
Waktu terus berlalu, setelah melewati beberapa kali terapi, keadaan Lian kini semakin membaik.
Melihat hal itu Ayah Lian menyarankan untuk Lian meneruskan pendidikannya lagi, Lian pun tidak menolak akan hal itu sebab itu adalah keinginannya, cita-citanya dan alasan itu juga yang membuat Dia kehilangan wanitanya.
Mengingat akan hal itu membuat Lian semakin merasa bersalah, Andai Dia bisa mengulang waktu dia ingin memperbaiki semua kesalahannya, dia ingin sena tetap menjadi wanita yang selalu berada di sampingnya. Namun semua itu hanya sebatas kata andai-andai saja, sebab wanita itu, kini telah bahagia di tempatnya yang baru.
Tapi sebelum dia pergi, Lian sudah berencana untuk menemui Ningsih meminta maaf sekaligus ingin mengetahui tempat peristirahatan terakhir kekasihnya.
Dia bahkan telah siap jika nanti mendapat amukan dari wanita paruh baya itu karena memang dia pantas mendapatkannya.
" Kakak akan menemani kamu menemui orang tua gadis itu," ucap Nelly saat mendengar obrolan adik dan papinya.
" Kak aku bisa sendiri, kakak tidak perlu menemani aku, ini masalah aku dan orang tua Sena, kakak tidak perlu ikut campur. " Lian langsung menolak keras ide itu, namun bukan Nelly namanya Jika dia mengalah begitu saja kepada adik laki-laki semata wayangnya itu.
"Kakak janji tidak akan mencampuri omongan kalian, kakak hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Dan kakak akan tetap berada di dalam mobil, Kakak janji." Ujar Nelly mencoba meyakinkan Lian.
"Nak, biarkan kakakmu ikut dengan kamu! Karena papi sendiri juga khawatir kalau kamu pergi sendiri." Lian menatap kakak dan papinya secara bergantian, sebelum mengangguk kepalanya mengizinkan sang kakak untuk ikut dengannya.
__ADS_1
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Kakak beradik itu pun sepakat untuk pergi ke rumah Sena Dan mereka kini sedang berada di perjalanan. Selama di perjalanan menuju rumah orang tua Sena, Nelly mencoba berbicara dengan Lian untuk memecahkan kesunyian di antara mereka.
" Apa gadis itu cantik?" Tanya Nelly. Membuat Lian langsung melirik kepada Kakaknya. " Apa Sena cantik." Tanya Nelly lagi, saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari Lian.
Nelly bahkan dengan sengaja tidak membalas tatapan Lian, walaupun dia tahu adik kecilnya itu sedang menatap kepadanya.
" Apa kakak pikir, Tampang aku ini akan memacari cewek jelek." Sahut Lian, ucapannya terdengar ketus.
Namun Nelly tidak mengambil hati, ucap Sang adik, karena jauh sebelum dia kecelakaan, adiknya itu bisa lebih dingin dan ketus dari ini.
" Menurut kakak?" Lian pun balik bertanya. Namun wanita itu menaikkan kedua bahunya. Tidak tahu, jika adiknya itu sayang atau tidak sama wanita yang sering dia panggil namanya itu. " Tentu saja aku sangat mencintainya." Ucap Lian pada Akhirnya. Pria itu ingin segera menyudahi pembicaraan mereka.
Tapi rupanya, sang kakak belum ingin menyudahi pembicaraan itu, dengan kembali bertanya lagi. " Kalau cinta! Kenapa kamu memutuskan Sena? Bahkan kamu membawa wanita lain saat ulang tahun kamu, yang ke delapan belas! Bukan wanita yang kamu bilang, kamu cintai itu! Kalau kakak tidak salah ingat namanya Tari, ya Tari."
Perkataan Nelly membuat ekspresi wajah Lian langsung berubah seketika, rahangnya mengeras dengan tangan yang terkepal marah. Bukan marah kepada Nelly tapi marah kepada Dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tenangkan diri kamu! Jika kamu tidak ingin menjawab! Kamu tidak perlu menjawabnya, kakak juga tidak akan memaksa kamu untuk bercerita." Ucap Nelly lagi, sembari menggenggam tangan Lian. " Tahan amarah kamu, kamu tidak inginkan, mamanya sampai melihat kamu seperti ini. Tuh gang rumah mereka sudah di depan." Nelly kembali berbicara sembari menunjuk ke arah depan.
Dan benar saja! Tak lama setelah itu mobil mereka berbelok sebelum berhenti di depan sebuah rumah Yang terlihat sederhana namun sangat nyaman untuk pemiliknya.
Lian menghirup dalam-dalam oksigen kemudian menghembuskan-nya dengan perlahan, dia beberapa kali melakukan hal itu.hingga merasa jauh lebih baik. Setelah itu barulah dia keluar dari mobilnya setelah membuka pintu mobil tentunya.
Sementara Nelly tetap menunggu di dalam mobil bersama supir pribadi yang mengantar mereka. Sebab Lian belum di izinkan untuk menyetir oleh ayahnya dan dia tidak mau sang kakak menyetir untuknya, hingga mau tak mau supirlah di harus mengantar mereka.
Lian mengetuk pintu rumah Sena beberapa kali, kemudian berdiri menunggu pintu itu di buka. Tak lama, pintu itupun di buka dan keluarlah Ningsih." Mau apa kamu kesini? Kamu sudah tidak akan bisa menemukan Sena lagi di sini karena dia sudah bahagia di tempatnya yang baru, jadi sebaiknya kamu pergi dan jangan membuang waktuku. " Ucap wanita paruh bayah itu dengan terburu-buru, karena dia meninggal Daffa yang sedang bermain di kamar seorang diri. Sikap Ningsih tidak ada ramah-ramah kepada Lian.
Bukannya pergi, Lian malah berlutut di bawah kaki Ningsih. " Aku tahu Tante, aku minta maaf untuk semuanya. Aku datang kesini hanya ingin mengetahui dima_"
" Cukup, sebaiknya kamu pergi dari sini, karena aku tidak akan pernah mengatakan apapun tentang putriku. Pergi lah. Aku mungkin bisa memaafkan kamu tapi tidak akan melupakan apa yang kamu lakukan kepada putriku. Dan jangan pernah datang lagi, kehadiran kamu, hanya akan membuat Wanita malang ini semakin terluka." Sela Ningsih sembari menepuk dadanya sendiri sebelum menutup pintu itu dengan keras tanpa meminta Lian untuk berdiri.
Hati wanita itu terlalu sakit, mengingat semua perjuangan serta rasa sakit putrinya, hatinya sakit saat mengingat Sena menolak Daffa karena mata indah cucunya itu. Hatinya sakit karena rindu dengan Putrinya dan kehadiran Lian membuat hatinya semakin berdarah-darah.
Lian yang di tolak, mamanya Sena! Terpaksa pergi dari sana tanpa sempat mengetahui dimana makam wanita itu. Tapi dia juga tidak bisa memaksa, mengingat kekecewaan yang di tunjukkan Ningsih barusan.
__ADS_1
Lian kembali ke mobilnya dan pergi dari sana dengan sebuah tekad. " Tolong jaga ibunya untukku kak! Aku akan kembali untuknya, begitu aku selesai, aku akan berada disisinya mengantikan Sena." Ucapannya kepada Nelly, wanita itu hanya bisa mengangguk tanpa ingin bertanya lebih jauh maksud adiknya.