Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Hancur


__ADS_3

"Paman, paman jangan salah paham dengan Anara, dia seperti itu karena Daffa alergi dengan susu sapi." Jelas Jasmine, membuat lelaki paruh baya itu tersedak sampai terbatuk-batuk.


Melihat itu, Ani langsung mengusap punggung suaminya, setelah memberikan segelas air putih kepada Ray.


" Pelan-pelan, kenapa papi terkejut seperti itu, bukankah putra kita juga begitu." Ucap Ani, wanita itu masih bersikap santai, seolah itu bukanlah sesuatu yang harus mereka pikirkan.


" Apa yang di katakan kakak Jasmine itu benar nak?" Tanya Ray, pria itu tidak menghiraukan ucapan istrinya dan lebih memilih untuk bertanya langsung kepada anak itu.


"Iya paman! Aku nggak boleh minum susu dan makan Semua yang terbuat dari susu. Nanti aku sakit." Jawab Daffa, sembari menjelaskan apa yang tidak boleh dia makan, kepada lelaki paruh bayah itu.


Ray ingin bersikap biasa saja seperti Ani, namun nuraninya menolak hal itu! Dia seakan memiliki ikatan yang kuat dengan Anak kecil dihadapannya ini.


Setelah mendapat jawaban dari Daffa, pria itu kembali bertanya-tanya kepada Sena, mulai dari tempatnya kuliah sampai sekolah menengah atas-nya. Pria itu ingin tahu semua lebih detail tentang wanita yang bernama Senara itu dan kalau dia tidak salah ingat dulu Lian sering memanggil nama Sena, apa mungkin dia Sena yang Lian maksud.


" Putraku juga bersekolah di sekolah yang sama denganmu! Mungkin saja kalian saling mengenal. Nama Julian Aldrino Sandiego, dia cukup berprestasi di sekolah itu." Ucap lelaki paruh baya itu begitu Sena menyebut nama sekolahnya, karena tidak mungkin dia untuk berbohong dengan menyebutkan nama sekolah lain dengan asal.


Sena menelan Saliva-nya dengan susah payah saat Ray menyebut nama Lian." Pi," Ani sengaja menegur suaminya agar tidak meneruskan pembicaraan mereka. Namun hal itu membuat Ray semakin mencurigai istri dan wanita muda yang menjadi dokter jantungnya itu.


" Apa kamu tidak mengenalinya! Dia juga lulus di tahun yang sama dengan kamu." Ray masih menuntut jawaban dari Sena dan tidak memberikan kesempatan kepada siapapun untuk mengalihkan pembicaraannya.


" Tentu saja dia mengenal Lian Pi! Karena dialah wanita yang selalu Lian panggil saat di rawat dulu." Ucap Nelly, wanita itu entah muncul dari mana dan kini sudah berada di belakang sang ayah, sembari mengusap punggung ayahnya.

__ADS_1


" Nelly, apa-apaan kamu ini?" Bentak Ani, wanita paruh baya itu mencoba untuk tetap menutupi hal itu, karena tidak ingin membuat Sena semakin jauh dari mereka begitu juga dengan Daffa.


" Mi, mau sampai kapan kalian menutupi hal ini, kasihan papi! Dia juga berhak tahu cucunya, begitupun dengan Daffa.


" Apa maksud kamu Nelly?" Tanya Ray, pria itu melihat kearah Nelly, Ani, Sena lalu Daffa.


"Maksud Nelly itu sudah jelas pi, anak yang bernama Daffa ini_"


" Maaf, sebaiknya aku dan Daffa pamit pulang, permisi." Sena kemudian beranjak dari tempat duduknya sembari mengendong Daffa, tapi belum sempat dia meninggalkan ruangan itu Nelly langsung mencegahnya.


" Kak, ini ada apa sebenarnya? Sena ini sahabat aku dan aku yang mengundangnya." Ucap Jasmine, wanita itu tidak suka cara Nelly memperlakukan Sena, karena apapun alasannya, Sena tidak pantas untuk di cegah seperti itu.


