Anak Yang Kupanggil Adik

Anak Yang Kupanggil Adik
Jangan menyesal!


__ADS_3

Entah kesalahan serta percintaan seperti apa yang di jalankan Lian dengan gadis yang bernama Sena itu, hingga sang adik begitu sulit dan bahkan tidak mau untuk menjalin hubungan baru dengan wanita lain.


" Lian, Kamu itu penerus keluarga ini jangan kekanakan-kanakan kamu, pikiran semua lagi dengan baik. Sekalipun anak kakak-kakakmu ini banyak, tapi mereka milik keluarga suami-suami kita, ingat itu." Ujar Nelly, berharap sang adik dapat mengerti.


Sayangnya Lian, tidak memperdulikan ucapan kakaknya itu, seakan itu bukan sesuatu yang penting dan harus dia khawatirkan. " Udahlah mah. Kak pulang yuk, aku udah capek mau istirahat." Lian langsung merangkul pinggang sang mama kemudian meninggalkan Nelly yang hanya bisa geleng-geleng kepala.


Dalam perjalanan pulang ke rumah, Lian teringat akan ucapan Sena saat keduanya masih baik-baik saja.


Saat itu Lian pernah bertanya apa yang akan senang lakukan jika suatu saat mereka berpisah, sedangkan mereka sama-sama tahu, kalau hubungan itu sudah sangat jauh dan melewati batas, yang tidak seharusnya mereka lewati.


Sena sempat terdiam, sebelum tersenyum seraya berkata." Jika memang kita harus berpisah aku bisa apa? Tapi satu yang harus kamu ingat, Jika perpisahan itu, letak karena kesalahannya ada pada aku, maka aku akan menerima serta mempersilahkan karma untuk menyapaku. Tapi jika kesalahan itu, letaknya ada padamu, Maka akan aku pastikan. Wanita setelah aku adalah luka terhebat sekaligus kehancuran kamu, Julian Aldrino Sandiego." Lian langsung terdiam mendengar ucapan Sena. " Hahaha, Astaga serius sekali, Aku hanya main-main. Lagian siapa juga yang mau pisah, setelah semua ini.Yang ada Enak di kamu nggak enak di aku. " Ucap wanita itu lagi, Namun Lian sudah terlanjur kepikiran dengan kata-kata itu. Hingga sampai detik ini.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Pagi harinya, di saat Keluar Lian sedang Sibuk menyiapkan pesta kepulangan Lian, Di tempat berbeda Ningsih dan Daffa sedang menunggu jadwal keberangkatan pesawat di ruangan tunggu.


Bocah laki-laki itu, terus merapat pada ibunya. Sesekali di menatap khawatir wanita paruh bayah itu.


" Mah." Panggilnya, "Pulang aja ya mah? Daffa takut." Ucapannya lagi sembari mengusap punggung tangan Ningsih.

__ADS_1


" Daffa kan anak cowok, kok tumben takut naik pesawat! Nggak boleh takut, kalau naik pesawat aja Daffa takut, gimana Daffa mau jagain kak Sena nanti." Sahut Ningsih membuat bocah lelaki menunduk, namun sedetik kemudian anak laki-laki itu, malah menggeleng kepalanya.


" Tidak Daffa tidak takut naik pesawat. Daffa juga bisa jagain kak Sena, Daffa hanya takut karena wajah mama pucat dan tangan mama panas." Ucapannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Sayang kamu tidak perlu khawatir, Mama baik-baik saja." Sela Ningsih dengan cepat, agar cucunya tidak semakin cemas akan kondisinya, yang memang sedang tidak baik-baik saja.


" Mah.."


" Sayang udah ya! Tuh udah ada pemberitahuan untuk kita naik ke pesawat." Keduanya pun bergegas beranjak dari tempat duduknya, kemudian melangkah kaki meninggal ruang tunggu ini.


Salam berada dalam perjalanan, Ningsih semakin tidak tahan dengan sakitnya tapi wanita itu terus berusaha kuat hingga mereka tiba di tempat tujuan dengan selamat.


Della yang khawatir terjadi sesuatu dengan Tantenya, segera menghubungi Sena, karena tidak ingin sepupunya itu menyesal.


Walaupun dokter menjelaskan jika, sakit Ningsih itu hanya karena kecapean serta banyak pikiran juga faktor umur, tapi tetap saja mereka harus berjaga-jaga juga. Karena umur seseorang tidak ada yang tahu.


"Halo kak! Lagi sibuk ya." Tanya Della begitu panggilan itu di jawab oleh Sena.


" Nggak kok! Ini kebetulan kakak baru selesai kerja dan siap-siap untuk pulang. Ada apa? Persiapan pernikahan kamu aman? nggak ada masalah juga kan?" Sahut Sena sekaligus bertanya.

__ADS_1


Della pun dengan cepat mengangguk kepalanya. Walaupun dia tahu, Sena tidak akan bisa melihat hal itu di seberang sana. " Semua baik-baik saja dan lancar! Aku hanya ingin kakak pulang sekarang tolong kali ini jangan menolak aku ya."


" Hhhhhmmff," terdengar helaan nafas berat di seberang sana.


Tanpa berkata rasanya Della sudah mendapatkan jawaban dari helaan nafas itu. " Ini bukan untuk aku kak! Bukan juga demi Daffa, tapi ini untuk Tante Ningsih. Kakak harus tahu, kondisi kesehatan Tante Ningsih memburuk akhir-akhir ini kak, bahkan saat ini Tante sampai harus dilarikan ke rumah sakit dan sampai detik ini Tante belum sadar juga, kak_" Ucapannya, sengaja membuat Sena semakin gelisah. agar wanita itu bisa kembali.


" Della, alihkan ke panggilan video," titah Sena dari seberang sana, bukan dia nggak percaya tapi dia benar-benar khawatir dengan ibunya.


Della pun mengalihkan panggilan itu kemudian berjalan keruangan Ningsih, menunjukkan wajah wanita paruh baya yang sedang tertidur lelap karena pengaruh obat itu.


Keadaan Ningsih, tidaklah seburuk apa yang di ucapkan Della, wanita itu sengaja berbohong.


Bahkan sang bibi dan paman pun ikut berbicara dan menakut-nakuti Sena, tujuan mereka tidak lain dan tidak bukan untuk membuat Sena pulang, karena yang membuat Ningsih selalu kepikiran adalah Sena.


"Jangan menyesal jika kamu tidak bisa melihat mama kamu lagi, Sena. " Ucap Wiranti.


" Sena jika hal itu sampai terjadi, kamu tidak perlu kembali, paman masih bisa membiayai Daffa sampai di sukses nanti." Sang paman pun ikut berbicara. Membuat perasaan Sena, semakin tak menentu.


" Ingat kak! Penyesalan itu begitu menyakitkan. Kakak sendiri sudah pernah merasakannya bukan, jangan sampai kakak kembali merasakannya lagi, untuk kedua kalinya." Setelah mengatakan hal itu. Panggil itu Della akhir Secara sepihak, sengaja untuk membuat Sena goyah dan segera untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2