
Di tempat lain, Nelly tidak langsung pulang ke rumahnya! Wanita itu memilih mampir terlebih dulu di perusahaan untuk bertemu dengan adiknya Lian.
Setibanya di perusahaan, Nelly menitipkan Abel kepada sekertaris Lian, " Saya kamu tungguin mama disini ya! mama mau ngobrol dulu sama om uncle Lian." Ujarnya sembari mengusap kepala Abel.
"Iya mah."Sahut gadis kecil itu dengan patuhnya.
" Saya titip anak saya sebentar, kalau ada yang ingin bertemu Lian, Suruh mereka tunggu sampai saya selesai." Titahnya kepada sekertarisnya adiknya itu, kemudian ia masuk ke ruangan kerja adiknya itu, setelah setelah sekertaris Lian mengiyakan ucapannya.
Dan seperti biasa, Nelly tidak mengetuk pintu terlebih dulu, wanita itu menyelonong begitu saja." Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Nelly begitu melihat lian hanya duduk di kursi kebesarannya sembari menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dengan mata yang terpejam.
Jauh berbeda dengan terakhir kali dia datang kesini, dimana lian begitu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak menghiraukan kehadiran Nelly di ruangannya, saat itu.
" Kakak ngapain ke sini?" Tanya Lian, pria itu membuka kedua matanya kemudian menatap Kepada Nelly sang kakak tanpa menjawab pertanyaannya.
" Sudah ketemu Sena?" Alih-alih menjawab Nelly justru melakukan hal yang sama dengan Lian balik bertanya.
__ADS_1
Membuat Lian terdiam, pria masih menatap sang kakak namun dengan ekspresi yang berbeda . " kakak tadi dari sekolah Abel, Dia datang untuk menjemput Daffa! kita sempat makan siang sebelum kakak kesini." Ucap Nelly lagi, Tanpa menyebutkan nama Sena namun wanita itu yakin, Lian tahu dia yang dia maksud adalah Sena.
" Terus kenapa waktu itu kakak bilang, dia sudah meninggal." Sahut Lian, suaranya terdengar sedikit meninggi dari sebelumnya. " Terus kenapa waktu itu kakak bilang, dia sudah meninggal HAAAH! kenapa kak." Ulangnya dengan pertanyaan yang sama sembari mengebrak meja kerja nya sendiri, sungguh dia begitu frustasinya saat ini.
Bayangkan saja, selama ini dia hidup dengan percaya bahwa Sena sudah tidak ada, dia hidup dalam rasa bersalah dan penyesalan karena tidak bisa mendapatkan maaf dari Sena serta tidak dapat melihat wanita itu lagi, Tapi keduanya justru di pertemukan secara tidak terduga.
Sungguh Lian tidak tahu harus bereaksi seperti apa? pertemuannya dengan Sena terasa bagaikan mimpi tapi dia sungguh merasa bahagia untuk itu, karena dia bisa mengobati rasa rindunya kepada wanita itu.Walaupun di satu sisi dia harus menerima kebencian Sena.
" Maaf waktu itu kita semua sedang khawatir dan hanya memikirkan kesembuhan kamu dan mamanya malah berkata kalimat Ambigu seperti itu kakak tentunya percaya saja, kalau Sena benar-benar sudah meninggal tanpa mau banyak berpikir ." Sahut Nelly apa adanya, wanita itu mencoba untuk menjelaskan kepada adiknya tentang kesalahpahaman dia.
"Kemarin aku ketemu dia di rumah sakit, saat akan menjemput papi usai check up! Dan kakak tahu Dia dokter jantungnya papi." Ucap Lian, membuat Nelly menautkan alisnya. " Jujur aku kaget tapi bahagia, karena bisa melihatnya lagi. Tapi dia bersikap seolah tak mengenali aku dan itu membuat Hati aku sakit." Lanjutnya.
Sementara Nelly hanya menggeleng kepalanya saja bingung dengan masalah adiknya. " Kakak itu bingung sebenarnya di antara kalian berdua ini punya masalah apa? kamu bilang kamu sayang banget sama Sena tapi kamu juga yang mutusin dia." Ujar Nelly, Wanita itu langsung duduk di hadapan Lian, menyilang satu kakinya dengan tangan yang dia lipat-kan di dadanya, bersandar pada sandaran kursi. " Kakak punya banyak waktu untuk mendengar ceritamu, jika kamu ingin menceritakan alasan di balik berakhirnya hubungan kalian ini." Lanjutnya, seakan tahu adiknya itu tidak akan melanjutkan ucapannya, karena selama ini Lian hanya berbicara sepotong-sepotong dan mereka harus mengumpulkan potongan-potongan ucapan Lian kemudian menyimpulkan sendiri..
" Aku memutuskan sena karena_"Lian sengaja menggantung Ucapannya ragu, harus bercerita atau tidak dan Nelly tidak menunjukkan respon apa-apa, wanita itu sengaja menunggu lian menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Namun Lian tidak kunjung mengatakan apa-apa lagi hingga membuat Nelly kehabisan kesabarannya.
" Karena apa? kenapa tidak di lanjutkan lagi," tanya Nelly sedikit mendesak. wanita itu sudah bosan menunggu jawaban sedangkan orang yang memberi jawaban tetap diam seribu bahasa bermain club rasanya tidak tepat untuk waktu Sekarang ini.
" Lian."Panggil Nelly, Sebab adiknya itu tetap saja diam.
"Sudahlah lupakan? sebaiknya kakak pulang karena ada yang harus aku kerja kan." usirnya.
Sikap Lian yang seperti ini membuat Nelly mengambil kesimpulannya sendiri dari setiap kejadian yang menimpah adiknya, kemarahan seorang ibu karena anaknya di putuskan. Rasanya terlalu berlebihan jika Ningsih sampai se-marah itu hanya karena alasan sepele, belum lagi wajah anak itu bolehkan dia membenarkan apa yang dia pikirkan sejak pertama kali melihat adiknya sena.
"Daffa anak kalian-kan benarkan?" tanya nelly tepat sasaran dan membuat lian tidak dapat mengelak.
"Kak_" Lirihnya dengan kepala yang menunduk.
"Jadi benarkan Daffa anak kalian? Jangan mencoba untuk mengelak Lian, mata Daffa itu mirip kamu, keluarga sena tidak memilik mata sepeti itu, kakak sudah lihat foto papanya Sena, paman, bibi sampai sepupunya. Daffa itu beda sendiri di tengah-tengah keluarga Sena, selain itu kakak juga bisa langsung sayang sama dia seakan kita memiliki ikatan dan satu yang membuat kakak lebih yakin, karena daffa memiliki alergi yang sama seperi kamu. Lian mau sampai kapan kamu diam." Teriak Nelly. Wanita itu sudah lama mencurigai hal ini, karena dia bukan orang yang bodoh. Tapi dia menunggu waktu yang tepat untuk membuktikan semuanya! sayang waktu itu tidak pernah datang, hingga mau tak mau di harus memaksa Lian mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1