Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Surat dari pengadilan.


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang begitu melelahkan untuk Sena, bagaimana tidak wanita itu hanya tidur dia jam, setelah itu dia harus ke rumah sakit untuk merawat papanya Lian Setelah itu dia harus menerima kenyataan bahwa pasien yang telah dia tolong meninggal di tambah pertengkaran yang sengaja di picu Nelly untuknya dan Daffa, membuat Sena benar-benar lelah.


Rasanya wanita itu ingin menyerah untuk keadaannya saat ini. Karena cobaan yang menimpanya seakan tidak tahu caranya berhenti.


"Dokter anda baik-baik saja?" Tanya suster Nia, begitu mereka berdua melangkah keluar ruang rawat inap.


Wajah Sena yang terlihat begitu pucat serta sedikit kelelahan membuat suster Nia khawatir.


" Hmmm, aku baik-baik saja." Jawab Sena, sembari terus melangkahkan kakinya menuju ruangannya, setelah ini wanita itu masih ada praktek sehingga dia akan pulang sedikit terlambat.


" Dokter jika anda merasa tidak enak badan, pasien anda bisa saya di alihkan kepada dokter." Ucap dokter Nia lagi wanita itu masih saja khawatir dengan keadaan Sena.


" Tidak saya masih bisa melakukannya. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya." Ucap Sena dengan tulus, sembari menarik kedua sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman.


"Anda yakin dok?"


" Tentu saja! Berapa pasien kita hari ini?" Tanya Sena, sengaja mengakhiri pembicaraan mereka mengenai dirinya, karena dia ingin fokus dengan pekerjaannya, Toh Sena merasa dirinya baik-baik saja.


" Tidak banyak, dokter." Jawab suster Nia tanpa menjelaskan lebih detail ucapannya dan Sena pun hanya menganggukkan kepalanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Waktu menunjukkan pukul setengah tiga saat Sena menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Wanita itu hendak bersiap-siap untuk pulang, namun seorang perawat dari ruangan rawat Ray, papanya Lian menelponnya untuk menanyakan lebih detail rekam medisnya sekaligus beberapa obat yang harus mereka berikan.


Membuat Sena sedikit tertahan dan Sena pun, terpaksa kembali keruang papanya Lian untuk mengecek kondisinya serta menjelaskan kepada perawat yang ada di sana.

__ADS_1


" Selamat siang dok! Maaf kami telah menganggu waktu anda." Ucap perawat yang menelpon Sena tadi, begitu wanita itu tiba di depan ruang rawat papanya Lian.


" Tak masalah, ini sudah tugas saya! Kalian tidak perlu merasa tidak enak hati seperti itu." Ucap Dokter Sena ramah sembari tersenyum kepada para perawat dan mantri yang berada di hadapannya.


Setelah berbasa-basi sejenak dengan mereka dan menjelaskan rekam medis Ray juga obat apa saja yang harus pria paruh baya itu terima. Sena juga menjelaskan waktu pemberian serta dosisnya. Wanita itu sengaja melakukan hal itu karena besok adalah hari liburnya jadi dia tidak ingin ada kesalahan selama di libur nanti.


Sena dan satu orang perawat juga mantri masuk keruangan Ray untuk mengecek kondisinya. " Permisi, selamat siang pak, Bu." Sapa Sena kepada Ani juga Ray, sedang Lian yang tengah duduk di sofa bersama kedua kakaknya tidak sempat ia sapa, karena fokusnya hanya untuk Ray dan Ani.


" Selamat siang dok? Anda baik-baik saja." Balas Ani sekaligus bertanya. Karena wanita itu melihat dengan jelas wajah Sena yang tampak sang kelelahan itu.


" Saya baik-baik saja Bu! Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya." Jawab Sena. " Pak, saya permisi periksa dulu ya." Ucap Sena dengan lembut dan sopan, kemudian wanita itu mulai memeriksa keadaan Ray.


