
Sena begitu terkejut saat pulang menjemput Daffa dari sekolahnya dan mendapati Lian berserta kakak juga mamanya sedang menunggu mereka di ruang tamu rumahnya.
Wanita itu langsung melihat kearah mamanya seolah meminta penjelasan atas hadirnya ketiga orang itu di rumah mereka.
" Duduklah sayang, Daffa Salim dulu sama Oma dan yang lain." Pintanya kepada Sena lalu menuntun cucunya itu untuk mencium punggung tangan Ani dan kedua anaknya. Setelah itu, ia pun kembali duduk di tempatnya semula.
" Daffa." Panggil Ningsih dengan begitu lembutnya sembari mengusap lembut kepala cucunya itu. " Daffa selalu tanyakan, mana papa Daffa! Kakak ini papanya Daffa." Ucapnya sembari menunjuk Lian.
__ADS_1
Membuat Lian terkejut, lelaki itu bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Berbeda dengan Sena yang mengepalkan kedua tangannya marah, sebab dalam ingatannya terekam jelas bagaimana Lian menolak dan tidak mengakui Daffa saat berada dalam kandungannya.
Ningsih yang menyadari kemarahan Sena begitu melihat kearah putrinya itu dan wanita itu langsung menggenggam tangan Sena untuk menenangkan putrinya." Kamu membenci Lian, itu hak kamu Sena, tapi jangan mengorbankan Daffa lagi, Daffa hanya ingin mengetahui siapa papanya." Bisik Ningsih di telinga Sena.
Wanita itu hanya menunduk membiarkan Daffa menemui Lian." Kenapa kakak dan kak Sena meninggalkan aku dengan mama Ningsih?" Pertanyaan Daffa bagaikan sebuah tamparan keras yang sukses menyadarkan Lian dan Sena akan kesalahan mereka. " Kalian tidak menginginkan aku? Lalu kenapa membawa aku kesini?" Lanjutnya lagi, membuat Sena semakin merasa bersalah dan menyesal.
__ADS_1
" Daffa tidak membenci kak Sena, kak Sena tetap kakaknya Daffa, Daffa sayang sama kak Sena dan mamanya Daffa, mama Ningsih. Daffa cuma mau bilang kalau papanya Daffa bukan kakak, tapi papanya Daffa itu sama papa dengan kak Sena, biar Daffa kenalin ke kakak, Tante sama mamanya Abel ya." Anak itu langsung berlari ke kamarnya dan beberapa saat kemudian ia membawa sebuah figura dengan gambar keluarga Sena dalam versi lengkap tanpa Daffa tentunya, lalu menunjukkan foto itu kepada, Lian, mamanya dan Nelly seraya berkata. " Ini dia papa aku! Bukan kakak, kakak bilangin sama mamanya Abel, jangan marahin kakak aku, jangan buat kakak aku menangisi. Aku nggak suka nanti papa marah sama Daffa karena nggak bisa jagain kak Sena." Ucap Anak itu, seakan dia mengerti semua yang dia katakan.
Usianya baru akan genap sepuluh tahun beberapa bulan lagi, tapi dia cukup pintar untuk mengerti apa yang orang-orang dewasa itu katakan.
" Ya, mama kamu tetap mama Ningsih sayang! Dan maafkan mama Abel yang udah marahin kakak kamu, nanti setelah pulang dari sini Tante akan marahin mama Abel." Ucap Ani sembari mengusap kepala cucunya itu.
Wanita itu menerima semua yang di inginkan Daffa karena tidak ingin membuat cucunya tertekan dengan masalah ini.
__ADS_1
" Terima kasih Tante." Ucap Daffa kepada Ani, lalu anak itu kembali duduk di antara Sena dan Ningsih.
" Kakak jangan nangis ya, Daffa nggak marah kok! Daffa tahu kak Sena ninggalin kakak buat meraih cita-cita kakak. Mama Ningsih selalu bilang, kakak pengen jadi dokter buat obat-in sakit papa-kan." Ucap Anak itu membuat Sena semakin tidak bisa menghentikan tangisnya