Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Hadiah untuk Daffa.


__ADS_3

Ningsih dan Daffa baru saja tiba di rumah dan wanita paruh baya itu sedang membantu Daffa Menganti baju seragamnya, tapi tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya, Hingga membuat Ningsih menyudahi membantu Daffa.


" Sayang lanjutkan sendiri ya, jangan lupa cuci kaki dan tangan setelah itu temui mama di ruang makan." Ujar Ningsih kepada cucunya.


" Siap ma." Jawab Daffa sembari hormat kepada Ningsih membuat wanita itu tertawa seraya menggeleng kepalanya.


Ningsih pun berbalik, keluar dari kamar Daffa menuju pintu depan karena ketukan di pintu itu semakin tidak sabaran saja.


" Sebentar. " Teriak Ningsih.


Kemudian memutar handle pintu lalu menariknya sedikit ke dalam dan Ningsih bisa melihat wajah pemuda yang sudah beberapa tahun belakang ini tidak dia lihat.


Pemuda itu terlihat jauh berbeda dari terakhir dia datang menemui Ningsih, Dulu hanya kaos serta Hoodie juga jeans yang menempel di tubuhnya, tapi saat ini dia mengunakan mengunakan pakaian formal sungguh penampilan yang sempurna dan memukau, mungkin di mata para gadis yang melihat hal itu namun tidak demikian dengan Ningsih.


" Ada apa?" Tanya Ningsih, terdengar sedikit ketus, tapi dia masih berbaik hati untuk bertanya kepada pemuda itu. "Untuk apa kamu disini?" Lanjutnya bertanya Karena pemuda itu hanya menunjukkan tatapan bersalah tanpa berbicara sepatah kata pun.


Pria itu berharap tatapan matanya bisa menyiratkan permohonan maafnya. Dan Ningsih menyadari hal itu namun mengabaikannya.


" Jika tak ada yang ingin kamu katakan, Sebaiknya kamu pergi dari sini." Ucap Ningsih Lagi, Karena Pria di hadapannya itu masih saja menutup rapat mulutnya.


Hingga pada akhirnya dia mau berbicara." Tante aku minta maaf." Ucapannya kemudian berlutut di hadapan Ningsih," Aku salah, aku pengecut karena telah menyakiti Sena." sambungnya lagi.

__ADS_1


Ya pemuda yang saat ini berdiri di hadapan Ningsih adalah Lian. Mantan kekasih Sena. Pria itu berkata kepada Nelly jika dia ingin kembali ke kantor tapi kenyataannya di justru mendatangi rumah Ningsih.


" Bangunlah dan segera pergi dari sini. Jika maaf yang ingin kamu dapatkan, aku sudah memaafkan kamu tapi mungkin tidak akan bisa melupakan semua yang kamu lakukan pada putriku, Dan sebaiknya kamu segera pergi dari sini, tolong jangan membuat masalah." Ucap Ningsih sambil lirik tetangganya, yang sedang berkumpul dan melihat kepada mereka.


" Tante_"


" Pergilah." Ningsih langsung menutup kembali pintu itu tanpa menunggu Lian untuk berdiri.


Sedangkan Lian sendiri ingin mengetuk pintu itu lagi, namun dia mengurungkan niatnya, sebab tidak ingin membuat Ningsih Semakin marah kepadanya.


Sebelum beranjak berdiri kemudian meninggalkan rumah itu, Lian telah berjanji pada dirinya akan terus datang untuk meminta maaf hingga di beri kesempatan untuk bertemu dengan anak yang bernama Daffa itu.


Sena baru pulang ke rumah saat waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Siang tadi begitu urusan nya selesai, Sena dan Jasmine, berkeliling rumah sakit untuk melihat tempat kerja mereka yang baru, sembari berbicara banyak hal dengan manajer rumah sakit juga dokter senior.


Di rumah sakit, Sena bertemu dengan mantan dosennya yang pernah memberinya pekerjaan.


Mereka berbincang cukup lama, sembari minum teh! Dan sang dosen menawarkan kliniknya, jika Sena ingin membuka praktek di luar jam prakteknya di rumah sakit.


Sena tentu saja sangat berterima kasih untuk hal itu. Namun untuk saat ini gaji yang di bayar rumah sakit sudah lebih dari cukup dan dia juga ingin menghabiskan waktunya bersama Daffa dan Ningsih Untuk menebus waktunya terbuang selama ini, jadinya Sena menolak tawaran itu.


Setelah Bertemu dengan dosennya, Sena menemani Jasmine, belanja sekaligus mengantarnya pulang. Tau sendirilah Jasmine masih baru di Jakarta.

__ADS_1


Jasmine juga menawarkan Sena untuk mampir, namun Sena menolak! Karena teringat akan Daffa.


"Kak, kenapa Pulang terlambat." Tanya Daffa, saat membuka pintu untuk Sena.


" Kakak pulang terlambat karena harus kerja sayang! Oh iya kakak minta Maaf ya! Tadi kakak ada sedikit urusan jadi tidak bisa jemput Daffa." Ucap Sena sembari mengusap kepala putranya itu.


Daffa mengangguk kepalanya. " Kakak sudah makan?" Kini giliran Sena yang menjawab dengan gelengan kepala. " Ya udah kita makan sama-sama, mama sudah masak enak." Lanjutnya sembari menarik tangan Sena.


" Sayang, kakak mandi dulu ya! Nanti setelah itu baru kita makan sama-sama ya." Daffa terlihat berpikir sejenak, sebelum anak itu mengangguk mengiyakan ucapan Sena. " Oh iya, ini buat Daffa." Sena menyerahkan paper bag yang dia bawa kepada Daffa. Tadi saat menemani Jasmine belanja mereka melewati toko yang menjual lego dan dia mampir untuk membeli itu untuk Daffa.


Karena Daffa sering memuji Lego milik temannya dalam arti lain dia suka tapi tidak pernah mengatakan hal itu.


" Kak ini beneran buat Daffa? Kata teman aku ini mahal?" Ucap Daffa dengan lesu.


"Sena tersenyum, selama kamu suka harga bukan masa sayang. " Sahut Sena, kemudian meninggal Daffa yang masih terlihat berbinar dengan hadiah pemberiannya.


Karena tidak ada seorang ibu yang tidak sayang kepada anaknya, jika ada ibu yang jahat kepada anaknya, maka ada alasan untuk itu, yang dia yakini itu yang terbaik untuk mereka.


Sama halnya dengan Sena. Dia juga menyayangi Daffa. Tapi keadaan membuat dia harus mengambil sikap yang tidak hanya menyakiti Daffa, namun dirinya sendiri pun ikut tersakiti. Tapi sekali lagi keadaan mengharuskan dia melawan nalurinya sendiri.


Bahkan dia sudah siapa dengan segala kemarahan serta kebencian anak itu jika mengetahui semuanya nanti. Karena Sena yakin semua hanya persoalan waktu.

__ADS_1


__ADS_2