
"Baiklah! Tapi janji nggak boleh asal comot lagi seperti waktu itu dan nanti kalau Daffa udah ngantuk atau lelah! Kasih tahu kakak, biar kita bisa langsung pulang." Pesan Sena, Daffa pun dengan semangat mengangguk kepalanya.
" Ya udah ambil sweater sama ganti baju, kakak tunggu disini." Ucap Sena lagi.
"Siap kak." Ucap Daffa sembari memberi hormat kepada sang kakak. Anak itu kemudian berlari kearah Ningsih. " Mah, ayo bantu Daffa." Ucapnya sembari menarik tangan Ningsih.
Wanita paruh baya itupun hanya tersenyum, sembari mengikuti langkah cucunya.
Sena pun ikut tersenyum melihat orang-orang tersayangnya bahagia. " Ya Tuhan, sesungguhnya aku sudah tidak menginginkan apapun lagi, cukup berikan kesehatan kepada ibu dan anakku, agar kebahagiaan ini tidak hilang dariku." Batin Sena, wanita itu sudah siap jika selamanya hanya di anggap kakak.
Dia tidak ingin kembali ke masa-masa dimana hanya ada air mata dan penyesalan dalam hidupnya seperti waktu itu! Bahkan untuk tersenyum saja rasanya begitu sulit.
Tak sampai sepuluh menit Sena menunggu, Daffa pun keluar dari kamarnya di ikuti sang mama dari belakang, bersamaan dengan taksi yang dia pesan beberapa saat yang lalu datang.
Awalnya wanita itu ingin mengunakan motor! Tapi mengingat Daffa akan ikut, Sena pun mengurungkan niatnya dengan memesan taksi untuk mereka.
" Ayo sayang taksi nya udah datang! Kak Jasmine Juga udah nungguin." Ajaknya sembari mengulurkan tangannya kepada Daffa.
Anak itupun menyambut uluran tangan ibunya. Tak lupa mereka berdua untuk pamit kepada Ningsih dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Disisi lain, Jasmine yang awalnya ingin makan malam berdua bersama Sena, kini menjadi makan malam keluarga! Karena Ayah dan ibunya Lian pun ingin ikut makan malam bersama mereka, Setelah Jasmine memberi tahu jika Sena-lah yang akan datang.
Pria paruh bayah itu ingin mendengar pengalaman gadis itu, hingga bisa menjadi sehebat Sekarang di usianya yang terbilang mudah, sementara Ani ingin mengenal wanita yang di cintai putranya.
Menu yang menu makan malam mereka pun beraneka ragam, tidak hanya sharmale saja, seperti yang di inginkan Sena.
Semu itu karena Ani memerintahkan pelayan untuk menambah menu makan malam mereka, Walaupun hanya untuk berempat.
Karena Lian, akan menghadiri undangan makan malam rekan kerja begitu pula dari kantor. Sementara anak-anak mereka yang lain di boyong suami mereka ke rumah mereka masing-masing.
Tepat setengah sembilan malam, Sena dan Daffa sampai di rumah tantenya Jasmine, wanita itu tidak tahu jika bangunan megah di hadapannya itu adalah tempat tinggal ayah biologis putranya! Karena selama mereka menjalin hubungan Sena tidak pernah ingin tahu tentang Lian dan segala *****-bengeknya, selain nama lengkap dan tgl lahir pria itu dan hal tak begitu penting lainnya.
__ADS_1
" Selamat malam pak." Sapa Sena pada security yang sedang berjaga.
" Selamat malam mbak! Ada yang bisa saya bantu." Tanya security itu, sembari menelisik penampilan Sena dari atas sampai ke bawah begitu pun sebaliknya.
" Saya ingin bertemu dengan Jasmine." Ucap Sena memberi tahu tujuannya datang ke rumah itu.
" Apa anda dokter Anara?" Tanya security itu lagi.
" Iya." Jawab Sena, namun security itu, seakan ragu untuk mempercayainya, karena penampilan Sena yang terlihat bagitu sederhana sudah begitu dia datang pun dengan menggunakan taksi, bukan mobil pribadi.
