
" Silahkan duduk! Maaf tadi saya tinggal sebentar kebelakang untuk membuat minuman ala kadarnya." Ucap wanita itu, sembari menurunkan nampan berisi cangkir teh itu kemudian menatanya di atas meja, " silahkan di min_ mbak Ani." Ucap Ningsih, wanita itu sedikit terkejut dengan kehadiran Ani di rumahnya.
" Ningsih, kamu jangan salah paham ya sama Aku! Aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi dengan anak-anak kita, Lian baru menceritakan semuanya, padaku beberapa Minggu lalu, saat itu kami sudah ke sini tapi kata tetangga kamu, kamu sedang ke Riau." Jelas Ani sebelum Ningsih bertanya.
Wanita itu melakukan semua itu karena tidak ingin Ningsih berpikir yang tidak-tidak dan menganggap Ani membohonginya.
Karena apa yang dia katakan memang benar adanya, sebab selama dia mendekati Ningsih pun dia hanya tahu, wanita itu adalah ibu dari wanita yang di cintai Lian.
" Ningsih, aku benar-benar minta maaf atas apa yang di lakukan Lian kepada putri mu." Ucap Ani lagi, wanita itu sungguh merasa tak enak hati kepada Ningsih.
" Sudahlah mbak, mbak tidak perlu minta maaf, semua ini tidak hanya kesalahan Lian saja! Sena juga salah dalam hal ini! Dan selaku orang tua aku juga tidak mengawasi putriku dengan baik." Sahut Ningsih, wanita itu mencoba untuk bersikap tenang. " Waktu itu, Aku meminta Lian untuk mengatakan yang sebenarnya kepada mbak dan suami mbak, semua itu semata-mata agar kalian tahu apa yang di lakukan anak-anak kita. Soal tangung jawab, maaf ataupun hak untuk Daffa, semua itu ada di tangan Sena. Dan Aku pribadi telah memaafkan Lian." Lanjutnya tak ingin menutupi apapun dari ibu dan anak di hadapannya, karena dia tahu mereka pasti sudah mengetahui tentang Daffa, karena itu hal yang mudah untuk mereka lakukan.
Dan entah terbuat dari apa hati Ningsih sehingga dia dengan mudahnya memberi maafnya kepada Lian.
Wanita itu bahkan memberi saran agar Lian memberitahu orang tuanya semata-mata hanya untuk membuat Lian jujur dengan apa yang telah dia lakukan kepada Sena.
Karena bukan tidak mungkin orang akan menganggapnya berbohong atau paling buruknya menuntut mereka, jika dia ataupun Sena yang memberitahu semua itu, mengingat keluarga itu cukup terpandang di kota ini dan bagaimana mana Lian menolak Sena serta menuduhnya waktu itu .
" Terima kasih atas kemurahan hatimu Ningsih, padahal kalian yang terluka dalam hal ini, tapi kamu masih mau memaafkan putraku! Aku sendiri sangat malu sama kamu dan apa yang di lakukan Lian, Ningsih." Sahut Ani. Sementara Lian hanya menunduk mendengar obrolan mereka dan hatinya sedikit lega ketika mendapatkan maaf dari Mamanya Sena.
Dan kalau boleh jujur, sebenarnya Ani tidak berani menunjukkan wajahnya di hadapan Ningsih Karena rasa malunya kepada wanita itu, Namun pada akhirnya Ani menunjukkan wajahnya di hadapan Ningsih jua demi anaknya serta meluruskan masalah ini.
" Aku melakukan semua ini, bukan karena aku seorang yang lapang atau murah hati seperti yang kamu katakan, mbak! aku juga marah, kecewa bahkan benci karena putriku di perlakukan dengan tidak baik, bahkan karena semua ini aku kehilangan sosok yang begitu berharga untuk aku dan Sena. Tapi aku sadar harus berdamai keadaan, semata-mata untuk ketenangan hati sendiri juga Demi Daffa." Ucap Ningsih, wanita itu kembali menitihkan air matanya setelah sekian lama berpura-pura tegar demi menguatkan putri tercintanya.
__ADS_1
Hati wanita mana yang tidak hancur, di saat dia di hadapkan pada masalah dalam hidupnya, dia justru harus menerima kenyataan di tinggal oleh orang yang dia cintai dan membiarkannya menghadapi semuanya sendiri.
Pada saat itu ingin rasanya dia berteriak menyalahkan takdir atas apa yang menimpah keluarganya, tapi tatapan memohon serta penyesalan itu membuat Ningsih Sadar.
Jika putrinya jauh lebih hancur Dari Dirinya dan yang terlintas di pikiran Ningsih itu, bagaimana caranya membuat Sena menerima keadaannya.