Sementara itu, dari sofa tempat Lian duduk, pria itu terus menatap pujaan hatinya tanpa berkedip sedikitpun. Membuat Syita berdehem sementara Leni menyiku lengannya Lian, hingga pria itu tersadar dan menatap kepada kedua kakaknya.


Syita dan Leni belum tahu hubungan Sena dan Lian. Mereka tahunya Sena itu sudah meninggal sementara Leni sendiri Syita pernah ketemu Saat bersama Jasmine tapi lupa akan wajah Sena.


" Ngomong aja nanti kak Syita dan kak Leni bantu." Bisik Syita lagi sembari menatap kepada Sena yang sedang fokus memeriksa papi mereka.


" Iya, dia cantik pintar seorang dokter lagi." Sahut Leni.


Sedangkan Lian hanya diam tidak menanggapi kedua kakaknya itu, bahkan Ani yang mendengar sedikit ucap putri-putrinya hanya diam.


Hingga Sena selesai dengan tugasnya, lalu pamit keluar dari ruangan itu.


Setelah Sena telah pergi, wanita paruh bayah itu langsung menatap kepada kedua putrinya. " Kalian berdua harus tahu dokter tadi adalah wanita yang sama yang sering Lian ucapkan namanya, ketika ia kecelakaan tempo hari.

__ADS_1


" Apa mah! Tapi bukannya wanita itu sudah meninggal?" Tanya Syita, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


" Ya kakak kalian salah akan hal itu dan yang lebih membuat malu lagi, Lian bahkan sampai menghamilinya dan meninggalkan dia begitu saja." Ucap Ani, wanita itu tidak ingin menutupi apapun dari anak-anak juga suaminya.


Plak Bug.


Syita dan Leni dengan kompak, menampar dan memukul adik mereka itu saking kecewanya mereka dengan apa yang di lakukan Lian. Andai mereka sedang tidak berada di rumah sakit mungkin Lian sudah habis di hajar kedua kakaknya itu, mengingat bagaimana marahnya mereka saat ini.


\=\=\=\=\=\=\=


Disisi lain, Sena langsung pulang ke rumah begitu dia selesai memeriksa ayahnya Lian.


Dan tidak butuh waktu lama Sena pun tiba di rumahnya, wanita itu langsung menghentikan laju motornya begitu saja di depan rumahnya begitu melihat seorang pria berdiri di depan rumah Sena sambil memegang amplop coklat di tangannya. " Maaf cari siapa ya?" Tanya Sena kepada pria itu.


" Maaf, Saya mencari Senara Cecilia Aditama." Jawab pria itu sembari membaca nama yang tertera pada amplop coklat di tangannya.


" Ya! Saya sendiri, ada yang bisa saya bantu?" Sahut Sena sekaligus bertanya.


" Ini ada surat dari pengadilan untuk anda." Ucap pria itu, sembari menyerahkan surat itu kepada Sena. " Silahkan tanda tangan disini." Ucapnya lagi.


Dan Sena pun tanda tangan di tempat yang di tunjuk pria itu. " Kalau begitu saya permisi dulu." Pria itu langsung meninggalkan Sena yang masih terdiam karena bingung dengan semua itu.


Sena pun menyalakan mesin motornya lagi, kemudian memasukkan motor itu ke tempat parkir.


Setelah itu dia turun dari sana sambil melihat amplop di tangannya dengan jantung yang berdetak tak menentu, wanita itu merasa cemas tapi dia tidak tahu alasan di balik kecemasannya itu bahkan dia sendiri masih bingung kenapa dia mendapat surat dari pengadilan.

__ADS_1


Yang lebih mengejutkan lagi, surat itu berisi permohonan Adopsi anak Atas nama Daffa yang di ajukan oleh Nelly.


Wanita itu benar-benar gila, jelas-jelas Sena dan mamanya masih hidup tapi kenapa dia bisa melakukan hal sejauh ini. Tapi begitulah jika uang dan kekuasaan sudah berkerja, apapun pasti bisa terjadi.


__ADS_2