" Pak." Panggil Sena, wanita itu mulai merasa risih sendiri di perhatikan seperti itu, hingga membuat Security itu tersadar.
Dia pun segera membukakan pintu untuk Sena dan Daffa.
Jarak bangunan rumah tantenya Jasmine dan gerbang utama itu lumayan jauh, membuat Sena dan Daffa harus sedikit berolahraga malam dengan berjalan dari gerbang sampai pintu utama.
" Astaga Anara, kamu jalan." Ucap Jasmine yang sudah menunggu wanita itu sejak tadi.
" Kenapa nggak bilang supir taksinya masuk sih. " Kesal Jasmine, walaupun Sena tidak keberatan berjalan dari depan sampai sini, tapi wanita itu tetep aja! Nggak enak sama sahabat.
" Nggak enaklah, aku kan baru pertama kesini, gimana sih." Jasmine pun hanya memutar bola matanya, karena wanita itu sudah hapal betul dengan sifat Sena yang mudah merasa tidak enak hati dengan orang lain.
" Kamu itu_ Eh ada Daffa juga." Ujar Jasmine yang baru menyadari keberadaan anak itu.
" Hai kak." Sapa Daffa, sembari mencium punggung tangan wanita itu.
" Hai sayang! Apa kabar?" Tanya Jasmine, sembari menyamakan tingginya dengan Daffa.
" Kabar aku baik-baik saja kak" Balas anak itu.
" Syukurlah, oh iya masuk, kita langsung makan aja ya, sambil ngobrol." Tawar Jasmine.
Namun Sena hanya menunjukan senyum canggungnya dan tidak berbicara apa-apa, Wanita, membuat Jasmine mengambil kesimpulan sendiri jika Sena pun setuju.
__ADS_1
Mereka langsung melangkah menuju ruang makan. Setibanya di sana wanita itu begitu terkejut, saat melihat banyaknya makanan yang tersaji di meja makan.
" Jasmine! Siapa yang akan menghabiskan, makanan sebanyak ini?" Tanya Sena.
" Kita, siapa lagi? udah nggak papa! Anggap aja rejeki." Sahut Jasmine, membuat Sena menggeleng kepalanya.
Bukannya Sena nggak bersyukur tapi mereka hanya berdua lo.
" Selamat malam dokter Sena."
Belum Habis rasa terkejut Sena karena porsi menu yang disiapkan Jasmine dalam jumlah banyak, kini wanita itu di kejutkan dengan keberadaan orang tuanya Lian.
" Se-selamat malam." Tenggorokan langsung kering, untuk membalas sapaan suami istri itu saja, rasanya begitu berat.
Bahkan wanita itu tanpa sadar menarik Daffa untuk semakin dekat kepadanya. " Oh iya, Sena kenalin! Ini om dan Tante aku." Jasmine pun memperkenalkan Sena dengan orang tua Lian. " Kalian pasti sudah saling kenalkan! Om aku kan pasien kamu." Lanjutnya lagi dan Sena hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
" Oh iya, anak ganteng ini siapa dok? Apa dia anak dok_"
" Bukan om, aku adiknya kak Sena." Sela Daffa. Sena pun hanya tersenyum simpul sembari mengangguk kepalanya.
Sementara Ani begitu bahagia bisa bertemu dengan sang cucu, walaupun dia belum melihat wajahnya dengan jelas! Karena Sena sengaja menutup wajah Daffa mengunakan tangannya.
" Oh yah! Siapa nama kamu?" Tanya papinya Lian.
" Nama aku Daffa om, salam kenal." Anak itu kemudian melepaskan genggaman tangan Sena, kemudian maju untuk mencium punggung tangan pasangan paruh bayah itu.
DEG.
Jantung Ray langsung berdetak saat melihat wajah anak itu. Karena melihat wajah Daffa sama saja dengan melihat Lian versi kecil.
Ray menatap kepada Ani, berharap sang istri menunjukkan keterkejutan yang sama dengannya, sayangnya ekspresi sang istri hanya biasa-biasa saja.
" Salam kenal om, Tante." ucap Daffa mencium punggung tangan Ani dan Ray secara bergantian.
__ADS_1