Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Sayang Daffa tidak?


__ADS_3

Dua hari sebelum pernikahan Della.


" Ingat kak! Penyesalan itu begitu menyakitkan. Kakak sendiri sudah pernah merasakannya bukan, jangan sampai kakak kembali merasakannya lagi, untuk kedua kalinya." Setelah mengatakan hal itu. Panggil itu Della akhir Secara sepihak.


"Della, Della." Panggil Sena, namun adiknya telah mengakhiri panggilan itu.


Sena mencoba untuk hubungi Della kembali sayangnya wanita itu tidak menjawab panggilannya dan justru menonaktifkan ponselnya hingga membuat Sena kepikiran.


Sena tidak ingin sedikitpun untuk pulang tapi saat dia mencoba menghubungi Della di malam hari, wanita itu masih tidak menjawab panggilannya hingga sena semakin merasakan kekhawatiran dan mau tak mau Sena terpaksa membeli tiket untuk keberangkatan ke Indonesia.


Karena untuk mendapatkan tiket internasional tidaklah secepat mendapatkan biasanya, Sena pun harus menunggu beberapa saat, beruntungnya dia memiliki kenalan yang mau membantunya, sehingga pagi harinya dia bisa mengikuti penerbangan ke Indonesia.


Sena pun sudah izin ke rumah sakit tempat dia bekerja, toh dia hanya membawa sedikit keperluannya, karena dia berpikir dia akan kembali lagi setelah memastikan kondisi kesehatan mamanya.


Perjalanan yang Sena tempuh dari Bukares ke Jakarta, memerlukan waktu 26 jam 30 menit dengan satu kali transit.


Sampainya di Jakarta sena tidak langsung beristirahat wanita itu kembali melanjutkan perjalanan ke Riau.


Rasa khawatirnya kepada Ningsih, membuat Wanita itu mengabaikan segala rasa yang tengah dia rasakan saat itu. Jet lag yang parah, capek, pusing dan mual bercampur menjadi satu. Namun Sena masih bisa menahan itu.


Karena dalam benaknya hanya satu hal yaitu Ningsih, dia ingin melihat mamanya, dia ingin memastikan wanita itu baik-baik saja. Sebab ucapan Della dan kedua orang tuanya terus terngiang-ngiang di kepalanya.

__ADS_1


Setibanya di Riau wanita itu langsung memesan taksi menuju rumah pamannya. Saat ini dia begitu sangat lelah dan sudah hampir pingsan karena perjalanan nonstop-nya itu. Tapi wanita itu enggan untuk beristirahat.


Sampainya di rumah pamannya, suasana di sana begitu ramai, karena akad nikah sepupunya itu baru selesai. Sena turun dari taksi, sembari menarik koper berjalan melewati para kerabat yang di undang ke acara itu, wanita itu bahkan tidak peduli jika dia menjadi pusat perhatian saat ini.


Sebab dia tengah fokus mencari kebenaran Ningsih! Hingga ia melihat wanita itu sedang duduk dan berbicara dengan seorang bocah laki-laki. Sena begitu merasa lega karena mamanya baik-baik saja. Sedangkan bocah laki-laki bersama mamanya, Tanpa bertanya pun dia tahu siapa anak itu, Sena mengenalnya, karena Hatinya mengatakan jika itu Daffa.


" Mah!" Panggilnya, Dan Sena bisa melihat tubuh mamanya menegang dari tempatnya berdiri, dia sadar mamanya saat itu terkejut mendengar suaranya tapi tidak kunjung menengok kepadanya, hingga Sena memberanikan diri memanggilnya sekali lagi. " Mah." Saat itu mamanya langsung menengok kepadanya.


Kemudian berteriak memanggil namanya, di ikuti derai air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya.


Ningsih beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Sena lalu memeluknya dengan erat, sembari menangis tersedu-sedu.


" Akhirnya kamu mau pulang sayang! Mama kangen sama Sena. Mama sayang Sena." Ucap wanita paruh bayah itu sambil menangis, membuat Sena pun ikut menangis bahkan orang lain yang melihat hal itu pun ikut menitihkan air mata mereka.


" Kak Sena." Teriak Daffa sambil menarik ujung baju Sena, agar wanita itu mau melihat kepadanya.


Sena pun melepaskan pelukan mamanya kemudian menarik nafas dalam, menyiapkan hatinya. Sebelum akhirnya berjongkok di depan Daffa, membuat anak laki-laki itu terlihat sedikit lebih tinggi darinya. Karena postur tubuhnya memang lebih tinggi dari anak seusianya, menurunkan Gen sang Ayah.


" Hai Daffa," Ucap Sena sembari mengulurkan tangannya mentoel ujung hidung putranya itu.


" Hai, kak Sena! Kakak lebih cantik kalau di lihat langsung, boleh minta peluk." Pujinya sembari meminta untuk di peluk oleh Sena.

__ADS_1


" Tentu Daffa, kemari-lah." Sena langsung merentangkan kedua tangannya, memudahkan Daffa untuk memeluknya. Anak itu begitu bahagia bertemu dengan Sena, mamanya.


Setelah memeluk Daffa sebentar! Sena langsung buru-buru mengurai pelukannya dengan Daffa karena tidak ingin terlalu lama terbawah perasaannya. Padahal dia sadar perasaan itu terasa karena ikatan mereka sebagai ibu dan anak.


" Kak, boleh cium juga kaya mama." Pintar Daffa lagi. Sena ingin langsung menolak permintaan itu, tapi wajah memohon Daffa membuat wanita itu tidak tega, tanpa banyak bicara, Sena langsung mencium Daffa seperti yang di lakukan Ningsih padanya baru sana.


" Cukup?" Tanya Sena namun, putranya itu menggeleng kepalanya.


" Belum, kak Sena harus menjawab dulu, kak Sena sayang aku atau tidak?" Tanya Daffa membuat Sena menarik nafas berat.


" Menur_"


" Jawab kak Sena! Bukan bertanya." Selanya memotong ucapan wanita itu. Seakan tahu apa yang akan Sena katakan.


" Kak Sena , sayang sama Daffa! Sama seperti Mama sayang kepada kak Sena."


" Mana boleh begitu kak! Yang boleh Seperti itu hanya mama ke anaknya, sama kaya mama ke kak Sena dan ke Daffa. Kalau Daffa inikan adik kakak, sama kaya kak Della, harusnya kakak jawab, sayang kaya kak Sena sayang ke kak Della gitu. " Ucapannya mengajari Sena, sehingga membuat Sena tersenyum simpul.


" Iya, maaf! Kak Sena sayang Daffa sama seperti kak Sena sayang kak Della." Ujarnya meralat ucapan yang sebelumnya, sesuai yang di inginkan Daffa.


Walaupun hatinya sedikit tersentil karena penolakan tak langsung Daffa barusan, tapi dia tidak mengambil hati semua itu. Karena ini yang dia inginkan sejak awal.

__ADS_1


Setelah melepas rindu dengan Ningsih dan Daffa, Sena menghampiri pasangan yang sedang berbahagia itu, memberi ucapan selamat. Kemudian menyapa paman dan bibinya.


__ADS_2