena pun mau tidak mau berdiri! wanita itu kemudian mengikuti langkah sang dokter anak sekaligus untuk mengucapkan turut berbelasungkawa.
" Terima kasih dok! setidaknya karena anda kami sudah memberikan pengobatan terbaik untuknya, hanya saja Tuhan mempercayakan kami hanya sampai hari ini." Ayah dari anak itu terlihat begitu lapangan menerima cobaannya, walaupun tatapannya begitu jelas menunjukkan rasa kehilangannya.
"Ibu dan bapak tidak perlu berterima kasih! saya hanya melakukan tugas saya sebagai seorang dokter." Sahut Sena. " Yang sabar ya Bu." Sena memeluk ibu dari anak itu untuk menguatkannya.
__ADS_1