
Tok... Tok... Tok...
Ketukan di pintu ruang rawat Daffa membuat Sena yang hampir tertidur, sedikit terkejut dan kembali membuka kedua matanya.
" Sebentar," ucap wanita itu kemudian beranjak dari sofa tempat dia membaringkan tubuhnya.
Sena melangkah kearah pintu kemudian membuka pintu itu, karena tadi sebelum ia berbaring, Sena sempat mengunci pintu itu.
Ceklek.
Pintu terbuka dan Lian langsung menyodorkan bungkusan plastik berisi makanan yang dia beli beberapa saat lalu untuk Sena. " Maaf menganggu waktu istirahat kamu, aku cuma ingin memberikan ini." Ucap Lian.
Sena pun tidak langsung menerima pemberian pria itu, dia masih menatapnya datar kemudian memindah tatapannya pada bungkusan makanan di tangan Lian. " Tidak perlu, aku tidak lapar." Ucap Sena, wanita itu mencoba untuk menutup pintu itu kembali namun Lian menahannya.
"Tolong terima niat baikku Sena, aku hanya ingin kamu tetap baik-baik saja, kamu belum makan sejak siang tadi, aku tidak ingin kamu sakit karena Daffa sangat membutuhkan kamu." Ucap Lian, Pria itu masih mencoba untuk membujuk wanita di hadapannya dengan menyebut nama Daffa.
__ADS_1
Mendengar Nama Daffa, Sena pun langsung mengambil bungkusan makanan itu dari tangan Lian, kemudian menutup pintu itu tanpa mengatakan sepatah katapun dan Lian tidak mencegahnya lagi.
Dia kembali mendudukkan tubuhnya pada kursi di depan ruang rawat Daffa, menunggu Daffa di luar sana.
Lian tahu Sena belum makan karena sejak Daffa masuk rumah sakit, Sena tidak sedikit pun meninggalkannya, bahkan diwaktu makan saja Sena tidak beranjak sedikitpun dari sisi Daffa.
Sementara itu di dalam sana, Sena tidak membuka, bungkusan makanan yang di berikan Lian padanya, Dia justru meletakkan bungkusan makanan itu di atas nakas samping ranjang Daffa, begitu saja.
Dan disaat perutnya terasa perih karena belum terisi sejak siang tadi, Sena lebih memilih menyantap makanan sisa Daffa yang telah dingin ketimbang harus menerima makanan pemberian Lian.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi Harinya, Sena terbangun lebih dulu wanita itu segera menggulung rambutnya keatas, kemudian melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk melakukan ritual paginya, kali ini Sena tidak mandi dia hanya membasuh wajahnya saja karena tidak memiliki pakaian ganti.
Selesai dengan ritualnya di kamar mandi, Sena menghubungi Jasmine untuk menangani pasiennya, dia tahu wanita itu akan kerepotan tapi Sena tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi kenalan seprofesinya hanya Jasmine, Jika dia meninggalkan Daffa sendiri rasanya itu tidak mungkin.
__ADS_1
Bersyukurnya Jasmine mau membantunya sehingga Sena sedikit merasa lega.
" Kak." Panggil Daffa ketika Sena selesai berbicara dengan Jasmine di telpon.
" Hai sayang! Kamu sudah bangun, bagaimana perasaan kamu? Masih ada yang sakit." Tanya Sena saat menghampiri putranya.
Daffa menggeleng kepalanya, " Nggak, Daffa sudah sembuh." Jawabnya. Membuat Sena tersenyum.
" Iya, adik kakak kan hebat, jadi cepat sembuhnya." Sahut Sena sembari mengusap kepala putranya itu.
" Kata mama Daffa harus jadi kuat, agar bisa menjaga kak Sena nanti." Sena mengangguk kepalanya, melihat senyum Daffa telah kembali.
" Terima kasih ya sayang, kakak Senang Daffa mau jagain kakak." Wanita itu kemudian membungkuk untuk memeluk putranya.
Dia sebenarnya tidak ingin menjalani hubungan palsu ini, tapi dia juga tidak siapa untuk menyakiti Daffa yang sudah terlanjur percaya jika dia adalah kakaknya. Padahal mamanya sudah sering mendesaknya untuk mengatakan yang sebenarnya tapi Sena terlalu takut Daffa kecewa, dia belum siap menghadapi kekecewaan itu.
__ADS_1