
Keesokan paginya Sena kembali mengantar Daffa ke sekolah, setelah memastikan anak itu telah melangkah masuk kedalam kelasnya.
Sena kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit. Setibanya di rumah Sena Masuk ke ruangannya di ikuti perawat yang menjadi asistennya selama berkerja di rumah sakit itu.
" Nia, berapa pasien rawat jalan hari." Tanya Sena. Wanita itu mengambil snelli-nya kemudian memakainya tak lupa juga untuk mencuci tangannya.
" Sekitar Sepuluh orang untuk hari ini Dok, Dan salah satunya bayi berusia dua Minggu yang lahir dengan kelainan jantung, dia baru di bawah kesini semalam. Orang tuanya mengalami kendala biaya dok, sehingga mereka hanya bisa rawat jalan." Jelas perawat yang bernama Nia itu.
Membuat Sena harus menarik nafas panjang, karena masalah seperti ini selalu terjadi di lingkungan menengah ke bawah.
" Baiklah, tolong kasih bayi itu di urutan pertama, Dan hubungi dokter anak dari bagian NICU juga."Ucap Sena kemudian mengambil stetoskop dan bersiap untuk keluar dari ruangannya, Karena dia harus memeriksa pasien rawat inap di ruangan mereka.
Namun suara Nia, menghentikan langkahnya. " Tapi di urutan pertama sudah ada Tuan Raymond Sandiego dok, Pasien dari. dokter Bayu." Sahut Nia, menjelaskan siap pasian-nya.
" Nanti saya yang akan menjelaskan kepada mereka, kamu atur saja agar bayi itu mendapatkan urutan pertama." Ucap Sena tetap Keukeh pada pendiriannya tidak peduli dari keluarga mana mereka dia harus menolong yang sangat membutuhkan pertolongan terlebih dahulu. Setelah itu Sena kemudian meneruskan langkahnya menuju ruang rawat pasiennya.
Sementara di belakang sana Nia hanya bisa menuruti dan melakukan seperti yang di inginkan Sena.
Saat melewati koridor rumah sakit Sena sempat menyapa beberapa dokter senior yang berpapasan dengannya tak lupa memberikan senyuman serta membalas sapaan para perawat serta petugas kebersihan yang menyapanya.
__ADS_1
Wanita itu tergolong sangat baru di rumah sakit itu. Namun attitude nya yang bagus serta ramah kepada siapa saja membuat dia di sukai rekan-rekan kerjanya. Tak jarang mereka menjadikan dirinya sebagai topik pembicaraan di kalah waktu senggang atau sedang menikmati waktu mereka di kantin.
Sena pun hanya membiarkan saja dan tidak terganggu dengan hal itu, walaupun dia sering di puji tidak membuatnya terbang juga. Toh mereka cerita sesuai apa yang mereka lihat jika mereka melebih-lebihkan itu urusan mereka, Sena tidak masalah selama itu tidak merugikan dirinya
Setibanya di ruangan rawat Pasien, Suster jaga langsung mengikuti langkah Sena sembari membawa Rekam medis pasien di di tangan mereka.
Sena pun melakukan tugasnya, memeriksa serta mendengar keluhan pasien juga Membaca rekam medis mereka.
Setelah melakukan pemeriksaan dan menentukan Pasien mana saja yang sudah di bolehkan untuk pulang, Sena pun bersiap kembali ke ruangannya sebelum memulai pemeriksaan untuk pasien rawat jalan.
" Sudah selesai?" Tanya Jasmine saat berpapasan dengan Sena di koridor rumah sakit, wanita itu baru mau keruangan rawat untuk memeriksa pasien rawat inapnya.
" Oh iya, hari ini kamu jemput adik kamu lagi?" Tanya Jasmine lagi sebelum langkah Sena jauh.
Sena berbalik menatap temannya itu." Tidak, mama aku yang akan menjemputnya! Mau makan siang bersama?" Jawab Sena sekaligus bertanya, seakan tahu apa yang di inginkan Jasmine.
Wanita itupun tertawa, " Kamu selalu tahu apa yang aku inginkan, Sampai bertemu saat jam makan siang." Ucap Jasmine. Wanita itupun melanjutkan langkahnya begitu mendapat anggukan dari Sena.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
__ADS_1
Waktu menunjukkan Pukul sebelas Lewat empat puluh delapan menit dan Sena masih berada di ruang NICU, untuk memastikan bayi yang menjadi pasiennya itu di rawat di sana. Awalnya orang tuanya menolak karena kendala biaya, tapi Sena memaksa dan berjanji akan membantu mengingat kondisi anak itu.
Sena juga sempat bertanya, kenapa saat lahir tidak langsung dirawat namun jawab yang dia dapat cukup mengiris hati.
Jangankan di rawat, anak itu lahir saja di bantu dukun beranak dan mereka bisa berada di rumah sakit ini berkat bantuan masyarakat dan kepala desa, Selain itu ada seorang perawat yang berkerja disini yang memudahkan mereka untuk masuk ke rumah sakit ini mendapatkan dokter terbaik untuk anak mereka.
Di sisi lain, begitu jam istirahat tiba Lian langsung menemui orang tuanya di rumah sakit, untuk mengantar mereka pulang.
Dan begitu terkejut karena Sudah hampir jam dua belas ayahnya masih menunggu di depan ruang dokter dan belum di periksa sedangkan mereka membuat janji dengan jam sepuluh pagi dan mereka sudah berada di sana jam sepuluh kurang lima menit.
Jangan tanya se-marah apa Lian, saat orang tuanya di suruh menunggu selama hampir dua Jam.
" Aku akan menemui pemimpin rumah sakit ini untuk menegur bawahannya." Lian yang sudah tidak sabaran dan begitu marah, langsung beranjak dari tempat duduknya, bersiap-siap untuk menemui pimpinan rumah sakit itu.
Namun segera di tahan oleh Ani mamanya. " Jangan, itu dokternya sudah ada." Ucapnya menunjuk. Dokter yang baru saja masuk kedalam ruangan pemeriksaan.
Ray hanya menggelengkan kepalanya melihat putranya itu bertingkah Karena dia sudah tahu alasan kenapa dokter lama.
Dan benar saja, tak lama perawat memanggil mereka untuk masuk. Ani dan Ray pun masuk kedalam ruang pemeriksaan dan Meninggalkan Lian yang terlihat malas untuk mengikuti kedua orang tuanya Namun pada Akhirnya dia memilih masuk juga setelah cukup lama berdiri di depan pintu itu.
__ADS_1