
Dia sebenarnya tidak ingin menjalani hubungan palsu ini, tapi dia juga tidak siapa untuk menyakiti Daffa yang sudah terlanjur percaya jika dia adalah kakaknya. Padahal mamanya sudah sering mendesaknya untuk mengatakan yang sebenarnya tapi Sena terlanjur takut Daffa kecewa dia belum siap menghadapi kekecewaan itu.
" Kak Daffa mau ke kamar mandi." Ucap Daffa membuat Sena melepaskan pelukannya dari anak itu.
" Ayo kakak bantu." Ujarnya sembari menghentikan tetesan cairan infus daffa, kemudian mengambil botol infus itu sembari mengendong sang putra, membawanya ke kamar mandi.
Setelah Daffa selesai, Sena membasuh wajah putranya, lalu membawanya kembali ke tempat tidur.
Tok... Tok..
" Permisi, sarapannya." Ucap seseorang dari balik pintu ruang rawat Daffa yang masih dikunci oleh Sena.
" Sayang, sebentar ya! Kakak ambil sarapan kamu dulu." Daffa mengangguk kepalanya.
Dan Sena pun langsung bergegas kearah pintu, membuka pintu itu! Kemudian mengambil tempat makanan, berisi sarapan Daffa, tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada petugas dari bagian gizi itu.
Setelah itu ia kembali menghampiri Daffa dan membiarkan pintu itu tetap terbuka, karena sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa Daffa.
" Sayang Makan dulu ya." Anak itu pun mengangguk Dan Sena pun duduk di tepi ranjang untuk menyuapinya.
Daffa termasuk anak yang tidak memilih makanan, Makan apa saja dia makan termasuk sayuran, Terkecuali makanan yang tidak bisa ia makanan karena alerginya.
Daffa sarapan dengan begitu lahapnya, hingga tak membutuhkan waktu lama untuk dia menghabiskan makanannya.
Begitu selesai menyuapi Daffa Sena langsung memeriksa ponselnya yang sejak tadi berdering namun ia abaikan karena sedang menyuapi putranya itu.
Saat mengetahui mamanya, Jasmine dan Nia yang menghubunginya! Sena pun menghubungi mereka kembali, wanita itu berbicara dengan Jasmine dan Nia tak lebih dari lima menit, karena kedua wanita itu nampak sedang sibuk.
__ADS_1
Selesai berbicara dengan kedua wanita itu, Sena menghubungi Ningsih, mamanya. Wanita paruh bayah itu ingin mengetahui keadaan Daffa.
Disaat dia sedang asyik berbicara dengan mamanya, Daffa tiba-tiba bertanya." Kak, itu siapa?" Anak itu menunjuk ke arah pintu dimana Lian sedang berdiri di sana, memperhatikan Daffa dan Sena.
Sena pun menengok kearah pintu. Wanita itu pun dengan cepat minta izin untuk mengakhiri panggilannya dengan sang mama.
" Mungkin orang nyasar sayang! Biar kakak tanya ya." Jawab Sena, setelah dia mengakhiri panggilannya dengan sang mama dan meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur Daffa.
" Kak bukannya kakak itu yang menolong kita kemarin ya." Ucap Daffa membuat Sena menghentikan langkahnya dan menatap wajah putranya itu, karena Daffa bukanlah anak kecil yang gampang di bohongi. " Bukankah kita harus berterima kasih kepadanya, kata mama kalau ada yang menolong kita jangan lupa untuk bilang terima kasih. Kalau salah minta maaf." Lanjutnya membuat Sena terdiam, karena merasa tertampar oleh ucapannya sendiri.
Sena tidak sadar rasa bencinya itu, Membuatnya melakukan hal ya bodoh dengan membohongi putranya.
" Oh, iya! Kakak sampai lupa, mungkin karena kakak terlalu panik, sampai lupa dengan orang yang menolong kita, sekarang kamu tunggu disini, biar kakak yang ngomong sama dia sekaligus mengucapkan terima oke." Ucap Sena dan Daffa pun mengangguk kepalanya.
Setelah itu dia pun menghampiri Lian, bersama dengan dokter yang datang untuk memeriksa Daffa di ikuti dua orang perawat di belakangnya.
Sena membuat dokter serta perawat-perawat itu melakukan tugasnya sementara dirinya berbicara dengan Lian.
" Bukankah sudah aku katakan sama kamu, aku tak akan meninggalkan kamu dengan Daffa lagi." Sahut Lian membuat Sena ingin tertawa.