Nelly tidak peduli dengan ucapan Jasmine, karena dia merasa harus menyudahi kebohongan ini sekarang juga. " Kamu mau tahu! Wanita ini adalah mantan pacarnya Lian dan Daffa adalah anak mereka. Benarkah Sena." Jawab Nelly sembari bertanya dengan sengaja untuk memojokkan Sena.


" Kak! Mamanya Abel bohong kan? Kak Sena itu kakak aku, bukan Mama aku! Iyakan kak." Ucap Daffa menuntut jawaban, sementara Sena sendiri masih membisu tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, hanya Air mata yang menjelaskan seberapa hancur wanita itu saat ini.


Dengan wajah yang berlinang air mata Sena menatap kepada Nelly. " Katakan, Apa yang mbak dapat dengan menyakiti aku dan daffa. Kebenaran ya aku akui Daffa memang anak aku, aku tidak menyangkal hal itu. Apa mbak puas sekarang? sekarang Mbak mau apa lagi." Tantangan Sena.


"Tidak ada, aku hanya ingin Daffa mengenal siapa kakek, neneknya juga ayahnya begitu pun dengan kami, karena Daffa juga bagian dari kami." Ucapnya tanpa perasaan.


Plak.

__ADS_1


Ani langsung menampar pipi putri sulungnya itu," Cukup Nelly, kamu tidak tahu apapun! Sebaiknya kamu tutup mulut kamu, jangan membuat masalah dengan membuka mulut kamu lebih dari ini." Ucapnya penuh peringatan.


Membuat Ray yang melihat semua itu semakin kesakitan, pria itu tidak menyangka jika putra yang ia banggakan menutup rahasia sebesar ini dari mereka.


" Nggak kak Sena bukan Mama aku! Mama aku itu mama Ningsih, kak Sena bukan Mama aku Bukan." Teriak anak begitu histeris. Sembari mendesak untuk turun dari gendongan Sena.


Sena yang mencoba menahannya, terpaksa mengalah dengan anaknya yang sudah mulai besar itu.


" Sayang tenang Daffa harus dengar kak Sena, tolong jangan seperti ini." Ucap Sena, wanita itu mencoba untuk membujuk putranya namun Daffa terus menolak. " Sayang dengarin mama." Pinta Sena lagi dengan wajah yang telah berlinang dengan air mata.


" Nggak mau! Kak Sena bukan Mama aku." Tolak Daffa sembari mendorong tubuh Sena untuk menjauh darinya. Yang mana membuat Hati Sena semakin teriris pisau tak kasat mata.


" Ya Tuhan, walaupun aku sudah menyiapkan Hatiku, untuk hari ini tetapi mengapa rasanya harus sesakit ini." Ucap Sena dalam hatinya.


Sungguh dia begitu merasa hancur di tolak oleh Daffa. " Mama, Daffa mau pulang, Daffa mau pulang." Anak itu terus menangis dengan begitu histerisnya.


" Ayo kita pulang." Ucap Sena, Namun Daffa justru menggeleng kepalanya.


" Nggak mau! Kak Sena bukan Mama aku." Jasmine yang masih shock depan apa yang terjadi saat ini mencoba untuk membujuk Daffa, bersyukur anak itu mau ikut dengannya sementara Sena terduduk sembari menangis tersedu-sedu.


Hati ibu mana yang tidak hancur, ketika anaknya menolak dirinya. Hati ibu mana yang akan siap jika di hadapkan pada situasi saat ini. Sungguh rasa sakit saat melahirkan Daffa dulu seorang diri masih amat membekas di benaknya tapi kini ia harus menerima rasa sakit baru dari penolakan putranya.

__ADS_1


"Andai dulu kamu tidak lari dan mengatakan semuanya, kamu perlu merasa sakit ini." Ucap Nelly lagi dengan begitu menusuknya, seolah tamparan dan peringatan ibunya bukanlah sesuatu yang perlu ia takutkan.


__ADS_2