Diusia sena yang baru 17 tahun, usia yang masih sangat muda untuk menghadapi masalah sebesar itu.
" Tidakkah ada kesempatan untuk kita sebagai orang tua, meluruskan masalah anak-anak kita, Ningsih?" Tanya Ani. " Bagaimana pun anak itu juga membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dia juga harus tahu siapa ayah dan ibunya." Lanjutnya sembari menatap penuh harap kepada wanita yang sedikit lebih muda darinya itu.
Mendengar pertanyaan Ani, Ningsih hanya bisa tersenyum, karena bukan hanya Ani Yang menginginkan hal ini, dia juga menginginkan hal yang sama, tapi mau bagaimana lagi, Sena terlalu takut untuk mengatakan semua dan dia belum siap di benci sama Daffa.
" Aku pun menginginkan hal yang sama dengan mu mbak! Tapi aku tidak berani mengusik kenyamanan anak dan cucu ku." Jawabnya terdengar egois.
Seorang ibu lebih mementingkan perasaan anaknya dari pada dirinya sendiri, seorang ibu akan berusaha membuat anaknya tersenyum bahagia walaupun keadaan dia tidak baik-baik saja, bahkan seorang ibu dapat menahan lapar dan sedihnya, hanya untuk memastikan anaknya tertawa dan kenyang. Aneh memang tapi dalam cinta seorang ibu tidak mengenal kata pengecualian jika tentang anaknya.
Seorang ibu itu tidak hanya memberi cinta untuk anak, karena nyawa pun sanggup dia berikan hanya untuk memastikan anaknya baik-baik saja.
Cukup lama mereka mencoba memberi pengertian kepada satu sama lain namun tidak menemukan titik temu yang baik, hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri obrolan hari ini dan hanya bisa berdoa semoga tuhan memberikan jalan terbaik untuk mereka semua.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Tok tok tok....
__ADS_1
Ketukan di pintu membuat Sena yang tengah sibuk membaca grafik EKG di ruangannya menghentikan kegiatan itu sejenak kemudian menatap ke arah pintu ruang kerjanya sembari berkata. "Masuk," wanita itu mempersilahkan orang yang baru saja mengetuk pintu ruang kerjanya untuk masuk.
Pintu ruangan kerja sana pun terbuka tak lama terlihatlah sosok Jasmine, " Hai Masih sibuk ya, "tanya Jasmine sembari berjalan menghampiri Sena kemudian menarik kursi dihadapan wanita itu dan mendaratkan bokongnya di sana.
" Nggak kok, aku sudah selesai ini aku lagi pelajari ulang hasil pemeriksaan yang tadi." Jawab Sena, "coba kamu lihat," Lanjutnya kemudian menyerahkan kertas hasil EKG itu kepada Jasmine untuk melihatnya.
Jasmine pun melihat grafik yang tertulis pada kertas EKG itu kemudian menyampaikan hasil diagnosanya kepada Sena dan wanita itupun mengangkut kepalanya paham karena hasil diagnosa mereka sama.
Setelah itu keduanya pun membahas tindakan apa yang harus Sena berikan kepada pasien yang hasil kertas EKG-nya ada di tangan Sena.
Cukup lama kedua wanita itu berbicara tentang pekerjaan mereka sampai sana teringat untuk bertanya, alasan Jasmine menemuinya.
" Kenapa keruang aku, nggak mungkin kan kamu menemui aku cuma mau lihat aku lagi ngapain," ucap Sena, membuat Jasmine tersenyum sembari mengangguk kepalanya.
" Aku datang menemui kamu untuk menagih janji makan malam waktu itu, jangan menolak bukannya mama kamu sudah datang." wanita itu terdengar sedikit memaksa.
" Ya, ya, ya! Malam ini kita akan makan malam bersama, mau makan malam di mana tapi sekitar jam 08.00 atau jam 09.00 malam gitu mau nggak? soalnya jam empat nanti aku punya jadwal Stent (pemasangan Ring jantung)." Sahutnya, membuat Jasmine, menggeleng kepalanya.
"Sudahlah kau tidak perlu menjanjikan sesuatu Kalau kau memang sedang sibuk, beritahu aku saja, jika pekerjaan Kamu telah selesai." Ucap Jasmine yang tidak ingin memaksa sahabatnya itu.
" Oke, karena kamu begitu ingin kita untuk makan malam berdua, nanti aku akan mengabari kamu begitu aku selesai, setuju."
" Hmmm," Jasmine bergumam sebagai jawaban.
__ADS_1
Setelah itu ia pun pamit, kembali ke ruangnya, karena dia juga masih memiliki pekerjaan yang harus dia selesaikan, sebelum pulang ke rumah.