" Atas dasar apa? Kamu tidak memiliki hubungan apapun dengan aku dan Daffa. Jadi jauh-jauh dari hidup kita." Ujar Sena dengan tatapan tajamnya.
" Aku minta maaf Sena! Aku akui aku salah tapi aku mohon Izinkan aku untuk dekat sama Daffa, kalau kamu tidak bisa mengakui dia sebagai anak kamu setidaknya jangan memisahkan aku dan_"
Plak.
Sena langsung menampar pipi Lian. " Tahu apa kamu tentang hubungan aku dan Daffa hmmm, kamu tidak tahu bagaimana kami melewati semua rasa sakit, sehingga bisa ada di sini dalam keadaan waras. Kamu tidak tahu apapun tentang kami. Apa kamu lupa bagaimana kamu menolak keberadaan dia! Apa kamu lupa bagaimana kamu dengan tega menuduh aku! Aku tidak melupakan hal itu Lian tidak sedikitpun." Sahutnya, nada bicara wanita itu masih terdengar sopan tapi penuh penekanan.
__ADS_1
" Sena_"
" Cukup Lian, sebaiknya jangan menunjukkan wajahmu di hadapanku." Wanita itu sedikit menaikkan nada bicara sembari menarik kerah kemeja yang di gunakan oleh Lian! Posisi Lian yang lebih tinggi darinya tidak menyulitkan Sena untuk melakukan hal itu.
Sena menatap Dalam kedua manik Lian dan Lian dapat melihat kebencian yang begitu besar yang di tunjukkan Sena kepadanya.
Bruk
Wanita itu mendorong tubuh Lian dengan begitu kuatnya, Hingga punggung Lian terbentur dinding di belakangnya. " Pergi dari hidup kami, breng-sek jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi." Ucap Sena lagi sembari menunjuk wajah Lian, Sebelum berbalik meninggalkan Lian begitu saja.
Sena tidak menyadari sikapnya kepada Lian di lihat langsung oleh Nelly, wanita itu mengepalkan tangannya tidak terima adiknya di perlakukan seperti itu.
Nelly bukan ingin membela Lian, karena bagaimanapun adiknya itu bersalah dan dia sudah mengakui kesalahannya sekaligus ingin memperbaikinya.
Tapi sikap arogan Sena kepada Lian, tidak dapat Nelly terima, wanita itu mundur beberapa langkah sebelum pergi dari sana. " Kamu salah memilih lawan Sena! Mari kita lihat apa kesombongan mu ini bisa kamu pertahankan sampai akhir." Ucap Nelly dalam Hatinya dengan segala rencana yang telah dia susun untuknmembalas perbuatan Sena hari ini.
Tadinya Nelly datang ke rumah sakit dengan niat baik untuk mengunjungi Daffa setelah mendapat kabar dari Lian, tapi dia justru di suguhkan pemandangan seperti tadi.
Sementara itu, Sena kembali keruang Daffa, infus di tangan Daffa sudah di lepas dan anak itu sudah di bolehkan untuk pulang.
Sena tentunya Senang mendengar hal itu, wanita itu lalu menitipkan Daffa kepada suster, karena dia harus mengurus administrasi Daffa Sebelum pulang.
Begitu dia akan membayar pihak rumah sakit mengatakan biaya perawatan Daffa telah di bayar lunas, Sena ingin mengetahui siapa yang melakukan hal itu tapi pihak rumah sakit menolak memberi tahu dan Sena tidak bisa memaksa hal itu, wanita itupun meminta total jumlah biaya rawat Daffa di rumah sakit.
Setelah mengetahuinya, Sena melangkah keluar lobby rumah sakit karena tak jauh dari parkiran, berjejer beberapa mesin ATM, wanita itu pun masuk, mengambil uang dengan jumlah yang sama dengan yang di katakan pihak rumah sakit.
Begitu keluar dari sana, Sena melihat Lian berbicara dengan seseorang tapi wanita itu tidak bisa melihat dengan jelas, dengan siapa Lian berbicara.
__ADS_1
" Lian." Teriak Sena. Dan orang yang tadi berbicara dengan Lian langsung buru-buru meninggalkan pria itu sebelum Sena datang. " Ambil uang kamu, kita tidak membutuhkan bantuan kamu." Ucap Sena sembari melempar lembaran uang itu tepat di depan wajah Lian, kemudian berbalik pergi dari sana.
Sedangkan Lian sendiri hanya bisa memejamkan, menikmati rasa sakitnya akibat dari perbuatannya dulu. Berbeda dengan Nelly yang semakin membenci Sena.