Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Tidak kenal


__ADS_3

" Selamat Siang dok." Sapa Ani dan Rey kompak begitu mereka memasuki ruangan pemeriksaan.


" Siang juga. Oh iya pak, bu sebelumnya saya minta Maaf karena membuat kalian menunggu." Ucap Sena membalas sapaan pasangan suami istri itu, sekaligus meminta maaf karena merasa tidak enak hati kepada mereka, karena mereka Pasian dokter bayu, yang dapat di pastikan mereka adalah orang penting.


" Anda tidak perlu melakukan hal itu, apa yang anda lakukan sudah benar! Justru saya akan merasa sangat bersalah jika. Anda mengutamakan saya yang masih bisa berjalan dan sudah berada ujung usia ini dan mengabaikan anak itu." Sahut Ray, karena dia dan istrinya sudah melihat keadaan bayi malang itu, mereka datang lebih dulu dari Ray walaupun tahu urutan mereka yang ke sekian.


Sena merasa sedikit lega mendengar Ucapan Ray. " Oh Iya silahkan duduk, Sena pun mempersilahkan mereka untuk duduk karena pasangan paruh baya itu Masih saja berdiri begitu pun dengan sena, berdiri khusus untuk Minta maaf.


Baru saja Sena ingin bertanya tentang apa yang di rasakan Ray sambil melihat rekam medisnya yang di di berikan Nia. Yang di kirim langsung oleh dokter Bayu untuk di pelajari oleh Sena.


Tiba-tiba pintu ruang itu terbuka mereka pun kompak menatap kepada pemuda yang baru masuk itu.


Begitu juga dengan sena, wanita itu mengangkat pandangannya untuk melihat pria itu dengan lebih jelas, Namun hal itu hanya berlangsung satu menit karena di detik berikutnya Sena sudah kembali fokus untuk pekerjaannya.


Seolah Lian bukanlah sebuah masalah untuknya dan dia bahkan bersikap seolah tak mengenali pria itu.


Sedangkan Lian sendiri tidak mampu, menutupi perasaannya. Wajah pria itu berubah pucat dengan tubuh yang bergetar hebat.


Wanita yang dia percaya telah tiada, kini sedang duduk memeriksa kesehatan ayahnya.

__ADS_1


Wanita yang menjadi cinta pertama hingga detik ini. Wanita itu Terlihat jauh lebih cantik dan dewasa dari waktu itu. Wanita yang menjadi alasan dia menghindari setiap wanita yang datang menggodanya, Dan Menutup hatinya untuk wanita manapun demi seorang Sena, walaupun dia tahu Sena-nya sudah tidak ada.


Tapi Nyatanya wanita itu_ Lian tidak dapat berpikir lagi, tubuhnya terlalu lemas sekaligus bahagia menerima kenyataan yang ada.


" Sena." Panggil Lian begitu pelan hampir saja tidak terdengar.


Pemilik nama itu kembali mengangkat wajahnya, kemudian bertanya. " Anda mengatakan sesuatu?"


Lian terdiam, mendengar Sena memanggilnya Anda, seakan kedua tidak pernah saling mengenal. " Aku_"


" Maaf pak! Jika ingin di periksa sebaiknya anda menunggu di luar hingga giliran Pak Ray selesai, suster akan memanggil nama anda saat giliran anda tiba." Ucap Sena sembari tersenyum ramah.


Dia singkirkan semua sakit hati serta kemarahannya dan tetap bersikap profesional.


Pria itu ingin menatap wajah Sena hingga dia bosan sayangnya rasa bosan itu tidak pernah datang.


Pria itu justru ingin gila, karena tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi sikap Sena yang seakan tidak mengenalinya membuat Lian semakin tersiksa.


Pemeriksaan papanya berjalan cukup lama, Karena Sena harus benar-benar teliti membaca grafik ekg nya. Serta memantau denyut jantung pria paruh bayah itu.

__ADS_1


Hingga membuat Lian terlihat seperti cacing kepanasan, terus menggeliat tidak jelas namun tidak tahu harus berbuat apa, Ani bahkan sampai di buat bingung dengan tingkah Lian hari ini.


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan akhirnya Sena menyimpulkan Hasil pemeriksaan dan mengatakannya kepada Ani tentu saja hal itu di dengar oleh Lian juga.


Setelah selesai, mereka pun meninggalkan ruangan itu dan kini giliran pasien lain yang masuk.


Dan Sena baru selesai dengan semua pasian-nya saat pukul empat sore. Wanita itu langsung menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sudah terasa perih karena terlambat makan setelah selesai dari kantin dia ke ruang NICU untuk mengecek pasian bayinya.


Kedua orang tua bayi itu, begitu senang karena mereka di pertemukan dengan dokter sebaik Sena yang mau membantu kesulitan mereka.


Drrrthtt... drrrthtt..


Ponsel Sena yang berada dalam saku snelli-nya bergetar, wanita itu pamit kepada dokter jaga, kemudian pamit keluar untuk menjawab telepon dari Ningsih.


" Sayang kenapa belum pulang sudah sore ini." Ucap Ningsih, wanita itu terdengar begitu khawatir.


" Maaf mah! Bentar lagi Sena pulang kok" sahut Sena sembari berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang mulai terlihat sepi, tidak seperti di pagi hari yang begitu ramai.


Setelah cukup lama berbicara dengan mamanya, panggilan itupun berakhir, bertepatan dengan seseorang yang tiba-tiba memeluk tubuh Sena dari belakang hingga membuat tubuh wanita itu membeku di tempatnya.

__ADS_1


\=\=\=\=


Bab ini belum aku revisi, kalau ada typo komentar ya 🙏🙏


__ADS_2